Lunacrest

Lunacrest
Chapter 34



Tempat yang mereka tuju ternyata tidak seperti dugaan. Lokasinya lebih dekat dengan tebing. Mereka bisa melihat kapal dari kejauhan, sekoci yang ditambatkan ala kadarnya, suara debur ombak deras, juga asap api unggun.”


“Bajak laut…” bisik Exodiart.


Exodiart memimpin anggotanya bergerak mendekat lewat sisi hutan gelap. Untungnya, hutan itu punya tanah yang keras meski sedikit berbatu. Mereka bisa menapak dengan mantap tanpa takut terpeleset atau lebih parah lagi, terjebak dalam lumpur.


“Mau menebak benda apa yang ada harus kita bawa pulang?” tanya Elloys. “Tebakanku, sesuatu yang berhubungan dengan senjata. Bubuk mesiu atau semacamnya.”


Bukannya mendapat jawaban, Elloys malah mendapat lirikan Exodiart dan isyarat dari Praxel agar diam. Mereka semakin dekat dengan para perkemahan para bajak laut. Api unggun masih menyala. Beberapa kru sedang terlelap. Dua penjaganya, sepertinya, gampang dilewati. Seorang sedang duduk, memeluk senapan, dan beberapa kali terlelap tanpa sengaja. Seorang lagi duduk bersandar pada batu besar dengan gelas minuman di tangannya, bukan senapan.


Exodiart memilih jalan berputar agar bisa mendekati gua. Di sana mereka berhenti di balik batu besar. Guanya sendiri cukup terang. Ada cahaya dari lampu minyak di dalam. Selain itu, Exodiart bisa melihat adanya beberapa peti kayu besar ditumpuk serta satu sosok bertubuh gembul sedang berbaring.


“Kupikir si kapten bertugas menjaga barang mereka,” bisik Exodiart.


“Huh!” Harufuji mendengus. “Kupikir dia hanya ingin tidur nyenyak dengan banyak rum. Berani bertaruh banyak botol rum di dalam sana. Biasanya mereka menempatkannya bersama kargo yang lain. Di dalam sana. Di mana kapten gendut mereka bisa mengambil berapa pun botol sesuka hati. Sementara dia tidur nyaman di sana, bawahannya berjaga di luar. Harus diakui itu cukup praktis. Menjaga barang dan kapten mereka sekaligus.”


Keempat pasang mata lain langsung tertuju padanya.


Harufuji malah melanjutkan. “Para perompak biasanya meletakkan harta berharga mereka sungguhan di tempat lain. Kadang di bawah tanah. Tahu maksudku, ‘kan. Peta harta karun itu sungguhan ada. Lagipula, cara ini juga efektif kalau mereka mau transaksi barang. Tidak perlu bawa barang untuk tukar dengan uang, cukup bawa petanya saja.”


Keempat pasang mata itu masih melekat padanya.


Kali ini, Harufuji menutup mulut dengan dengannya. “Ups.”


“Kamu terdengar paham soal mereka,” bisik Kelsey. “Pengalaman pribadi?”


“Mantan kru atau mantan pelanggan?” tambah Praxel.


Praxel dan Kelsey cekikikan dengan ide mereka. Exodiart hanya mengernyit.


Elloys langsung menengahi. “Ingat saat kubilang Haru pernah menyelamatkanku? Dia menyelamatkanku dari kapal hantu.” Ketika Praxel dan Elloys serentak terbelalak karena ucapannya, Elloys mengulang. “Kalian enggak salah dengar. Kapal. Hantu.”


Harufuji malah menepuk mukanya.


“Jadi,” sahut Exodiart. “Ada lagi yang kamu tahu soal para perompak? Apa menurutmu kita harus mencari peta harta karun sekarang atau tanda X?”


“Hmmm… Mungkin kita cari bisa cari tanah yang baru digali atau tempat yang sungguhan dijaga.” Harufuji mengedarkan pandangannya. “Aku cukup yakin barang yang harus kita bawa pulang bukan di dalam gua.”


“Tidak adakah yang penasaran barang apa itu?” sahut Elloys lagi.


“Ssst…” Harufuji memberi isyarat agar mereka diam. “Kalian dengar itu?”


Sayup-sayup, terdengar suara yang terbawa angin. Suara percakapan dan suara tanah yang digali.


“Kupikir kita beruntung. Ayo!” Exodiart bergegas lebih dulu.


Mereka bergegas menuju sumber suara. Kelimanya bergerak pelan dan hati-hati agar tidak memancing keributan. Tak seorang pun mau membangunkan para perompak yang sedang tidur atau monster apa pun yang mungkin berkeliaran dekat mereka. Setelah mengendap-endap dalam kegelapan, mereka akhirnya tiba di sumber suara.


Dua sosok berada dalam gelap. Siluetnya menunjukkan kalau seseorang tengah meletakkan dagunya di atas sekop, seorang lagi sedang memindahkan tanah ke satu titik yang cukup landai.


