
Hari ini Nana bertemu dengan pak Guntur teman pak Sidik. Pak Guntur adalah seorang general manager yang bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata di Jakarta.
Pak Sidik memarkir mobilnya di tempat parkir tamu yang telah disediakan oleh perusahaan tersebut, perusahaannya cukup besar dan terlihat sangat maju. Lahan parkir yang luas serta taman yang indah dan begitu hijau membuat perusahaan ini terlihat sangat nyaman dan asri.
Kami berjalan memasuki perusahaan itu dari pintu depan yang di jaga oleh dua orang satpam berbadan tinggi besar serta berotot kekar seperti body guard, namun terlihat santun. Sesampainya di depan front office, kami di sambut oleh seorang wanita cantik, berkulit putih, berambut ikal sepinggang terurai, bertubuh tinggi semampai dengan kemeja ketat dan rok mini serta high heels.
“Pagi pak, dengan pak Sidik”. Sapa wanita itu dengan suara manja dan senyum manis di bibir berwarna pink.
“Pagi, ia betul”. Jawab pak Sidik
“Perkenalkan saya Isabel, sekretaris pak Guntur. Saya diminta beliau untuk mengantar bapak ke ruangannya”.
“Oh, iya. Terimakasih”.
“Mari pak, ikut saya”. Tambah Isabel.
Nana dan pak Sidik berjalan mengikuti langkah Isabel yang berjalan layaknya seorang model, dengan hentakan high heels nya diatas lantai, membuat Isabel terlihat semakin sexy dari belakang.
Nana begitu canggung dengan penampilan wanita sexy itu, dia memperhatikan setiap ruangan dan karyawan yang ia temui. Mereka semua cantik-cantik dan sexy namun ada beberapa yang mengenakan kemeja lengan panjang serta celana bahan panjang dan berkerudung, namun tetap modis.
Setelah menaiki beberapa anak tangga, mereka sampai di depan ruangan pak Guntur. Isabel mengetuk pintu dan meminta izin untuk masuk.
“Permisi pak”. Isabel mengetuk pintu
“Masuk”. Jawab pak Guntur dari dalam ruangannya.
Isabel membuka pintu dan aura dingin serta sejuk dari AC menyembur keluar ruangan hingga dapat di rasakan oleh pak Sidik dan Nana yang masih berada di depan pintu. Isabel meninggalkan mereka.
“Hi, pak Guru. Apa kabar?”. Sapa pak Guntur seraya menyambut pak Sidik kawan lama nya waktu di SMA
hingga kuliah dulu.
Pak Guntur berjalan meninggalkan kursinya dan memeluk pak Sidik yang masih berdiri di depan meja nya.
“Alhamdulillah......baik”. Jawab pak Sidik.
“Hebat ya....sekarang sudah jadi manajer, punya sekretaris cantik dan sexy”. Kata pak Sidik.
“Bisa aja”. Jawab pak Guntur dengan senyum lebar di bibir nya.
“Mari, silahkan duduk”.
Mereka duduk di sofa yang sangat empuk dan besar.
“Mau minum apa?”. Tanya pak Guntur.
“Apakah sekretaris mu yang akan membuatkan kopi?”. Tanya pak Sidik dengan mengangkat satu alis.
“Haaa................ ya nggak lah..... Cuma bikin kopi aku juga bisa”. Jawab pak Guntur.
Pak Guntur membuka lemari kecil yang berada di ruangannya, ruangan pak Guntur sangat lengkap, tidak hanya TV dan sofa, tetapi ada lemari es lengkap dengan isinya, dispenser serta lemari kecil berisikan kue kering, kopi, susu, teh, gula dan kebutuhan pak Guntur lainnya.
Pak Guntur menyiapkan kopi susu panas untuk pak Sidik dan dirinya sendiri.
“Kalau ibu sendiri mau minum apa?”. Tanya pak Guntur kepada Nana
“Air mineral dingin aja pak”. Jawab Nana gugup
Pak Guntur mengambilkan Nana air mineral yang ada di dalam lemari es. Meletakan air itu didepan Nana lalu duduk kembali di depan pak Sidik.
“Ini dengan ibu siapa?”. Tanya pak Guntur dengan tatapan hangat.
