
“Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikum salam”. Nana membuka pintu
Mata Nana melotot dan ternganga melihat seorang laki-laki berdiri di depan pintu, mengenakan kemeja biru langit lengan panjang, sedikit digulung, berdasi dan celana bahan hitam serta bersepatu.
“Nana?!!!!”.
Laki-laki itu terkejut melihat Nana ada di depan nya
“Kak Juna?!!!”.
Nana segera menutup pintunya kembali seakan tidak mau lagi melihat Juna.
“Tunggu Na”. Juna menahan pintu agar tetap terbuka
“Maaf kamu salah alamat”.
“Aku tidak mungkin salah orang ataupun salah alamat. Aku masih hafal betul dengan wajah kekasih ku dulu”.
“Jaga mulut kamu kak Juna. Aku sudah menikah dan bahagia bersama suami ku”. Jawab Nana ketus
“Aku kesini bukan untuk mencari kamu”. Sedikit berbohong walaupun sebenarnya Juna berharap dapat bertemu kembali dengan Nana
“Lalu?”.
“Siapa sayang?”. Suara Imam memotong pembicaraan antara Nana dengan Juna.
“Aku mencari pak Imam. Apakah dia suami mu?”. Tanya Juna
“Tamu untuk mas”. Jawab Nana dengan tatapan pekat ke arah Juna
“Siapa sayang?”.
“Pak Juna”.
Imam segera menghampiri Nana dan Juna yang masih berdiri di teras kontrakan.
“Pak Juna, apakabar?”. Imam menjulurkan tangannya
“Hai pak Imam, kabar baik. Bagaimana dengan anda? Senang bertemu dengan anda kembali”. Juna menyambut tangan Imam dan memeluk Imam dengan erat.
“Alhamdulillah bakar saya baik pak?”. Sambil melepaskan pelukan Juna
“Sayang, ini pak Arjuna yang pernah mas ceritakan dulu”. Imam memperkenalkan Juna pada Nana sambil merangkul istri nya.
“Hai bu Nana. Saya Arjuna, panggil saja Juna”. Juna menatap mata Nana
“Hmmm....mas aku siapkan minuman ya”. Nana tidak menghiraukan Juna didepan nya, dia segera ke dapur mempersiapkan minuman untuk Juna dan suaminya.
Nana masuk menuju dapur, dan Juna terus memandangi Nana hingga Nana tidak telihat lagi.
“Silahkan duduk pak Juna. Mohon maaf jika tempatnya kurang nyaman”.
“Iya terimakasih”.
Mata Juna seperti elang yang sedang memburu mangsa ketika melihat Nana. Jantungnya kembali berdebar kencang seperti pertama dia bertemu Nana dahulu. Wajahnya terlihat begitu bahagia tanpa memikirkan bahwa Nana sudah menjadi milik orang lain.
“Istri bapak mengingatkan saya pada seseorang”. Kata Juna sedikit senyum dibibirnya
“Oh ya? Mantan bapak yang pernah bapak ceritakan itu?”.
“Hihihi.........”. Juna tertawa kecil
“Sudahlah pak Imam, kita harus fokus pada masa depan, masa lalu tidak pantas untuk diingat kembali. Apalagi dia sudah menikah, pastinya dia bahagia dengan keluarga nya”.
Imam hanya bisa mengangguk mendengar cerita Juna
“Oh ya, istri bapak lulusan S2 ya?”. Tanya Juna berbasa basi
“Benar pak”.
“Hmmm, jika istri bapak mau, istri bapak bisa bergabung dengan tim research kami”.
“Wah......istri saya pasti senang”.
Nana datang membawakan teh hangat dan makanan ringan sebagai teman untuk meminum teh.
“Diminum mas teh nya, pak Juna”. Menaruh teh di depan Imam dan Juna
Juna memberi tatapan penuh kerinduan dan senyum di bibir nya
“Terimakasih sayang”. Jawab Imam
“Silahkan pak Juna”. Kata Imam
Nana memutar badan dan kembali masuk, namun Imam meminta nya untuk duduk disampingnya dan bergabung bersama mereka.
“Sayang, sini duduk dekat mas. Ada kabar baik dari pak Juna”.
