
“Sudah kuduga mereka akan menikmati pertempuran ini.” Mierai mendesah di ujung lembah. Sang Berserker dan Pyromancer menikmati bagaimana mereka bisa melakukan serangan terhadap monster yang banyak ditakuti para petualang.
“Haruskah kita hentikan mereka?” tambah Reiyuel. Dia tak lagi mengenakan topengnya.
“Kalian bercanda!?” sahut Harufuji. “Tentu saja kita harus hentikan mereka. Itu wyvern sungguhan! Mereka bisa tewas gara-gara ini.”
“Oh, ya? Kalau kulihat, justru wyvern itu bisa tewas gara-gara mereka berdua.” Keniaru malah nyengir. “Kalau kalian enggak mau ikut, enggak apa. Kalau aku sih, aku pengen banget coba melawan wyvern. Duluan, ya!”
Keniaru berlari cepat ke tengah pertempuran.
“Iya juga, ya. Ini memang kesempatan langka. Tunggu aku!” Mierai ikut berlari ke tengah lembah.
Harufuji pun melongo dibuatnya. “Ada yang ingat kalau kita enggak boleh membunuh wyvern itu?”
Reiyuel menarik napas dalam-dalam. “Lebih baik kamu hentikan mereka. Akan kutunggu di sini.” Dia pun duduk bersila di lantai, mata terpejam, bibir terkatup rapat, hembusan napas panjang dan tenang. Gerakannya sama persis yang biasa dilakukan Praxel untuk meditasi.
Harufuji menepuk dahinya. “Oke, oke.”
Elloys tak terkejut dengna kehadiran rekan-rekan lainnya di sana. Dia malah senang. Dengan begini, mereka bisa mengalahkan wyvern lebih cepat. Dikeroyok empat petualang seperti itu, si wyvern tak gentar. Harufuji yang merasa tak enak.
“Hei, kita bisa pulang sekarang! Dia enggak akan mengejar kita kalau—” Harufuji bahkan belum selesai bicara ketika wyvern terbang rendah di atasnya. Spontan, dirinya merapal sihir petir. Sihir ini memang tidak sampai melukai lawan namun cukup untuk menghalaunya pergi.
“Kamu bilang sesuatu?” Raiden berseru di tengah pertempuran.
Elloys melemparkan bola api sementara Keniaru melakukan serangan-serangan yang tak kalah ribut. Mierai agak berbeda. Dia melompat mencari pijakan. Setelah posisinya cukup tinggi, dia melepaskan panah-panah beruntun pada lawan.
“Tidak perlu membunuhnya!” seru Harufuji. “Jangan! Ayo, segera kembali. Dia tidak akan mengejar kita. Cepat!”
Si wyvern terbang tinggi sebelum menukik turun. Kelima petualang itu menghindar sejauh yang mereka bisa. Dia pun menjatuhkan dirinya di tanah. Hentakannya bergetar luar biasa. Bebatuan terlempar. Retakan besar terjadi diusul tanah melesak ke dalam. Kekuatannya membuat mereka gentar.
Hanya sesaat. Berikutnya, Keniaru dan Raiden seolah bisa memikirkan yang sama. Keduanya berseru sambil memutar senjata mereka. Melihat itu, Mierai, Elloys, dan Harufuji menjauh. Dua whirlwind di saat yang sama bukan berita baik. Pusaran angin kembar itu datang dari dua sisi berbeda, menghimpit si wyvern dari depan dan belakang.
Monster besar itu kelihatannya paham akan bahaya tersebut. Sayapnya mengepak cepat, bergegas beranjak dari tanah agar tak terkena. Dia tahu kalau kedua pusaran angin tidak cukup tinggi memerangkapnya di udara. Sayangnya kedua pergerakan angin lebih cepat daripada kepakan sayapnya. Sekalipun berhasil mengudara, bagian kakinya tetap tergores.
Wyvern pun berteriak sambil mengepak pergi.
“Ayo pergi sebelum dia kembali!” seru Harufuji. Mereka semua tahu kalau wyvern tersebut akan kembali. “Cepat!” Harufuji melambaikan tangan agar mereka semua bergegas meninggalkan lembah batu.
Di ujung lembah, Raiyuel sudah berdiri. Pisau lembar ada di tangannya. Dia siap melemparnya pada lawan bila dibutuhkan. Si wyvern memang telah kembali. Seperti ucapan Curio, dia sama sekali tidak berani meninggalkan lembah, hanya mengepak sambil menggeram ketika mereka berada di dataran tanah yang lebih tinggi.
