MRKH GIRL

MRKH GIRL
Episode 88. Di Jakarta



Selama 46 jam perjalanan, akhirnya Imam tiba di Jakarta pukul 12.00 kemudian melanjutkan perjalanan nya menuju rumah salah satu kerabat Ayah nya yang berada di kampung Melayu Jakarta Timur, untuk berisitirahat agar besok pagi dapat melanjutkan perjalanan nya menuju rumah Nana.


“Assalamu’alaikum pak lek, bulek?”. Imam mengetuk pintu


“Wa’alaikum salam”. Bulek Tantri membuka pintu


“Ya Allah, Imam?”. Bulek Tantri begitu terkejut dan senang melihat Imam ada di depan nya.


Beberapa tahun lalu, Imam sempat tinggal beberapa bulan di rumah bulek Tantri dan pak Lek Hasan, ketika Imam sedang mencari-cari pekerjaan. Pada akhirnya setelah Imam bekerja, Imam memilih untuk sewa kontrakkan karena tidak ingin merepotkan keluarga pak Lek Hasan, setelah itu berlalu sampai pada akhirnya, Imam dan bulek Tantri bertemu ketika ibu Imam meninggal.


“Sampean rene karo sopo (Kamu kesini sama siapa)?”


“Piyambak, bulek (Sendiri bulek)”. Jawab Imam


“Ealah.......lali aku Mam. Ayo mlebu (Mari masuk)”.


“Matur suwun. Pak lek wonten bulek (Terimakasih. Oia, pak Lek ada bulek)?”.


“Pak Lek sampeyan lunga menyang kerja esuk iki (Paman mu sudah berangkat kerja tadi pagi). Sampeyan arep ngombe opo (Kamu mau minum apa)?”.


“Matur nuwun bulek. Ojo repot-repot (Terimakasih bulek. Gak usah repot-repot)”.


“Ora ngrepoti. Yo wis, bulek tak nyiapke teh anget yo. (Gak merepotkan. Yasudah, bulek siapkan teh hangat ya). Sampeyan ngaso wae (Kamu istirahat dulu saja)”.


“Iyo bulek”.


Bulek Tantri adalah adik dari Ayah Imam, asli jawa, walaupun sudah lama menetap dan menjadi warga Jakarta, namun budaya dan dialek jawa nya masih sangat mengental.


Bulek Tantri menyiapkan teh hangat untuk Imam, sementara Imam istirahat sejenak di sofa, melepas lelah semalaman.


“Nah.............. ini teh hangat nya. Diminum lek, setelah itu bersih-bersih dan istirahat di kamar. Sebentar, bulek ganti seprey nya dulu”. Kata bulek Tantri


“Iya bulek”.


Imam meneguk teh hangat buatan bulek Tantri, sedikit demi sedikit, sambil melihat-lihat sekitar isi rumah yang tidak banyak berubah dari sebelumnya. Seperti nya bulek Tantri sangat menjaga dan resik terhadap rumah dan isi nya, sehingga tidak ada satu barangpun yang berpindah tempat bahkan hilang. Keadaan rumah masih sama seperti beberapa tahun silam.


“Im........kamar nya sudah rapi, silahkan istirahat. Bulek mau ke pasar, beli kebutuhan dapur, kebetulan stok masakan sudah habis. Nanti bulek masak kan makanan kesukaan mu”.


“Iya bulek. Hati-hati”.


“Iya. Assalamu’alaikum”. Bulek Tantri pamit


“Wa’alaikum salam warrohmatullah”. Jawab Imam, kemudian menuju kamar yang telah disiapkan oleh bulek Tantri.


Waktu asar pun tiba, Imam masih melepas lelah dalam kamar. Kamar yang dahulu pernah ia tempati semasa ia tinggal bersama keluarga pak lek Hasan dan bulek Tantri.


Bulek Tantri sudah menyiapkan masakan kesukaan Imam.


“Assalamu’alaikum................”. Suara pak lek Hasan terdengar di teras rumah


“Wa’alaikum salam”. Bulek Tantri membuka pintu dan mencium tangan suami nya


“Sudah pulang pak e, biasa nya ba’da maghrib”.


“Iya, hari ini agak santai di kantor. Jadi bapak pulang saja. Masak opo bu e?”.


“Oh...., jangan bening karo iwak mujair. Kesukaane Imam tapi bu e juga masak kesukaan bapak juga loh”. Jawab bulek Tantri


“Imam?”. Tanya pak lek Hasan


“Iya, baru datang tadi siang. Diminum air nya pak e”. Bulek Tantri menyodorkan segelas air putih untuk suami nya.