“Ini Ardiana, dia siswi ku dulu waktu SMA. Kemarin baru saja di wisuda dengan gelar sarjana sastra”. Pak Sidik
memperkenalkan Nana kepada pak Guntur.
Nana menganggukan kepalanya,
“Wow......fresh graduate. Apakah ibu Ardiana sudah pernah bekerja sebelumnya?”. Tanya pak Guntur pada Nana
“Selama kuliah, saya memang sambil bekerja pak. Saya pernah bekerja di perusahaan sebagai operator selama dua tahun, pernah juga menjadi guru pembantu di sekolah”. Jawab Nana
Pak Guntur mengangguk-anggukan kepala nya.
“Begini bu Ardiana, perusahaan kami bekerja di bidang pariwisata, yang alhamdulillah sangat maju. Setiap tahun
kurva pengunjung semakin meningkat, sehingga kami membutuhkan tambahan guide yang pandai dan bagus dalam berbahasa terlebih lagi bahasa inggris. Karena banyak sekali tamu yang datang dari luar”.
Gambaran Nana adalah bahwa Nana akan menjadi seorang penerjemah di dalam sebuah perusahaan, yang hanya duduk didepan meja ditemani oleh laptop dan siap menterjemahkan dokumen penting perusahaan. Namun Nana bekerja sebagai tour guide atau pemandu wisata.
“Jika anda bersedia, besok anda sudah bisa bergabung dan bekerja disini”. Lanjut pak Guntur.
“Iya pak, saya bersedia”. Jawab Nana
Pak Guntur bangun dari duduknya, berjalan kearah meja kerja nya dan mengambil sebuah dokumen yang sepertinya berisikan job description sebagai tour guide untuk Nana.
“Ini jobdes anda, silahkan di pahami”. Pak Guntur memberikan dokumen itu pada Nana
Nana membaca poin demi poin dari setiap jobdes yang menjadi tanggung jawabnya.
“InsyaAllah saya mengerti pak”. Kata Nana
Pak Guntur mengeluarkan handphone nya dan menelpon salah satu karyawannya.
“Pak Wira, bisa keruangan saya sebentar?”. Kata pak Guntur dalam telepon lalu menutup handphone nya kembali.
Tidak lama dari itu, datang seorang laki-laki bertubuh sedang sedikit gemuk, berkulit sawo matang dan berwajah
“Pak Wira, ini ibu Ardiana. Beliau baru saja di wisuda dengan gelar sarjana sastra, mulai besok beliau sudah bisa
bergabung dengan tim anda dan bu Ardiana ini pak Wira, beliau sudah satu tahun bergabung dengan kami dan alhamdulillah prestasi dan kinerja beliau selama satu tahun ini sangat bagus dan memuaskan sehingga bulan lalu beliau di angkat sebagai ketua tim atau guide kepala yang akan membantu anda bekerja. Semua aturan tim dibawah kekuasaan pak Wira”.
“Wira Pratama”. Pak Wira menjulurkan tangan nya
“Ardiana”. Nana menyambut tangan pak Wira
Pak Wira mengajak Nana berkeliling perusahaan sekitar devisi nya saja, sementara pak Sidik berpamitan terlebih
dahulu karena harus kembali ke sekolah. Setelah pak Wira menjelaskan apa saja tanggung jawab Nana dan memperkenalkan Nana dengan anggota tim, pak Wira mengajak Nana untuk makan siang bersama di kantin yang berada di lingkungan kantor.
“Menu di sini enak loh dan harga nya juga masih terjangkau dan lebih enak lagi, kita tidak perlu repot-repot keluar
kantor untuk cari makan”. Kata pak Wira sambil menyodorkan buku menu pada Nana
Nana membuka buku menu tersebut dan memilih makanan sesuai selera nya.
“By the way, sudah pernah bekerja menjadi tour guide sebelumnya?”.
“Belum”. Sambil terus melihat daftar menu yang ada di buku itu.
Pak Wira mengacungkan tangan kanannya kearah pramusaji yang berdiri beberapa meter dari meja mereka, pramusaji itu berjalan menghamipir meja yang di tempati oleh pak Wira dan Nana.
