MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 85. Mindset



Sudah berapa kali Nana harus menelan pahitnya penolakan dalam berumah tangga, namun dia selalu berusaha untuk selalu berpikir positif bahwa Allah sedang menguji kesabaran nya dan yakin bahwa suatu hari nanti Allah akan mengganti semua ini dengan kebahagiaan.


Sudah tidak ada lagi kriteria pria idaman bagi Nana, Nana tidak membutuhkan pria kaya, pria cerdas atau pria


tampan. Bagi Nana semua itu bukan segalanya. Dia hanya menginginkan sosok laki-laki sholeh, bertanggung jawab dan dapat menerima dia apa ada nya. Lako-laki sholeh beserta keluarga yang sholeh, itu jauh lebih berharga dari


semua kriteria yang ia sebutkan sebelumnya.


Satu persatu teman-teman Nana pergi meninggalkan nya karena mereka sudah memiliki kehidupan baru bersama keluarga kecil mereka. Nana hanya dapat bersyukur bahwa dia memiliki hati yang kuat sehingga sampai saat ini, dia masih berdiri tegap menghadapi semua nya.


“Na, kamu kenapa sayang?”. Tanya ibu yang tiba-tiba datang membuyarkan lamunan Nana.


“Ha? Mama, bikin kaget Nana aja. Ada apa mah?”. Tanya Nana kembali


“Kamu kenapa, ko dari tadi mamah perhatikan bengong...........aja. Kenapa sayang?”.


Nana menghela nafas dan tersenyum pada mamah yang sudah duduk di depan nya.


“Mah......Nana tahu kalau mamah ingin sekali melihat Nana menikah. Nana juga tahu, kalau telinga mamah sudah bosan mendengar celoteh tetangga tentang Nana. Nana minta maaf ya mah............”.


“Setiap orang tua pasti ingin melihat anak nya bahagia, sayang. Akan tetapi kebahagiaan itu kan gak harus


menikah cepet-cepet. Menikah itu jodoh dan itu rezeki, Allah yang punya hak untuk menentukan kapan rezeki itu akan sampai pada kita. Jadi.......... woles aja”. Mama memberikan senyuman hangat pada Nana


“Ih, kok sekarang mamah jadi gaul, kayak anak zaman now. WOLES. Haaaa.............”. Kedua nya tertawa lepas


seakan tidak ada beban.


Senyum mamah sangat menguatkan hati Nana, walaupun Nana tahu bahwa hati mamah itu sakit atas semua penolakan yang selama ini Nana alami, namun mamah begitu hebat masih bisa memancarkan cahaya kebahagiaan dan senyum hangat di bibirnya sebagai penyemangat Nana.


“Ma, Nana sayang sama mamah”. Peluk Nana


“Iya sayang. Mama juga sayang sama kamu. Tetap semangat dan selalu berpikir positif”.


“Iya mah. Terimakasih”.


Nana lebih banyak menghabiskan waktu nya di rumah bersama mamah dan bekerja. Nana sering ikut mamah belanja sayur di


warung langganan nya yang berada di sebrang jalan, kadang nunggu abang sayur keliling yang biasa mangkal di perempatan jalan. Tidak jarang banyak tetangga yang berkata kurang baik terhadapnya dan juga mamah nya, namun Nana masih bisa mengabaikan semua ocehan tetangga.


“Hey Na, kamu tuh cantik, pinter, tapi kok belum nikah juga. Teman-teman seumuran mu sudah punya anak loh”. Kata salah satu tetangga nya.


“Iya bu....doakan secepatnya ya”. Nana tersenyum


“Yuk Na, kita pulang”. Kata mamah


“Loh mah, kan kita belum selesai belanja nya”.


“Kita belanja di tempat lain saja”. Jawab mamah ketus sambil tarik tangan Nana


“Paling  dia malu, karena anak perawan satu-satu nya belum laku-laku”. Beberapa ibu-ibu tertawa kecil.


Nana melihat mamah menghapus air mata nya.


“Mah, gak usah mamah dengarkan mereka. Selama ini kan mereka memang suka begitu dan kita juga baik-baik aja


kan? Kemarin mamah bilang, woles. Kok sekarang jadi baper?”.


“Astaghfirullah........... Ya Allah....gusti. Astaghfirullah............”. Mamah mengelus dada.


“Yasudah, mamah di rumah aja, biar Nana yang belanja ya..........”.


