
Vesa, si elang, membawa surat penting dari Exodiart. Dia meminta kehadiran Praxel secepatnya di gerbang kerajaan. Seorang diri. Mereka baru saja mendapat panggilan penting dari sang jendral.
Exodiart tak menunggu lama. Praxel datang segera. Prajurit mengantar keduanya menuju ke ruangan di sisi samping istana. Ruangan ini merupakan ruangan yang pernah didatangi Exodiart sebelumnya bersama Reiyuel. Di sana, mereka mendapati kalau sudah ada para jendral lain.
Berbeda dengan sebelumnya, suasana kali ini terasa suram. Sudah ada meja besar diletakkan di tengah. Para jendral berdiri mengitari meja, mereka membahas sebuah rencana. Mungkin rencana penyerangan atau semacamnya. Selain para jendral, ada pula ketua guild Maelstrom dan guild Black Warrior.
Exodiart tak tahu apa yang harus dilakukannya di sana hingga dia melihat Saman melambaikan tangan. Dia pun mendatangi Saman, ikut berdiri di sekitar meja.
Meja besar itu ternyata punya permukaan yang memukau. Potongan-potongan kayu berbeda warna disusun membentuk motif garis saling silang. Setelah itu, mereka dilapisi lagi agar mengilap bak kaca. Meski saat ini, sebuah peta besar dengan kertas-kertas laporan terbentang acak di atasnya, mereka tak mampu menutupi keindahannya.
“Apa yang sedang dibahas?” Exodiart berbisik pada Saman.
“Kamu lihat langit di dekat pegunungan Pothine?”
“Badai yang sepertinya bukan badai.”
“Benar. Tidak seorang pun tahu apa itu.” Saman menjaga agar suaranya tetap pelan. Para jendral dalam balutan baju zirah mendebat ide satu sama lain dalam nada tinggi. “Mereka berdebat soal dugaan penyebabnya dan apa langkah yang harus dilakukan. Sudah hampir satu jam rapat berlangsung seperti ini. Setidaknya, mereka sudah sepakat satu hal. Mereka ingin kita memeriksanya.”
“Kita?”
“Para guild. Mereka ingin kita memeriksanya lebih dulu untuk menentukan pasukan sebesar apa yang dikirim.”
“Pasukan? Jelas-jelas bukan fenomena alam, ya?”
“Monster. Apalagi kalau bukan?”
Dari samping, Praxel berbisik pada ketuanya. “Kegelapan.”
Exodiart teringat jelas bagaimana Kisarumi bicara padanya. Kegelapan. Apa yang sebenarnya terjadi di sana. Pikiran Exodiart tidak sampai melayang jauh. Dia mendengar jendral Fawke menoleh ke arah pintu lalu menepukkan tangan dua kali, meminta keheningan.
“Baik, semuanya sudah datang. Tolong mendekat!” seru sang jendral.
Exodiart bisa melihat seorang wanita berbalut jubah berbulu datang ditemani seorang pria tinggi besar botak. Mereka berasal dari guild Cimarec, guild nomor dua di Endialte. Wanita itu, Amybelle, merupakan sang ketua dengan kelas Berserker. Kelas yang paling jarang diambil perempuan. Exodiart bisa melihat kalau separuh rambutnya dicukur habis, separuh lagi dibiarkan memanjang sebahu.
Amybelle bergerak mendekat pula ke arah Saman. “Maaf, kami sedikit terlambat,” ujarnya. Suara Amybelle cukup rendah, seperti laki-laki. “Ada yang membuat takut burung pengirim pesan kesayanganku. Mungkin kamu tahu penyebabnya, Saman?” tanyanya sambil melirik Saman.
Saman mengernyit, jelas tak suka dengan pertanyaan yang terarah padanya. “Aku bahkan tidak tahu yang mana burung Cimarec.”
Laki-laki di samping Saman, yang juga merupakan wakil ketua Maelstrom, langsung maju di antara keduanya. “Tolong jaga bicaramu, nona!”
Jendral Fawke berdehem. “Pagi ini, kita melihat langit di atas pegungungan Pothine tampak tak wajar. Penjaga gunung memberi tahu kalau tidak ada aktivitas mencurigakan di sana. Tapi, kami para jendral yakin ada sesuatu yang mencurigakan di sana. Karena itu, kami memanggil kalian semua, para guild yang kami percaya, ke sini untuk bekerja bersama mengungkap misteri ini.”
