MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 102. Permainan



Setelah keluar dari ruangan Juna, Nana menarik tangan Vita.


“Kenapa kamu gak bilang kalau kajur kamu itu Arjuna?”.


“Loh, kamu kenal pak Juna?”.


Nana melongo dan baru sadar bahwa Vita tidak pernah tahu kisah dia dengan Arjuna dimasa lalu.


“Hhhhmmmm.............kenal sih, dulu pernah seminar bareng”. Jawab Nana gugup


“Wah...........keren. pantesan pak Juna keliatan seneng banget pas tau kalau kamu pengganti aku. Semoga betah


ya...............sukur-sukur nanti kamu bisa jadi dosen beneran disini”. Sambil menyenggol badan Nana


“By the way, pak Juna sudah lama jadi kajur di kampus ini? Karena setau aku dulu beliau asisten kajur di kampus A”.


“Gak sih, baru tiga bulan ini karena kajur aku sedang ada research di Australia, jadi beliau diminta untuk menggantikan selama kajur ku disana. Denger-denger sih, beliau teman dekatnya kajur aku”.


“Oh..............”. Nana menganggukan kepalanya.


“Tapi.............beliau itu duren loh”. Bisik Vita


 Nana tercengang mendengar kata duren.


“Masa sih? Kata siapa?”


“Gosip!. Beliau lumayan terkenal loh sehingga sebelum beliau gabung dengan kampus kami, kami sudah tau beritanya terlebih dahulu. Istrinya sudah lama meninggal. Tapi.................”.


"Eva”.


Nana memutar badan nya dan tanpa sadar kembali ke ruangan Juna. Vita bingung dan merasa aneh dengan sikap Nana.


 “Bagaimana kabar Eva?”.


Tanpa salam, Nana masuk ke dalam ruangan Juna. Juna yang sedang asik membaca tugas akhir mahasiswapun terhenti dengan pertanyaan Nana, dan menutup paper nya.


“Eva sudah meninggal ketika dia melahirkan anak kedua kami”.


Nana terduduk lemas, air bening jatuh dari pelupuk mata nya.


“Aku turut berduka cita atas kepergian Eva. Berarti orang yang mas Imam ceritakan waktu itu adalah kamu?”.


“Ya. Gak nyangka ya dunia begitu sempit”. Juna berjalan menghampiri Nana yang sedang terisak menahan rasa


sedihnya karena tahu tentang Eva.


“Mungkin ini cara tuhan mempertemukan kita kembali”. Bisik Juna lalu duduk disamping Nana.


Nana segera menghapus air mata nya, dan bangkit dari duduknya.


“Maaf, saya harus kembali ke lobby, Vita menunggu saya. Permisi”.


“See you tomorrow”.


Tanpa berbasa basi, Nana segera menemui Vita di lobby


“Ayo pulang!”. Nana menarik tangan Vita


“Kamu kenapa? Tiba-tiba pergi padahal aku belum selesai cerita, tiba-tiba datang. Kamu kenapa sih Na?”


“Sepertinya aku gak bisa infal kamu di sini”.


“Loh???? Kok gitu? Aku malu dong sama pak Juna, selain itu kelas aku nanti gimana dan reputasiku jelek nanti.


Please.............bantu aku".


“Maaf Vit, aku gak bisa”.


“Kenapa sih? Oh...........aku tahu, jangan bilang kalau kalian dulu pernah ada hubungan asmara”.


“Itu sebabnya aku gak bisa kerja satu instansi dengan dia, aku takut”.


“Ya ampun Nana.............be professional dong. Masa lalu ya masa lalu, kerja ya kerja. Gimana sih?”.


“Masalah nya masa lalu itu masih ada dalam pikiran aku dan juga dia. Aku gak bisa Vit. Aku minta maaf”.


“Na..........aku sangat butuh bantuan mu. Gak ada lagi yang bisa kumintai pertolongan selain kamu. Jadi aku


mohon banget ya....................”.


Nana berpikir sejenak tentang permohonan Vita, biar bagaimanapun Vita sahabat dekatnya waktu S2 dulu. Nana


juga pernah berhutang budi padanya sehingga sulit bagi Nana untuk menolak Vita, namun hati Nana belum berani jika harus bertemu kembali dengan Arjuna, ditambah lagi sikapnya yang membuat Nana menjadi takut. Nana takut dia terjebak oleh masa lalu nya.


“Please.................”. Vita masih memohon pada Nana


“Aku coba. Bismillah”.