Nana mengerutkan dahi nya, bingung dengan perkataan suami nya itu lalu duduk disamping Imam.
“Sayang, pak Juna menawarkan kamu untuk bergabung dengan tim research nya di kampus. Menurut kamu giamana?”.
“Benar bu Nana, jika anda tidak keberatan. Bergabung lah dengan kami. Kampus kami sangat membutuhkan orang seperti bu Nana”. Juna melanjutkan perkataan Imam sedikit memelas.
“Bagaimana bisa bapak berkata seperti itu, kita kan baru bertemu?”. Tanya Nana ketus
“Hmmm.........., sayang. Mas pernah cerita sedikit tentang kamu. Maaf ya!”.
Nana menoleh pada suaminya,
“Mas, nanti aja ya kita bicarakan. Nana harus kembali ke dapur. Ada pekerjaan yang harus Nana selesaikan di dapur. Permisi”. Nana meninggalkan Juna dan suami nya.
“Maafkan istri saya pak Juna”.
“Oh, gak apa-apa pak. Saya mengerti”.
“By the way, ada keperluan apa pak Juna datang ke gubuk kami?”.
“Sengaja dari rumah pak, karena hari ini hari minggu, saya pikir pak Imam juga libur, jadi saya kesini ingin mengajak pak Imam dan keluarga makan di luar. Apakah pak Imam bersedia?”.
“Hhmmm, saya bicarakan istri saya terlebih dahulu pak”.
“Baik. Saya tunggu jawaban nya”.
Imam bangkit dari duduknya dan menghampiri Nana di kamar
Imam duduk di samping istri nya,
“Belum sayang. Pak Juna mengundang kita untuk makan di luar, kamu mau?”.
“Jika mas mau ikut, silahkan tapi Nana di rumah aja ya?”. Jawab Nana
“Kenapa? Kamu sakit?”. Imam memastikan keadaan istrinya dengan membelas pipi dan kening istrinya
“Nana gak kenapa-napa mas. Nana Cuma ingin di rumah aja”.
“Jika kamu di rumah, mas juga di rumah”.
“Mas.............Nana gak kenapa-napa. Pergilah”. Nana berusaha menutupi perasaan nya
“Yakin?”.
Nana mengangguk
“Sayang, gak enak loh sama pak Juna. Beliau jauh-jauh datang hanya untuk silaturahmi dan mengajak kita makan bersama. Membahagiakan orang lain itu berpahala loh”. Rayu Imam
“Tapi mas”.
“Sayang, please...........muliakan tamu kita”.
Nana menundukan kepalanya
“Iya mas, Nana siap-siap dulu”. Dengan suara lemas
“Gitu dong. Terimakasih ya bidadari surga ku”.
Imam kembali menemui Juna yang masih duduk di teras depan
“Bisa pak Imam?”. Tanya Juna dengan penuh harapan bahwa Nana akan ikut
“Istri saya sedang siap-siap. Biasa perempuan kalau mau ke acara suka lama make up nya”. Bisik Imam
Mata Juna mendelik mendengar berita yang membahagiakan hatinya itu, lalu tersenyum bahagia.
Beberapa menit kemudian, Nana keluar dengan dress sederhana dan sedikit polesan di wajah serta bibirnya berwarna pink, namun polesan tersebut membuat Nana terlihat cantik alami dan sangat elegan.
“MasyaAllah...........istri mas. Cantik banget. Ternyata kalau sudah dipoles, luar biasa cantiknya”. Puji Imam
Nana tersenyum,
Juna terkagum melihat Nana, sudah bertahun-tahun dia tidak mendengar kabar Nana dan tidak pernah melihat Nana. Rasa rindu pada Juna tidak dapat dibendung lagi, detak jantungnya semakin kencang, suara nya terdengar
mulai bergetar dan tingkahnya semakin kikuk.
“Ya tuhan....ada apa dengan ku. Apakah rasa itu muncul kembali? Aku memang masih sangat mencintainya, tetapi dia sudah menjadi milik orang lain”. Gumam Juna
“Pak Juna, bisa kita jalan sekarang?”. Tanya Imam
“Astaghfirullah.........., iya pak. Mari”.
