MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 60. Playboy Kaleng



Nana yang masih duduk menangis didepan ruang kerja Ayu, termenung sejenak memikirkan semua yang telah terjadi hari itu. Dia tidak bisa tinggal diam atas perlakuan Wira terhadap wanita. Siska merupakan adik dari teman nya waktu di SMA, dia anak yang baik dan manis. Nana tahu betul siapa Siska, rasanya tidak percaya jika Siska sengaja merebut Wira dari diri nya, jika Siska tahu bahwa Wira menjalin hubungan spesial padanya. Ayu


juga teman dekat Nana di kantor, bahkan Nana adalah teman sekaligus tempat curhat bagi nya.


“Wira kamu sungguh licik dan sangat keterlaluan”. Gumam Nana dalam hati.


Nana menghapus air matanya dan kembali berdiri, melangkah dengan gagah menuju ruang kerja Wira. Tanpa permisi dan mengetuk pintu, Nana masuk ke ruangan Wira. Di dapati nya Wira sedang duduk santai sambil minum kopi dan tanpa wajah merasa bersalah sedikitpun.


“Wow..........cepat sekali kamu kembali. Apakah kamu baru menyadari bahwa sebenarnya kamu tidak bisa kehilangan aku?”. Kata Wira dengan percaya diri dan masih duduk manis di sofa.


Nana berdiri di depan Wira dengan penuh amarah


“Jelaskan pada ku Wira, kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu mempermainkan kita? Siska dan Ayu itu teman ku”.


Wira bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Nana


“Oh ya? Bagus dong...... Aku macarin tiga sahabat sekaligus”. Wira tertawa licik.


“Jadi ini alsan kamu agar aku merahasiakan hubungan kita? Kamu juga melakukan itu pada Siska dan Ayu, iya kan?”.


“Dengar! Aku sama sekali tidak mencintai kamu. Kamu pikir selama ini kita pacaran?”. Wira mendekatkan wajahnya


pada Nana


“Selama kita jalan, aku gak merasa bahwa kita pacaran”.


“Apa maksud kamu Wira? Bukan kah selama inamu yang selalu berusaha untuk mendapatkan cinta ku?”


 “Betul tetapi aku bosan. Makanya aku jalan sama Siska dan juga Ayu”. Jawab Wira santai tanpa bersalah sedikitpun.


“Nana dengar baik-baik. Siska dan Ayu jauh lebih menyenangkan dibandingkan kamu. Dalam waktu dua bulan saja, Siska memberikan aku sebuah ciuman manis yang sampai saat ini masih aku rasakan. Dan Ayu dapat memberikan aku belayan lembut dan pelukan hangat yang selama ini tidak pernah aku dapatkan dari kamu”. Wira mengacungkan telunjuknya tepat di hidung Nana.


Nana hanya bisa menangis dan jijik mendengar perkataan Wira yang sangat tidak pantas.


“Keterlaluan kamu Wira. Harusnya kamu sadar bahwa perempuan baik-baik adalah perempuan yang hanya menginginkan cinta halal dari orang yang dicintai nya”.


“Hari ini tuhan menunjukan siapa kamu sebenarnya dan aku menyesal pernah mencintai dan menginginkan untuk


menikah dengan mu”.


Nana melangkah menuju pintu dan masih terisak nangis.


“Tunggu! Aku bisa menikahi kamu tapi aku ingin kamu mengandung anak ku, setelah itu aku akan menikahi mu”.


 “Astaghfirullahal’adziim..........”. Nana menutup kedua matanya dan menarik nafas dalam dan melanjutkan langkahnya menuju pintu.


“Apa maksud kamu Wira?”. Ayu ikut bicara.


“Kamu benar-benar sudah gila Wira”.


Nana dan Wira terkejut dengan kehadiran Ayu secara tiba-tiba.


 “Ayu?”. Nana terkejut


“Iya, aku telah mendengar semua yang kalian bicarakan”. Kata Ayu sambil terus berjalan mendekat pada Wira.


“Kalau begitu, kita putus!”. Ayu mengambil


kopi susu yang ada di meja Wira lalu menumpahkan pada kemeja nya.


