
Perhatian Wira membuat Nana percaya bahwa dia laki-laki baik dan bertanggung jawab. Nana mulai memikirkan usaha Wira untuk dalam menunjukan perasaan nya. Nana hanya butuh sedikit lebih bersabar menunggu kesiapan Wira untuk menemui keluarga nya dan melamar diri nya.
Kondisi Nana masih sangat lemah dan hanya berbaring di atas tempat tidur pasien, sudah tiga hari dia berbaring di
rumah sakit dan Wira selalu datang untuk menjenguk nya disela kesibukan nya di kantor, Wira selalu membawakan makanan kesukaan Nana, bahkan membayar biaya rumah sakit untuk nya.
“Hai......, selamat pagi”. Wira datang menjenguk Nana sebelum berangkat ke kantor.
“Hai”. Jawab Nana dengan senyum.
“Pagi banget? Apa itu?”. Nana melirik pada bingkisan yang ada di tangan Wira.
“Nanti ada meeting, makanya aku datang pagi sekalian bawain kamu sarapan”. Wira mempersiapkan sarapan untuk Nana dan membawa nya ke hadapan Nana.
“Wah.......bubur kacang ijo.......terimakasih”.
Wira membantu Nana untuk duduk dan bersandar lalu menyuapi nya.
“Kamu harus makan banyak agar cepat sehat dan kembali ke kantor. Hati ini hampa tanpa mu”. Gombal Wira.
“Haaaa...........”. Mereka tertawa bersama.
“Makasih ya...... Aku minta maaf atas sikap ku selama ini”.
“It’s OK”. Wira mengelus kepala Nana.
“Aku hanya ingin tidak ada orang yang tahu tentang hubungan kita. Aku berencana untuk memberi kejutan kepada semua orang ketika kita menikah nanti”. Kata Wira.
“Cukuplah hubungan ini berdasarkan kepercayaan, aku ingin kamu percaya bahwa aku mencintai mu dan aku pun percaya pada hati mu”. Lanjut Wira
Nana menganggukan kepalanya.................
“Aku percaya”. Jawab Nana
“O iya, aku harus segera ke kantor”.
“Iya, hati-hati”. Nana melambaikan tangan dan tersenyum pada Wira dan Wira membalas senyum Nana.
Wira keluar dari ruangan Nana dengan wajah bahagia karena dia telah mendapatkan hati Nana.
“Drrtttt..................”. Handphone Wira bergetar.
Wira mengambil handphone dari saku celana nya dan melihat ada pesan masuk dari seorang wanita bernama Siska.
“Hai.....apa kabar. Aku kangen................by Siska”. Pesan perempuan itu.
Wira sedikit berpikir dan bertanya pada dirinya sendiri, siapa siska ini. Beberapa menit kemudian, dia teringat dengan sosok perempuan yang pernah mengisi hari-hari nya dahulu, Wira pun tersenyum mendapatkan pesan dari Siska, Siska adalah perempuan yang pernah ada dalam hidup Wira jauh sebelum bertemu Nana.
“Hai, kabar baik. Aku juga kangen sama kamu”.
“Ada waktu? Aku ingin makan malam berdua seperti dulu ”. Balas Wira
“Bisa dong.............ketemu di tempat biasa jam tujuh malam”.
“Ok”. Wira mengirimkan pesan terakhir dengan emoticon love.
Nana yang masih berbaring di rumah sakit merasa bahagia atas perhatian Wira kepada nya selama ini. Nana mengambil handphone nya yang berada di meja dekat dengan tempat tidur nya dan menghubungi Tika, Riyan dan Lia menggunakan video call.
“Hai.....morning guys......!!!”.
“Morning..................”. Tika, Lia dan Riyan menyambut Nana sambil melambaikan tangan nya.
“Apa kabar kalian? I miss you”
“Miss you too”.
“Riyan dan Lia perkenalkan itu Tika teman ku di S1 dan itu Riyan serta Lia teman ku di D3”. Nana memperkenalkan mereka lewat video call.
“Kamu kenapa neng?”. Tanya Riyan
“Aku lagi berenang. Wkwkwkkw........”. Jawab Nana bercanda
“Riyan kebiasaan ya...... lihat dong, itu Nana sedang di infus masa iya lagi di mall”. Balas Lia.
