MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 71. Ummi Hana



Sejak mengikuti kajian bersama Ummi dan teman-teman lain nya, Nana makin mantap dengan kehidupan baru nya. Apalagi dia sekarang sudah lulus S2, selain bekerja Nana juga aktif di organisasi kemasyarakatan dan aktif dalam kajian-kajian keagamaan bersama teman-teman nya. Nana terlihat manis dengan gamis dan jilbab panjang nya, dan terlihat lebih anggun dan bersahaja.


Nana memantapkan hati nya untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dia tidak lagi memikirkan


cowok dan menyerahkan semua nya pada Allah karena dia tahu bahwa hidup dan mati hanya untuk Nya. Nana terlihat lebih enjoy dan bahagia dengan aktifitas baru nya.


“Assalamu’alaiku Ummi”. Nana berdiri di depan rumah Ummi


“Wa’alaikum salam warrohmatullahi wabarokatuh”. Jawab suara lembut Ummi.


Wanita cantik dan sholeha itu biasa di sapa Ummi Hana. Dia wanita Indonesia berdarah Mesir, hidung nya yang mancung dan kulit putih serta paras Mesir yang membuat Ummi Hana sangat berbeda. Tubuh yang selalu di balut oleh gamis dan jilbab panjang serta cadar membuat Ummi terlihat bersahaja.


Nana menemukan ketenangan dalam diri nya setelah bertemu Ummi Hana, dia lebih berhati-hati dalam berucap, bertindak dan lebih pandai menjaga diri terutama dari pandangan dan sentuhan laki-laki yang bukan muhrimnya. Waktu 24 jam Nana, di bagi hanya untuk bekerja, syiar dan belajar agama lebih dalam bersama Ummi Hana.


“Masuk Na, masyaAllah......cantik banget hari ini!”. Ummi memeluk Nana dan mempersilahkan masuk.


“Terima kasih Ummi”. Nana duduk di ruang tamu


“Mohon maaf mengganggu waktu kamu Na, Ummi mau minta tolong. Boleh?”. Kata Ummi.


“InsyaAllah Ummi. Jika Nana bisa, Nana pasti bantu”. Jawab Nana sambil menundukan kepalanya.


“Hari ini, Ummi ada jadual kajian di daerah Menteng tetapi Ummi tidak dapat hadir karena harus ke rumah sakit. Jadi, Ummi minta kamu untuk menggantikan Ummi. Kamu bersedia?”.


Nana berpikir sejenak penuh tanda tanya,


“Ummi ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Ummi terlihat baik-baik aja”. Gumam Nana dalam hati.


“InsyaAllah Ummi Nana siap”. Jawab Nana mantap.


“Alhamdulillah............. syukron ukhty”. Jawab Ummi


“Astaghfirullah, Ummi lupa. Mau minum apa Na?”.


“Ya Allah....., gak usah repot-repot, Ummi”. Jawab Nana


“Sebentar ya...................”. Ummi Hana pamit dan berjalan menuju dapur.


Beberapa menit kemudian, Ummi kembali sambil membawa teh manis hangat untuk Nana.


“Ini teh nya di minum Na”. Ummi Hana menyuguhkan teh hangat untuk Nana.


“Iya Ummi, terima kasih”. Nana meminum teh hangat yang disuguhkan oleh Ummi Hana.


Nana melihat jam di tangan nya,  “Ummi, Nana berangkat sekarang ya.....”.


“Iya Na, hati-hati. Terimakasih banyak ya.............”.


Nana berjalan menuju pintu untuk segera berangkat ke daerah Menteng, tiba-tiba langkah Nana terhenti dan Nana


membalikan badan dan menatap Ummi Hana.


“Hmmm....., Ummi. Boleh saya bertanya sesuatu?”.


“InsyaAllah. Tafdhol”. Jawab Ummi Hana


“Jika boleh tau, siapa yang sakit Um? Ummi baik-baik saja kan?”. Tanya Nana.


“InsyaAllah Ummi gak kenapa-napa, cuma flu aja. Gak usah khawatir”.


“Alhamdulillah......, hati-hati ya um! Assalamu’alaikum”.


“Wa’alaikum salam warrohmatullahi wabarokatuh”.


Nana segera naik angkot dan Ummi Hana menutup pintu rumah nya. Dalam perjalanan menuju Menteng, pikiran Nana masih terfokus pada Ummi Hana. Nana merasa ada yang ditutupi oleh Ummi Hana pada nya, namun secara fisik Ummi terlihat baik-baik saja.


