
Hari memang telah menjelang malam. Amari sudah pulang namun markas masih dibuka. Raiden di sana untuk jaga malam. Sambil menanti kedatangan Praxel, Raiden membersihkan kapaknya. Satu hal yang sudah jadi kebiasaannya setiap hari.
Saat pintu markas dibuka, Raiden tahu kalau bukan kakaknya yang datang. Exodiart melangkah masuk, melambai padanya, lalu naik ke atas tanpa bicara apapun. Raiden sendiri tidak berminat ngobrol, jadi dia diam saja.
Beberapa saat kemudian, Mierai dan Elloys masuk sambil ngobrol. Mereka berisik tapi Raiden tak lagi terganggu. Meski begitu, Mierai sadar kalau tidak seharusnya ke sana.
“Hai, Raiden,” sapanya sambil melambaikan tangan. “Kami hanya mau menitip berkas laporan, kok.”
Mierai melangkah tanpa suara ke meja Amari. Dia meletakkan selembar kertas di dalam kotak kayu coklat. Amari meminta para anggota Lunacrest menyimpan kertas-kertas penting di sana daripada membawanya ke rumah. Ini untuk mengantisipasi hilangnya berkas penting. Hal ini memang belum pernah terjadi. Amari mencegahnya.
Raiden melirik Elloys yang berdiri di ujung pintu. Elloys pun balik menatapnya. Hal ini membuat Raiden mengalihkan tatapannya ke bawah.
“Yuk, balik.” Mierai melangkah ke sisi Elloys.
“Yuk…”
Kedua gadis itu beranjak pergi. Raiden terdiam di tempatnya. Matanya sudah kembali pada sosok Elloys yang menutup pintu. Hatinya gelisah. Untuk sesaat, semua hal yang dia lakukan terhenti. Tahu-tahu saja dirinya sudah berdiri, beranjak dari tempat, berlari ke pintu.
Pintu terayun terbuka. Raiden pun tersentak.
Kakaknya ada di depan pintu, membawa ransel dan barang-barang keperluan untuk menginap. Melihat Raiden hendak keluar, Praxel langsung bertanya. “Kamu mau ke mana?”
“Iya. Ada… yang ketinggalan!” Raiden melesat ke luar, tak peduli bila jawabannya tidak cocok dengan pertanyaan Praxel, juga tak menunggu respon Praxel.
Dia berlari di atas jalanan berbatu, berusaha mencari kedua gadis yang baru meninggalkan markas. Mereka bisa ada di mana pun. Mereka juga tidak mengenakan sesuatu yang mencolok. Rambut ungu Elloys nampak biasa saja di malam hari. Raiden berlari mengikuti instingnya.
Korumbie terasa agak dingin malam itu. Sinar temaram mengiring langkahnya membuat bayang-bayang kabur di atas permukaan tanah tak rata. Dia berhenti di satu perempatan, menoleh ke setiap sisi, berharap menemukan Elloys atau Mierai. Namun, dia hanya menemukan para penduduk yang tengah berteduh.
Raiden tersadar. Dia menengadah. Langit menjatuhkan tetes-tetes air. Hujan gerimis sepertinya sudah datang sejak tadi. Raiden bisa melihat bahunya basah. Sambil menghela napas, Raiden berbalik hendak kembali ke markas.
“Kamu ngapain? Nanti masuk angin, lho.”
Raiden terdiam saat mengenali suara Elloys datang bersama dengan cahaya kuning terang. Saat berpaling, Raiden melihat Elloys sedang membuka pintu kedai tepat di belakangnya.
“Raiden, kamu enggak apa-apa?” Elloys mendekat. “Sakit? Kok diam saja?”
Sadar kalau matanya sedang menatap lekat-lekat Elloys, Raiden buru-buru menggelengkan kepala. “Aku hanya… sedang latihan… malam.” Raiden menjawab asal, dia bahkan tidak yakin apa maksud ucapannya sendiri.
“Oh, rajin banget.”
“Ka— Kamu sendiri ngapain?”
“Cari makan malam.”
Raiden memutar bola mata, merasa kalau seharusnya dia bisa menebak itu sejak awal.
Elloys malah salah menangkap. “Kenapa mukamu begitu? Kamu pikir aku diet jadi enggak perlu makan malam? Memang kamu sendiri enggak lapar kalau malam?”
“Tentu saja.” Raiden buru-buru menambahkan. “Maksudku, aku sendiri makan malam, kok. Cuma belum saja. Apa yang enak di sini?” Raiden melirik ke pintu kedai yang kini telah tertutup. Elloys berada di naungan atap sementara dirinya masih kena gerimis.
“Daging panggang. Tapi, sudah habis.” Elloys mendesah. “Aku mau cari tempat lain saja.”
“Suka sup kacang? Aku tahu tempat yang enak.” Raiden tak mengerti kenapa dirinya bisa semudah itu melempar pertanyaan.
