Lunacrest

Lunacrest
Chapter 31



Itu bukan kesan pertama yang ingin Exodiart tunjukkan pada calon anggota. Sekarang, bukannya menjalankan misi bersama Harufuji, dirinya dan Praxel malah menghadap ke sang jendral. Keduanya mengikuti prajurit tadi ke kantor misi. Jendral Fawke berada di kantornya, di lantai teratas gedung misi.


Fawke sepertinya sudah menanti kedatangan mereka. Dia tak lagi duduk di belakang meja kerja, melainkan berdiri dekat jendela yang menunjukkan pemandangan menuju jalanan ibu kota. Ketika kedua anggota Lunacrest masuk, dia langsung berbalik, tak lupa mengusir seorang petugas dan seorang prajurit keluar. Kini mereka hanya bertiga dalam ruangan.


“Exodiart, ketua guild Lunacrest dan Praxel. Semoga aku tidak salah,” ujar sang jendral.


Praxel dan Exodiart membungkuk sejenak.


Tanpa basa-basi lagi sang jendral melanjutkan, “Aku punya sebuah misi besar dan penting, juga cukup sulit. Declan menyarankan nama guild kalian. Dia bilang Lunacrest punya reputasi baik dan kalian salah satu guild baru terbaik. Kuharap matanya nggak salah.”


“Sebuah kehormatan bagi kami dinilai setinggi itu.” Exodiart menjawab, tapi Fawke sudah beranjak mengambil selembar kertas terlipat dari balik meja kerjanya. “Sebuah kehormatan pula bisa dipanggil kemari untuk menjalankan misi.”


“Tentu,” jawab Fawke sambil menyerahkan lipatan kertas tersebut padanya. “Pikirkan lima orang terbaik untuk datang ke sana. Dini hari. Pastikan kalian tidak diikuti. Kusarankan kamu membawa Mage dan juga Cleric. Bawa pulang apa pun yang ada di sana.”


Exodiart dan Praxel bertukar pandang. Keduanya sama-sama ragu ketika hendak bertanya lebih lanjut. Fawke sepertinya tak ingin memberikan keterangan lengkap. Jadi, keduanya pun memilih diam.


“Kalian bisa pergi sekarang,” lanjut Fawke.


Praxel membungkuk lagi, lalu menoleh pada ketuanya.


Exodiart menatap sang jendral, menelan semua pertanyaan dalam benaknya. Akhirnya, dia pun membungkuk dan berbalik.


“Satu hal lagi.” Ketika mereka berpikir Fawke sudah mengizinkan mereka pergi, Fawke justru lanjut bicara. “Aku menunggu kabar baik besok siang.”


 


 


Exodiart dan Praxel melintasi taman kota untuk kembali ke markas.


“Kita nggak seharusnya membahas soal tadi, ‘kan?” ujar Praxel separuh berbisik ketika mereka sudah meninggalkan bagian yang ramai.


Exodiart menggeleng. Tangannya tanpa sadar menepuk kantung tempat dia menyimpan lipatan kertas tersebut. Ayahnya beberapa kali berurusan dengan kerajaan. Pamannya lebih lagi. Salah satu saran paman yang selalu dia ingat adalah mengenai kerahasiaan. Pihak kerajaan, terutama pihak militer, tidak begitu suka pertanyaan.


Separuh hatinya merasa kalau dia telah menuruti saran tersebut dengan benar. Separuh lagi mulai memikirkan hal-hal terburuk karena kurangnya informasi. Bagaimana kalau ternyata kertas itu kosong atau ternyata Fawke memberikan kertas yang salah? Sepanjang jalan, Exodiart tenggelam dalam pemikirannya. Praxel memilih diam, tak mau mengusiknya. Itu sangat membantu.


Ketika mereka kembali tiba di markas, Exodiart langsung menuju ke lantai dua bersama Praxel. Ini pertama kalinya dia menggunakan ruangan kantornya. Sudah ada dua kursi yang terpisahkan oleh meja kantor sederhana.


Praxel menutup pintu ruangan sementara Exodiart langsung menempati tempatnya. “Exo, apa menurutmu isi kertas itu?”


“Peta,” jawabnya.


Exodiart membuka lipatan kertas di atas meja. Kemudian, dia merapikannya dengan telapak tangan. Sesuai dugaan, ada gambar serta garis-garis yang menunjukkan lokasi-lokasi. Ibu kota Korumbie, pintu Utara, tebing, dan simbol melengkuk dari sebuah gua.


“Sekarang, apa menurutmu yang ada di sana?” Pertanyaan Praxel terdengar begitu pelan seolah takut didengar orang lain, padahal tak ada seorang pun di dalam markas selain Amari dan Reiyuel yang tadi hanya memperhatikan bagaimana mereka naik.


Exodiart hanya angkat bahu.