“Saya menu biasa aja ya mbak, ayam bakar madu, oange jus, nasi nya jangan lupa”. Bisik pak Wira kepada pramusaji tersebut.
Nana melirik kearah pak Wira, “Seperti nya dia orang yang ramah dan suka bercanda, namun profesional.
Di kantor dia berwibawa dan menunjukan kalau dia sebagai kepala guide namun di luar dia seperti teman”. Gumam Nana dalam hati
“Mau pesen apa bu Ardiana?”. Tanya pak Wira
“Saya minum aja pak, tidak begitu lapar”. Jawab Nana
“Buatkan menu yang sama dengan saya”. Kata pak Wira kepada pramusaji yang berdiri di depan mereka.
“Baik pak tunggu sebentar”. Jawab pramusaji itu lalu pergi meninggalkan pak Wira dan Nana.
“Seperti nya usia kita tidak jauh berbeda, malah saya melihat di Cv anda usia saya dua tahun lebih muda dari anda, jadi panggil saja saya Wira, kecuali di dalam kantor karena saya biasa seperti ini sama siapa saja”. Kata Wira
Nana hanya terdiam, mengangguk dan mendengarkan ocehan Wira yang sedari tadi selalu mengajaknya bicara.
“Kalau begitu, panggil saja Nana agar saya tidak terlihat lebih tua”. Jawab Nana santai.
“Maaf tidak bermaksud menyinggung anda soal usia, saya hanya berusaha untuk lebih akrab saja sesama tim”.
Nana tersenyum..............
Beberapa menit kemudian, pramusaji datang memberikan hidangan sesuai dengan pesanan Wira. Mereka menyantap makan siang dengan santai sambil terus mengobrol sekitar pekerjaan.
“Nanti pulang nya naik apa?”. Tanya Wira kembali
“Angkot”. Jawab Nana singkat
“Bagaimana jika pulang bareng saya aja”.
“Tapi kita beda arah pak, maaf Wira”. Nana menelan makanan yang sedari tadi dia kunyah.
“Itu soal gampang”. Wira menatap Nana
Nana merasa risih dengan ocehan Wira yang sejak tadi tidak mau berhenti, dia hanya tersenyum untuk membalas kata-kata dan semua pertanyaan Wira.
“Makan siang kali ini saya yang traktir. Anggap saya menyambut anggota baru”. Kata Wira
Nana melotot dan perasaannya makin tidak karuan. Ingin rasanya ia segera meninggalkan kantin dan kembali
pulang karena hari ini, dia belum mulai bekerja.
“Tapi..............”. Nana berusaha untuk menolak traktiran Wira
“Ssstttt.........!!!!”. Wira menutup bibir tipis Nana dengan jari telunjuknya.
“Suatu kehormatan bagi laki-laki jika bisa mengajak dan mentraktir perempuan cantik seperti kamu”. Kata Wira
Perkataan Wira benar-benar membuat Nana mual dan ingin memuntahkan semua isi perutnya saat itu juga.
“Pak, maaf boleh saya ke belakang sebentar?”. Nana meminta izin
“Silahkan”.
Nana segera bergegas ke kamar kecil mencari wastafel dan mencuci wajahnya, badan nya sudah mulai gerah dengan semua ocehan pak Wira yang semakin membuatnya geli.
“Ya tuhan......lindungi aku”. Gumam Nana sambil menatap wajahnya yang basah di depan kaca.
Beberapa menit kemudian, Nana kembali ke kantin menemui pak Wira. Pak Wira masih duduk di kursi itu, namun sudah selesai makan siang.
“Pak, hari ini kan saya belum mulai bekerja. Itu artinya, saya boleh pulang?”. Kata Nana dengan suara sedikit gugup
“Iya, boleh. Saya antar”. Jawab Wira
“Nggak usah pak, terimakasih. Bapak kan harus kembali ke kantor. Kalau begitu, saya permisi pak”. Nana segera pergi meninggalkan Wira
Wira menatap Nana dari kejauhan dengan senyum nakalnya.
“Ardiana, cantik juga. Kita pasti akan sering bersama dan aku pastikan kamu akan jatuh cinta pada ku”. Kata Wira pada dirinya sendiri