“Sup sepertinya enak di cuaca begini.”
Raiden mengangguk. “Ayo.”
Kini Raiden dan Elloys berjalan berdua. Gerimis masih turun jarang. Keduanya tak merasa terganggu meski pakaian mereka kini jadi makin basah. Mereka berjalan ke sebuah gang kecil yang cukup landai. Di ujung gang, ada sebuah teras rumah besar yang dijadikan kedai makanan. Atapnya dibuat dari jerami. Meja dan kursinya merupakan potongan dari balok kayu. Hal menarik ada di tengah. Sebuah kuali besar mengepul di atas api membara.
“Kalau kuingat-ingat, sepertinya sudah lama aku enggak ke sini,” Elloys berbisik.
“Sudah pernah, toh?” Raiden memimpin jalan duduk di sebuah balok kayu.
Seorang pelayan membawakan mereka piring berisi sup dan beberapa roti kering. Asap panas mengepul tipis. Itu satu-satunya menu di sana. Tempat ini memang bukan tempat yang terkenal namun cukup nyaman di hari hujan. Keduanya mulai menyantap makan malam mereka dalam riuh rendah suara orang ngobrol serta rintik hujan.
Saat roti pertamanya habis, Raiden berbicara dengan suara lirih. “Aku pernah hampir mati di tangan orc.”
Elloys mengangguk pelan, menyuapkan sesendok sup ke mulutnya. “Waktu masih jadi Warrior?”
“Jauh sebelum aku jadi petualang.” Raiden menunduk. “Waktu itu, aku dan teman-temanku menemukan segerombolan goblin. Kami masih kecil. Tapi, ukuran tubuh kami lebih besar dari mereka. Jadi, kami mencoba melawan mereka tanpa memberi tahu orang dewasa.”
Elloys berhenti. “Kamu coba sok pahlawan dan melawan mereka?”
“Kamu pasti pikir aku seperti kakak Keniaru?” tebak Raiden.
“Mungkin.” Elloys menghentikan kegiatannya. “Lanjutkan,” pintanya, penasaran.
“Kami menghajar para goblin dan menang.”
“Cerita kalian berbeda. Kakak sepupuku tewas. Kamu enggak.” Elloys menyentuh sendoknya lagi, melanjutkan makan malam.
Raiden masih terpaku. Dia menarik napas panjang dengan mata terpejam, mencari sedikit ketenangan, mengumpulkan sedikit keberanian untuk menceritakan apa yang selanjutnya terjadi. Saat dirinya siap, Elloys malah sudah selesai makan malam.
“Mereka jebakan,” lanjut Raiden.
“Siapa?” tanya Elloys sambil menegak habis airnya dalam gelas.
“Para goblin.”
“Aku enggak mengerti.”
“Waktu itu, kami berhasil mengalahkan para goblin. Kami sangat senang. Kami mengikat mereka, membawanya ke desa, meniru apa yang biasa dilakukan orang-orang dewasa. Saat mereka mendapatkan monster, mereka tidak langsung membunuhnya. Mereka membawanya ke desa untuk dijual ke petualang.”
“Ghobo,” gumam Elloys. “Kamu berasal dari desa salju yang menjual belikan monster?”
Raiden hanya bisa mengangguk.
“Tapi… Itu ilegal. Setahuku, kerajaan menganggap kegiatan seperti itu punya banyak dampak negatif daripada positif. Jadi, mereka menangkap orang-orang desa yang melakukannya lalu memberi mereka hukuman.”
“Benar.”
“Apa ayahmu juga ditangkap?”
“Tidak. Ayahku bukan orang yang ingin anak-anaknya berurusan dengan monster. Tapi, kakakku, Praxel, berbeda. Sejak kecil, dia selalu ingin menjadi Cleric. Dia ingin menyembuhkan orang-orang yang terluka saat bertarung melawan monster. Dia mengambil kesempatan saat pihak kerajaan datang.”
Elloys mengernyit. “Apa yang terjadi?”
Raiden pun mengulang ceritanya. “Jauh sebelum aku dan teman-temanku menangkap goblin, pihak kerajaan sudah pernah datang sekali. Sesuai yang dicatat dalam sejarah, mereka menangkap orang-orang. Lalu, Praxel datang pada mereka dan menunjukkan sihir yang dia pelajari sendiri. Mereka terkesan. Jadi, mereka membawa Praxel ke ibu kota.”
“Wow… Itu sangat berani.”
“Mungkin.”
“Jadi, Praxel tidak ada waktu kalian menemukan goblin? Dia tidak ada untuk melindungi kalian?”
Raiden menggeleng, tangannya terkepal erat di atas meja. “Tidak.”
“Apa kamu marah dengannya?”
“Iya.”
“Raiden, apa yang ingin kamu ceritakan?”