
Sudah satu tahun Nana berpisah dengan Juna, kehidupan Nana kembali normal namun hati dan pikirannya belum bisa move on dari Juna. Tidak mudah bagi Nana untuk melupakan mantan terindahnya itu, namun dia selalu berusaha untuk bisa melupakan Juna.
Sejak mereka berpisah, Juna tak lagi menghubungi Nana, begitupun sebaliknya. Mereka memiliki kesibukan dan dunia masing-masing. Juna tetap fokus pada S2 nya dan Nana fokus untuk melanjutkan S1 nya.
Siang itu, ketika Nana sedang asik dengan buku-bukunya yang sudah hampir enam bulan belum dia sentuh,
konsentrasinya pecah karena dering suara handphone nya. Nana mengambil handphone yang berada beberapa senti didekatnya dan melihat panggilan masuk pada handphone tersebut.
Mata Nana terbuka lebar, seakan mengeluarkan semua bola mata nya. Nana terkejut ketika melihat panggilan itu dari Juna, nana masih menyimpan nama Juna baik di handphone maupun di hatinya.
Lama dia memandang handphone itu, seakan tak percaya bahwa itu adalah Juna. Jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya, entah apa yang ia rasakan yang jelas perasaan bahagia muncul kembali.
Dengan gugup dia angkat telepon dari Juna..................
“Halo.............”.
Suara Juna terdengar sangat indah ditelinga Nana. Sudah lama sekali ia merindukan suara itu, suara yang dapat
membuat hidupnya lebih lama, suara yang dapat membuat dirinya jauh lebih semangat. Nana memejamkan matanya, merasakan aliran semangat dan cinta yang mengalir melalui darah ditubuhnya. Sungguh, tidak dapat dipungkiri bahwa Nana benar-benar masih mencintai Juna.
“Kakak.........?”. Tanya Nana dengan suara gugup.
“Aku ingin kita bertemu”. Kata Juna.
“Mau kah kamu menemui ku di taman sore ini?”. Tanya Juna.
“Aku.......... Aku............”.
Nana masih merasa bergetar dan gugup dengan semua ini. Sesekali ia mencubit pipinya dan memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi. Nana tidak menjawab apa-apa, dan dia menutup telepon nya.
Nana merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan wajah berseri-seri, masih tak percaya bahwa dia mendengar suara itu kembali, yang sudah menghilang satu tahun lamanya.
Sore ini Nana nampak lebih bahagia dari sebelumnya, cahaya kehidupan muncul kembali, wajahnya yang bersih berubah merah jambu karena Juna. Dia mengenakan baju yang sangat indah, dress dan kerudung berwarna pink dengan rok dan sepatu berwarna hitam, membuatnya terlihat lebih manis.
Nana menemui Juna sore itu, dia melihat ada laki-laki berkulit hitam dengan postur tubuh tinggi, mengenakan
kemeja lengan panjang berwarna abu-abu yang sedang duduk dikursi favorit mereka di taman itu. Nana terseyum bahagia melihat Juna kembali, dia seperti menemukan keajaiban dalam hidupnya karena masih dipertemukan oleh sang mantan yang telah menghilang dari hidupnya satu tahun yang lalu.
Nana menghampiri pria itu, kaki dan tubuh nya bergetar tak menentu, bahkan dia tidak dapat menyembunyikan
perasaannya saat itu.
“Kak Juna, kau kah itu?”.
Juna menoleh kearah suara yang tidak asing baginya, Juna melihat ada perempuan cantik dengan dres dan kerudung berwarna pink yang sedang berdiri satu meter dari dirinya. Juna berdiri dan tersenyum melihat Nana. Tatapan penuh cinta muncul kembali sehingga bola mata mereka saling beradu pandang.
Nana tak kuasa menahan rindu yang selama ini ia pendam, Juna adalah orang pertama yang berjuang demi cintanya, dan Juna adalah orang yang membuat dirinya menjadi istimewa, sungguh tidak mudah bagi Nana untuk melupakan Juna.
“Kamu masih sama cantiknya seperti dulu”. Kata Juna
“Apakah kamu masih merindukan ku?”.
Nana menundukan pandangannya..................
“Kalaupun rindu itu masih ada, apakah aku pantas merindukan milik orang lain?”. Jawab Nana.
“Buat apa kakak kembali?”
“Bukankah itu hanya membuat hati ini semakin terluka?”.
Juna menghampiri Nana lebih dekat, bahkan sangat dekat................. Juna mengangkat tangannya kearah wajah
Nana, seakan ingin mengelus pipi lembut Nana namun Juna menarik tangannya kembali.
Juna menghapus air mata yang hampir jatuh di pipinya, dia membuka ranselnya dan mengambil sebuah undangan berwarna gold dari dalam tas itu. Juna memberikan undangan itu pada Nana.
Lagi-lagi Juna membuat Nana kaget................. Nana memandang undangan yang masih ada ditangan Juna.
“Apa itu kak?”.
“Jangan bilang kalau itu undangan pernikahan mu!”.
Juna memejamkan matanya dan menarik nafas panjang.....................
“Kamu benar, ini surat undangan pernikahan aku dengan Eva”.