“Ayo Na..........kita keluar dari ruang playboy kaleng ini”. Ayu menarik tangan Nana dan mengajaknya segera


“Kamu resign?”. Tanya Ayu


Nana yang masih kecewa dengan Wira tidak fokus dengan pertanyaan Ayu.


“Kamu masih memikirkan kejadian tadi?”. Tanya Ayu dan kali ini Ayu menepuk kan kedua tanyan nya di depan wajah Nana.


 “Astaghfirullah.......... maaf kamu bicara apa Yu?”.


“Lupakan! Yang jelas, aku ikut resign dan besok akan aku kirim surat pengunduran diriku”.


Nana menganggukkan kepala nya dan mereka pulang ke rumah masing-masing dengan luka di hati. Sesampainya di rumah, Nana langsung masuk dalam kamar dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menumpahkan semua air mata dan kesedihan nya di kamar itu.


“Ya tuhan........... aku masih gak percaya dengan semua ini. Betapa bodohnya aku, kenapa harus tersakiti lagi dan


lagi?”. Nana masih terisak.


“Twit....twit.....”. Handphone Nana berbunyi dan Nana melihat ada notifikasi pada email nya.


Nana membuka email itu, lalu dia mendapatkan surat dari departemen dalam negeri  yang menyatakan bahwa hari ini deadline untuk mengumpulkan dokumen beasiswa nya”.


“Ya ampun.....hampir saja beasiswa ku hilang gara-gara Wira. Aku lupa kalau hari ini deadline”.


Nana segera mengambil laptop yang ada di meja belajarnya, dan memindahkan laptop itu diatas tempat tidur nya. Dia membuka laptopnya lalu segera mengirim semua berkas yang di minta oleh departemen dalam negeri mengenai beasiswa nya.


"OK, focus Nana...... focus on your future. Forget everything about Wira”. Nana terus menggerutu pada dirinya


sendiri.


Jari jemari Nana sangat lincah mengoperasikan laptopnya, dia masih terus melengkapi dokumen yang di minta oleh departemen dalam negeri, matanya terus terfokus pada monitor, jari jemarinya terfokus pada keyboard. Namun, pikirannya masih terbayang oleh kejadian tadi pagi di kantor.


“Come on......come on ...... you can Nana...... semangat.....!!!”. Dia terus menyemangati dirinya sendiri.


"Yes. I’m done!”.


“Documents completed”. Itu tulisan yang ia baca pada monitor.


“Akhirnya aku tinggal menunggu jadwal tes. Itu artinya mulai hari ini aku harus lebih rajin lagi belajar”.  Kata Nana sambil berbaring dan tanpa disadari dia terlelap tidur.


Esok pagi Nana masih berat membuka mata, walaupun alarm di handphone nya selalu membangunkan ia dengan setia kala subuh tiba. Nana berharap setelah dia membuka mata, maka dia sadar bahwa kejadian kemarin hanyalah mimpi belaka, namun ternyata tidak. Dengan perlahan ia membuka kedua matanya lalu duduk di tepi tempat tidur dan menatap ke jendela.


“Siska..... ya Siska. Aku harus bicara padanya”. Kata Nana.


Nana segera mandi dan bersiap-siap menuju rumah Siska untuk memberitahukan soal Wira. Nana tidak lagi menunjukan bahwa dirinya telah patah hati. Patah hati yang ia rasakan kali ini bukan lah yang pertama bagi nya sehingga dia terlihat lebih baik dari sebelumnya.


“Sarapan sayang”. Sapa ibu yang melihat Nana keluar dari kamarnya.


“Seperti nya aku sarapan di luar ya ma............. Nana harus buru-buru ada urusan. Dadah mama............”. Nana


mencium mama nya dan segera pergi.


Mama hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Nana pagi itu.


“Hati-hati sayang.............”. Teriak mama


“I will”. Jawab Nana samar karena sudah berada di luar rumah


Nana menggunakan jasa ojek yang biasa mangkal di pangkalam depan gang menuju rumah orang tua Siska untuk


menemui Siska.