
Reiyuel bergeming. Praxel memegangi lukanya, melakukan tugasnya sebagai Bishop.
Kelsey mundur selangkah, menutup wajah dengan kedua tangan. “Oh, Dewi…”
Elloys terdiam sebentar. Dia mengamati wajah Reiyuel yang tak sepucat mayat lagi lalu menatap Kelsey. “Kamu… tadi sengaja, ya?”
Kelsey membuka tangan yang menutupi. Wajahnya merah, matanya basah. “Aku sangat takut tadi,” kata-katanya bergetar. “Terima kasih sudah ikut dalam permainanku. Kupikir tadi enggak akan berhasil.”
“Terima kasih kembali.”
Kelsey merentangkan tangan, menarik Elloys dalam pelukannya. Sesuatu yang tak pernah dia bayangkan akan terjadi. Rasa takut dan rasa cemas perlahan sirna digantikan kehangatan dalam wangi bunga lembut.
“Maafkan aku,” bisik Elloys.
“Apa? Untuk apa?” Kelsey melepas pelukannya. Mengusap air yang jatuh ke pipi. Dia melihat bagaimana Elloys berusaha mengalihkan tatapannya. “Aku enggak ingat kalau kamu berbuat salah padaku. Tadi itu perdebatan seru tapi kurasa tidak ada perasaan pribadi terlibat.”
Elloys menggeleng. “Aku memang enggak berbuat jahat secara langsung. Aku hanya berpikir jahat tentangmu. Maksudku, sejak pertama kali bertemu, kurasa kita tidak akan cocok. Aku melihatmu sebagai sosok jahat dan dingin. Ternyata… Kupikir akulah yang jahat.”
Giliran Kelsey menggeleng. “Terima kasih untuk pengakuanmu, Elloys. Kamu tidak jahat. Menurutku, itu manusiawi saat kamu merasa enggak akan cocok dengan seseorang. Lagipula, kamu tidak benar-benar berbuat jahat padaku.” Kelsey tersenyum geli.
“Aku tahu. Aku hanya merasa buruk sudah berpikir yang enggak-enggak.”
“Apa kamu masih berpikir sama sekarang?”
“Sekarang, kupikir mungkin kita akan cocok.” Elloys mengulas senyum. “Kamu ternyata sangat lembut.”
“Dan kamu ternyata selalu mengejutkan. Seperti kata Mannie, orang tidak akan bosan di dekatmu.”
Mendengar nama temannya di akademi disebut, Elloys jadi penasaran. “Kanal Mannie? Bagaimana bisa?”
“Kalian satu kelas di akademi sihir, kan? Setelah itu, dia ke Korumbie untuk mengambil ujian kelas spesialisasi. Kami bertemu waktu itu. Aku masih sering kontak dengannya. Waktu kubilang ada anggota baru di Lunacrest, bernama Elloys, dia langsung bilang kalau kami beruntung karena kamu selalu membuat segalanya menarik!”
Elloys tersipu malu. “Kamu tanya padanya soal aku?”
Kelsey mendekat, berbisik langsung ke telinga Elloys, sambil melirik gantian para Exodiart dan Praxel. “Aku tidak yakin bisa menyerahkan rekrutmen anggota baru pada mereka berdua. Kadang mereka terlalu santai atau terlalu polos. Terserah mana istilah yang lebih cocok.”
Mendengar itu, Elloys malah tertawa kecil. Tawanya menular pada Kelsey. Tindakan kompak keduanya mengundang lirikan Raiden. Satu, tidak ada hal yang lucu terjadi di sekitar mereka. Dua, dia mengira kalau kedua mantan Sorceress itu tidak cocok satu sama lain. Sepertinya mereka malah jadi kawan sekarang.
Malam itu merupakan malam panjang bagi mereka semua. Termasuk bagi Amari dan Mierai yang datang terakhir. Mereka melihat para polisi juga prajurit berdiri di sekitar markas. Mereka juga melihat Reiyuel yang dibawa ke rumah sakit. Semuanya bagaikan mimpi buruk. Exodiart memutuskan menjaga piala mereka bersama Praxel dan Raiden malam itu. Dia pun mengusir semua anggotanya pulang.
Raiden berjaga di bawah, tidur di sofa tempat Reiyuel. Sekalipun dirinya yakin tidak akan tidur. Hari sudah menjelang pagi. Sebentar lagi adalah jam untuk latihan rutinnya. Meski begitu, dia tetap berusaha memejamkan mata di tengah segala kekacauan yang sudah dibersihkan sebisanya. Exodiart memanggil pekerja untuk perbaikan nanti siang. Sekarang, dia harus bertahan dengan kondisi demikian.
