Lunacrest

Lunacrest
Chapter 100



Sebagai ketua dari guild sebesar Maelstrom yang ingin menjangkau guild-guild kecil, akan sangat jahat rasanya tidak mengunjungi Exodiart saat ini. Saman datang seorang diri pagi itu ke rumah sakit. Exodiart duduk di ranjangnya. Tak seorang pun sedang bersamanya saat itu.


Saman mendorong pintu kayu, menyapa. “Hai, Exo.” Dirinya melangkah mendekat lalu meletakkan sekeranjang buah di atas meja kayu samping tempat tidur. “Kubawakan buah untukmu. Semoga kamu cepat pulih.”


“Terima kasih. Kamu seharusnya tidak perlu repot-repot.”


Tirai jendela di sisi kiri ruangan terbuka lebar, menunjukkan kondisi taman dalam pagi cerah. Pepohonan dan aneka bunga memberikan kesan tenang dan asri. Kicauan burung di luar sana juga terdengar merdu. Hari yang bersahabat.


“Aku dengar kalau kamu kena serangan laser cyclops. Itu pasti sangat menyakitkan. Apa itu akan makan waktu lama untuk pulih?” tanya Saman.


“Mungkin. Tapi, aku akan berjuang agar bisa segera kembali ke lapangan.”


“Itu bagus.”


“Aku lengah.”


“Semua orang bisa saja kena serangan cyclops. Jangan terlalu—”


“Aku lengah padamu.” Exodiart malas berpura-pura, jadi dia langsung berterus terang. “Seharusnya aku tahu kalau yang kamu pikirkan sejak awal hanya guild milikmu sendiri. Kupikir, kamu terlalu takut berada di bawah bayang-bayang ayahmu. Jadi, kamu menghalalkan segala cara agar Maelstrom tetap jadi yang terbaik.”


“Kamu itu bicara apa?”


“Aku tahu semuanya. Kamu enggak perlu pura-pura baik.”


Wajah Saman berubah. Ini bukan pertama kalinya Exodiart mendapati perubahan drastis di wajah Saman. Wajah itu tak lagi terlihat ramah melainkan penuh hawa nafsu, dendam, dan aura pembunuh.


“Apa kamu mau bilang kalau Lunacrest akan membangkang pada Maelstrom seperti Cimarec?”


Exodiart sudah menduga hal itu. Amybelle tidak cocok dengan Saman karena Cimarec menolak tunduk dan kerja sama dengan Maelstrom. “Kamu menyerang burung-burung Cimarec untuk mencuri informasi dari mereka. Sepertinya, aku berhasil mengatasi mereka dengan cara yang baik.”


Dahi Saman berkerut. Tangannya bersiap memegang pisau di belakang celana.


“Kamu enggak akan melakukannya,” ujar Exodiart sambil memulas senyum.


“Aku akan menghancurkan Lunacrest, Exodiart. Dimulai dari dirimu.”


“Enggak akan bisa. Kamu kehilangan banyak anggota terbaikmu. Entah itu yang tewas kemarin di Pothine atau yang mengundurkan diri karena tidak tahan padamu. Mungkin aku perlu mengingatkanmu kalau ketua merupakan penentu krusial pada kelangsungan sebuah guild. Permainan politikmu menjijikan.”


Saman melotot. “Kamu pikir kamu lebih baik dariku?”


“Aku tidak pernah membuat anggotaku menculik orang.”


Saman menggertakkan gigi. “Kamu—”


“Hati-hati, Saman. Kalau sedang membawa Maelstrom menuju badai dan kegelapan.”


Saman tak bicara lagi. Dia berbalik, keluar ruangan, membanting pintu di belakangnya. Tak lama, pintu itu kembali terbuka. Sebagai gantinya, Reiyuel melenggang masuk dengan santai.


“Keputusan Praxel untuk menjagamu itu tepat,” ujarnya lirih.


“Menurutku, berlebihan. Saman enggak akan berani menyerangku. Enggak di sini.”


“Kamu harus hati-hati.”


“Aku tahu. Terima kasih sudah menjaga punggungku, Rei. Aku selalu tahu kamu Assassin yang jauh lebih baik darinya.”


 


 


Semua orang tahu kalau Exodiart akan datang ke markas untuk sarapan pagi bersama sehari setelah dia diizinkan pulang. Mereka pun menyiapkan pesta sambutan untuk kembalinya sang ketua. Exodiart tak pernah mengira akan masuk ke markas disambut hal itu lagi.