“Ya.....bisa aja kan dia di ikat agar lebih jinak. Haaaa”. Riyan mulai menggoda Nana dengan jailnya dan Tika hanya bisa tertawa mendengar celoteh Riyan, Lia dan Nana.
“Jenguk dong................ Aku sendirian di rumah sakit”. Nana memelas
“Dasar jomblo. Iya tar aku jenguk bawa karangan bunga ya......sekalian”. Kata Riyan
“Ah.....jahat!!!”.
“Sorry Na, aku gak bisa karena ada aku ada proyek di Bandung”. Kata Lia
“Trus siapa dong.....yang menemani ku?”. Nana tambah memelas pada teman-teman nya itu.
“Nanti aku datang ya Na, setelah urusan ku selesai di kampus. Hari ini aku mau daftar wisuda”. Tika ikut bicara.
“Oh.......Tika I love you. Thank you”.
“Sampai berjumpa guys....... I love you all. Sukses semua nya................”. Nana menutup pembicaraan nya.
Jam makan siangpun tiba, Nana menunggu kedatangan Wira karena selama Nana di rumah sakit, Wira pun selalu datang untuk makan siang bersama, tetapi siang ini Wira belum terlihat batang hidungnya. Handphone Wira pun tidak dapat di hubungi dan selalu sibuk. Nana mencoba untuk mengerti karena kesibukan Wira di kantor sampai akhirnya Nana terlelap tidur menunggu kabar yang tak kunjung datang.
Tak terasa waktu terus berjalan dan sudah menunjukan pukul tiga sore, Nana membuka mata, melihat pesan masuk yang ada di handphone nya namun tidak ada pesan dari Wira. Sampai akhirnya Tika menepati janji nya dan mengunjungi Nana di rumah sakit.
“Assalamu’alaikum..................”. Tika datang dengan membawa sekeranjang buah untuk Nana.
“Hai.....wa’alaikum salam. Thank you for coming”. Jawab Nana
“Kamu sendirian? Ibu dan bapak?”. Tanya Tika
“Tadi sebelum juhur, ibu datang lalu pulang dan nanti malam balik lagi”. Jawab Nana.
“Aku bawain kamu buah”. Tika mengambil satu buah pear dan mengupasnya untuk Nana.
“Tapi aku lapar, biasanya Wira datang bawain aku makan siang tapi hari ini gak ada kabar”. Suara Nana terdengar sedih.
“Ya ampun......kasian. Mungkin dia sibuk. Mau makan apa? Aku yang belikan”. Tambah Nana
“Gak usah, makan buah aja”.
“By the way, kamu jadian sama Wira?”. Tanya Tika sambil memotong buah pear dan memberikan pada Nana.
“Gak sih.....Cuma deket aja. Aku gak mau terlalu berharap pada Wira. Biar lah berjalan apa adanya. Jika dia jodoh ku, maka tuhan akan memudahkan nya”.
“Aamiin........ gitu dong.......yang penting selalu optimis”.
“Wira hanya minta aku untuk merahasiakan kedekatan kami. Katanya agar pernikahan kami nanti menjadi kejutan buat teman-teman nya”.
“Cinta itu ada di hati yang di tunjukan dengan perhatian dan saling percaya. So be positive”.
“Iya.......aku percaya tapi hati ini seperti belum ada cinta untuknya”.
“Waktu yang akan mendatangkan cinta”. Jawab Tika
“Kring...........kring.............kring...................”. Handphone Nana berdering, ada panggilan masuk dari Wira.
“Halo”.
“Maaf siang tadi gak datang untuk makan siang dan sore ini pun aku gak bisa mampir ke rumah sakit karena banyak kerjaan. Besok pagi aku pasti mampir ke rumah sakit”.
“Iya, gak apa-apa. Aku ngerti”. Jawab Nana singkat.
“Mau di bawain apa untuk sarapan besok?”. Tanya Wira kembali
“Terserah kamu aja. Makasih ya......”.
“Sekali lagi aku minta maaf, aku janji besok pagi pasti datang”.