Ingin rasa nya Nana membalas perkataan mereka tentang diri nya, namun Nana tidak ingin menyakiti mamah nya.


Mindset setiap orang itu berbeda-beda, ada yang berpikir bahwa Nana adalah perawan tua, ada juga yang berkata bahwa Nana terlalu sombong sehingga terlalu memikirkan karir atau pendidikan bahkan ada yang mengira jika Nana itu pilih-pilih dalam mencari pendamping hidup, inti nya Nana harus tetap tersenyum menanggapi pendapat mereka tentang nya. Harapan dan do’a-do’a yang Nana panjatkan hanyalah laki-laki sholeh, bertanggung jawab dan dapat menerima dia apa ada nya.


Membangun mindset agar selalu berprasangka baik terhadap semua pemberian tuhan itu gak mudah, apalagi orang sekitar selalu berprasangka buruk terhadap diri nya. Nana hanya bisa menelan rasa pahit dari setiap perkataan buruk terhadap diri nya. Semua yang Nana rasakan sudah menjadi takdir hidupnya yaitu menjadi wanita pengidap MRKH yang menyebabkan diri nya divonis mandul. Apa yang dapat Nana perbuat atas semua ini? Tidak ada, kecuali berserah diri pada tuhan sang pencipta.


Nana harus tetap berdiri tegap demi keluarga, Nana tidak ingin terlihat lemah sedikitpun karena dia tahu mamah akan sangat terpukul dengan semua itu. Nana teringat akan kata-kata Juna waktu itu bahwa ada dua persepsi dari kata sukses, yaitu success in love or success in carreer. Entah sukses mana yang sedang Nana rasakan, perjalanan cinta nya tidakindah kisah cinta Cleopatra dan Mark Antony, begitu juga dengan karir nya.


Saat ini Nana hanya dapat menunggu laki-laki baik datang melamarnya dengan memperbaiki diri nya terlebih dahulu agar dia pantas mendapatkan yang terbaik. Menunggu dalam sabar dan taat pada tuhan, itu jauh lebih bermakna dibandingkan dengan memberi peluang pada syetan yang membawa diri nya pada kemaksiatan seperti dulu.


“Na................”. Panggil mamah


“Iya mah”. Nana berjalan menghampiri mamah yang sedang asik di depan TV menyaksikan sinetron kesayangan nya.


“Ada apa mah”. Tanya Nana


“Sini sayang, duduk dan temani mamah nonton sinetron sambil menunggu papah mu pulang”. Kata mamah sambil terus fokus pada sinetron yang ada didepan nya.


Nana duduk disamping mamah dan terlihat bingung dengan sinetron yang sedang mamah tonton, Nana tidak suka menonton TV apalagi sinetron, rasa nya aneh jika dia harus duduk manis menyaksikan semua itu, akan tetapi Nana ingin melihat mamah bahagia sehingga dia terlihat asik nobar bersama mamah.


“Na”.


“Hmmm..........kenapa mah?”.


“Coba deh kamu lihat pemeran utama nya”. Sambil menunjuk salah satu tokoh utama di sinetron


“Yang mana?”. Mata Nana nanar mencari pemeran utama dalam cerita tersebut.


“Itu”. Mamah menunjukan sekali lagi


“Oh..........”.


“Mamah suka deh sama dia, ganteng, baik, pintar dan terlihat romantis dengan pacar nya. Hmmmm...........mamah


jadi inget Arjuna”. Mamah terbawa dalam lamunan nya.


“Ha? Ko jadi Arjuna?”. Tanya Nana kaget


“Arjuna? Kamu kangen dengan Arjuna?”. Tanya mamah kaget


“Ya nggak dong...........kan barusan mamah sendiri yang bilang kalau pemeran utama nya seperti Arjuna”. Jelas Nana


“Masa sih? Mamah gak bilang begitu. Kamu kali yang kangen? Ingat loh Na, Arjuna itu sudah milik orang lain dan kamu harus mup..........mup..............”. Sambil berpikir.


“Move on maksud mamah?”.


“Ah.........itu yang mamah maksud mupon”.


“Ya ampun mamah................”. Nana menggelengkan kepalanya.


“Assalamu’alaikum.................”. Suara papah terdengar didepan pintu


“Nah..............papah pulang. Nana ke kamar ya...........dah mamah”.


“Iya sayang..............”.


“Wa’alaikum salam, sebentar pah”.


Mama membuka [intu untuk papa dan Nana kembali ke kamarnya.