
Pertandingan final diselenggarakan Sabtu pagi pukul sembilan.
Sejak pukul delapan pagi, suasana telah ramai. Para penonton berjubel untuk menempati posisi mereka. Para anggota Lunacrest, selain para perwakilan, melewati pintu masuk tersendiri yang telah disediakan para penyelenggara.
Amari mendesah pelan. Suaranya bergema di lorong panjang batu menuju arena. “Gara-gara Guild Showdown minggu ini, kita hanya menjalankan beberapa misi saja. Pendapatan guild berkurang jauh.”
Kelsey di sampingnya malah tertawa cekikikan. “Tenang saja, Amari. Sebentar lagi kita akan dapat banyak hadiah, kok. Poin juga uang. Seandainya tidak menang final, kita tetap juara dua. Hadiahnya lumayan. Kamu tahu sendiri, ‘kan?”
“Akan lebih menyenangkan kalau kita menang dan juga dapat banyak imbalan dari misi guild.”
Mierai menggelengkan kepala. Bukan pertama kalinya Amari bicara soal hal-hal seperti itu. Ada bagusnya juga. Dia selalu berhasil membuat Praxel dan Kelsey lebih semangat menjalankan misi. Ketika memikirkan hal ini, dia melirik pada Praxel yang sedang berjalan di sisi lain Kelsey.
Elloys mendesah pula, membuang tatapannya jauh-jauh.
Mierai langsung menyenggolnya, “Kenapa? Mau mundur ke belakang?”
“Enggak, lha.” Elloys menggunakan sihir teleport dua kali, meninggalkan rekan-rekannya.
Keniaru spontan berlari menyusul. Mierai melompat jauh lalu berlari agar bisa berjalan di samping Elloys lagi.
Raiden berjalan paling belakang di antara mereka, diam seribu bahasa, tak berniat ngobrol dengan siapa pun. Setelah menyelesaikan misinya menjadi Berserker beberapa saat lalu, dirinya memang telah dinyatakan lulus. Namun, berkenaan dengan Guild Showdown, surat resmi pergantian kelasnya harus menunggu sampai minggu depan. Sampai saat itu tiba, Raiden tak berniat menceritakannya pada siapa pun.
Apalagi hari Minggu, mereka akan mengadakan pesta kecil untuk merayakan ulang tahun kakaknya. Semua anggota guild diberi tahu Amari mengenai hal tersebut kecuali Praxel. Amari sendiri hanya memberi tahu Praxel kalau akan ada pesta penyambutan anggota baru. Sementara anggota baru Lunacrest hanya diberi tahu soal pesta ulang tahun. Amari menjalankan tugas administrasinya dengan baik.
Mierai menengok ke belakang sekali lagi sebelum bicara pada Elloys. “Guild lawan hari ini lumayan kuat, lho.”
“Iya. Broco, ‘kan? Mereka guild yang dibentuk tahun lalu tapi baru ikut Guild Showdown tahun ini. Perbandingan taruhan kemenangannya atas Lunacrest seimbang.” Elloys buru-buru menambahkan. “Aku enggak taruhan, cuma dapat info.”
“Gara-gara Curio?”
“Darimana kamu—”
“Oh, aku cuma melihat surat yang kamu terima kemarin. Maaf, sama sekali tidak berniat mengintip, kok. Aku hanya penasaran, kukira surat dari siapa itu.”
“Hanya teman.”
“Teman sungguhan?”
“Iya. Dia semacam pedagang keliling begitu. Sungguhan.” Elloys melirik Mierai yang menatapnya dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu. Curio mengirim surat apa aku bisa meletakkan taruhan untuk Lunacrest karena kebetulan tahun ini dia tidak bisa tiba di Korumbie saat Guild Showdown.”
Mierai mengangguk. Dia tahu kalau surat itu datang dengan sejumlah uang dan ada hubungannya dengan Guild Showdown meski tidak tahu secara detail. “Kalau seandainya kamu ikut, kamu akan bertaruh untuk siapa?”
“Kamu bercanda?” Elloys melempar senyum simpul. “Lunacrest. Tentu saja!”
Mierai langsung tertawa. “Astaga, bodohnya pertanyaanku. Hahaha… Tidak mungkin kamu memihak lawan, ya. Kamu ‘kan anggota Lunacrest.”
Elloys menggeleng. “Aku bukan bertaruh untuk Lunacrest karena aku anggota guild ini.”
“Eh, terus?”
“Wow! Kamu bicara soal Exodiart?”
“Harufuji.”
Tepat pukul sembilan, Shania memanggil kedua guild memasuki arena. Gemuruh mewarnai seluruh arena. Anggota lain dari guild yang bertanding sudah duduk di tribun masing-masing. Mereka saling melempar pandang, seolah ingin mengawasi dan mempelajari.
