Lunacrest

Lunacrest
Chapter 59



Percakapan mereka berhenti di depan pintu masuk. Tempat itu membisu dalam kegelapan serta hawa dingin.


“Api,” bisik Praxel pada Elloys.


Elloys langsung patuh. Sebuah bola api melayang di atas tongkat sihirnya. Sinarnya menerangi lorong-lorong berdinding batu. Sama seperti kondisi di luar, dindingnya juga dipenuhi lumut. Mereka bisa melihat adanya pahatan tak rapi pada dinding. Sepintas seperti coretan anak kecil. Kelsey menyusuri dinding dengan jemari kurusnya.


“Aku selalu penasaran soal bahasa kuno,” bisik Kelsey.


“Kamu yakin ini bahasa kuno?” balas Elloys.


“Para peneliti percaya itu.”


“Kamu percaya mereka?”


“Tentu.” Kelsey memicingkan mata pada Elloys yang kini berjalan satu langkah di belakang Praxel. “Apa kamu pernah mendengar berita lain soal ini, Elloys.”


“Banyak.”


“Apa itu?”


“Bahasa makhluk dari dunia lain.”


Kali ini Raiden menyela, “Hantu dari dunia orang mati?”


“Sst!” Praxel lebih dulu menghardik sebelum Elloys. “Teman-teman, kita bisa membangunkan mayat sungguhan kalau kalian terus berisik. Tenanglah sedikit, kita tidak mau kedatangan tengkorak-tengkorak.”


“Itu lagi? Sangat lucu,” desah Elloys.


Praxel tak lagi menanggapinya. Mereka menyusuri jalan sesuai dengan gambar peta yang dipegang Praxel. Dia memimpin jakan sambil menghafalkan setiap belokan. Tak ada yang mau sampai tersasar. Mereka tiba di sebuah ruangan besar dengan langit-langit tinggi.


“Para peneliti memberi nama ruangan ini dengan ruang tahta. Apa maksudnya, menurutmu?” bisik Praxel.


Elloys angkat bahu.


Kelsey mengangguk pada pilar besar di tengah ruangan. “Tempat ini jauh berbeda dengan ruang tahta yang ada di kerajaan,” ujar Kelsey. “Mereka tidak membuat pilar raksasa di tengah ruangan.”


“Mereka juga tidak mencoret-coret dindingnya.” Elloys menggunakan teleport, beranjak menuju salah satu dinding. Dia menyipitkan mata untuk mengawasi setiap coretan yang ada di sana. “Ini yang harus kita salin?”


“Ya, ayo bekerja.” Praxel pun mendekat.


Dia mengeluarkan gulungan kertas, tinta, dan pena. Lalu, tangannya mulai menyalin satu per satu bentuk abstrak. Elloys berdiri di sebelahnya. Tongkat dengan sihir apinya menemani setiap tanpa bergeming. Meski begitu, apinya senantiasa bergoyang.


Raiden mengelilingi ruangan itu. Kakinya berjalan pelan, matanya menyusuri dinding-dinding. Tangannya siap menarik kapak kapan pun diperlukan. Kebanyakan reruntuhan tidak punya lagi sistem keamanan seperti jebakan dan sebagainya. Meski begitu, tak ada salahnya tetap berhati-hati. Jangan sampai tangan atau kakinya menekan tombol jebakan yang bisa membuat mereka semua terkurun.


Kelsey berdiri di sisi lain ruangan, lebih tepatnya di depan sebuah lorong gelap. Api Elloys tak bisa mencapainya. Kelsey berjaga di sana dengan tongkat sihir di tangannya. Dia juga siap menyambut kejutan buruk apa pun.


Raiden tak mendekati Kelsey. Dia berbalik arah ke sisi lain ruangan kosong tersebut. Ruangan itu terasa terlalu luas dan kosong. Dirinya ikut bertanya-tanya mengapa ruangan itu diciptakan dari semula. Pastinya bukan iseng. Ruangan itu lebih mirip sebagai ruang antara menuju ke ruang tahta daripada ruang tahta itu sendiri.


Dirinya pun beranjak ke tengah ruangan, menuju pilar yang ternyata tidak polos. Matanya tak bisa membaca apa yang terukir di sana, tapi dia tahu ada ukiran-ukiran kuno mungil mengelilingi bagian bawah pilar. Mereka seperti mantra bukan hiasan.


TAK! TAK!