“Selamat beristirahat dan sampai jumpa besok”.
“Iya.....terimakasih”. Jawab Nana
“Tut.....tut........tut.......”. percakapan mereka terputus.
Nana menghela nafas dan menatap Tika yang ada didepan nya.
“Aku merasa bersalah sama Wira, dia begitu perhatian sama aku tetapi aku masih sedikit ragu bahkan hati aku belum bisa menerima dia. Aku takut, aku akan mempermainkan cinta nya”.
“Cinta butuh proses Na......, belajar melupaka Juna dan membuka hati untuk orang lain”. Tika
memeluk Nana
“O iya, Aku harus segera pulang, takut kesorean. Kamu gak apa-apa aku tinggal?”.
Nana memejamkan matanya dan menganggukan kepalany,
“Gak apa-apa sayang............sebentar lagi ibu dan bapak pasti datang. Thanks for coming”. Nana memeluk Tika erat, seakan tidak mau ditinggal sendirian.
“Aku pulang ya.....lekas sembuh”.
“Thank you. Selamat juga karena kamu sebentar lagi wisuda”. Tika melambaikan tangan nya dan berjalan pulang.
Nana meraih novel yang ada di sampingnya dan membaca lembar demi lembar, chapter demi chapter untuk menghilangkan kejenuhan nya sambil menunggu ibu dan bapak datang. Sementara Wira, bersiap-siap untuk menemui mantan nya di caffe yang telah mereka rencanakan tadi pagi.
Malam itu Wira sangat gugup karena akan bertemu kembali dengan mantan nya dulu, mantan yang tidak pernah terpikirkan lagi, namun kini kembali menghubungi nya. Wira berpenampilan casual namun sedikit resmi dengan kemeja hitam dan celana panjang jeans berwarna hitam, tidak lupa juga, dia menyemprotkan parfume cassablanca kesukaan nya, yang membuat dia semakin fresh.
Selesai sholat maghrib Wira pergi ke sebuah caffe untuk menemui Siska, wanita yang pernah dekat dengan nya satu tahun yang lalu. Wira datang tepat waktu dan ternyata Siska sudah duduk manis menunggu kedatangan Wira, dengan mengenakan kaos berbahan stretch dengan bahu terbuka lebar berwarna maroon yang membuat Siska terlihat tampil sexy malam itu, lengkap dengan jeans model boot cut jeans yang membuat penampilan nya semakin menggoda, ditambah dengan postur tubuh Siska yang semampai dan terlihat aduhai, dan memiliki dada serta bokong yang besar.
Polesan bibir berwarna merah senada dengan kaos yang dikenakan nya, yang membuat bibir Siska semakin
menawan seperti aktris holliwood papan atas, Angelina Jolie. Rambut hitam panjang yang terurai membuat Wira tak bisa berpaling, serta mata bulat dengan mascara dan suara serak manja, membuat Wira semakin terpesona dan tidak dapat mengedipkan matanya apalagi jauh dari mantan nya.
Penampilan Siska sangat berbeda dari satu tahun yang lalu, Siska yang dahulu terlihat lugu dan biasa-biasa saja. Sekarang jauh berbeda, menjadi wanita cantik dan sexy dambaan semua laki-laki.
Wira berjalan gagah kearah Siska, dari kejauhan Siska melambaikan tangannya pada Wira dengan mengibaskan rambut hitam nya itu dan menebar senyum di bibir sexy nya.
“Hai, selamat malam”. Wira menyapa Siska penuh tatapan nakal di mata nya.
“Hai”. Siska memberi senyuman manis pada Wira.
Wira duduk di depan Siska dengan mata terpana pada wanita di depan nya itu.
“Aku sudah pesankan makanan kesukan mu”. Kata Siska dengan suara serak basah dan manja nya itu.
“Kamu masih ingat dengan makanan kesukaan ku?”. Tanya Wira
“Aku selalu ingat semuanya tentang kamu dan kita”.
“Sungguh? Terimakasih”. Jawab Wira bahagia.
“Kamu cantik sekali malam ini dan aku suka. Kamu wanita tercantik dan tersexy yang pernah ada dalam hidup ku”. Bisik Wira dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Siska.
