
Raiden menghentakkan kaki kanannya lalu melesat cepat ke depan. Para tengkorak tentu tak siap dengan kehadiran Raiden. Mereka sepertinya hanya tahu soal menyerang tapi tidak benar-benar bisa memikirkan teknik menyerang atau semacamnya. Mereka bergerak maju untuk mengamankan reruntuhan dari para musuh bukan untuk melakukan pengejaran bagi para perompak atau pencuri.
Ya, para angota Lunacrest ke sana bukan untuk mencuri. Mereka hanya ingin menyalin gambar yang ada pada dinding di dalam reruntuhan. Bukan hal buruk, sebaliknya justru hal baik karena bisa mempelajari sejarah lebih baik. Namun, sepertinya itu bukan hal baik bagi para penduduk reruntuhan.
Raiden menghancurkan mereka yang menghalangi jalannya. Elloys melakukan teleport seklai agar bisa mengikuti Raiden lekat-lekat. Apinya lenyap ketika dia melakukan teleport. Elloys sadar kalau tak bisa melakukan sihirnya bersamaan. Bukan karena dia tidak bisa melakukan dua sihir sekaligus melainkan karena angin akibat teleport membuatnya lenyap.
Praxel berlari di belakangnya. Kelsey paling belakang. Dia menghabisi para tengkorak di belakangnya lebih dulu sebelum mengikuti mereka. Tidak seperti Elloys yang harus membuat cahaya, dia bisa menggunakan teleport sesukanya.
“Kenapa ada banyak tengkorak di sini?” Elloys bergidik ngeri. Untung saja deretan tengkorak itu tidak banyak. Setelah melewati beberapa baris tengkorak, mereka menemukan lorong kembali sepi.
“Belok kiri!” Praxel memberikan panduan dari belakang.
Raiden berbelok sesuai panduan kakaknya. Mereka melewati belokan dan perempatan lainnya hingga tiba di sebuah ruangan luas lain. Di ruangan ini, mereka bertemu dengan segerombolan tengkorak-tengkorak lagi. Elloys bergeming ketika Raiden berhenti. Dirinya kembali mengambil kuda-kuda untuk menyerang.
“Whirlwind!” seru Raiden. Dirinya bergerak maju sambil berputar.
Angin ****** beliung pun tercipta. Semua hal di dekat Raiden hancur berterbangan. Hembusannya sendiri tidak sampai meluluh lantakkan para tengkorak. Jadi, Raiden menerjang para tengkorak dengan kapaknya seperti tadi. Dibandingkan dengan kapaknya, para tengkorak itu terasa begitu empuk. Mereka pun hancur dalam sekejap.
Ketika gerombolan itu habis, Raiden bisa melihat gerombolan lain datang lagi. “Astaga, ada berapa banyak mereka?”
“Tunggu,” sahut Praxel. Dirinya mengulurkan tongkat ke depan. Sihir listrik mengalir secara horizontal, menghantam satu tengkorak paling depan lalu berpindah ke tengkorak selanjutnya. Begitu terus hingga seluruh dari mereka terkena. Meski begitu, tak ada efek yang terlihat.
“Mereka kebal sihir,” ujar Kelsey, sambil terengah-engah. “Kecuali… kalau sihirnya punya daya dorong seperti punyaku.”
Kelsey sadar bukan sihirnya yang menghabisi para tengkorak melainkan daya dorong atau hempasan angin akibat sihirnya. Berbeda dengan sihir api atau petir. Sihir Elloys dan Praxel sendiri tidak memiliki daya dorong kuat karena api serta petirnya sendiri sudah mematikan bagi makhluk hidup. Sayangnya, para tengkorak tak lagi hidup.
Giliran Kelsey yang menyerang lawan. Sebuah garis lurus berwarna putih menerpa para tengkorak. Dorongan dari serangan sihir mengoyak gerombolan tersebut, menciptakan kekosongan di bagian tengah. Sebelum tulang-tulang mereka kembali utuh seperti sebelumnya, Raiden berlari maju. Dia memimpin pelarian mereka keluar dari reruntuhan.
Elloys hanya diam sepanjang jalan. Dia tak bisa berbuat banyak. Ya, sekalipun sebenarnya perannya sangat penting. Tanpa api, mereka tidak akan punya penerangan. Tanpa dirinya, mereka akan berlari dalam kegelapan. Tanpa sihirnya, mereka akan lebih kesulitan mencari jalan keluar. Elloys diam karena tak bisa ikut menyerang juga menggunakan teleport favoritnya. Dan sebenarnya, lebih dari itu.
