
Jendral Fawke mungkin memang sudah tua. Namun, dia masih terlihat tegap di dalam baju zirah mengilap. Rambutnya dipotong cepak nyaris botak. Berbeda dengan Guild Master Declan yang lebih santai. Dia mengenakan setelan jas biru tua dilengkapi sepatu boot tinggi. Kumis cokelatnya dibiarkan tumbuh subur seperti rambutnya.
Keduanya memimpin rapat singkat tersebut dalam waktu satu jam persis. Tidak lebih, tidak kurang. Inti dari rapatnya sederhana. Hanya membahas beberapa masalah teknis antara para prajurit dan para petualang. Dua pilihan ini sering bertemu di lapangan dan tak jarang terjadi tumpang tindih kepentingan. Belum lagi masalah dengan misi solo yang diambil petualang dengan misi guild.
Sebelumnya, ada penegasan informasi yang harus dipahami semua orang. Prajurit akan menjalankan perintah kerajaan melalui Fawke. Para petualang bisa mengambil misi solo di kantor Fawke. Guild bisa mengambil misi guild di kantor Declan.
Guild Master Declan akan memastikan misi yang dicantumkan di kantornya lebih detail dan akurat. Ini dilakukan tentunya setelah memastikan tidak ada misi serupa yang dipasang di kantor misi Fawke atau dijalankan oleh para prajurit. Declan juga akan menambahkan beberapa syarat bagi rakyat yang hendak menyewa guild. Bagaimanapun, mereka juga harus diberikan edukasi lebih dulu.
Kadang rakyat sembarangan saja menyewa guild untuk menjalankan tugas tertentu. Pernah terjadi kasus ketika seorang pelanggan menyewa guild membunuh pemilik toko karena kecewa dengan pelayanannya. Misi itu bukannya ditempel di papan misi. Si pemberi misi justru akhirnya dipanggil untuk dimintai keterangan. Declan harus memastikan para penyewa menuruti peraturan yang ditentukan.
“Mereka melimpahkan tugas-tugas berat pada Declan,” kata Exodiart ketika mereka meninggalkan istana. “Ini membuktikan kerajaan semakin memperhatikan perkembangan guild. Semua ada sisi positif dan negatifnya, sih.”
“Makin banyak guild bermunculan.” Reiyuel berjalan di sampingnya.
“Petualang juga makin banyak. Kalau nggak diatur, semuanya bisa berantakan di lapangan.”
“Bagaimana dengan Raiden?”
“Kenapa tiba-tiba tanya soal dia?”
“Nggak apa-apa.” Reiyuel mendadak diam.
“Kamu lihat dia? Di mana?”
“Di jalan. Saat aku mau ke guild. Dia kelihatan… berantakan.”
“Dia terluka. Saat menjalankan misi. Bersama Elloys dan Keniaru.” Exodiart bingung bagaimana harus bercerita. “Misinya berjalan di luar rencana.”
“Mereka gagal.”
“Kurang lebih begitu.”
“Lalu, dia kabur?”
“Aku nggak tahu soal itu. Lebih baik tidak langsung lompat ke kesimpulan.” Exodiart mendesah. “Kuharap Praxel bisa menemukannya.”
“Dia berhutang penjelasan padamu.”
“Apa? Nggak. Dia butuh ke dokter.” Exodiart kemudian menambahkan, “Bukannya aku nggak penasaran bagaimana cerita mereka soal misi itu. Aku cuma nggak mau memaksa dia cerita. Cuma itu.”
“Poin Lunacrest akan dipotong.”
“Nggak. Kita beruntung. Nggak ada penalti kali ini.”
Salah satu hal menarik lain dalam rapat adalah ketika Fawke menyinggung kalau kerajaan juga bisa memberikan misi pada guild bila dibutuhkan. Guild Master Declan diminta memberikan prioritas pada guild-guild baru untuk mengerjakan misi-misi tersebut. Hal ini tentunya menyesuaikan kapasitas dari guild baru. Tampaknya, sebentar lagi Lunacrest akan mendapat misi-misi yang beda dari biasanya. Exodiart bersemangat mendengar hal tersebut.
Bukan hanya Exodiart yang teringat jelas menganai hal tersebut, Reiyuel juga.
Setelah pembicaraan mengenai Raiden, dia membahas kembali hal tersebut. “Exo, apa menurutmu ada agenda tersembunyi?”
“Agenda apa?”
“Fawke ingin misi-misi dari kerajaan diberikan pada guild-guild baru.”