Praxel mengedarkan pandangan. Dia melihat bukan hanya tiga guild besar yang ada di sana. Ada beberapa guild lain juga. Dua belas guild termasuk Lunacrest. Mayoritas dari mereka diwakili oleh ketua dan wakilnya.
Fawke melanjutkan, “Kalian akan menuju ke dua belas titik yang sudah kami perkirakan merupakan sumber dari kekacauan ini.”
Amybelle mengangkat tangan.
Fawke mengangguk padanya.
Mendapat kesemaptannya, Amybelle langsung bertanya. “Apa kita semua juga sepakat kalau sumbernya adalah monster? Tidak banyak monster yang menguasai sihir. Beberapa yang bisa sihir, biasanya cukup menyebalkan.” Amybelle sengaja melirik Saman ketika bicara. Saat tatapan mereka bertemu, Amybelle kembali pada sang jendral. “Mungkinkah mereka, para monster itu, sedang melakukan ritual?”
Fawke mengangguk, tersenyum. “Asumsi yang sangat tepat. Itu juga yang kami percaya sedang terjadi. Kita mengingat bagaimana pernah ada penyerangan besar ke Korumbie. Sebelas tahun lalu. Pemimpin penyerangan adalah si nenek sihir. Jataleiya.”
Suasana terasa berubah ketika Fawke menybutkan nama itu. Beberapa menggertakkan gigi. Praxel bisa melihat bagaimana raut Exodiart berubah seiring tangannya mengepal erat. Penyerangan itu terjadi ketika Praxel sedang kembali ke kotanya sendiri. Dia tidak tahu bagaimana persisnya itu terjadi. Namun, dampaknya terlihat hingga sekarang.
Demon merupakan jenis monster yang paling berbahaya. Mereka serupa manusia dengan tingkat intelejensi tinggi serta masa hidup yang cukup panjang. Kulit mereka pucat seperti mayat. Pengendali sihir alami sejak lahir. Sekalipun demikian, bukan berarti mereka tanpa kelemahan. Mereka selalu takut pada cahaya, terutama cahaya matahari.
Penyerangan Jataleiya berlangsung hanya semalaman, tapi berhasil memberikan teror membekas. Banyak korban jatuh di kedua belah pihak. Jataleiya sendiri kabur setelah dilukai parah oleh para Crusader. Sepertinya, kejadian itu pula yang mendorong para Cleric mempelajari lebih banyak sihir yang menggunakan elemen cahaya bukan hanya sekadar kilat dan petir.
Para demon tak lagi terlihat sejak saat itu. Sudah jadi rahasia umum kalau mereka masih ada. Mengincar saat yang tepat dalam kegelapan untuk menjatuhkan ibu kota. Wajar kalau semua waspada pada kejadian-kejadian tak lazim seperti ini.
“Aku ingin kalian ingat kalau ini baru asumsi. Jangan biarkan diri kalian gentar! Kita tidak sama seperti sebelas tahun yang lalu. Kalau kejadian ini benar ulah para demon, kita siap menghabisi mereka!” Fawke melipat tangannya ke depan dada. “Bukan begitu?”
Exodiart tak percaya kalau Fawke melihatnya saat melemparkan pertanyaan barusan. Dia pun buru-buru mengangguk. “Benar sekali.”
“Bagus!” sahut Fawke. “Dari dua belas titik ini, ada tiga titik yang dipercaya lebih memungkinkan dari titik-titik lainnya. Guild yang akan memeriksa ketiga titik ini adalah Cimarec, Black Warrior, dan Lunacrest.”
Praxel langsung menelan ludah.
Exodiart merasakan napasnya tertahan. Ini kesempatan besar baginya dan Lunacrest. Mungkin Fawke sengaja menunjuk Lunacrest untuk melihat bagaimana sepak terjangnya, mengingat kalau barusan dia mendapat tawaran untuk bergabung dengan kerajaan. Kemudian dirinya sadar ada satu guild besar yang tidak disebutkan. Saat Exodiart melihat Saman, dia mendapati ekspresi yang tak akan pernah dia lupakan sebelumnya. Alis yang menekuk turun, mata terbelalak, bibir yang ditarik pada kedua sisi. Kalau itu bukan kekecewaan, Exodiart mengenalinya sebagai kemarahan.