Lunacrest

Lunacrest
Chapter 67



Raiden bangun di pagi yang cerah dan agak dingin. Dia hendak melakukan latihan pagi seperti biasa. Karena ukuran markasnya tidak seluas halaman belakang, Raiden memutuskan latihan tanpa kapaknya. Dia tidak mau menghancurkan apa pun.


Ketika keluar kamar, Raiden bisa melihat piala mereka, Angelic Desert, masih berada di posisinya. Semalam Praxel meletakkan piala itu di atas meja di seberang kamar. Mereka tidur dengan kondisi pintu kamar terbuka. Raiden sangat setuju dengan pendapat kakaknya. Piala itu mengundang maling. Dalam kondisi gelap sekalipun, pantulan emasnya menggoda. Kalau dipikir-pikir lagi, piala itu bisa jadi beban.


Selagi Raiden push-up di lantai, Praxel beranjak ke luar. “Pagi banget.”


“Biasanya aku juga bangun jam segini,” sahut Raiden di sela-sela latihan dan mengambil napas.


“Iya, sih. Tapi, aku yang biasa sampai markas duluan.”


“Latihanmu kan beda.”


Raiden tak lagi menggunakan kedua tangan, melainkan hanya satu. Sebagai petualang di garis depan, dia dituntut punya fisik prima setiap saat. Praxel lebih sering konsentarasi, meditasi, dan sejenisnya. Raiden bahkan tak yakin apa itu termasuk latihan atau hanya kegiatan menenangkan diri.


“Mau makan apa?”


“Apa pun.”


Praxel beranjak turun, menuju dapur sambil menguap. Dari pantulan kaca, dia bisa melihat rambut cokelatnya berantakan. Bukan masalah buatnya. Dia memeriksa bahan-bahan makanan yang ada di markas dan tambahan yang semalam dia bawa lalu mulai memikirkan untuk sarapan untuk mereka berdua dan rekan-rekan mereka nantinya.


Saat itu, Praxel mendengar suara ketukan dari luar markas. Markas memang sedang terkunci. Tapi, siapa yang datang sepagi itu? Praxel masih bertanya-tanya ketika ketukan kedua datang lagi.


“Aku saja yang buka!” Raiden sedang menuruni tangga dengan kapak di tangan.


“Jangan merusak apa pun, Rai. Kamu kadang ceroboh.”


Raiden tak menghiraukan ucapan kakanya. Tangannya menyingkap tirai jendela untuk mengintip tamu mereka. Dari sana, terlihat sosok seorang berambut emas lurus sebahu. Rambutnya berkilau di bawah topi fedora hijau berbulu putih besar. Dia juga mengenakan jubah hijau dengan untaian tali emas serta rumbai-rumbai. Ada ransel besar menggantung di punggung juga beberapa barang lain yang mencuat keluar.


Ketukan datang lagi.


Raiden membuka pintu dengan kapak tergenggam di baliknya. “Bisa kubantu?”


“Ini markas guild Lunacrest, ‘kan?”


Raiden baru menyadari kalau di hadapannya saat ini berdiri seorang pria kurus tinggi, lebih tinggi darinya, dengan rambut seindah milik Amari. “Ada yang kamu perlukan dari kami?”


“Ah, aku mencari Elloys! Dia ada di sini, kan? Aku sangat merindukannya.”


Raiden mengernyit sekarang. “Siapa kamu?”


“Aku orang yang selalu dia cari saat dia sedang dalam masalah dan kesedihan. Orang yang setia menemaninya dalam suka dan duka. Orang yang selalu mampu membuatnya tertawa dalam kehidupan yang muram. Oh, Elloys. Betapa aku merindukannya.”


Raiden tak mampu merespon.


Praxel muncul di belakangnya. “Aku yakin Elloys ada di rumahnya. Ini masih pagi. Kami bahkan belum buka.”


Pria berambut emas itu kini terdiam. “Oh, kupikir dia tinggal di sini?”


“Dia tinggal di rumahnya sendiri,” jawab Praxel lagi.


“Oh… Tapi, dia akan ke sini ‘kan?”


“Seharusnya.” Praxel ragu.


“Ya.” Raiden sebaliknya, sangat yakin. Jawabannya spontan membuat Praxel menoleh padanya.


Si pria berambut pirang menjentikkan jari. “Bagus! Kalau begitu, aku akan menunggunya di sini. Selagi menunggu, biarkan aku memainkan musik bagi kalian. Ada lagu yang kalian suka?”


Praxel dan Raiden bertukar pandang.


 


 


“Hei, turun dari sana!” pinta Elloys.


“Elloys!” Pria itu melompat dari atas langsung ke lantai satu. Praxel menarik diri karena kaget, Amari melotot, dan Raiden tak hentinya memasang raut kesal. “Oh, aku benar-benar merindukanmu!”


“Hai, Curio! Tetap ribut seperti biasa, ya.” Elloys menghindari ketika ada tangan terbuka siap memeluknya. Dengan satu kali teleport, Elloys muncul di samping meja kopi dekat Praxel sedang duduk. “Kamu membiarkannya masuk?” bisik Elloys pada sang wakil ketua.


“Kamu pikir kami bisa melarangnya?” balas Praxel.


