
Amari berpikir kalau Exodiart akan menyambar Curio dengan petir atau setidaknya memukulnya dengan tongkat palu berduri. Kenyataannya, sang ketua Lunacrest hanya diam sampai mendapat pencerahan dari anggotanya.
Setelah mendengarkan siapa Curio dan sedikit petunjuk soal keunikannya, Exodiart malah tertawa. Curio sedikit merasa tidak enak karena mengira kalau Exodiart seorang tamu yang hendak menyewa mereka atau petualang yang hendak mendaftar jadi anggota. Meski begitu, akhirnya, mereka malah ngobrol. Tentunya setelah Exodiart mendapat oleh-oleh dari Curio. Cerita Curio berpetualang memang sangat menarik. Begitu menariknya sampai kadang mereka tak tahu apakah itu asli atau tidak.
“Bagaimana kamu bisa kenal dengannya?” Raiden sengaja duduk di samping Elloys.
“Kami sempat jadi tetangga waktu itu. Dia juga kenal Keniaru,” bisik Elloys, tak mau mengganggu Curio yang sedang cerita.
“Kalian kelihatan sangat akrab.”
“Tentu saja. Dia punya banyak cerita dan rahasia menarik untuk dibagi.”
“Rahasia?” Raiden mengernyitkan dahi. Dia teringat bagaimana Elloys terlibat bersama Black Knight. Bukannya tidak mungkin kalau Curio juga tahu soal ini. Daripada penasaran, Raiden pun bertanya, “Jadi dia tahu soal ceritamu semalam?”
Elloys kembali menjawab, “Tentu saja. Kamu pikir bagaimana aku bisa bertemu dengan dia. Orang itu maksudku.”
Raiden merasakan wajahnya menegang. Elloys mengenal orang yang sempat sangat dekat dengannya dari Curio. Penampilan pesolek, gaya bicara santai, serta isi omongannya yang tak bisa diterka. Semua tidak cocok dengan bayangan Raiden soal orang-orang yang terlihat dengan Black Knight.
“Kenapa mukamu begitu?” gantian Elloys bertanya. “Enggak percaya kalau dia pernah bertemu sang pangeran?”
Raiden baru sadar kalau membuat raut seperti itu saat Curio sedang cerita dirinya di istana. Dia bicara banyak hal, mulai dari makanan di istana hingga kolam besar di setiap kamar tamu. “Enggak juga,” respon Raiden, asal.
Tak lama setelahnya, satu per satu anggota Lunacrest meninggalkan obrolan. Praxel pergi bersama Kelsey dan Amari untuk menjalankan misi. Exodiart pergi bersama Harufuji untuk berlatih bersama. Keniaru datang beberapa saat setelahnya, sedikit terkejut dengan kehadiran Curio di sana.
“Hai, Ken!” Curio berdiri dari tempatnya, buru-buru ke ransel, lalu memberikan kotak besar dibungkus kertas coklat dan tali kecil. “Ini adalah hadiah dariku. Anggap saja sebagai hadiah dari anggota junior ke anggota senior.”
Seolah tak terpengaruh oleh ucapannya, Ken malah tertawa. “Hei, berapa lama kamu tinggal di Korumbie?”
“Mungkin beberapa pekan.”
“Bagus. Ada banyak hal baru yang harus kamu lihat di sini. Ayo!”
“Sekarang?”
“Kalau kamu mau, ayo!”
“Apapun untukmu, Ken!” Curio mengedipkan sebelah matanya. Lalu, dia berpaling pada Amari. “Aku permisi sebentar, nona manis.”
Elloys melambaikan tangan pada keduanya ketika mereka pergi, sama sekali tidak berminat bertanya atau minta ikut.
“Kamu pasti sudah tahu ke mana mereka mau pergi,” ujar Raiden.
“Kalau begitu, kita juga berangkat yuk.”
“Cari makanan?”
“Cari misi, lha!”
Amari melambaikan tangan ketika kedua anggota itu keluar. Vesa, si burung elang, mengepak masuk sebagai gantinya. Burung ini biasanya digunakan untuk mengirim surat. Namun, Amari cukup yakin dia belum menggunakannya untuk apa pun. Vesa terbang rendah lalu menukik ke atas ke lantai dua.
Penasaran, Amari pun mengintip. “Reiyuel?”
