
Elloys melangkah santai melewati taman kota, sambil berbincang dengan Harufuji. Dia membawa Crusader ini langsung ke markas Lunacrest. Elloys memang sempat bilang ingin mengajak teman bergabung dengan guild ini. Namun, sesungguhnya, dia belum pernah sekalilpun benar-benar bicara pada Exodiart atau Praxel. Meski begitu, di tetap membawa Harufuji ke markas.
Ketika kembali ke Lunacrest, Keniaru sudah berada di bawah. Ada pula Amari dan Praxel. Amari sedang membereskan berkas-berkas. Praxel membawa beberapa botol kosong aneka bentuk dan ukuran. Itu akan jadi barangnya yang akan dipajang di lemari baru. Keniaru ngobrol dengannya, mencari ide soal apa yang akan dipajangnya.
“Hai, semua!” Elloys berseru riang. Spontan saja semua tatapan langsung terarah padanya. Praxel dan Amari sepertinya tidak terkejut.
Keniaru malah melongo, “Lho, kamu beneran bawa Harufuji ke sini?”
Harufuji memilih nyengir sambil melambaikan tangan.
Merasa jadi orang paling bertanggung jawab di markas saat ini, Praxel meletakkan botol terakhirnya lalu pergi mendekati. “Hai.”
Elloys menjawab untuk Harufuji. “Praxel, ini Harufuji. Dia teman akrab Keniaru saat sekolah dasar. Sekarang dia seorang petualang, Crusader, lebih tepatnya. Haru belum bergabung dengan guild manapun. Jadi, kuajak dia lihat-lihat kemari.”
Praxel mengangguk-angguk, tak paham bagaimana harus merespon. Dia juga tak begitu jelas dengan maksud Elloys mengenai konteks melihat-lihat. Setelah hanya menggumam, Praxel akhirnya bicara. “Baik. Sebenarnya, kita masih punya slot kosong untuk anggota baru. Jadi, kalau Harufuji mau bergabung, kita bisa coba… lihat kemampuannya.”
Elloys mengangguk. “Haru, ini Praxel, wakil ketua yang kubicarakan tadi.
Harufuji pun mengulurkan tangan, berjabat tangan dengan Praxel. “Hai, panggil saja aku Haru atau Fuji. Terserah mana yang lebih nyaman.”
Harufuji, seperti para Crusader, punya badan yang cukup berotot. Memang tubuhnya masih kalah besar dibanding Raiden atau Exodiart. Tapi dia kelihatan lebih besar dari Praxel, meski Praxel lebih tinggi.
“Oke. Jadi, Haru, kuasumsikan kamu seumur dengan Keniaru. Benar?”
“Benar.”
“Jadi, biasanya kamu menjalankan misi solo? Crusader biasanya menjalankan misi sendirian. Ketua guild kami juga seorang Crusader.” Praxel melirik helm Exodiart dalam lemari tak jauh di belakangnya.
Haru memicingkan mata ke arah helm tersebut. “Sepertinya aku pernah lihat helm itu.”
“Sepertinya helm itu memang lumayan terkenal di kalangan para Paladin.”
Keniaru ikut nimbrung. “Jadi, sebenarnya ada cerita pa di balik helm itu?”
“Ceritanya panjang.” Praxel dan Harufuji menjawab bersamaan. Keduanya bertukar pandang. Praxel tertawa. Keniaru dan Elloys hanya melongo.
Harufuji sepertinya malah salah tingkah. “Maaf. Sebenarnya apa nama guild ini?”
Belum sempat menjawab, pintu depan markas terayun terbuka. Exodiart masuk membawa tongkat bola berduri yang panggulnya di pundak. Melihat kedatanganya, Harufuji bergeser cepat ke belakang Elloys, membuat gadis itu mengerutkan dahi.
“Apa kita di Lunacrest, kak?” Harufuji berbisik pelan. Matanya terus mengawasi Exodiart yang berjalan mendekat.
“Tepat. Kenapa?”
Praxel menyapa ketuanya. “Exo, kita kedatangan tamu.”
Mendengar itu, Harufuji berjingkat, malah mundur satu langkah ke belakang.
Exodiart dengan mudah mengenali wajah asing di markasnya. “Oh! Hai! Sepertinya aku pernah melihatmu di Paladin’s Race. Ingatkan aku, siapa namamu lagi?”
“Harufuji.” Elloys mewakili temannya. “Aku mengajaknya ke sini untuk lihat-lihat. Dia belum bergabung dengan guild manapun. Jadi, siapa tahu dia tertarik bergabung bersama kita.” Elloys tersenyum sambil mengatupkan kedua tangannya penuh harap.
“Aku ingat pernah melihat aksimu di Paladin’s Race. Apa kamu ikut lagi tahun ini?”
Harufuji hanya mengangguk pelan, satu kali.