Raiden mendengar suara samar dari kejauhan. Dia pun mengedarkan pandangan, memeriksa sekeliling. Sejauh pendangannya, dia tak mendapati perubahan. Pintu batu kembar saat mereka datang masih terbuka lebar. Lorong gelap di depan Kelsey juga masih sama. Kelsey sendiri bergeming di sana dengan tongkatnya. Gadis itu melirik ke arahnya. Raiden menoleh ke belakang, sekadar memastikan tak ada apa-apa.


TAK! TAK! SREEG…


“Praxel, kamu dengar itu?” Elloys akhirnya menyadari suara yang kian mendekat.


Praxel hanya bergumam, matanya mengamati dinding dan tangannya terus membuat bentuk-bentuk yang sama persis dengan apa yang dia lihat.


“Ayo, cepat…” bisik Elloys, memohon separuh meminta.


“Kucoba.”


Sejak awal, mereka sudah sepakat hanya satu orang yang akan menyalin. Mengapa? Karena tempat itu berbahaya. Lebih aman kalau satu orang menyalin, sementara tiga orang berjaga. Lebih tepatnya, satu orang bertugas menyalin, satu orang bertugas menerangi ruangan, dua orang berjaga.


Kini Raiden mulai bisa melihat kelebat putih dari arah lorong tempat Kelsey berjaga. Tanpa perlu diperintah, dirinya menarik kapaknya ke depan. Kakinya melangkah pelan tapi pasti. Sesekali, kepalanya menoleh ke belakang, memastikan tak ada kelebat yang sama dari arah mereka datang.


“Kita kedatangan tamu.”


Kelsey tak perlu mengatakannya. Raiden sudah lebih dulu berlari sambil mengayunkan tongkat. Peraturan tak tertulis lainnya. Petualang selalu menyerang lebih dulu apa yang membuat mereka merasa terancam. Apalagi di tempat yang penuh monster seperti itu.


KRAAAAK!


Raiden hanya beberapa di depan Kelsey. Sabetan kapaknya mengantar hembusan angin ke depan, menyabet apa pun yang dekat. Suara derak keras terdengar dari sana. Apa pun yang terkena serangannya hancur berantakan.


“Praxel,” Elloys merengek. “Ayolah.”


“Sebentar, sebentar…”


Raiden menyipitkan mata dalam kegelapan. Kelebat putih yang tadi dia lihat berserakan di tanah. Namun, tak lama kemudian, mereka bergerak mendekati satu sama lain, menyusun kembali sosok awal mereka yang serupa manusia. Tanpa kulit. Tanpa mata. Tanpa daging.


“Tengkorak!?” seru Raiden. Dia juga baru menyadari kalau kakaknya sedari tadi tidak bercanda soal para tengkorak.


“Dan… banyak!” sahut Kelsey.


Raiden terbelalak. Kelsey benar. Di belakang tengkorak pertama yang dia hancurkan, masih ada banyak tengkorak lainnya. Sosok mereka benar-benar hanya tulang belulang. Beberapa masih mengenakan kain compang-camping sambil membawa senjata. Ada yang membawa tombak, ada yang pedang, ada juga panah.


Kelsey mengulurkan tongkat. “Mundur, Raiden!”


Ketika Raiden mundur, Kelsey merapal mantra. Sihirnya melesat bagai laser. Sebuah sinar bergerak lurus, menghancurkan satu tengkorak beserta barisan belakangnya. Derakan keras terdengar lagi sebelum lenyap diterpa kegelapan.


Raiden berlari masuk ke dalam ruangan. “Lebih baik kita segera pergi—”


Ucapannya terhenti. Dari arah pintu masih, dia bisa melihat adanya barisan-barisan tengkorak lagi melewati pintu kembar.


“Kyaaa!” Elloys berteriak panik.


Spontan, Elloys membuat sihir api, melupakan kalau Praxel sedang membutuhkan pencahayaan. Sihir panah api melesat menyambar tengkorak. Namun, tengkorak itu tidak hancur. Api hanya menjilat sisa-sisa kain yang menempel. Sementara sosoknya masih bisa berjalan masuk.


“Selesai!” sahut Praxel sembari berdiri. “Raiden, bukakan jalan untuk kita.”


“Tu— Tunggu! Kita akan menerobos mereka?” tebak Elloys.


“Tentu saja. Kita harus pulang.”


“Ta— Tapi…” Tangan Elloys gemetar, membuat tongkat di tangannya ikut bergetar.


“Hei!” sahut Raiden. “Mereka tengkorak, bukan hantu. Mereka enggak bisa menembus dinding. Tapi, aku bisa menerobos mereka.” Raiden sempat menoleh ke belakang setelah menyiapkan kuda-kuda untuk berlari kencang. “Ikuti aku!”