“Sesuai kemampuan tiap guild,” ujar Exodiart, menyambung langsung ucapan Reiyuel. “Kalau ada agenda di balik ucapan Fawke, menurutku itu cuma untuk mengembangkan guild-guild lain. Pernah dengar istilah manusia menajamkan manusia?”
“Manusia bersaing untuk jadi nomor satu.”
“Hmmm… Ya, kamu bisa melihatnya dari sisi itu juga.” Exodiart menggosok lehernya. “Sebenarnya, aku mau bilang kalau rival bisa memicu seseorang untuk maju. Mereka bersaing, dalam arti positif, untuk jadi lebih baik. Nggak selalu nomor satu.”
“Maelstrom.”
“Mereka nomor satu.”
“Ya. Mungkin Fawke ingin lebih banyak guild dengan kualitas seperti Maelstrom, Cimarec, dan Black Warrior. Mereka guild terbaik di Korumbie saat ini, bahkan mungkin di seluruh Endialte. Tiap anggotanya luar biasa.”
“Mereka nggak akan ikut Guild Showdown.”
“Mereka dilarang ikut Guild Showdown.” Exodiart membenarkan. “Kalau mereka ikut, sepertinya kita bisa langsung tahu siapa pemenangnya.”
Reiyuel membuka mulut untuk bicara. Dia tidak setuju dengan pernyataan Exodiart, sama sekali tidak setuju. Namun, akhirnya dia mengatupkan bibirnya lagi sebelum ada satu kata pun keluar.
Pembicaraan mengenai ajang besar tersebut membuat Exodiart teringat beban sekaligus tanggung jawabnya sebagai ketua guild. “Raiden seharusnya bisa membantu kita di Guild Showdown. Tapi…”
Ketika Exodiart sengaja menggantung ucapannya, Reiyuel bisa menebaknya. “Kamu ingin aku memilih anggota tim?”
“Akan lebih baik kalau itu orang yang pernah bekerja sama denganmu. Maksudku, orang yang kamu percaya lebih dari yang lain. Lupakan Praxel dan Kelsey, kamu bisa pilih siapa pun.”
“Apa kita punya pilihan selain Mierai?”
“Keniaru dan Elloys. Bagaimana menurutmu?”
Raiyuel tak menjawab.
Exodiart melanjutkan pembicaraan. “Baik. Sepertinya Mierai akan jadi anggota ketiga kita. Akan kucoba bicara dengannya. Semoga saja dia nggak menolak.”
“Ucapan ketua adalah perintah.”
“Bukan!” sahut Exodiart disusul tawa kecil. “Aku nggak mau memaksa siapa pun.”
“Bagaimana kalau dia nggak mau?”
“Kasus terburuk… Aku akan mengajak Praxel. Kupikir kamu lumayan cocok dengannya. Jadi, kamu nggak akan keberatan kalau aku mengajak dia. Iya, ‘kan?”
Reiyuel tak menjawab pertanyaan itu, justru bertanya. “Kamu percaya padanya?”
Exodiart langsung teringat pada pertanyaan Kisarumi di akhir kunjungannya beberapa saat lalu. Dia mendapatkan pertanyaan sama persis dalam waktu yang singkat. Exodiart pun menjawab dengan nada serius. “Dia wakilku. Sudah sewajarnya aku percaya padanya.”
“Kuharap kamu percaya orang yang benar.”
“Kenapa kamu bilang begitu? Exodiart mengernyit, penasaran.
Reiyuel malah tersenyum. “Bukan apa-apa. Hanya mau memastikan. Aku lega mendengar kalau kamu percaya padanya. Kupikir Lunacrest butuh kalian berdua.”
“Rei, apa kamu melakukan semacam ramalan lagi?”
“Nggak. Aku nggak pernah menyentuh kartu ramalan lagi ketika kalian menemukanku. Aku berhenti memainkannya sejak bergabung dengan Lunacrest. Kelsey nggak suka melihatku main-main hal semacam itu.”
“Menurutnya, kita lebih baik berserah pada sang pencipta.” Exodiart ingat bagaimana pandangan Kelsey pada ramalan. Sedikit banyak, pandangan itu memengaruhi pandangannya juga. “Kamu tahu, pertanyaanmu sama seperti pertanyaan Kisa.”
Reiyuel mengepalkan tangannya erat-erat. “Kalau begitu, ini peringatan.”
“Peringatan? Hanya karena ada dua pertanyaan sama bukan berarti--”
“Nggak. Kisarumi bisa melihat masa depan.”
“Maaf, apa?”
“Itu adalah berkat sekaligus kutukannya. Percayalah omonganku. Dia mengatakan apa yang dia lihat. Itu peringatan untukmu, Exodiart. Hati-hatilah dengan Praxel.”