“Aku mohon jangan berprasangka buruk tentang ku, bahkan akupun tidak tahu tentang undangan ini dan hari pernikahan ku. Mama sudah menyiapkan semuanya”. Jawab Juna.
“Lalu buat apa undangan itu kakak berikan untuk ku?”. Tanya Nana.
Nana sadar bahwa dia tak sanggup melihat undangan itu, namun berusaha untuk tetap santai.
“Karena Aku ingin kamu datang sebagai kado terindah di pernikahan ku”.
Nana mengambil undangan itu lalu meremasnya. Air mata itu turun kembali, tak ada harapan bagi Nana untuk bisa
kembali pada Juna.
“Selamat ya kak........semoga bahagia”.
Juna kembali mendekat pada Nana, seakan tidak ada jarak baginya,
Perkataan Juna sungguh membuat hati Nana semakin sakit, bagaimana bisa ia melupakan semua tentang Juna jika jantung nya selalu berdetak kencang saat ia berada didekatnya, bahkan mendengar suara nya.
“Berhenti mempermainkan perasaan ku, kak!”.
“Sikap mu membuat hati ku dan Eva sakit”. Nana tak kuat menahan cairan bening dimata nya.
“Aku tidak mencintai Eva, bahkan aku tidak kenal dengan nya”. Bantah Juna
“Tapi semua kata-kata cinta mu tidak dapat merubah takdir”.
“Aku ingin kakak melupakan aku, jangan permainkan perasaan ku”.
“Selamat untuk pernikahan kalian dan pergi lah”. Kata Nana
“Terimakasih”. Jawab Juna lalu pergimeninggalkan Nana.
Nana duduk sendiri di kursi yang penuh kenangan itu, kursi yang menjadi saksi cinta mereka. Kehadiran Juna membuat Nana teringat tentang masa lalu nya bersama Juna.
Nana kembali memandang undangan yang sudah lusuh dengan remasannya tadi.
"Ya tuhan....apa yang terjadi dengan diri ku?”. Teriak Nana dengan isak tangisnya.
“Harusnya aku tidak bertemu Juna”
“Harusnya sejak dulu aku sadar bahwa aku bukan siapa-siapa”.
“Harusnya rasa itu sudah lama aku
buang”. Air mata Nana tak dapat dihentikan. Nana terus menyesali semua kisah cintanya denga Juna.
Perasaan Nana kembali hampa, tatapannya kembali kosong dengan undangan di tangannya. Nana tidak tahu harus berbuat apa, bahkan dia juga tidak tahu apakah dia akan datang dipernikahan Juna dan Eva sebagai pertemuan dia yang terakhir kalinya.
Nana mengirim pesan pada Riyan untuk menemui dia ditaman sore itu......
Riyan memang sahabat yang sangat baik bagi Nana, dia selalu ada kapanpun dan dimanapun Nana butuhkan.
Riyan menemui nya ditaman, dia melihat sahabatnya itu termenung menatap senja sore itu. Riyan menatap
sahabatnya dari kejauhan, “Ada apa lagi dengan Nana?”. Tanya Riyan dalam hati.
Riyan menghampiri Nana dan duduk disampingnya, dia melihat ada surat undangan di atas kursi. Riyan mengambil undangan itu, lalu membukanya.
“Juna menemui mu?”. Tanya Riyan
“Dia meminta aku untuk datang dan menemuinya”.
“Gila!!! Belum cukup dia membuat kamu menderita!”.
Riyan mulai emsoi melihat sikap Juna, dia mengepal kedua tangannya seakan ingin memberi pelajaran pada Juna.
“Apa maksud undangan ini?”
“Dia ingin kamu datang lalu mempermalukan kamu di acara pernikahannya?”.
“Entah lah”.
“Yan.........., aku masih sayang sama Juna”.
“Look!!”. Juna mengacungkan undangan kepada Nana.
“Ini akan segera berakhir Na...., Juna akan menikah. Dia tidak akan pernah kembali”.
“Tapi Juna mencintai ku Yan....”. Nana kembali menjatuhkan air mata.
“Bohong!!. Jika benar dia mencintai mu, dia pasti akan berjuang demi kebahagiaan kalian berdua”.
“Please....buddy. Hormati dirimu sendiri”.
“Maukah kamu menemani ku ke pernikahan mereka?”. Nana memohon pada Riyan.
Riyan terdiam............ Riyan mengakui bahwa dia tidak dapat menolak permintaan sahabatnya itu, tetapi Riyan
tahu bahwa Nana tidak akan pernah bisa berhenti memeikirkan Juna jika mereka masih saling bertemu.
“Sungguh jahat kamu, Juna”. Riyan mengumpat dalam hatinya.
“Aku akan menemani mu tapi dengan satu syarat”. Kata Riyan
“Ini adalah terakhir kalinya kamu menangis dan memikirkan Juna”.
“Aku ingin kamu kembali seperti dulu, Nana gadis ceria yang penuh semangat dan cita-cita”.
Nana menganggukkan kepalanya..............
“Aku hanya ingin melihat dia terakhir ini aja”.
Riyan menghapus air mata Nana dengan tangannya................