
Gargoyle merupakan monster terbuat dari batu. Tubuh kekar bungkuk dengan sayap besar, deretan gigi runcing, juga mata merah menyala. Mereka biasanya berdiam di reruntuhan. Mudah dihancurkan bila tahu caranya. Dari antara keempatnya, senjata Raiden seharusnya paling efektif. Palu besarnya bisa menghancurkan batu karang. Apalagi bila ditambah dukungan sihir dari Praxel.
Meski tak bicara, Praxel berharap Elloys dan Keniaru bukan petualang amatir yang sembarangan menyerang. Dia tidak mau menggunakan sihir penyembuh di awal pertempuran. Praxel berdoa keduanya tidak jadi beban. Doa itu menggema dalam hatinya makin kencang ketika mereka mendekati reruntuhan.
Reruntuhan itu sangat luas. Praxel dan Raiden pernah ke sana sebelumnya di siang hari. Di malam hari, pemandangannya sangat berbeda. Cukup membuat resah. Gelap dan sunyi sudah pasti. Seperti kebanyakan situasi padang malam hari, hanya saja ada dinding-dinding kokoh berdiri acak. Dulu mereka menjaga sesuatu di dalamnya. Saat ini, mereka tak lebih dari sekedar saksi sejarah.
Elloys berjalan lambat di samping Praxel. Tongkat sihirnya tergantung di balik punggung. Orb violet di bagian ujungnya bercahaya, entah cahaya itu berasal dari orb sendiri atau memancarkan cahaya bulan. Sekali tangannya mengusap lengan.
“Tidakkah ini terlalu sunyi?” Raiden memecah keheningan. Bisikannya terdengar sangat jelas di tengah hembusan angin malam.
“Biasanya juga begitu.” Ada ketenangan dalam jawaban Keniaru. Meski begitu, tangannya meraih pedang besar yang sedari tadi disimpan di belakang punggungnya. Bilahnya terlihat berkilau sementara gagang hitamnya menunjukkan tekstur kasar agar tidak licin.
Melihat Keniaru, Raiden pun menyiapkan palunya. Dia bersiap memukul siapa pun yang berani memberikan serangan kejutan. Sejauh matanya memandang, dia belum menangkap pergerakan apa pun dari reruntuhan. Gargoyle memang biasanya berada di bagian dalam reruntuhan.
Mereka mulai memasuki reruntuhan. Dinding terdekat menjulang begitu tinggi. Bayangannya menutupi bebatuan dan rumput yang tumbuh liar memenuhi tanah. Raiden sengaja berada paling belakang. Dia bisa melihat teman-temannya bergerak hati-hati agar tak tersandung.
“Kadang aku penasaran kenapa kita harus mengendap-endap seperti ini.” Keniaru berbisik sambil menoleh padanya. “Maksudku, toh sebentar lagi area ini akan jadi medan pertempuran. Cepat atau lambat, kita akan menghajar para gargoyle.”
“Kalau kita membuat keributan sekarang, mereka akan mendatangi kita bersamaan.”
“Lalu?”
“Kalau kita hati-hati, kita bisa menyerang satu per satu monster yang kelihatan.”
“Lalu? Tetap saja akan ada keributan.”
“Iya. Suaranya pasti memicu gargoyle lain. Tapi, mereka akan datang lagi satu per satu. Lalu, kita bisa mengalahkan mereka. Lalu, muncul yang lain lagi… Lalu…” Raiden akhirnya diam.
“Lihat? Sama saja, ‘kan?”
“Hei!” Elloys berkacak pinggang sambil menghadap keduanya. Mereka sedang berada di tengah satu area yang cukup datar. Rerumputannya hanya setinggi mata kaki. Bebatuannya tak begitu banyak pula. “Ken, kamu mau memanggil mereka?”
Keniaru mengedarkan pandangan. “Di sini?”
“Tempat ini cukup lapang. Pasti cocok untukmu dan Raiden.”
Mendengar namanya disebut, Raiden bisa merasakan dahinya mengernyit. Apa maksud Elloys memanggil mereka? Dia memang pernah mendengar mengenai teknik para Warrior untuk menarik perhatian musuh. Ini biasanya digunakan mereka yang berada di garis terdepan dan menjadi tanker. Selain Guardian seperti Exodiart, Warrior memang cocok pula menjadi tameng para temannya. Tapi, Raiden tidak pernah melihat secara langsung teknik ini. Dia sendiri tidak pernah mempelajarinya. Ralat. Dia tidak berminat mempelajarinya.