Memang sudah menjadi kebiasaan bulek Tantri selalu menyambut kepulangan suaminya dengan segelas air putih.


“Matur suwun buk e”. Pak lek Hasan meneguk segelas air tersebut.


“Imam kerjo maneh nyang Jakarta Buk e (Imam kerja lagi di Jakarta buk e)?”. Tanya pak lek Hasan


“Buk e ndak tau, lah wong buk e belum sempat tanya”. Jawab bulek Tantri dengan logat jawa nya.


“Yo wis, sekarang bapak mandi dulu, bersih-bersih. Buk e mau membangunkan Imam, belum sholat asar dia”. Membawakan tas bapak ke dalam kamar.


“Iya bulek”. Imam membuka pintu dengan mata masih terpejam


“Ya ampun...............bocah iki, panggah ae. Ket mbiyen lek tutu, angel di gugah (Ya ampun...............anak ini. Gak ada perubahan. Dari dulu kalau tidur, susah di bangunin). Mandi, sholat, langsung ke meja makan. Pak lek mu sudah menunggu”.


“Iya bulek”. Jawab Imam


Imam segera membersihkan badan lalu sholat asar, kemudian menemui pak lek dan bulek di meja makan.


“Sore pak lek”. Imam mencium tangan pak lek Hasan lalu duduk di kursi persis didepan pak lek


“Kapan teko Mam?”. Tanya pak lek Hasan


“Tadi siang pak lek”.


“Piye kabare bapak mu, waras?”.


“Enggih pak lek”.


“Lah terus, kamu ke Jakarta mau cari kerja atau apa?”


“Arep neng omah e konco, di daerah Cililitan”.


“Ooo......Kamu saiki kerjo opo, Mam?”.


“Bantu-bantu mas Dodi di peternakan pak lek”.


Pak lek Hasan manggut-manggut sambil memainkan kumis tipis nya.


“Sudah-sudah, ngobrol nya di disambung nanti saja. Ini bulek masak kesukaan mu Mam, ayo di makan”. Sambil mengambilkan nasi untuk pak lek Hasan.


“Di makan Mam, kamu pasti capek. Oh iyo, numpak opo Mam dari Malang? Sepur opo bis (Kereta atau bis)?”. Tanya bulek Tantri


“Lama yo...........pirang jam?”.


“Normal nya 23 jam, tetapi kemarin bis nya mogok, jadi perjalanan sampai 46 jam”. Jawab Imam dengan nada lesu


“Ya Allah............lah kok bisa? Ra enek ban serepe atau piye?”. Sambil menggelengkan kepala nya


“Mbuh, semalam aku tidur nyang terminal Solo sambil menunggu bis pengganti, tapi................”.


“Tapi opo le?”. Bulek Tantri begitu antusias dengan cerita Imam


“Tas ku di gondol maling, baju ganti, dompet, semua di dalam tas dan lenyap”.


“Ya Allah............sabar le”. Dengan wajah sedih nya


“Iya bulek. Matur suwun”.


“Wis....wis..... lanjut makan nya. Mau nambah pak e?”.


Imam merasa bersyukur atas semua yang Allah beri, memiliki keluarga baik seperti pak lek Hasan dan bulek Tantri adalah anugerah paling indah dalam hidup Imam. Bulek Tantri sudah dianggap seperti ibu nya setelah ibu nya meninggal dunia beberapa tahun silam.


“Terimakasih pak lek, bulek atas semua kebaikan dan perhatian yang kalian berikan”.


“Iyo lek, sama-sama. Sesama keluarga harus saling menyayangi dan membantu. InsyaAllah kami akan selalu ada jika kamu butuhkan”. Jawab bulek Tantri


“Betul apa yang dikatakan bulek mu, Mam. Jika butuh bantuan, kami selalu siap membantu”. Kata pak lek Hasan


“Iyo, pak lek. Sekali lagi terimakasih”.


“Pak lek, bulek, malam ini saya bermalam di sini, boleh? Besok pagi, saya akan ke Cililitan, ke rumah teman”.


“Ya boleh dong Mam, ini kan rumah mu juga. Iya toh?”.


“Iya bulek”.


Suasana rumah pak lek Hasan dan bulek Tantri kembali rame dengan kedatangan Imam, pak lek Hasan dan bulek Tantri sudah lama menikah, namun belum dikarunia eorang anak. Kehadiran Imam membuat rumah pak lek dan


bulek Tantri serasa hidup kembali.