“Reiyuel!? Senang melihatmu baik-baik saja!” sahut Elloys.
“Itu kalimatku,” Reiyuel mengangguk. “Kalian berdua tidak terluka, ‘kan?”
Spontan Elloys dan Raiden saling lempar pandang diakhir tawa kecil.
Raiden berpaling kembali ke lembah batu. “Tunggu, kupikir aku melupakan sesuatu.” Dia menyipitkan mata, mengawasi setiap sudut lembah sementara wyvern masih mengepak kesal di atas. “Aku sudah enggak melihat Litaro. Dia pasti sudah kabur waktu kita bertarung tadi.”
“Litaro?” sahut Keniaru. “Si penculik?”
“Kita tidak memerlukannya, ‘kan? Saat ini pasti para komplotannya sudah diringkus.”
Elloys mengernyitkan dahi. “Baik, sepertinya aku yang paling tidak paham soal apa yang terjadi saat ini. Ada yang mau cerita apa yang terjadi? Soal Litaro, komplotannya, juga bagaimana kalian bisa ke sini?”
Keniaru dan Harufuji mulai bercerita. Sesekali Mierai ikut menambahkan informasi-informasi yang terlewat. Mereka melakukannya sambil berjalan meninggalkan lembah, hendak kembali ke ibu kota. Senja telah tiba. Mereka harus cepat kalau mau tiba di Korumbie sebelum gelap.
Setelah menceritakan apa yang terjadi di markas, Raiden mulai cerita ide gilanya untuk menyamar jadi Exodiart hingga bagaimana pertarungannya melawan wyvern sampai akhirnya rekan-rekannya datang.
“Jadi, itu kapak Litaro?” Reiyuel memperhatikan kapak di tangan Raiden. “Enggak jelek.”
“Sama sekali enggak jelek. Kualitasnya lumayan dan sepertinya cukup baru,” ujar Raiden. “Lebih baru punyaku, sih. Tapi, ini oke. Kelihatan kalau jarang dipakai. Pasti dia jarang menjalankan misi.”
“Makanya dia sampai melakukan hal semacam ini, ya? Memalukan…” Elloys melipat tangannya ke depan dada. Masih kesal juga masih sedikit tak enak setiap kali mengingat apa yang telah terjadi padanya. Sekarang, dia merasa lebih buruk lagi setelah mendengar kalau markasnya terancam oleh dia. Kalau dia tidak diculik, orang-orang itu tidak akan berjaga di depan markas dan minta Exodiart keluar.
Seolah bisa menebak, Raiden bertanya, “Apa yang mengganggu pikiranmu?”
“Aku membawa Lunacrest dalam masalah.”
“Bagaimana bisa?”
“Kalau aku tidak diculik, Lunacrest enggak akan kena masalah seperti ini. Bisa-bisa kita kena sanksi karena berarung dengan petualang lain.”
“Ralat. Penculik. Bukan petualang.”
“Tetap saja.”
“Sudahlah, biarkan Praxel dan Exodiart mengurus masalah itu.”
Ketika mereka mencapai gerbang kota, lampu-lampu mulai dinyalakan. Mereka berjalan di atas jalanan berbatu ke sisi kiri, menuju markas Lunacrest. Raiden bisa melihat bayangannya sendiri pada pantulan kaca-kaca bangunan. Saat itulah, dia menyadari hal lain.
“Astaga… Exodiart akan membunuhku,” ujarnya, bergeming di tempat.
“Ada masalah?” Harufuji mengamati Raiden. “Baju Exo kotor, tapi tidak robek. Dia enggak akan mempermasalahkannya. Kamu juga ingat mengambil helmnya waktu kita lari meninggalkan lembah. Memang apa lagi yang… Astaga…”
Senjata yang ada di tangan Raiden bukan tongkat palu berduri melainkan kapak milik Litaro. Raiden menutup wajahnya dengan tangan. “Gawat. Aku harus mencarikan senjata baru sebagai gantinya.”
Saat akhirnya mereka benar-benar tiba di markas, mereka mendapat sambutan dari rekan-rekan. Amari berlari memeluk Elloys. Kelsey tersenyum tipis, berdiri di samping Praxel yang sedang duduk di kursi Amari.
Raiden melangkah maju, hendak mengakui kecerobohannya soal tongkat itu. Kakaknya biasanya bisa memberi saran atau — lebih baik — jalan keluar. Namun, melihat raut wajahnya, Raiden mengganti pengakuannya jadi pertanyaan. “Apa ada yang terjadi? Kenapa wajah kalian serius sekali?”