Curio membungkuk di depan pintu. Dia mulai bicara diiringi petikan kecapi. “Selamat datang di Lunacrest. Wahai sang ketua yang terhormat, kami sudah mengharapkan kehadiranmu hari ini. Katakan saja, apa yang bisa kami lakukan untukmu. Menggendongmu ke meja makan atau menyuapi makananmu?”


“Bisakah minggir supaya aku bisa lewat?” Exodiart menahan diri agar tak tertawa.


Curio membungkuk, membiarkan Exodiart menikmati suasana markasnya lagi. Semua anggotanya berdiri acak dekat jalan menuju dapur, meneriakkan hal yang sama. Sambutan untuknya, “Selamat datang kembali!”


Exodiart tersenyum. “Terima kasih,” ucapannya sedikit bergetar.


Mereka pun segera ke belakang untuk mulai makan bersama.


Exodiart menempati posisinya di ujung. Semua mata tertuju padanya, menantikan dia bicara. Exodiart tak berdiri kali ini saat berkata, “Aku sangat beruntung diberi kesempatan untuk membangun guild ini. Terima kasih karena kalian memilih tetap di sini setelah berbagai masalah yang kita hadapi.”


Praxel tersenyum tipis.


Kelsey berbisik, “Sudah kubilang enggak ada yang bisa menggantikan posisimu.”


Raiden mengangkat tangan. “Aku masih berhutang tongkat padamu dan—”


“Itu hanya tongkat tua,” sahut Exodiart. “Jangan pikirkan soal itu. Aku sudah punya tongkat baru yang kupakai saat melawan orang-orang itu.”


“Maafkan aku,” bisik Elloys.


Exodiart menggeleng. “Praxel dan aku, juga semua yang di sini setuju kamu menyelamatkan Lunacrest. Terima kasih juga untukmu, Curio. Kamu memberikan banyak hal dan informasi penting bagi kami.”


“Wahai ketua yang agung, tak perlu sungkan dan canggung. Teman Elloys adalah temanku. Kapan pun aku kembali ke mari, aku akan berkunjung ke sini.” Curio menyibakkan rambut emasnya.


“Kamu akan pergi?” tanya Amari.


“Aku akan kembali bahkan sebelum kamu memintanya.”


Mierai berdehem. “Kupikir maksud Amari adalah cepat pergi sana.”


Mereka pun tertawa dibuatnya.


“Oke, oke. Sekarang waktunya makan!” sahut Exodiart. Dia pun mengulurkan tangan. Setiap orang bergandengan. Sebelum memulai doa, Exodiart mengomentari posisi duduk mereka. “Aku cukup yakin ada perubahan tempat duduk di sini. Atau… cuma perasaanku, ya?”


“Hanya ganti suasana.” Keniaru cekikian dari posisinya, melirik si kakak sepupu yang mengerucutkan bibir.


Exodiart tersenyum dan memulai doa makan mereka. Peraturan kecil buatannya tak terasa seperti peraturan lagi apalagi beban. Sesuai harapannya, sarapan pagi ini  membawa suasana berbeda yang membuat mereka sebagai keluarga bukan sekadar rekan kerja di lapangan.


Suasana hangat disertai perasaan dan tenang dan lega menguasai mereka. Masalah mungkin tak akan pernah berakhir. Monster akan selalu mengancam. Orang jahat tak akan bosan menghalangi jalan. Namun, Lunacrest akan bertahan.


Exodiart membuka mata, bersyukur untuk setiap orang yang bisa makan semeja dengannya saat ini. Praxel, Harufuji, Keniaru, Reiyuel, Curio, Amari, Kelsey, Mierai, Elloys dan Raiden. Jelas ada perpindahan tempat duduk.


Selanjutnya, dia memanggil Crusader lain di ruangan. “Oh, iya. Haru, kamu sudah dengar kalau ada pergantian jadwal Paladin’s Race? Semua jadwal lama diundur karena insiden di Pothine, ‘kan?”


Harufuji mengangguk sambil memotong sayurnya. Kemudian, dia pun berhenti karena memahami apa sesungguhnya maksud sang ketua. “Astaga… Siapapun, tolong selamatkan aku dari Exo.”