Lunacrest

Lunacrest
Chapter 5



Lunacrest bukan satu-satunya guild di Endialte.


Masih ada banyak guild lain dengan jumlah anggota dan spesialis berbeda pada tiap anggotanya. Mereka semua ada di bawah pengawasan Guild Master Declan. Declan tak jarang memberikan mereka tugas khusus dari kerajaan. Bagaimanapun salah satu tujuan dibentuknya guild-guild adalah membantu tugas kerajaan. Mulai dari menjaga keamanan dari para monster hingga membantu rakyat.


Setiap rakyat diizinkan menyewa jasa guild dengan membayar biaya tertentu. Seperti yang baru saja dilakukan Exodiart di hutan. Biaya tersebut tergantung banyak hal, misalnya tingkat kerumitan dan sebagainya. Semurah-murahnya biaya sewa guild, membeli cawan kayu baru jelas lebih murah.


Praxel telah membungkus cawan kayu tersebut dalam kain untuk dikembalikan pada Bill, si pandai besi. Sebagai wakil ketua, dia hampir selalu menemani Exodiart untuk melaporkan misi dan mengambil misi baru. Raiden sudah tak bersama mereka lagi. Dia ingin kembali ke markas Lunacrest untuk membersihkan diri.


“Bill,” Exodiart berseru, menyapa si pandai besi.


Bill, seperti pandai besi lain, bekerja dalam suhu tinggi. Tidak heran kalau mereka hanya memakai baju tipis di bawah celemek kulit. Beberapa pandai besi malah bertelanjang dada ketika bekerja. Bengkel besi biasanya punya ruang terbuka besar dengan cerobong tinggi. Bau api dan asap tak pernah absen ditemani dentang keras.


“Bill!” Exodiart berseru lagi mengatasi kebisingan di sana.


Ruangan itu memang cukup luas. Setidaknya ada tiga pandai besi di sana. Setiap orang sibuk dengan meja kerja mereka sendiri. Exodiart sudah berdiri di depan meja Bill di bagian ujung kanan. Dia pandai besi tertua sekaligus pimpinan di sana.


“Hei!” Bill, separuh terkejut, menoleh. Tadinya dia sedang menghadap sisi lain. Dia melepas kaca mata pelindung sembari berjalan mendekati meja. Tangannya mengibas, mengusir asap putih tipis agar bisa melihat lebih jelas. “Exo! Prax! Kalian mendapatkannya?”


“Cawan kayu.” Tangan kanan Exodiart mengulurkan bungkusan sementara tangan kirinya membuka lipatan kain untuk menunjukkan isinya. “Kuharap kami membawa barang yang benar,” ujarnya sedikit ragu.


“Benar. Ini memang cawan yang kucari.” Bill menyambar cawan, menyisakan kain pembungkus di tangan Exodiart. Bill memasukkannya ke laci di bagian bawah dekat kakinya. “Mana suratnya?”


Exodiart mengambil gulungan kertas dari balik jubahnya. Kertas tersebut merupakan surat tugas mereka. Si penyewa jasa harus menandatangani surat tersebut sebagai tanda kalau misi sudah selesai. Setelah ditandatangani, guild bisa mengambil upah mereka di kantor Guild Master Declan. Ini menghindari risiko penipuan dimana si penyewa membayar langsung ke guild. Meski begitu, tidak sedikit orang yang menyewa jasa guild secara langsung.


“Jadi, tidak ada yang istimewa soal cawan itu?” Exodiart bertanya sambil menggulung surat tugas yang baru selesai ditandatangani.


“Nggak, cuma cawan biasa.”


Praxel bertukar pandang dengan Exodiart sebelum dia ikut bergabung dalam pembicaraan. “Cawan itu sama dengan yang ada di toko?”


“Tentu saja.” Bill mengambil penjepit, siap melanjutkan pekerjaan.


Seolah bisa membaca jebakan Praxel, Exodiart bertanya. “Kalau begitu, kenapa kamu sampai menyewa guild untuk mengambilnya? Maksudku, lebih mudah beli cawan baru.”


“Aku lebih penasaran kenapa orc mencurinya?” imbuh Praxel.


Bill terdiam. Bola matanya bergerak menghindari tatapan kedua pemuda itu. “Ma-- Mana kutahu kenapa orc mencurinya? Kenapa-- Kenapa kalian nggak bertanya pada mereka?”


“Kami sudah mengalahkannya, ingat?” Exodiart mengusap dagu. Senyum usil terkembang di sana. “Jadi, memang ada yang spesial dengan cawan itu.”


Merasa Bill terlihat tak nyaman, Praxel langsung menengahi. “Kami hanya penasaran. Nggak perlu cerita kalau--”


“Nggak! Nggak ada cerita di balik… Ah! Aku baru ingat kalau mau memberikan kalian kupon diskon spesial!” Bill memotong ucapan Praxel. Dia menarik kertas lalu menuliskan angka dua puluh asal-asalan. Diserahkannya kertas tersebut pada Exodiart. “Jangan lupa bawa kertas ini saat datang lagi untuk harga spesial. Oke?” Tanpa menunggu jawaban, Bill memasang kembali kacamata pelindungnya. “Selamat sore, teman-teman!”