“Berhentilah mengeluh!” Salah seorang yang masih bekerja menyahut dengan suara parau. “Semakin cepat ini selesai, semakin cepat kita bisa tidur.”


“Ayolah, kita tahu kalau sebentar lagi giliran kita jaga.”


“Justru karena itu. Mungkin kita bisa tidur sebentar.” Si pemilik suara parau berhenti sejenak, meregangkan punggungnya.


“Bah! Mustahil. Ini gara-gara kapten membajak kapal kecil itu, sih. Siapa yang tahu kalau itu kapal kerajaan. Mana kapten asal main bunuh juga. Sekarang, kita terancam diserbu para prajurit ‘kan.” Orang ini mulai mencabut sekopnya dari tanah lalu melanjutkan pekerjaan memindahkan tanah tersebut.


“Kapten bilang prajurit enggak akan ke sini.” Si suara parau kembali bekerja pula.


“Oke, mungkin ini barang ilegal. Tapi, ini juga barang langka. Mereka akan mengirim seseorang ke sini untuk mengambilnya.”


“Orang-orang pasar gelap akan ke sini saat fajar.”


“Cih! Kita lihat siapa yang datang lebih dulu. Orang-orang kerajaan atau orang-orang pasar gelap itu. Mereka selalu terlambat. Coba saja kapten tetap pada rencana. Bajak kapal ikan bukan kapal kargo begitu.”


Ketika rekannya terus menerus mencibir, dia pun mulai gerah. “Sudah, diam! Ini juga gara-gara ulahmu ngajak main kartu. Akhirnya kita kalah terus malah bertugas mengubur peti-peti ini. Coba bayangkan kalau mereka meledak.”


“Telur enggak akan meledak, Herb!”


“Telur enggak perlu dipendam dalam tanah, Jock. Ini bukan telur sungguhan!”


Exodiart merasakan napasnya tertahan. Masih ada sebuah peti berukuran sedang yang belum dikubur. Kedua kru bajak laut sedang mengubur sesuatu. Total ada dua peti. Kalau isinya sama, Exodiart mulai punya gambaran akan apa yang mereka berusaha sembunyikan. Elloys dan Harufuji tampaknya punya pengetahuan lebih mengenai para bajak laut.


Exodiart lantas berpaling pada timnya. Dia bicara pelan, berusaha sebisa mungkin menyembunyikan suaranya di balik suara galian dan angin malam. “Ada dua peti. Satu di dalam tanah. Haru, kita ke sana dan hajar mereka. Tanpa sihir, tanpa keributan. Bisa?”


Harufuji mengangguk. Paladin juga diajari bela diri tangan kosong. Meski begitu, pertarungan jarak dekat yang mengandalkan fisik seperti ini seharusnya keahlian para Assassin. Exodiart sempat menyesal tidak mengajak serta Reiyuel. Dilihat dari sisi lain, ini bisa jadi kesempatan baik untuk mencoba kekuatan Harufuji. Semoga saja dia sebaik yang dibanggakan Elloys.


Exodiart berpaling pada kedua penyihirnya. “Kelsey, amankan peti itu dan pergi bersama Praxel lebih dulu. Elloys, kamu jaga kami dari belakang. Begitu dua orang itu roboh dan kita selesai gali, kita baru menyusul. Semua jelas?”


Elloys hendak protes. Dia seharusnya bisa pergi lebih dulu bersama Praxel. Itu tugas mudah. Tapi, dia mengurungkan niat, menelan semua kalimat yang ingin dia semburkan.


Karena tak ada pertanyaan, Exodiart pun maju. “Ayo!”


Exodiart mengincar si pria bersuara parau. Harufuji mengincar satu orang lainnya. Semantara itu, Praxel mengambil peti kayu di atas tanah. Kemudian, dia lari bersama Kelsey menuju hutan ke arah kota. Selagi Elloys memperhatikan kepergian Praxel, kedua anggota bajak laut telah tumbang. Mereka tak sempat berteriak apalagi melawan. Exodiart dan Harufuji terlalu cepat untuk mereka.


Berikutnya, Exodiart mengambil sekop. Bersama Harufuji, dia mulai menggali, mengambil apa yang sedang disembunyikan. Elloys mengawasi sekeliling, menjaga mereka semua dari bajak laut yang lain. Sebenarnya, keinginan protesnya muncul lagi. Semua terlalu mudah. Dia mengharapkan sedikit kesulitan atau setidaknya pertempuran. Misi rahasia seperti ini agak membosankan untuk dirinya.


Exodiart merasakan sekopnya mengenai sesuatu. Takut benda disentuhnya rusak atau meledak, dia pun mulai menggali menggunakan tangannya. Harufuji mengikuti ritme kerjanya dengan baik. Terlalu baik, malah.


Elloys mendesah. “Ini terlalu mudah,” bisiknya. Sebuah protes bukan pujian.


“Kamu berharap lebih?” sahut Harufuji. “Coba saja bunyikan alarm--”


KRIIIIIING!!!