“Ya Allah....semoga Ummi dan keluarga nya baik-baik saja”.


Perjalanan Nana menuju tempat kajian lumayan melelahkan, bukan karena jauh akan tetapi jalanan Jakarta yang selalu penuh dengan kendaraan sehingga membuat pengemudi dan pengguna jalan lain nya merasa lelah. Perjalana yang harusnya ditempuh hanya dengan tiga puluh menit saja, kali ini memakan waktu dua kali lipat dari biasa nya. Akhirnya Nana sampai di tempat tujuan. Nana mengambil handphone nya dan memberi kabar pada


Ummi Hana bahwa dia sudah berada di lokasi, namun terlambat karena macet.


Nana di sambut oleh Khadijah sebagai ketua rohis kampus, mereka biasa mengadakan kajian di masjid kampus namun kali ini mereka sedang mengadakan rihlah ke masjid daerah tebet, guna refreshing sambil tetap menuntut ilmu. Khadijah mempersilahkan Nana untuk mengisi tausiah dikarenakan mereka sudah lama menunggu.


“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh. Mohon maaf adik-adik mahasiswi yang di cintai Allah, Ummi Hana sedang berhalangan hadir. Sehingga saya di minta untuk menggantikan beliau”. Nana membuka acara.


“Perkenalkan nama saya Ardiana, saya biasa di panggil Nana”.


Nana memberikan tausiah dengan sangat baik, Nana memang pandai berbicara di depan umum. Bukan karena


dia lulusan S2, tetapi dia memang sudah terbiasa mengisi seminar di beberapa kampus, sehingga bicara di depan umum sudah tidak asing lagi bagi nya. Setelah acara tausiah selesai, Nana membuka handphone nya dan melihat banyak panggilan masuk dari teman-teman nya yang satu binaan dengan Nana.


“MasyaAllah, banyak sekali panggilan masuk? Tanya Nana dalam hati. Lulu, Syifa, Maryam, Zaenab, ada apa ini?”. Hati Nana berdebar melihat banyak panggilan masuk di handphone nya.


“Ada apa kak Nana? Kok terlihat panik?”. Tanya Khadijah


“Selama kakak mengisi tausiah, banyak sekali panggilan masuk. Ada apa ya?”.


“Coba telepon balik aja kak?”. Khadijah memberi saran


‘Oh iya. Sykron”.


Nana segera menelepon Lulu namun tidak di jawab, kemudian dia menelepon Syifa, namun telepon Syifa sibuk. Keadaan berubah, sekarang giliran Nana yang menghubungi mereka dan menunggu jawaban.


“Ya Allah.....ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?”. Gumam Nana sambil terus mencoba menghubungi Lulu.


“Halo...............”. Telepon Nana terjawabkan.


“Kenapa Lu? Kok kamu menangis? Ada apa?”. Nana semakin cemas setelah mendengar tangis Lulu di telepon.


“Ummi Na”. Lulu tidak sanggup berkata-kata.


“Ummi? Ummi kenapa Lu? Bilang sama aku!”.


“Ummi meninggal”.


“Innalillahi wainna ilaihi rojiun”. Nana terduduk lemas dan menyandarkan tubuhnya pada dinding.


“Ada apa kak?”. Tanya Khadijah


“Ummi Hana meninggalkan dek”.


“Innalillahi wainna ilaihi rojiun. Ayo kak kita kesana bareng, kebetulan aku bawa mobil.


Nana dan khadijah segera menuju rumah sakit yang sudah diberitahu oleh Lulu. Dalam perjalanan air mata Nana mengalir, namun hati Nana tetap berdzikir, berdoa untuk Ummi Hana. Mobil melaju cepat menuju rumah sakit.


Pukul 17.30


Nana dan Khadijah sampai di rumah sakit dan langsung mencarai Lulu dan teman-teman lain nya.


“Kak Nana...........”. Suara Lulu terdengar berada di belakang Nana.


Lulu berlari menghampiri Nana dan Khadijah yang berada beberapa meter di depan nya.


“Ummi baru saja di bawa ke rumah duka kak, Lulu sengaja menunggu kakak”.


"Khadijah, Lulu, ayo!”.


Mereka bertiga menuju rumah Ummi untuk melihat Ummi terkahir kali nya sebelum jasadnya di makam kan.