
Keduanya tiba di Korumbie saat gelap. Mereka tak perlu kembali ke markas Lunacrest, hanya kantor misi. Kantor ini bukan kantor Guild Master Declan. Declan bertugas mengurus guild bukan misi solo. Kantor ini berada di bawah pengawasan Jendral Fawke.
Raiden perlu melaporkan misi solonya di sana. Untuk semacam misi penghancuran yang baru dia selesaikan, pengecekan akan sedikit berbeda. Bawahan Jendral Fawke akan mengeceknya langsung. Artinya, imbalan pun baru bisa diambil besok pula, bukan hari ini.
Raiden berbalik dari satu-satunya meja panjang di ruangan itu. Di meja panjang itu, hanya ada enam petugas administrasi. Di pagi hari, setidaknya ada sepuluh orang. Mereka punya tiga tugas utama. Menerima permintaan misi dari rakyat, mencatat misi yang diambil petualang, dan menerima laporan ketika misi selesai.
Meja ini sendiri berada di atas panggung batu besar dengan tangga tinggi. Dari sana, pemandangan lantai satu terasa sangat luas. Dindingnya punya bagian rendah yang menjorok untuk tempat duduk. Di tengahnya ada dua deret papan-papan besar tempat misi dicantumkan. Raiden bisa melihat kakaknya sedang melihat lembaran misi pada salah satu papan.
Baru menuruni satu anak tangga, mata Raiden menangkap kelebat ungu dari ujung meja panjang. Seorang gadis berambut ikal ungu sedang bicara dengan petugas. Rambut ungu itu memiliki gradasi warna gelap ke terang yang mencolok mata. Gadis ini tidak sendirian. Dia bersama pemuda yang rambutnya dicat pada bagian ujung. Warnanya tak kalah mencolok. Bagaimana tidak, rambutnya hitam legam namun biru terang pada bagian bawah.
Raiden mengacuhkannya. Kakinya menuruni anak tangga lagi. Ketika tiba di anak tangga terendah, Raiden mendapati kalau gadis berambut ungu tersebut sedang ngobrol dengan Praxel. Di belakangnya, dia mendengar derap langkah berat datang. Si pemuda sedang turun terburu-buru.
Raiden tidak terkejut. Gadis itu pasti seorang Mage, terlihat dari tongkat panjang berbola kristal. Gadis itu bisa menggunakan sihir agar tak perlu menuruni tangga. Sementara pemuda ini pasti seorang Swordsman. Dari pedang di punggungnya, Raiden menebak kelas lanjutannya adalah Blade Master. Pedang itu memang besar dan panjang namun terlihat ringan.
Meski tak disuruh, mata Raiden kembali mengawasi si gadis. Gadis itu bukan hanya punya warna rambut yang menarik perhatian tapi juga wajah manis merona.
“Raiden,” Praxel melambaikan tangan.
Spontan, si gadis dan si pemuda menoleh padanya. Gadis itu melempar senyum. Raiden malah spontan mengalihkan wajah. Merasa salah tingkah, dia mengembalikan tatapan pada kakaknya.
“Temanmu?” gumam Raiden.
Praxel hendak menjawab, namun si gadis lebih cepat. “Hai, namaku Elloys. Ini sepupuku, Keniaru. Kami penasaran apa kalian mau menjalankan misi bersama.” Raiden tak tahu bagaimana harus bereaksi, jadi gadis ini melanjutkan. “Ada misi menghancurkan gargoyle di reruntuhan. Imbalannya besar. Sayangnya, jumlah minimal petualang empat orang dan kami hanya berdua. Jadi, siapa tahu…”
Elloys membiarkan kalimatnya menggantung. Keniaru mengulurkan tangan, menjabat tangan Praxel dan Raiden. “Kami pasti bisa memanfaatkan bantuan dari seorang Bishop dan Destroyer.”
Keniaru membuat tebakan jitu soal kakaknya. Hanya ada dua kelas yang menggunakan tongkat sihir. Cleric dan Mage. Tongkat keduanya sangat berbeda. Tongkat Cleric biasanya hanya berupa kayu mentah yang dibubuhi sihir. Pada kelas spesialis kedua, Cleric yang memilih menjadi Paladin akan mengganti senjata mereka dengan tongkat logam. Sementara mereka yang memilih jadi Priest seperti Praxel akan memakai tongkat kayu panjang. Para Priest percaya semakin panjang dan semakin unik bentuk tongkat, semakin bagus pula tongkat tersebut. Apalagi bila ditambahkan orb. Selain dari tongkat, Keniaru pasti bisa menebak dari pakaian Praxel. Hanya Bishop yang menggunakan jubah panjang.
