Lunacrest

Lunacrest
Chapter 39



Kondisi Praxel memang tidak bisa dibilang baik. Namun, dia bersikeras untuk bisa pulang ke rumah bahkan setelah dia mengetahui kalau tidak perlu memikirkan soal biaya. Dia punya banyak alasan untuk pulang.


Kelsey berharap Praxel mau bertahan di rumah sakit. Elloys berharap dia bisa menginap di markas Lunacrest. Harufuji siap menemani Praxel di rumahnya bila tak seorang pun dari kedua gadis itu berhasil menahannya pulang. Perdebatan tak berlangsung lama karena Exodiart muncul di sana. Akhirnya, Praxel memilih untuk tinggal di markas. Seseorang perlu menjaga kondisinya hingga pulih normal.


Sebenarnya, kondisinya tidaklah separah itu. Seperti kata dokter. Lukanya tidak parah, hanya lebar. Dia kehilangan banyak darah. Namun, dengan bantuan ramuan dan sedikit sihir, kondisinya akan pulih dengan cepat.


Exodiart hanya bisa menggelengkan kepala. “Ruangan ini seperti pemanggil bencana,” bisiknya lirih, separuh bercanda, ketika menutup pintu kamar di lantai dua markas. “Mungkin seharusnya aku memakainya untuk yang lain.


“Seseorang harus menjaga dia,” tambah Elloys, sambil melirik Harufuji.


“Oh, tentu. Aku bisa menginap di sini nanti malam,” jawab Harufuji sambil menguap lebar. “Tidur di sini langsung juga bisa. Haha…”


“Tidak.” Exodiart berbalik pada rekan-rekannya. “Kita semua butuh istirahat. Istirahat sungguhan di rumah. Haru boleh menemani Praxel nanti malam, tapi kamu harus pulang dulu. Jangan buat keluargamu khawatir. Misi subuh selalu menguras tenaga lebih.” Exodiart ikut menguap.


Itu menular, tentu saja. Elloys dan Kelsey pun spontan menguap karenanya.


Dari lantai dua, terlihat pintu depan terbuka. Amari datang membawa kantung kertas dan beberapa barang bawaan. Dia meletakkannya di atas meja lalu mendongak ke atas sambil melambaikan tangan.


“Pagi, Amari!” Exodiart lanjut menuruni tangga.


Elloys memilih menggunakan teleport ke bawah. “Titip Praxel, ya.”


 


 


Meski bicara begitu, Elloys kembali tepat setelah makan siang.


“Kamu jelas tidak mau Praxel sendirian, ya?” Amari menggelengkan kepala sambil tersenyum saat melihat Elloys masuk ke markas.


Elloys cekikikan. “Cuma mau melihat bagaimana kondisinya.” Elloys membawa kantung kertas dalam pelukannya. Dia berhenti di depan tangga, mengedarkan pandangannya sebentar lalu kembali pada Amari. “Apa dia ada di sini?”


“Kelsey? Enggak. Aku sendirian.” Amari kemudian menambahkan. “Bersama Praxel.”


“Hahaha… Bukan Kelsey yang kumaksud. Kenapa Kelsey yang ada dalam pikiranmu?”


“Karena dia dekat dengan Praxel?” jawaban Amari lebih mirip pertanyaan daripada jawaban. Raut Elloys berubah karenanya meski hanya sekejap. Amari menutup bibirnya dengan tangan. “Ups, kupikir aku enggak seharusnya bilang begitu.”


“Jangan khawatir. Aku sudah tahu kalau mereka dekat.” Elloys memutar bola matanya. “Aku bisa melihat kalau Praxel… berusaha dekat dengannya. Maksudku, bukan karena mereka sudah lama berteman, tapi… karena Praxel… Kurasa Praxel tertarik padanya. Mungkin...” Elloys sengaja berhenti. “Jangan khawatir, Amari, aku tahu.”


“Oke.” Amari bergerak mendekat dari mejanya.


Amari mengatupkan bibirnya. Kenyataan dan dugaan itu terlontar begitu lancar dari Elloys. “Aku enggak bermaksud membahas itu,” gumam Amari lirih.


