
Kelsey di samping Praxel mengerutkan dahi. Dia ingat benar ucapan Kisarumi beberapa hari sebelumnya. Pesta yang lebih besar. “Kenapa?” Kelsey bertanya. “Menurutmu kita akan menang?”
Sebelum Praxel menjawab, Amari menambahkan lebih dulu. “Jangan langsung lompat ke kesimpulan, Praxel. Mereka juga memenangkan pertandingan sebelumnya dengan rekor seperti Lunacrest. Dua kali kemenangan berturut-turut tanpa perlu mengadakan pertandingan ketiga. Broco juga digadang-gadang bakal menang, lho.”
Praxel menggeleng. “Aku bukan memastikan kalau kita akan menang. Hanya berpikir kalau kita punya kesempatan lebih besar untuk menang.”
“Apa bedanya?” Amari mendengus.
“Kenapa begitu? Gara-gara si rambut merah barusan?” tambah Kelsey.
“Iya. Itu dan juga hal-hal lainnya. Kupikir mereka lupa pada inti Guild Showdown sesungguhnya.” Praxel melirik ketuanya yang berdiri di antara Harufuji dan Reiyuel. “Exo tidak. Eh, bukan. Menurutku, Haru, Reiyuel, kita semua juga sama seperti Exo. Kita semua paham apa artinya berada dalam satu guild.”
Karena keributan para penonton, mereka memang tidak bisa mendengar persis apa saja yang diobrolkan oleh para peserta di arena. Meski begitu, Praxel menangkap beberapa hal yang diluputkan guild lawan.
Araka sudah berdiri di atas kedua kakinya. Formasi kembali seperti di awal. Sang ketua diapit oleh kedua anggotanya. Tiko memegang tongkat dengan raut tegang, mungkin juga sedikit merasa bersalah karena melukai ketuanya sendiri. Kalim berdiri di sisi lain bersiap dengan panahnya.
“Ayo, Lunacrest! Kita lihat siapa yang terbaik!”
Seruan Araka membuat gemuruh penonton makin menjadi. Tico menyemburkan api dari posisinya, Kalim melompat di udara dan membuat hujan anak panah. Asap mengepul, membuat pengelihatan jadi terganggu bagi kedua belah pihak.
Sambaran petir datang dari langit. Ukurannya besar dan juga berbahaya. Exodiart merapalnya bukan untuk menyerang lawan, melainkan sebagai umpan sekaligus menyibak tirai asap pengganggu. Araka sepertinya gusar kali ini. Sesuai dugaan Exodiart, ketua guild lawan menyerang ke posisi di mana petir menyambar. Exodiart bisa melihat kedatangannya juga bagaimana dia menjatuhkan palunya ke sana.
Dia sendiri sudah berada dekat Tico. Sihir petirnya mengalir pendek, menyengat tangan si Pyromancer. Tico berseru kaget. Tongkatnya nyaris terlepas. Namun, dengan bantuan sihir teleport, dia berhasil mempertahankan diri juga kabur. Araka menyusul di belakang Exodiart. Palunya sudah terayun. Exodiart pun menggunakan pelindung.
“Kabur, hah? Takut!?” Suara Araka terasa menggelegar dari dekat.
Exodiart melepaskan diri ketika Araka menarik palu demi memberikan serangan lanjutan. Dia tahu tidak perlu meladeninya terus-terusan. Fokus. Dia hanya perlu memenangkan pertarungan ini dengan memaksa dua di antara lawannya menyerah atau dinyatakan tak bisa bertarung lagi oleh penyelenggara. Dua orang itu jelas Tico dan Kalim.
Kejar-kejaran pun terjadi. Exodiart mengincar Tico meski ada sambaran api yang terus diarahkan padanya. Sementara itu, dirinya sadar kalau Araka dan Kalim mengincarnya. Di posisi seperti ini Harufuji menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Dia membuat sihir-sihir perisai pelindung untuk ketuanya. Tak ada serangan lawan yang berhasil mengenainya.
Sejauh ini, posisi Reiyuel yang sedikit membuat mereka bertanya-tanya. Reiyuel sulit ditemukan dengan adanya asap terus-menerus di arena. Kelas Assassin selalu dilatih untuk menyembunyikan diri agar bisa memberikan serangan kejutan. Mereka mahir bersembunyi dalam hutan, bayangan bangunan, bahkan asap.