Exodiart ikut mengangguk-angguk. “Wow, itu bagus. Babak penyisihanku dua hari lagi. Semoga misinya gampang. Tahun lalu, mereka membedakan misi dalam setiap babak penyisihan. Nggak terlalu efektif, sih. Haha…”
Elloys melirik Harufuji di belakangnya lalu berbisik, “Apa mulai berpikir kamu sembunyi di belakangku gara-gara takut pada Exodiart. Kamu nggak sadar kalau lebih besar dariku? Terus kamu nggak mau ngomong sesuatu atau apa begitu?”
Keheningan pun datang setelahnya. Tak ingin membuat tamunya canggung, Exodiart pun menawarkan. “Haru, mau ikut berburu bareng? Kita bisa ambil misi biasa yang berkelompok. Atau, kamu sudah ada misi sendiri?”
Harufuji menggeleng. “Aku belum ambil misi, sih. Tapi, aku mau kalau berburu bareng... Enggak apa-apa, ya? Boleh, ya?”
“Tentu saja boleh. Itu ‘kan misi biasa bukan misi guild. Kalau kamu sudah resmi jadi anggota, kita baru bisa mengerjakan misi guild. Sekarang sih cuma bisa mengerjakan misi biasa. Bagaimana? Kalau mau, ayo. Aku mau ke sana sekalian lapor misi yang semalam kukerjakan.” Exodiart menguap di akhir kalimatnya.
“Oh, jadi semalam memang ada yang lembur, ‘toh.” Praxel cekikikan. “Kayaknya semalam aku lihat ada yang mau keluar dari gerbang Selatan kota.”
“Lho, kamu kelihatan, ya? Kamu sendiri mau kemana ? Ada misi?”
“Cuma kebetulan lewat.”
Exodiart tak ingin membahas lebih lanjut. Rumah Praxel tidak dekat dengan gerbang Selatan Korumbie. Bila dia memang melihat Exodiart di sana, artinya Praxel memang sengaja lewat bukan kebetulan. Mungkin itu bukan hal penting. Mungkin Praxel tidak mau cerita. Mungkin Exodiart sendiri tak perlu ikut campur. Dia pun mengembalikan topik pembicaraan.
“Aku perlu ngobrol sama Amari, tunggu sebentar, ya,” kata Exodiart lagi.
Ketika Exodiart sudah cukup jauh, Elloys langsung berbalik. “Jadi?”
“Apa?” balas Harufuji.
“Cuma perasaanku atau kamu memang takut pada Exodiart?” Elloys melipat tangan di depan dada, memicingkan mata, mengawasi setiap perubahan pada temannya. “Tadi kamu mendadak sembunyi di belakangku, suaramu jadi pelan, terus--”
“Ssst!” Harufuji buru-buru mengisyaratkan agar diam.
Penasaran, Praxel dan Keniaru ikut mendekat.
Harufuji tampaknya tak keberatan bila ada anggota guild yang mendengar asalkan bukan Exodiart sendiri yang mendengar. Dia pun protes pada Elloys dalam nada tinggi tapi pelan, seolah takut bercampur senang di saat bersamaan. “Kamu enggak bilang kalau bergabung dengan Luncarest!”
“Kamu enggak tanya, ya aku enggak cerita. Lagipula, ini guild baru. Kupikir percuma memberitahumu namanya.”
Harufuji sempat menoleh ke belakang, memastikan sang ketua masih bicara dengan petugas administrasinya. “Bukan Lunacrest yang jadi masalah, tapi Exodiart.”
“Memangnya dia kenapa?” Elloys pun memelankan suaranya.
“Oh, sepertinya aku paham.” Praxel menyunggingkan senyum. “Apa ini gara-gara Exodiart jadi pemenang Paladin’s Race tahun lalu?”
“Bukan!” sahut Harufuji. “Eh, maksudku, iya.” Harufuji sekali lagi melirik ke arah Exodiart. “Dia itu bukan cuma pemenang tahun lalu, lho. Dia itu sudah berkali-kali jadi pemenang Paladin’s Race. Tiga kali berturut-turut. Kalau dia menang lagi tahun ini, bakal jadi empat kali berturut-turut.”
Praxel, Elloys, dan Keniaru serentak melongo.
“Tunggu, kamu nggak tahu soal ini?” Elloys melirik Praxel.
“Aku bukan penggemar Paladin’s Race. Exo juga nggak pernah cerita,” balas Praxel. “Kamu sendiri bukannya suka nonton Paladin’s Race?”
“Kami cuma nonton kalau Haru jadi peserta,” imbuh Keniaru.
“Intinya, kita baru tahu kalau Exodiart sekuat itu, ya?” Praxel pun menoleh pada sang ketua diikuti ketiga orang lainnya. “Aku jadi penasaran kalau dia menyembunyikan prestasi yang lain dari kita.”
Pintu depan markas terayun lagi setelah dua gedoran keras. Seorang prajurit masuk lengkap dengan tombak panjang dan baju zirah. Suaranya menggema ketika dia bicara, “Guild Lunacrest diharap segera melapor ke jendral Fawke. Darurat!”