Di Lunacrest, ada Amari yang sebelumnya sudah membeberkan informasi mengenai perwakilan guild lawan Broco. Mereka tahu Broco akan menurunkan sang ketua, Araka, sang wakil, Kalim, dan Tico. Ketiga pemuda ini merupakan anggota awal guild Broco dibentuk. Usia mereka tak berbeda jauh dari anggota Lunacrest.
Sang ketua, Araka, merupakan seorang Destroyer. Badannya memang paling besar di arena, lengkap dengan otot-otot besar dan rambut gondrong. Tangannya memanggul palu besar di bahu seperti yang biasa dibawa Raiden dulu. Perawakan Araka sepertinya sedikit mengintimidasi Harufuji, terlihat bagaimana dia selalu mengalihkan tatapan ketika si Destroyer menoleh.
Wakil ketua Kalim, seorang Wind Dancer, dia membawa busur pendek dan sekantung anak panah dalam tabung di punggungnya. Tubuhnya mungil, berbeda jauh dari sang ketua. Pakaiannya membalut tubuhnya, menunjukkan betapa kurusnya dia, seolah tak ada lemak sedikitpun di sana.
Tico merupakan seorang Pyromancer seperti Elloys. Dia punya rambut medium yang disusun menjulang ke atas, tampak lucu apalagi warna merah oranye persis seperti api. Mierai yakin Elloys tak akan berhenti mengomentari pemuda itu sepanjang pertandingan.
Shania tak berlama-lama dengan pembukaannya. Dia memperkenalkan para petualang yang akan bertarung pada hari itu, sedikit menggoda para penonton, lalu keluar dari salah satu pintu mempersilahkan keenam laki-laki itu berkelahi menentukan guild siapa yang terbaik.
Begitu aba-aba dimulai, Kalim menghilang dari tempatnya. Kebayakan orang bingung akan lenyapnya pemuda berbadan mungil itu. Namun, sebagai orang yang sama-sama berangkat dari kelas dasar Hunter, Mierai tahu kalau Luncarest telah kalah satu langkah. Dia tidak perlu menoleh ke udara untuk mencari Kalim, dia hanya perlu memperingatkan teman-temannya.
“Awas!” seru Mierai tanpa memedulikan bila suaranya tenggelam oleh gemuruh penonton. “Hati-hati dengan serangan dari langit!”
Exodiart nampak kebingungan pula. Araka berlari maju, mengincar dirinya sambil mengayunkan kapak. Sementara Reiyuel juga melesat pula secepat mungkin, membuat dirinya sulit diikuti rakyat awan meski tak benar-benar lenyap seperti Kalim. Anggota Broco terakhir, Tico, sudah menembakkan banyak anak panah api pada Reiyuel. Semuanya meleset untungnya.
Palu Araka terayun pada Exodiart. Sang ketua Lunacrest segera saja menyadari bahaya tersebut. Dia menghindari serangan pertama lalu menahan serangan kedua dengan pelindungnya. Tepat saat itulah, kilau mungil datang dari langit. Kalim telah menembakkan anak panahnya pada Exodiart.
TING!
Suara denting menggema pelan. Serangan itu gagal. Tentu saja.
Berbeda dari pertempuran-pertempuran sebelumnya, Harufuji hari ini membawa perisai putih berukuran sedang. Ada aksen biru metalik mengelilingi bagian tepi seperti tutup bahu yang sedang dia kenakan. Perisai tersebut sukses melindungi Exodiart dari serangan dari udara. Sebagai gantinya, Harufuji merapal serangan petir. Suara menggelegar datang disambut percik kuning di udara.
Ketika serangan itu selesai, Kalim jatuh ke tanah dengan kaki lebih dulu. Dia jelas berhasil menghindari serangan Harufuji. Meski begitu, ada luka berdarah pada kaki bagian kanannya. Mulutnya berdecak kesal. Dia pun buru-buru berlari sebelum ada serangan lanjutan dari Harufuji.
“Baiklah, sepertinya setiap orang sudah menentukan lawan mereka masing-masing.” Ketua guild Broco, Araka, bicara dengan suara dalam. “Bagaimana kalau kamu melawanku satu lawan satu saja, Exo?”
Exodiart tak menjawab, hanya melempar senyum tipis. Dia malah menoleh pada Harufuji yang berdiri tak jauh darinya. “Kamu akan melindungiku dari hujan panah, ‘kan?”
Harufuji menggeleng. “Aku akan melindungi kita semua dari kekalahan.”
Mierai melirik Elloys. “Sekuat apa dia?”
“Pertanyaan itu sulit dijawab. Kalau pertanyaannya diganti seberapa merepotkannya menghadapi Harufuji… Nah, aku bisa jawab itu.”
Lunacrest mungkin kalah satu langkah ketika membiarkan Kalim menghilang tadi. Namun, Broco akan membuat kesalahan lebih besar kalau kalau mereka meremehkan Harufuji. Tak banyak orang paham bagaimana Harufuji bertarung. Mereka yang tahu, tak akan berani melepaskan tatapan dari kelebat birunya.