Praxel memberikan panduan terakhir sebelum akhirnya mereka benar-benar bisa keluar melalui satu-satunya pintu yang ada. Napas mereka tersengal-sengal. Raiden menjatuhkan tangan di atas lututnya. Tadi itu pelarian yang seru dan cukup mudah, menurutnya. Kelsey menyibakkan helaian rambut yang lepas dari ikatan. Beberapa menempel ke pipinya yang lembab. Praxel menengadah ke langit, memasukkan udara sebanyak-banyaknya ke paru-paru. Sesekali dia melirik ke pintu, berjaga-jaga kalau para tengkorak berani keluar untuk mengejar mereka.
Ternyata tidak.
Berbeda dengan kedua kakak beradik yang mulai tenang, Elloys masih bergidik ngeri padahal mereka telah berhasil keluar dan tak satupun tengkorak terlihat mendekat. “Tempat ini menyeramkan,” gumamnya.
“Mereka bukan hantu, hanya tengkorak. Mereka seperti monster biasa,” ujar Raiden.
“Aku tahu, tapi rasanya tetap menyeramkan.” Elloys merasakan bulu kuduknya berdiri setiap kali mengingat sosok-sosok tulang belulang yang bisa berjalan seperti manusia biasa. Aroma mereka yang lembab. Derak saat mereka bergerak. Juga kain yang masih menempel berikut senjata mereka. Terasa ganjil. Mengusik ketenangan dalam batin, membuatnya gelisah.
“Kamu takut karena sihirmu enggak berfungsi baik di sini?” Raiden bertanya sambil mengangkat tongkatnya ke bahu. Badannya lelah, begitu pula tangan dan kakinya. Sedari tadi, dirinya berada di depan, menerjang semua makhluk yang berusaha menghalangi jalan keluar mereka. Pertanyaannya saat ini bukanlah untuk menyindir atau bentuk protes. Tuas Elloys menerangi perjalanan jauh lebih ringan daripada tugasnya menebas para tengkorak. Dia bertanya karena melihat Elloys mendadak waswas.
Elloys mendesah. “Tentu saja. Tapi, kupikir ada hal lain,” katanya sambil menggosok lengan. Hari sudah bergerak menuju senja. Udara terasa lebih dingin dibanding ketika mereka masuk. Kelembabannya juga lebih buruk. Kulit Elloys terasa lengket. Dia ingin segera pulang, mandi, mengusir semua rasa tak enak yang melekat di tubuh maupun hati serta pikirannya.
“Apa itu?”
“Tengkorak seharusnya tidak bisa bergerak.”
“Tentu saja. Mereka sudah mati. Maksudku, mereka sisa-sisa orang mati.”
“Benar. Kamu paham, ‘kan? Tengkorak selalu berhubungan dengan orang mati.”
“Terus? Apa kamu mau bilang kalau ada banyak orang mati di dalam sana?” Mata Raiden kembali ke arah pintu masuk reruntuhan. Bentuknya kini terlihat seperti mulut yang menganga daripada pintu tak berdaun.
Elloys tidak mengiyakan.
“Itu bukannya tidak mungkin.” Kelsey ikut bicara. “Sampai sekarang, belum ada yang benar-benar bisa memastikan bangunan apa ini dan fungsinya. Itu tugas para peneliti. Tugas kita hanya membantu mereka memecahkan misteri ini.”
“Sejauh ini, tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa ada banyak tengkorak hidup di dalamnya. Begitu, ya?” Raiden sendiri ingat tak pernah mendengar kalau tengkorak-tengkorak semacam itu termasuk monster. Setahu dirinya, tengkorak dan mayat hidup ada dalam cerita horor bukan cerita para petualang. “Untungnya, mereka lemah.”
“Untungnya.” Kelsey setuju.
Praxel memotong dari belakang dengan membawa gulungan kertas berisi salinan simbol. “Sudah, sudah. Kupikir itu bukan hal penting untuk dibahas. Kita sudah berhasil mendapatkan yang kita perlukan. Sekarang, ayo pulang dan merayakan kenaikan Lunacrest ke level B.”