Praxel berdehem. “Ehem… Tunggu sebentar, kalian berniat membuat keributan agar para gargoyle datang kemari?” Praxel mengutarakan persis isi pikiran Raiden.
Keniaru bergumam pelan. “Bukan membuat keributan sungguhan. Hanya teriakan saja.” Keniaru melirik Raiden karena dia yakin Raiden paham teknik yang sedang dibicarakannya.
“War Howling?” sahut Raiden. “Kamu mempelajari teknik howling dan kamu mau melakukannya di sini?”
“Apa ide ini kedengaran buruk?” Mata Elloys mengamati Praxel yang bahkan belum menarik senjatanya.
Praxel bergumam pelan, sedang mencari kalimat yang tepat.
Elloys memicingkan mata. Bola mata lembayungnya berkilau di bawah sinar bulan. “Biar kutebak. Kalian belum pernah menjalani misi semacam ini di malam hari.”
“Pernah. Aku pernah melawan minotaur di malam hari.”
Elloys menunjukkan jari telunjuknya ke depan, menggoyangkannya ke kanan kiri. “Itu berbeda sekalipun mereka sama-sama monster yang biasa bergerak malam hari. Minotaur biasanya sendirian. Sebaliknya, gargoyle berkelompok. Mereka nggak bisa disamakan.”
“Jadi, kamu bicara soal jumlah?”
“Jumlah dan teknik bertarung.” Elloys memainkan tongkatnya. “Teknik bertarung Keniaru dan aku sama-sama efektif untuk melawan musuh dalam jumlah banyak. Bukankah kamu juga begitu? Palu besarmu bisa menghajar banyak monster sekaligus.”
“Ya, tapi--”
“Kamu nggak pernah menggunakannya?”
“Sembarangan. Tentu saja aku menggunakannya.”
“Berarti seharusnya kamu paham maksudku. Serangannya efektif ‘kan?”
“Aku memang selalu memakai serangan semacam Whirlwind yang bisa mengalahkan banyak monster sekaligus. Tapi--”
“Berapa banyak?”
“Apa?”
“Aku penasaran berapa banyak monster yang bisa kamu hancurkan dengan Whirlwind. Kudengar serangan itu salah satu serangan favorit Vanguard saat dikeroyok. Apa kamu nggak menikmati ketika menggunakan teknik seperti itu dan melihat monster di sekelilingmu bergelimpangan jatuh?” Elloys berhenti sebentar. “Berapa banyak monster yang pernah kamu kalahkan sekaligus, Raiden?”
Raiden mengatupkan bibir. Elloys mungkin hanya melempar pertanyaan sederhana, namun pertanyaan itu seperti sebuah tantangan untuknya. Belum lagi ada senyuman terulas di sana. Tentunya bukan raut yang bisa mudah dilupakan.
Praxel berdehem lagi. Dia sendiri tidak suka ide Elloys. Tapi, dia lebih tidak suka lagi ide pertengkaran dalam satu tim. Biasanya, ini akan mempengaruhi kinerja dan performa setiap anggota. Kalau itu sungguh terjadi, nantinya dia sendiri akan repot. Perlu diingat, Praxel satu-satunya yang bisa sihir penyembuh di sana.
“Teman-teman, misi kita adalah menghancurkan gargoyle,” ujar Praxel. “Laporan mengatakan setidaknya ada delapan gargoyle di sini. Kalau mereka sungguhan datang bersama, artinya satu orang melawan dua.”
“Benar sekali!” sahut Elloys. “Lihat, tidak serumit itu ‘kan? Satu orang hanya perlu mengalahkan dua. Kita bicara soal efisiensi dan durasi. Ini akan menyelesaikan misi lebih cepat. Gargoyle nggak sesulit itu dikalahkan.”
“Aku nggak yakin itu poinku,” gumam Praxel.
“Intinya, kita hanya perlu mengalahkan mereka semua.” Elloys mengedipkan mata. “Ayo, langsung kita mulai saja. Ini saatnya beraksi. Bagaimana menurutmu, Ken?”
Keniaru hanya menggumam lirih. “Menurutku, aku sudah nggak perlu berteriak memanggil mereka.”
“Kenapa?”
“Karena perdebatan kita sudah memancing para gargoyle bahkan sebelum aku melakukan apa pun.”
Keniaru jelas tahu apa yang sedang terjadi. Keheningan malam ditelan jeritan kasar. Makhluk-makhluk berwarna gelap muncul dari berbagai sisi langit. Mereka melawan gravitasi dengan sayap batu yang selalu tampak terlalu kecil untuk tubuh mereka. Sesuai keinginan Elloys, ini saatnya beraksi.