Siska meraih tangan Wira lalu menggenggamnya,
“Aku masih sayang sama kamu”. Siska berlaga manja di depan Wira
“Lalu?”. Tanya Wira
dengan nada menggoda
“Aku ingin kita balikan. Aku ingin seperti dulu lagi”. Pinta Siska
Wira tersenyum sejenak dan meneguk orange jus yang sudah di pesankan oleh Siska, untuk menghilangkan sedikit rasa gerogi nya. Tanpa pikir panjang, Wira menjawab permintaan Siska saat itu juga.
“Seperti nya aku tidak bisa menolak tawaran gadis cantik dan sexy seperti kamu tapi aku tidak mau ada satu orang pun yang tahu tetang ini”.
“Kenapa”. Siska mengerutkan dahi nya.
“Karena aku belum siap untuk menikah. Aku ingin kita menikmati masa muda kita, kita jalani prosesnya dan kenal lebih dekat”.
Siska melemparkan senyuman manis untuk Wira dan menyetujui permintaan Wira. Dengan seketika mereka pun balikan. Wira sama sekali tidak memikirkan tentang Nana, bagi Wira dicintai oleh banyak wanita itu adalah sebuah anugerah dan patut untuk di banggakan.
Makan malam itu berjalan dengan sukses, Wira mengantar Siska pulang dengan vixion nya, dan Wira sangat bahagia. Wira mengantar Siska sampai depan gerbang kosan.
“Terimakasih atas makan malam nya”. Siska memberikan kecupan di pipi Wira dan masuk ke dalam kosan.
Wira segera beranjak dan pulang.................
Pagi itu Wira bangun agak telat dari sebelumnya karena dia tidur larut malam. Sehingga Wira pun lupa akan janji nya untuk berkunjung ke rumah sakit. Handphone Wira bergetar pertanda ada pesan masuk, Wira membuka handphone nya dan membaca isi pesan.
“Pagi ini jam sepuluh, dokter sudah mengizinkan aku untuk pulang. Kamu bisa jemput?”. Pesan itu dari Nana
“Hmmm.....maafin aku. Aku kesiangan, semalam kerjaan aku bawa pulang dan aku lembur, sehingga tidur larut malam. Aku kesiangan dan gak bisa jemput kamu. Kamu naik taxi aja, biar aku yang pesan dan bayar. Ok. Maaf ya..... aku seneng kamu sudah sembuh”. Jawab Wira
Nana sedikit kecewa dengan Wira, namun dia selalu berusaha untuk mengerti. Nana pulang di jemput oleh taxi yang dipesan oleh Wira. Selama Nana istirahat di rumah, Wira tidak pernah menjenguknya. Dia hanya mengirimkan parcel buah atau bunga serta kebutuhan Nana lain nya. Alasan Wira hanya sibuk dan belum bisa bertemu orang tua Nana.
Nana sangat mengerti dengan kesibukan Wira, karena Wira memang laki-laki yang pintar dan profesional dalam bekerja sehingga Nana selalu meng-iya-kan semua alasan Wira yang berhubungan dengan pekerjaan dan kesibukan nya.
Sejak makan malam dengan Siska di caffe, Wira sering chating dan menemui Siska diam-diam tanpa sepengetahuan Nana, tetapi Wira membungkus semua permainan nya itu dengan sangat rapi, dia selalu menjaga komunikasi dan perhatian serta kepercayaan nya kepada Nana, sehingga semua nya berjalan baik-baik saja.
Bahkan tidak ada satu teman sekantor Wira yang tahu tentang hubungan dan kedekatan Wira dan Nana. Nana percaya bahwa Wira menyembunyikan hubungan mereka semata-mata hanya untuk memberi kejutan kepada teman-teman di kantornya. Namun ternyata semua itu salah, Wira menyembunyikan hubungan mereka karena Wira ingin bebas menjalin hubungan dengan siapa saja tanpa harus diketahu oleh wanita yang sedang dekat dengan nya.
Hal yang lebih mengagetkan lagi adalah, Siska merupakan adik dari teman Nana waktu Nana masih duduk di bangku SMA dulu, bernama Tari.