Pembicaraan terputus.


Bill mulai memukul-mukul besi panas untuk dipipihkan. Exodiart dan Praxel meninggalkan bengkel pandai besi sambil cekikikan.


“Kamu lihat itu tadi? Dia jelas menyembunyikan sesuatu. Berani bertaruh kalau itu cawan kayu dari istrinya.” Exodiart mengamati kertas di tangannya. Pinggirannya tidak rata juga ada noda kotor pada bagian tepi. “Setidaknya kita berhasil membuatnya lebih dari sekedar berterima kasih.”


“Membuatnya salah tingkah, maksudmu?”


Exodiart hanya tertawa kecil. “Nih, buatmu saja,” katanya sambil menyodorkan kertas.


“Kalau begitu, kuberikan ke Raiden saja. Sebentar lagi saatnya ujian, ‘kan? Dia mau ambil spesialis apa?”


Praxel mendesah pelan. “Aku juga nggak tahu. Kupikir dia sendiri masih bingung. Dia sudah menunda ujian kenaikan tingkatnya berbulan-bulan. Semoga saja bulan ini dia mau ujian sungguhan. Aku sih lebih suka kalau dia jadi Berserker daripada Destroyer.”


“Kalau dia ambil kelas spesialis Berserker, artinya harus ganti senjata kapak, ya?”


“Nggak juga. Nggak ada ketentuan senjata untuk tiap kelas, ‘kan. Cuma kapak memang lebih cocok dengan Berserker. Aku pernah lihat kapak bentuk bulan sabit di toko beberapa hari lalu. Cocok dengan nama guild kita.”


“Memang dia mau pakai yang seperti itu?” Exodiart mengernyit.


Praxel menertawakan idenya sendiri. “Nggak bakal mau, sih.”


Keduanya mulai melintas ke pusat keramaian. Ada sebuah air mancur besar di taman kota. Di sekelilingnya, ada banyak kios kecil berjajar. Mereka menawarkan aneka camilan, permainan, juga aksesoris. Biasanya, juru bicara dari kerajaan, Shania, membacakan pengumuman di sana. Kali ini sepertinya tidak ada berita baru. Gadis itu tidak terlihat di mana pun. Meski demikian, taman memang selalu dipenuhi banyak orang. Apalagi mendekati masa-masa yang paling dinantikan di ibukota.


“Mampir sebentar beli camilan, deh.” Exodiart berbelok dekat salah satu kios yang menjual kentang. Selagi menunggu pesanannya dibuat, dia melanjutkan percakapan. “Raiden masih belum percaya diri dengan kemampuannya, ya.”


“Kelihatan, ya?”


“Kelihatan banget. Waktu melawan ogre, seharusnya dia bisa lebih… Sebentar, apa ya istilahnya?” Exodiart mengusap dagu. “Agresif. Ya, menurutku seharusnya dia lebih agresif. Kelasku Guardian, jadi aku bertugas bertahan. Kelasmu Bishop, penyembuh dan support. Beda dengannya. Dia ada di garis depan.”


“Benar.”


“Harusnya kita bertiga saja sudah jadi tim yang ideal.”


“Memang…” Praxel mendesah pendek.


“Kita bisa mendorongnya supaya lebih baik.”


“Iya. Aku juga paham. Kita butuh damager apalagi sejak Kelsey...” Praxel menghentikan ucapannya. “Maksudku, sekarang ini kita butuh anggota yang punya daya serang tinggi bukan cuma support atau bertahan.”


Exodiart hanya mengangguk. Kelsey jadi topik yang paling dihindari di Lunacrest saat ini. “Oh, iya. Kita masih memasang pengumuman rekrutmen di kantor Guild Master Declan, ya?”


“Masih. Semoga saja ada perkembangan baru.”


“Habis melapor, kamu mau kemana?”


“Aku janji membantu Raiden menyelesaikan tugasnya. Ayo, ikut.”


“Nggak deh. Aku mau latihan sama Reiyuel.”


“Paladin’s race? Dia ‘kan bukan…” Praxel berhenti. “Eh, jangan-jangan…”


“Benar. Turnamen tahunan itu, lho. Aku lupa apa namanya. Tiap guild ‘kan diminta mengirim perwakilan tiga orang. Aku sudah mendaftarkan Lunacrest cuma belum memasukkan nama-namanya. Awalnya, kupikir aku, Reiyuel, dan Raiden saja. Tapi, setelah melihatnya melawan ogre tadi, mungkin lebih baik aku, Reiyuel, dan kamu.”


“Bagaimana kalau Mimi?”


“Maksudmu, Mierai? Kamu mau aku mendaftarkan cewek di turnamen begitu?”


“Dia akan menembakmu kalau sampai dengar.”


Praxel dan Exodiart serentak tertawa.