
Ketika pintu terbuka, Reiyuel sudah berada di tengah ruangan. Dia menyadari kesalahannya. Bukan orang yang pertama kali masuk, melainkan hanya sebuah tangan. Tangan itu melemparkan tabung mungil ke dalam. Dengan sigap, Reiyuel menarik kain tambahan dekat lehernya menjadi pelindung untuk wajah bagian bawah. Sesuai dugaannya, tabung langsung memuntahkan asap putih ke seluruh penjuru markas.
Para Assassin biasanya menutup diri agar tak mudah dikenali. Mereka hampir selalu memakai topeng atau cadar. Reiyuel sendiri sering memakainya ketika berburu. Dia hanya tak pernah menduga akan menggunakannya dalam markas sendiri.
Kedua tangannya masing-masing menggenggam empat pisau. Begitu sosok orang pertama masuk, pisaunya terlempar. Bukan satu, bukan dua. Reiyuel menghitung dengan tepat. Empat orang bertudung hitam dengan pakaian serba hitam. Mereka juga mengenakan cadar untuk menutupi wajah. Hanya matanya yang terlihat. Mereka sama seperti dirinya. Mereka juga Assassin.
Tidak satu pun pisau Reiyuel mengenai sasaran. Orang-orang itu cukup ahli. Tebakan Reiyuel, mereka mengambil kelas spesialisasi Marauder, kelas spesialisasi kedua dari Assassin yang fokus pada perburuan harta atau — kalau mereka orang jahat — berfokus penjarahan dan pencurian.
Reiyuel melompat ke udara, mencari posisi lebih baik untuk melancarkan serangan. Keempat orang itu berpencar. Dua dia antaranya merayap di dinding bak laba-laba. Sasaran mereka hanya satu, piala Guild Showdown. Sejak awal, Reiyuel tahu kalau piala itu akan membawa malapetaka bagi mereka.
Reiyuel mendarat dekat lemari. Matanya menangkap bayangan lawan terdekat. Dia telah terlalu dekat. Reiyuel tak lagi menggunakan pisau lemparnya, melainkan menggunakan belati panjang yang disimpannya pada paha. Mereka ada sepasang. Kini, keduanya telah berada di tangan, siap beraksi.
Markas sedang gelap gulita. Selain matanya sudah terbiasa melihat dalam gelap, Reiyuel sudah hafal kondisi barang-barang di dalam ruangan. Harusnya dia bisa menang mudah. Sayangnya, lawan sudah mengantisipasi hal ini.
Ketika belatinya bertabrakan dengan milik lawan, Reiyuel melihat kalau orang-orang itu mengenakan sejenis kacamata yang berpendar merah. Itu membantu mereka melihat dalam kegelapan. Untungnya, Reiyuel lebih kuat. Dia mendorong belatinya pada lawan lalu memberikan tendangan agar lawan menjauh.
Serangan selanjutnya datang dari atas. Seorang marauder lain melemparkan pisau. Seharusnya serangan itu meleset. Namun, Reiyuel dengan sengaja menangkap gagang pisaunya. Dia tahu beberapa trik yang sering dipakai para Marauder. Mereka mengikatkan senar pada ujung pisau dengan banyak tujuan. Salah satunya untuk mengambil barang. Jadi, sebelum pisau itu mendekat ke piala, Reiyuel menghentikannya.
Sebagai gantinya, Reiyuel menarik pisau. Ini membuat lawannya kaget. Lawan pun ikut tertarik. Begitu mendekat, Reiyuel memberikan tendangan menggunakan lutut yang membuat lawannya terlempar jauh.
Dia memanfaatkan saat singkat ini untuk mempersiapkan kuda-kuda. Lawan selanjutnya punya pedang tipis panjang. Ini memang bukan senjata yang umum digunakan para Marauder tapi bukan tidak mungkin.
Marauder biasanya menjelajah reruntuhan atau pedalaman, mencari harta tersembunyi. Mereka berlatih menghindari jebakan yang masih aktif. Selain itu, mereka juga berlatih menghadapi kejutan dari monster. Mulai dari monster kecil, besar, hingga raksasa.
Saat serangan lawan datang, Reiyuel menghindar dengan mudah. Pedang itu sepertinya terlalu berat untuk lawan. Gerakan lambatnya mudah dihindari. Selagi dirinya menghindar, Reiyuel bisa melihat lawan pertama datang kembali dengan belatinya. Untuk sesaat, Reiyuel merasa kalau dialah targetnya bukan piala.