“Hihihi… Kurasa aku hanya terbawa suasana.” Elloys terlihat memaksakan senyumnya.


“Jadi, siapa yang kamu maksud dengan ‘dia’ tadi?”


Elloys mengedikkan bahu. “Raiden. Siapa lagi?”


“Oh, Raiden. Iya, aku juga belum melihatnya. Aku penasaran di mana dia saat ini. Aku bahkan tidak yakin dia tahu kondisi Praxel saat ini.” Amari mendesah. “Dia hanya menambah masalah saja pakai acara menghilang begini. Untung ada Harufuji.”


“Ya, untung ada Haru.” Elloys teringat bagaimana Harufuji menggunakan sihir penyembuhnya pada Praxel.


“Sebentar lagi batas akhir pendaftaran Guild Showdown. Aku penasaran siapa yang akan menggantikan Raiden kalau dia tidak kembali tepat waktu. Bagaimana menurutmu? Kamu mau mengajukan diri atau mengusulkan Haru?”


Elloys telah tenggelam dalam pikirannya. Dia butuh beberapa saat untuk sadar kalau Amari sudah berada di sampingnya dan tengah menunggu jawabannya. Dia pun buru-buru menjawab. “Haru lebih baik dariku. Tentu saja. Hihihi… Baik, aku ke atas dulu, ya!”


Amari membiarkan Elloys naik tanpa memberinya pertanyaan lagi.


Langkah Elloys melambat di lantai dua, apalagi setelah dia melihat Amari tengah bergegas kembali ke mejanya. Dia berhenti di sana. Pandangannya terarah pada pintu kamar Praxel sedang terbaring. Elloys tak suka saat dirinya tertegun seperti itu. Dia menggelengkan kepalanya cepat-cepat, mengusir segala perasaan tidak enak.


Di depan kamar, Elloys memanggil sambil mengetuk. “Praxel? Kamu sudah bangun?”


Elloys mengharapkan jawaban, namun dia tidak menanti datangnya jawaban untuk masuk. Tangannya mendorong pintu perlahan, tak ingin membuat keributan. Praxel terlelap di atas ranjang seperti Keniaru beberapa saat lalu. Selimut menutup tubuh, meninggalkan wajahnya yang terlihat tenang.


Elloys membongkar isi kantung kertasnya. Dia membawa mangkuk tembikar lengkap dengan tutupnya dan botol kaca, juga beberapa buah. Dengan hati-hati, dia menatanya di meja samping tempat tidur. Matanya terpaku pada wajah Praxel. Tangannya bergerak mendekat lalu berhenti sebelum sempat menyentuh sedikitpun wajah Praxel.


“Sepertinya aku harus menanti sampai kamu bangun,” bisik Elloys.


 


 


Elloys tahu kalau pasti tertidur. Dia terbangun ketika kondisi markas telah gelap. Hanya lentera yang menerangi lantai dua. Dirinya ada di kursi sementara tangannya di atas meja kini terasa pegal karena menahan kepala. Matanya mengerjap, mengusir kantuk dan rasa berat pada kepala. Pipinya terasa lembab dan dingin. Apakah dia menangis saat tidur atau karena malam telah datang?


“Bisa-bisanya aku tidur,” gumam Elloys pada diri sendiri. “Kenapa enggak ada yang membangunkanku, ya?” Elloys pun menguap sambil meregangkan badan. Kemudian, dia sadar kalau cahaya terang datang dari kamar Praxel.


Pintu kamar Praxel tengah terbuka. Sang Bishop masih terlelap di ranjang. Barang yang dia bawakan masih utuh di meja samping, belum tersentuh sama sekali. Selain itu, di samping ranjang, dia bisa melihat sosok lain tengah duduk menjaga. Pria berpostur tegap dengan rambut coklat dan bekas-bekas luka di tangan telanjangnya yang berotot.


Elloys menyipitkan mata. Kondisi di luar yang gelap serta kondisi kamar yang terang sangat kontras. Matanya mengerjap lagi. Meski demikian, Elloys sangat yakin mengenal sosok tersebut. “Raiden?” panggilnya.