“Misi besar, penting, rahasia, sulit,” lanjut Praxel. “Dia ingin kita membawa apa pun yang ada di sana. Sebuah barang? Seseorang? Setahuku, daerah dekat sini dihuni beberapa monster laut. Bukan ancaman, sekalipun ukuran mereka cukup besar.” Praxel menggerak-gerakan jarinya di atas simbol melengkung.


“Apa ada informasi mengenai perampokan atau pencurian belakangan ini?”


Praxel bergumam sebentar. “Tentu saja ada. Banyak. Aku melihat beberapa misi baru soal pencarian barang dan orang hilang. Tapi, kalau jendral Fawke sendiri yang memberikan misi pada kita, tentunya itu tidak ada hubungannya dengan misi yang dipasang di papan pengumuman. Bukan begitu?”


“Fawke hanya akan memberikan kita misi yang tidak bisa dijalankan oleh prajurit.”


“Mungkin para prajurit sedang sibuk. Kadang mereka melimpahkan tugas-tugas yang terlalu ringan kepada guild supaya prajurit bisa mengerjakan hal lain yang lebih penting.” Praxel tertawa kecil dengan ucapannya sendiri.


“Benar. Itu sering terjadi. Tapi, biasanya Declan yang akan mengaturnya. Bukan jendral Fawke. Dia orang penting. Banyak yang harus dia lakukan. Ini bahkan pertama kalinya aku melihatnya sungguhan ada di kantor misi.”


“Oke. Jadi, ke arah mana pembicaraan ini?”


Praxel menghela napas. “Baik. Saat kamu bilang begitu, yang kupikirkan hanya satu.”


“Apa itu?”


“Kita tidak akan melawan monster. Maksudku, apa gunanya menyembunyikan detail misi kalau kita akan melawan monster? Di sini, kita semua ada di pihak yang sama, bukan?”


Exodiart menepuk dahinya. “Astaga… Ini akan jadi misi yang rumit.”


“Tanpa detail dari Fawke, ini memang rumit. Terlepas dari fakta dia nggak mau menjelaskan atau nggak bisa menjelaskan.”


“Dia nggak bisa menjelaskan.” Exodiart menarik badannya untuk bersandar. “Kupikir aku tahu apa yang menanti kita di sana.”


“Bajak laut.”


“Apa!?”


“Pernah dengar kalau beberapa bulan sekali  batu-batu karang dekat pesisir harus dihancurkan?”


“Ya, aku menemani Raiden beberapa waktu lalu mengerjakan misi itu.”


“Banyak orang mengira kalau kapal yang akan datang ada hubungannya dengan kerajaan. Aku setuju dengan mereka. Menurutku, ini pun ada hubungannya dengan mereka.”


“Bajak laut menyerang kapal itu.”


“Kemungkinan besar.”


Praxel mendesah. “Ini rumit.”


“Fawke minta kita hanya berlima. Kupikir dia sebenarnya nggak ingin kita melawan mereka, hanya ingin kita membawa pulang barang apa pun yang dibawa kapal itu.” Exodiart menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Baik, ini akan jadi pertama kalinya kita melawan orang lain di sebuah misi. Aku pernah berduel sebelumnya. Ini seharusnya tidak sesulit itu.”


“Aku belum pernah.” Praxel merasakan napasnya tertahan.


“Lima orang. Satu Cleric, satu Mage. Kamu, Raiden, Reiyuel, Elloys, dan aku.”


Praxel bergumam. “Hmm… mungkin kamu bisa memikirkan peserta cadangan.”


“Ada yang salah dengan Raiden?” Exodiart menebak dengan jitu.


“Dia sedang pergi keluar.”


“Dia enggak bilang kapan akan kembali.”


Praxel mendesah pendek, seolah kata itu begitu berat. “Enggak.”


“Baiklah, kalau begitu, kita bisa mengajak Mierai atau Keniaru atau…” Exodiart terdiam sendiri, melirik Praxel. “Apa orang itu sudah mendaftar secara resmi?”


“Kamu ingin dua Crusader untuk misi ini?”


“Kita perlu kelas yang punya pertahanan kuat. Crusader atau Guardian.”


“Akan kutanyakan lagi ke Elloys nanti.” Bola mata Praxel menyapu sekeliling ruangan sambil bergumam. “Hmm… Apa pendapatmu soal duet Cleric dan Mage? Apa dua kelas ini cukup ideal untuk melawan para bajak laut?”


Praxel bisa melihat perubahan di wajah Exodiart. Ekspresi bingung akibat misi lenyap digantikan sesuatu yang kompleks. Bukan sedih, bukan senang. Mungkin perpaduan keduanya juga beberapa emosi lain.


“Praxel, apa kamu mau bilang kalau Kelsey akan kembali?”


“Ya…” Praxel terlihat ragu ketika melanjutkan. “Sebenarnya, dia akan ke sini hari ini.”