“Vanguard,” kata Raiden. “Aku Vanguard.”
“Wow. Kamu punya palu yang bagus. Kukira kamu sudah mengambil kelas spesialisasi jadi Destroyer.”
“Belum. Mungkin dalam waktu dekat ini.”
“Kudoakan beruntung. Aku termasuk yang beruntung karena sudah mengambil kelas spesialisasi Blademaster tahun lalu. Katanya, sekarang ujian makin dipersulit. Apalagi sekarang kerajaan banyak mengangkat penguji baru.”
“Oh, ya? Master Leon masih jadi koordinator kelas Warrior, ‘kan.”
“Masih. Justru di situ masalahnya. Sebentar lagi dia pensiun. Orang-orang itu pasti berlomba-lomba menggantikan posisi Master Leon. Kamu tahu kalau setiap penguji bebas memberikan ujian seperti apa?”
“Iya, tahu. Tipe ujian Vanguard adalah soal penghancuran. Tapi, detail apa yang dihancurkan diserahkan ke penguji. Itu yang kudengar.”
“Benar. Dengan alasan menaikan kualitas, mereka mempersulit ujiannya.”
“Waktu aku ujian tingkat ke kelas Swordsman, mereka hanya minta aku membawakan tulang serigala. Sekarang mereka disuruh membawakan kristal dari sarang lamia.”
“Wah, itu ‘kan sulit.”
“Memang.
Keniaru dan Raiden punya kelas dasar yang sama, yaitu Warrior. Mereka memahami hal yang sama. Elloys nampaknya mulai gusar. Gargoyle memang hanya muncul setelah matahari tenggelam. Tapi, itu bukan berarti menjalankan misi sampai tengah malam akan menyenangkan.
“Ehem!” Elloys memotong. “Jadi, kalian sedang kosong?” Elloys melihat Praxel dan Raiden bergantian.
“Kosong.” Raiden langsung terdiam setelah jawaban tersebut meluncur tanpa diperintah.
“Bagus sekali! Aku akan mendaftarkan nama kalian. Tunggu sebentar, ya!” Elloys mendadak lenyap, dalam arti sesungguhnya. Tahu-tahu saja, dia sudah kembali ke meja panjang para administrasi.
“Kuharap kita bisa berteman baik.” Keniaru mengulurkan kepalan tangan.
Raiden meninjunya pelan. Gerakan semacam ini sudah jadi salah satu ciri khas Warrior. Sebuah tanda dukungan dan pertemanan.
“Oh ya, siapa namamu?” Keniaru baru sadar kalau belum tahu namanya.
Seolah baru ingat juga kalau belum tahu nama sang Vanguard, Elloys menggunakan sihirnya untuk mencapai lantai dasar. “Maaf, aku yakin belum tahu namamu.”
Lihat sisi baiknya, Raiden tak perlu mengulang namanya dua kali. “Raiden.”
Elloys mengangguk, hilang, muncul kembali ke depan meja panjang petugas administrasi.
Tidak sampai lima menit, Elloys sudah kembali pada mereka sambil membawa gulungan kertas misi. Mereka pun meninggalkan kantor misi berempat. Praxel berjalan bersama Raiden. Elloys mempercepat langkah, berjalan bertiga. Entah secara sadar atau tidak, Raiden kini malah berjalan bersama Keniaru di belakang.
Kalau Praxel dan Elloys bisa ngobrol, kedua pemuda di belakangnya malah diam. Mereka mengikut saja dalam keheningan sampai ada suara perut keroncongan terdengar. Praxel dan Elloys serentak menoleh. Raiden bisa merasakan wajahnya merah padam. Hanya sesaat, karena kemudian dia sadar kalau suara itu bukan dari perutnya.
Keniaru melempar senyum malu. “Sebelum kita reruntuhan, bisakah kita mampir beli makanan dulu? Aku lapar.”
“Kenapa nggak mau makan dulu tadi?” Elloys mengerucutkan bibir.
“Tadi belum lapar,” jawab Keniaru pelan. “Mampir sebentar, nggak apa-apa ‘kan?”
“Nggak masalah,” sahut Praxel. “Kami juga agak lapar.”
Raiden menangkap senyuman tipis di wajah kakaknya. Setidaknya, mereka berdua bisa makan malam dulu sebelum memulai misi.