“Thank you”. Peluk Vita


Vita mengajak Nana masuk ke dalam mobilnya dan mereka pulang bersama. Vita mengantar Nana sampai depan kontrakan.


“Gak mampir dulu Vit?”.


“Lain kali aja ya. Aku harus segera pulang, tadi suami aku telepon katanya disuruh pulang cepet”.


Nana mengangguk dan memahami kesibukan Vita.


“Hati-hati ya...........terimakasih sudah mengantar”.


“Iya sama-sama, terimakasih juga sudah mau menginfal kelas ku. Aku pulang ya. Dah..................”.


 Vita melajukan mobilnya dengan cepat dan Nana pun masuk dalam kontrakan. Vita mengarahkan mobilnya untuk kembali ke kampus.


 “Permisi pak Juna”.


“Masuk”.


Vita masuk dengan wajah berseri-seri penuh kemenangan.


“Yes berhasil pak. Awalnya Nana menolak untuk menggantikan saya, namun akhirnya dia mau. Nana sahabat saya


paling baik, dia gak akan tega menolak saya”.


“Terimakasih atas kerjasama nya bu Vita. Pengajuan cuti anda saya terima, sekaligus ada sedikit bekal untuk masa


cuti anda agar bisa bantu-bantu membeli kebutuhan bayi anda”.


“Terimakasih pak. Oh iya, by the way sepertinya bapak dan Nana masih saling mencintai”.


“Saya pun merasa demikian bu Vita,


Nana itu cinta pertama saya, kenangan kami begitu indah untuk dilupakan. Saya yakin, rasa itu masih ada pada Nana. Dia tidak mungkin melupakan saya”.


“Yang saya tahu, Nana sedang butuh uang, suaminya kan hanya seorang kuli di toko bangunan, sementara bapak masa lalu nya begitu hebat, pasti hatinya penuh gejolak asmara ketika bertemu bapak kembali”.


“Saya berharap begitu bu Vita. Sekali lagi terimakasih atas bantuan ibu”.


“Sama-sama pak. Kalau begitu, permisi. Saya pamit”.


Mata Juna menerawang dengan senyumlicik di wajahnya merasa kemenangan sebentar lagi akan berpihak pada nya.


“Aku tahu, kamu masih sangat mencintai ku Na, namun kamu malu untuk mengungkapkan nya. Mata dan tatapan mu tidak akan pernah bisa berbohong. Aku akan membuatmu kembali pada ku”. Kata Juna.


Makan malam


"Mas, mulai besok aku menggantikan Vita mengajar di kampus selama masa cuti nya”. Sambil menyiapkan makan malam untuk Imam


“Selamat ya sayang...........semoga kamu jadi dosen beneran”.


“Aamiin..........makasih ya mas. Oh iya, makan malam sudah siap loh”.


“Sebentar............ stret.........sret..........sret.................”. Imam menyemprotkan parfum di tubuhnya


“Hmm..............wangi banget, gak biasanya. Mau kemana sih?”.


“Mau di rumah aja”.


“Kok pakai minyak?”.


“Ya gak apa-apa dong...........biar wangi, sebentar lagi kamu berkarir dan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka pasti rapi dan wangi. Aku takut, kalau istri ku meninggalkan aku karena wangi nya laki-laki lain”. Bisik Imam


Nana terdiam....................


“Apa maksud perkataan mas Imam. Apakah dia sudah tahu kalau aku satu institusi dengan Juna? Tapi kan dia gak


tahu kisah masa lalu aku”. Gumam nana


“Kok bengong? Ayo duduk, katanya mau makan malam?”.


“Oh iya mas”. Tatapan Nana masih kosong dan masih memikirkan perkataan suaminya barusan.


Nana menyantap makan malam itu dengan pandangan kosong kedepan, dia takut ketika suaminya tahu bahwa dia satu instansi dengan Juna,


"Sayang kamu infal di kampus mana?".


"Kampus A mas".


"Hik....hik....hik............". Imam tersendak mendengar kata kampus A


"Loh bukan nya Nana pernah menolak tawaran pak Juna dulu, kok sekarang mau? Ada apa dengan mereka?". Pikir Imam


"Mas kalau makan pelan-pelan. Ada apa sih? Kok tiba-tiba kaget gitu?"


"Oh.............gak ada apa-apa. Yuk dilanjut lagi makan malamnya!".~~~~


"Sebenarnya ada apa dengan suami ku? Gak seperti biasanya? Sikapnya aneh". Gumam Nana dalam hati