Exodiart melihat sambaran api besar mengarah lagi padanya. Dia pun menolak ke kanan, sambil merapal sihir petir lain. Sihir ini mengenai kaki Tico, membuatnya terjatuh ke tanah. Exodiart pun melompat ke atas. Biasanya dia akan menjatuhkan diri dengan tarian sihir petir di sekelilingnya.
Exodiart mendarat di samping Tico yang meringkuk ketakutan. Dia pasti membayangkan adanya petir-petir besar menyambar tubuhnya. Tico belum mengatakan kalau dia menyerah namun penyelenggara dan penonton tahu siapa yang unggul.
Tanah di sekitarnya terasa bergetar. Bukan karena gemuruh penonton yang tak henti-hentinya bersorak. Melainkan Araka yang menghentak tanah hendak melakukan serangan lagi. Exodiart sudah siap kali ini, begitu pula Harufuji.
Perisai pelindung bening muncul mengelilingi Exodiart, menjaganya dari gelombang angin sebelum palu besar datang. Perisai pelindung lain muncul di luar perisai Exodiart. Haru berlari cepat ke arah mereka sebelum palu Araka benar-benar mengenai pelindung.
BUMMM!
Dentuman besar terjadi disertai hempasan angin kuat bercampur debu. Palu Araka ada di tanah, membuat retakan besar lain. Tico kabur dengan sihir teleport meski berakhir beberapa meter dari posisi Araka, tangan memegangi pahanya yang terkena serangan mematikan sang kapten.
Namun, baik Exodiart maupun Harufuji tak lagi berada di tanah. Keduanya tengah merapal sihir petir di udara yang hendak dipanggil Exodiart tadi. Araka menyadari ketika semuanya telah terlambat. Sepasang petir kembar datang menghujaninya pada kedua sisi. Milik Exodiart sengaja dibuat meleset. Milik Harufuji menyerempet sedikit badan Araka, sengaja. Sengatan petir pun memicu teriakan sang ketua guild Broco. Exodiart memberikan serangan terakhir dengan memukulnya jatuh.
Teriakan, sorak sorai, gemuruh, bercampur tepuk tangan memenuhi seisi arena. Sebagian dari penonton berdiri menyambut jatuhnya Araka ke tanah, termasuk Elloys.
Araka baik-baik saja, selain memar, lecet, juga tersengat. Badannya berusaha bergerak bangkit. Namun, belum berhasil bangun, Exodiart sudah duluan mengulurkan tongkat palu berdurinya ke wajah Araka, membuatnya bergeming.
Pertempuran tidak selesai sampai di sini.
Broco masih bisa membalik keadaan. Masih ada Kalim. Sederetan anak panahnya telah mengarah lurus pada Exodiart. Meski menyadarinya, Exodiart tak bisa bergerak secepat itu. Dia pun membuat pelindung lain. Jangan lupa kalau Tico juga masih bebas. Semburan api menyembur dari posisinya sekalipun jaraknya jauh.
Harufuji membuat pelindung lagi sambil menyambar Tico dengan petirnya. Dia membidik tangan si Pyromancer. Serangan api Tico lenyap di pelindung Harufuji sementara sihir petir membuatnya terpaksa melemparkan tongkat.
Kalim lebih beruntung. Setelah semua serangannya digagalkan, dia kembali memakai trik pertamanya. Dia melompat ke udara, lenyap dalam teriknya matahari.
“Bukan hanya kamu yang bisa lenyap dalam cahaya!” Harufuji tak bisa mengikuti Kalim setinggi itu, tapi sihirnya bisa. Ketika flail miliknya terulur ke langit, kilat tanpa disertai sambaran datang membutakan mata setiap dari mereka meski hanya sesaat.
Saat cahaya lenyap, Kalim sudah telentang di tanah. Reiyuel menekan badannya ke tanah. Kalim bergeming. Dia bisa merasakan benda tipis dingin di lehernya. Tico juga terdiam di posisi, tak bisa mengeluarkan sihir karena tongkatnya berada jauh. Lalu, Araka? Kedua anggota guild itu saling menatap satu sama lain.
Semua menanti apa yang akan dilakukan Exodiart dan kapan penyelenggara akan menghentikan pertarungan tersebut.
Exodiart mengoper tongkatnya ke tangan kiri. Sebagai gantinya, dia mengulurkan tangan kanannya pada Araka. “Guild Showdown menentukan sistem pertarungan seperti ini bukan tanpa tujuan. Menurutku, ini bukan soal kekuatan individu tapi kerja sama tim. Lagipula, apa artinya bergabung dengan guild kalau tetap bertarung sendirian?”