Juna, Imam dan Nana masuk dalam mobil, Juna dan Imam duduk di depan karena Juna harus menyetir dan Nana duduk di belakang. Selama perjalanan, Juna asik ngobrol dengan Imam, sedangkan Nana hanya diam menikmati pemandangan jalan dan sesekali mendengar pembicaraan mereka. Juna bercerita banyak hal pada Imam, sesekali matanya melirik pada Nana melalui kaca keci yang ada di depan nya.
Tidak sekali mata Nana dan Juna saling bertemu pada kaca tersebut, namun Nana berusaha untuk mengacuhkan tatapan mata Juna dengan mengalihkan pandangan nya. Setelah tiga puluh menit perjalanan, mereka pun sampai disuatu restoran. Juna keluar lebih awal dibanding Imam, kemudian Imam membukaan pintu mobil untuk Nana.
“Sayang, kamu ikut pak Juna dulu ya. Mas mau ke kamar kecil. Kebelet”. Bisik Imam
“Pak Juna, sepertinya saya harus ke kamar kecil sebentar. Kalian duluan aja. Titip bidadari saya”. Imam segera mencari toilet
Juna hanya mengacungkan jempol pada Imam pertanda setuju.
“Mari bu Nana”. Kata Juna
“Saya tunggu suami saya saja, nanti kami menyusul”. Tanpa menoleh pada Juna
“Dari dulu kamu keras kepala, dan dari dulu kamu juga tahu bahwa aku suka memaksa”. Jawab Juna sedikit kesal
“Apa maksud kamu?”.
“Kamu pikir, aku gak cemburu lihat kemesraan kamu dengan suami mu? Kamu pikir jantungku tidak berdebar saat melihat mu?. Bertahun-tahun aku menahan rasa rindu Na”. Suara Juna mulai meninggi
Juna sungguh berubah, dulu Nana mengenal Juna sebagai laki-laki dewasa, cerdas, romantis dan lembut. Kini dia terlihat menyeramkan.
“Turunkan nada bicara mu Juna. Kamu yang meninggalkan aku demi mama. Harusnya aku yang tersiksa karena harus mengubur semua kenangan tentang kita. Aku lama sendiri nenati kamu kembali, menanti janji kamu, tapi tak satupun janji yang kamu tepati”.
“Apa yang kamu rasakan sekarang, sama seperti aku dulu. Aku cemburu, aku marah melihat kamu bersama keluarga kecilmu, namun aku berusaha mengerti”.
Juna mendekat pada Nana
“Jangan dekati aku. Aku tidak mau melukai suami ku. Aku juga tidak mau kalau suami ku salah paham jika dia melihat kita”.
Juna tidak memperdulikan ocehan Nana, dia semakin mendekatkan diri nya pada Nana. Nana melangkahkan kaki nya dan menuju kamar kecil mencari suami nya. Juna meraih tangan Nana, seakan menahan agar Nana tidak pergi.
“Lepaskan aku Juna, please hargai aku dan suami ku”.
Beberapa menit Juna menggenggam tangan Nana dan akhirnya melepaskan nya. Nana segera berlari mencari suaminya.
“Hai, sayang. Kok di sini? Kan tadi mas minta kamu duluan sama pak Juna”.
Tubuh Nana bergetar dan irama nafasnya begitu cepat.
“Kenapa sayang?”.
“Kita pulang aja ya mas. Tiba-tiba kepala ku sakit dan badan ku meriang”.
“Hmmm....”. Imam sedikit berpikiri.
“Ok. Kita pamit sama pak Juna ya”.
Imam menggandeng istrinya dan kembali ke mobil menemui Juna yang masih berdiri di samping mobilnya.
“Mohon maaf pak Juna, sepertinya kami harus pulang. Istri saya mendadak sakit, dia harus istirahat”.
“Mau diantar ke rumah sakit?”.
Nana menatap suaminya dan menggelengkan kepalanya,
“Terimakasih pak Juna. Kami naik taksi saja”.
“Baik pak Imam. Terimakasih atas waktunya. Lekas sembuh untuk bu Nana”.
Nana dan Imam meninggalkan Juna dan mereka pulang dengan taksi