Amari melihat Vesa hinggap di tangan sang Executor. Sejak bergabung dengan Lunacrest, entah bagaimana Vesa suka sekali pada Reiyuel. Terlihat bagaimana dia senang hinggap dekat atau bahkan langsung ke tangan Reiyuel yang senantiasa berbalut kain tebal untuk menyembunyikan pisau.
“Sejak kapan kamu di sini?” Amari bertanya, menyadari kalau tak melihat kapan Reiyuel menyelinap ke lantai dua sekaligus menduga kalau Reiyuel sudah lama berada di sana, jauh lebih lama dari yang bisa dia tebak.
“Jangan hiraukan aku,” ujarnya pelan sambil membelai bulu Vesa.
Amari melihat ransel serut di bawah kaki Reiyuel. “Malam ini giiranmu jaga dengan Haru, ya?” Mendapat jawaban sebuah anggukan saja, Amari pun berpaling ke bawah. “Beritahu aku kalau kamu mau pergi. Jangan buat aku sakit jantung.”
Malam itu memang merupakan giliran jaga Reiyuel dan Harufuji. Piala guild sudah diletakkan kembali ke lemari dekat tangga menuju lantai dua. Reiyuel memutuskan tidur di lantai satu, di atas sofa. Harufuji awalnya juga berpikiran sama. Namun, karena Reiyuel bilang itu tidak diperlukan, Harufuji akhirnya naik ke lantai dua dan tidur di sana.
Bulan telah tinggi. Reiyuel melihat ke atas langit-langit tinggi yang kini begitu gelap seolah tak berujung. Kemudian, dia melirik ke kiri, ke tempat di mana ransel Curio tadinya berada. Tadi pagi, dirinya menyelinap masuk ketika Curio sedang asyik bercerita. Tak ingin terjebak dalam obrolan, dirinya pun naik ke atas.
Reiyuel menarik kedua tangannya ke bawah kepala. Pikirannya melayang ke mana-mana. Tak seorang pun bisa menebak apa yang ada di sana. Termasuk dirinya sendiri. Reiyuel lebih sering bergerak seorang diri daripada bersama rekan-rekan satu guild. Dia beberapa kali menduga kalau Exodiart akan segera menendangnya keluar, mengingat kontribusinya pada guild cukup kecil. Kenyataannya, hingga saat ini, Reiyuel masih berada di Lunacrest. Dia bahkan dipercaya mengikuti Guild Showdown.
Matanya berpaling lagi ke arah piala emas. Sekalipun tak mengatakannya, Reiyuel juga menganggap piala tersebut sebuah beban daripada hadiah. Kalau memang para penyelenggara ingin memberikan piala bergilir, mereka tidak perlu membuat piala semewah itu. Belum lagi bagaimana mereka bisa menang mudah. Satu-satunya pertempuran yang dirasa sebagai pertarungan sungguhan cuma ketika melawan Broco.
Lunacrest bukan menang karena kebetulan. Bukan pula karena mereka berkembang terlalu kuat dibanding lainnya. Reiyuel cukup yakin ada permainan di balik Guild Showdown. Kecurigaan utama jelas jatuh pada para bandar taruhan. Mereka mempermainkan Guild Showdown demi mendapatkan uang. Ini menunjukkan betapa bobrok dan lemahnya sistem guild di Endialte. Guild Master Declan punya banyak tugas membenahi semuanya.
Detik berikutnya, Reiyuel terjaga penuh.
Kalau ada satu hal yang dia pelajari selama mengambil kelas dasar Assassin, itu adalah siap siaga setiap waktu. Mereka dilatih untuk memberikan serangan kejutan. Jadi, mereka sendiri harus berlatih mendapat kejutan setiap waktu. Seluruh inderanya sudah dilatih demi mengantisipasi saat-saat seperti ini.
Dirinya tak lagi berbaring, tapi sudah duduk di atas sofa. Tangannya siap mencabut belati atau melempar pisau bila dibutuhkan. Sesuatu mendekati markas mereka. Telinganya menangkap suara-suara ganjil samar yang terbawa angin di depan sana. Bola matanya mengamati celah kecil dari pintu masuk. Ada pergerakan bayangan di sana.
Siapa pun tamu yang datang malam itu jelas belum mendapat undangan. Pintu markasnya akan segera terbuka. Reiyuel tahu itu.