Praxel ada di kamar sementara Exodiart berada di kantor. Sama seperti Raiden, kedua orang ini juga yakin tidak akan bisa tidur.
Exodiart awalnya berniat membereskan berkas-berkas, mengatur ini itu, melakukan apa yang selalu tertunda. Karena pikirannya kacau, dirinya malah berakhir sambil mengamati langit-langit. Menyerah, dirinya pun pindah ke kamar, mencoba istirahat. Dia malah menemukan Praxel duduk bersila di lantai dengan mata terpejam.
“Kita semua sedang kacau.” Praxel membuka mata, menyadari kehadiran Exodiart padahal sang ketua tidak membuat keributan.
“Bilang saja kalau enggak bisa tidur,” sahut Exodiart, cekikikan.
“Memang kamu ngantuk?”
“Sama sekali enggak.” Exodiart merebahkan dirinya di atas ranjang. “Mungkin ini waktu yang tepat untuk minta pendapat.”
“Oke, aku siap membuka sesi konseling.”
“Yup. Jendral Fawke memanggilmu. Ada masalah soal itu?”
“Ya dan tidak.”
“Aku tidak paham.”
“Jendral Fawke memintaku bekerja untuk kerajaan. Bukan Lunacrest, tapi aku secara pribadi. Itu kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang lagi. Masalahnya, dia ingin aku bertugas di benteng Timur, Efilaned.”
Praxel memahami apa artinya itu. “Kamu meninggalkan Lunacrest?”
“Aku tahu bisa terus memantau Lunacrest dari jauh. Jadi semacam pengawas dalam tanda kutip,” kata Exodiart, menghindari kata ‘pemilik’, sambil memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. “Itu artinya aku tidak bisa lagi berada di Korumbie dan jadi ketua.”
“Tunggu sebentar. Kamu mau menerima tawaran itu dan—”
“—dan menjadikanmu ketua Lunacrest,” lanjut Exodiart.
“Apa?!”
“Aku hanya bisa mempercayakan Lunacrest padamu. Tidak ada yang bisa menggantikan posisiku selain kamu.”
“Omong kosong! Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu. Tidak seorang pun!” tukas Praxel. “Lagipula, itu dua hal berbeda. Kamu percaya aku bisa mendampingimu sebagai wakil. Itu bukan berarti aku bisa memimpin sebagai ketua.”
Keduanya terdiam, mencerna percakapan yang terjadi di antara mereka.
Exodiart menghela napas pendek, hendak melanjutkan.
Praxel lebih dulu bicara, “Apa sebenarnya tujuanmu?”
“Tujuanku membuat Lunacrest? Kamu sudah dengar bagaimana pemikiranku sampai aku memutuskan membuat guild sendiri. Aku suka bertualang, bertarung, melindungi Korumbie. Aku enggak suka dengan guild yang kerjanya asal-asalan. Mereka itu bukannya membantu kerajaan malah bikin repot. Jadi, aku buat guild sendiri saja.”
“Kamu kurang satu hal.”
“Apa itu?”
“Kamu dulu bilang, kamu ingin berkembang bersama-bersama dengan anggota guild.”
Exodiart sekarang tertegun.
Praxel berdiri, duduk di ranjang tepat di seberang ranjang Exodiart, di mana dia bisa melihat sang ketua lebih jelas. “Kamu selalu ingin menolong orang lain. Aku paham. Itu hal yang sangat baik. Aku hanya tidak yakin kalau kamu menginginkan ini.”
“Kenapa bilang begitu?”
“Sekarang saja kamu bercerita seolah itu masalah besar bukan kesempatan emas. Ini jadi beban buatmu. Sama seperti piala kita itu.” Praxel melirik piala mereka yang sekarang ada di dalam kamar.
Exodiart mengusap mukanya. “Banyak hal yang harus dibenahi. Mulai dengan menyimpan piala itu baik-baik.”
“Kenapa kerajaan membuat piala seperti itu. Dia benar-benar magnet untuk pencuri.”
“Seolah ini adalah ujian bagi pemenang Guild Showdown.”
“Benar sekali.”
Keduanya lantas terdiam lagi. Exodiart bangkit perlahan. Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Matanya mengawasi piala cantik bernilai tinggi tersebut. Benaknya mengulang kalimat yang tadi dia ucapkan sendiri.
Ujian bagi pemenang Guild Showdown.