Menggunakan momentum saat pedang terayun, Reiyuel melompat ke atas. Dari udara, dia menghujani lawan dengan belati. Si pemain pedang berteriak ketika ada dua pisau tertancap di bahunya. Sementara temannya ikut melompat ke udara. Reiyuel berusaha menghindar saat belati lawan terayun. Sayangnya, itu cukup sulit dilakukan di udara. Belati lawan membuat goresan tipis di perutnya.
Reiyuel mendarat di atas lemari. Si pemain pedang menghiraukan rasa sakit, mengayunkan kembali pedang padanya. Sebuah kesalahan besar. Reiyuel berguling. Pedang pun malah tertancap ke lemari, menembus hingga ke dinding. Untungnya, pedang ini merusak bagian yang masih kosong. Ada banyak barang berharga di sana selain piala Guild Showdown. Sebut saja, salah satunya, helm konyol Exodiart.
Reiyuel tidak membunuhnya. Sejak bergabung dengan Lunacrest, Reiyuel menghindari titik-titik vital lawan sekalipun sebenarnya dia bisa langsung menyerang jantung lawan. Pembawa pedang itu akan selamat kalau teman-teman membawanya berobat, segera. Itu kalau pertempuran ini cepat selesai. Kalau tidak, dia bisa menyalahkan teman-teman mereka dari alam baka.
Piala masih bergeming di tengah lemari. Sejauh ini, belum ada yang berhasil menyentuhnya.
Teknik apa yang cocok dipadukan dengan teknik Marauder? Selain seni berpedang, tampaknya seni memanah juga bisa melengkapi kekurangan. Reiyuel sadar benar kalau orang keempat yang sedari tadi tak menyerang, tengah menyiapkan anak-anak panah. Dia bisa bayangan busur serta anak panah hitam legam. Mereka agaknya mempergunakan bahan logam yang sedikit berbeda. Logam biasa akan memantulkan cahaya dalam kegelapan. Logam hitam mereka menyerap cahaya, membuat sosoknya sulit dikenali dalam kegelapan.
Reiyuel tahu seharusnya dia segera menghindar. Sayangnya, lawan pertama berada di depannya. Dia menggunakan sepasang belati seperti Reiyuel. Keduanya sudah terhunus ke depan. Reiyuel tak punya pilihan selain menghadangnya dengan belatinya sendiri. Saat itu, dia melihat pisau dengan senar kembali datang.
Mengorbankan bahunya, Reiyuel menahan pisau terebut menjumpai piala. Pisau itu menembus pelindung bahu Reiyuel melukai tubuhnya sendiri meski tidak dalam. Si sudut lain, panah telah dilepaskan. Serangan itu tidak akan masuk, dia tahu. Reiyuel mendengar langkah dari atas diiringi percikan kilat.
ZRAAAAT!
Petir menggelegar dari atas. Mereka lupa kalau masih ada Harufuji di atas. Serangan itu menyambar anak panah, melesat pada pemanahnya, lalu ke pelempar pisau bertali. Mereka tersengat aliran listrik menyebalkan namun tak sampai membuat mereka terbunuh. Harufuji pun melompat dari atas, langsung ke lantai satu.
“Maaf, lama… Kupikir tadi aku sedang bermimpi,” keluhnya. “Ternyata… Ugh… Aku benci gas tidur!” Suaranya bergetar, pandangannya masih agak kabur, matanya masih mengerjap mengusir kantuk. Ada saputangan biru terikat menutupi hidung hingga dagu. “Kamu masih sanggup bertarung, ‘kan, Rei?”
Pertanyaan retoris. Tak perlu jawaban.
Reiyuel mendorong belati. Belati kanannya bergerak cepat, melukai bahu lawan, mendorongnya mundur. Selanjutnya, Reiyuel mencabut belati yang menancap di tubuhnya sendiri. Darah pun merembes keluar. Tidak seorang pun suka bila dilukai. Tidak juga Reiyuel.
Serangan itu membuat kenangan masa lalunya terasa pekat dalam benak. Masa lalu sang Executor selalu berbuhungan dengan kegelapan malam, bau amis darah, teriakan memilukan, juga aksi sia-sia para korban. Tak ada gunanya melawan anggota Black Knight seperti Reiyuel. Sama seperti saat ini. Sekalipun sudah mantan anggota, Reiyuel masih sangat berbahaya.
Reiyuel bisa merasakan darahnya mendidih. Adrenalinnya mengalir deras. Kedua belatinya terasa dingin dan panas di saat bersamaan. Mereka seolah minta pertumpahan darah. Dia tahu akan mengabulkan permohonan mereka. Para penyusup itu akan membayar dengan darah mereka.
Pertarungan ini tak butuh obrolan, hanya butuh kemenangan.