Elloys mengangguk.


Curio tak lagi mengenakan jubah hujaunya. Dia mengenakan kemeja putih lengan panjang  dan celana hijau tua serta bot coklat. Rambutnya diikat sekarang, menunjukkan adanya sepasang anting emas yang senada dengan kalungnya. Mereka terdiri dari bentuk-bentuk wajik dengan bulatan solid di bagian tengah. Curio menghampiri tas besarnya yang tergeletak dekat rak kemudian menyodorkan sebuah wadah bulat dengan tutup yang terbuat dari porselen. Wadah ini dihiasi aneka ukiran bunga, daun, juga tangkai melengkung beraneka warna.


“Persembahan istimewa untuk gadis napas api favoritku.”


“Terima kasih.” Elloys buru-buru menimpali. “Aku bernapas biasa saja.”


Curio beranjak pada Amari. “Dan, ini untukmu. Aku yakin kamu memahami keindahan sama seperti diriku. Tidak ada yang lebih cocok untuk gadis berambut cantik sepertimu, nona Amari.” Curio menyodorkan kantong kain mungil.


Sebelum menerimanya saja, raut Amari sudah berubah. Kantong itu membawa harum lembut. “Ini benar untukku? Terima kasih. Darimana kamu dapat ini? Aku belum pernah mencium wangi seperti ini.”


“Belahan dunia di seberang sana punya beberapa keunggulan dibanding tempat kita berpijak saat ini. Aku tak pernah mengagumi berbagai tanaman yang tumbuh di sana,” jawabnya sambil menyibakkan rambut.


“Dasar pesolek!” Raiden menggerutu. Kulit putih, dagu runcing, rambut emas. Sosok Curio membuatnya kesal. Terlebih lagi karena dia bisa semudah itu membuat Amari dan Elloys senang dengan hadiahnya.


Untungnya, Curio tak mendengar itu. Dia menyeberangi ruangan, kembali pada Elloys. “Kamu bergabung dengan guild yang sangat bagus. Sebuah pilihan tepat. Jauh lebih baik daripada bergabung dengan Maelstrom.”


“Ssst!” Elloys langsung menghardik.


“Oh? Apa mereka tidak tahu kalau kamu dan Ken berencana bergabung dengan Maelstrom sebelumnya? Kudengar kamu juga dapat teman saat mendaftar ke sana.” Curio tersenyum saat bicara. Namun, senyum tersebut langsung lenyap ketika tangan Elloys membuat bola api di tangannya. “Oh, Elloys yang manis, maafkan aku karena terlalu banyak bicara. Biarkan aku melanjutkan membagi oleh-oleh langka yang kudapat dari daerah-daerah terpencil. Sama langkanya dengan Angelic Desert.”


“Angelic Desert?” Praxel pun berdiri menghadap Elloys. “Siapa dia Sebenarnya?”


“Teman petualangku, Curio. Seorang Bard.”


Curio beranjak pada Praxel dengan kantong beludru mungil. “Perkenalkan, namaku Curio. Bukan Bard sungguhan, aku hanya suka berpetualang dan bernyanyi dalam perjalanan. Ini hadiahku untuk Bishop berbakat sepertimu, Praxel.”


“Sepertinya kamu tahu banyak soal kami.” Praxel menerima kantong tersebut sambil menatap lawan bicara dengan penuh curiga.


“Pernahkah kamu dengar kalau angin membawa berita ke pelosok negeri dan burung menyanyikan kabar baik? Nampaknya itu benar.” Curio beralih dari Praxel yang mengernyit ke Raiden yang mengawasinya sejak tadi. “Dan, ini untukmu, Berserker andalan Lunacrest.” Curio memberikan sebuah bongkahan batu kelabu sebesar kepalan tangan. Permukaannya punya lubang-lubang kecil dan beratnya ringan bagai spons.


“Apa ini?” tanya Raiden saat batu itu berpindah ke tangannya.


“Batu untuk mengasah kapak besarmu. Kamu enggak akan kecewa dengan kualitasnya.”


Praxel mengangkat isi kantong beludru merah, beberapa lembar daun kering kuning kebiruan. “Darimana kamu mendapatkannya? Ini bahan obat langka.”


“Kupu-kupu menuntunku ke ke oasis di padang pasir. Daunnya mengambang di atas air, memancarkan cahaya senja dan kemilau bulan purnama. Menggugah hati para pujangga untuk memetik serta membawanya pulang.”


Elloys menggelengkan kepala, tersenyum geli. “Kalian enggak percaya semua yang dia ucapakan, ‘kan?” Tiga orang lain dalam ruangan serentak menggelengkan kepala. “Bagus. Pertahankan kewarasan kalian di dekat Curio.”


Pintu markas kembali terayun.


Curio dengan sigap membungkuk di depan pintu, menyambut kedatangan. “Selamat datang di guild pemenang Guild Showdown, Lunacrest. Adakah yang bisa kami bantu? Kami bisa menghabisi lawan secepat kilat, dan mengambilkan bulan untukmu.”


Praxel menepuk dahinya. Elloys dan Raiden hanya melongo. Amari menatap ngeri.


Exodiart berdiri di luar pintu. Dahinya berkerut. Dia memicingkan mata agar bisa meneliti Curio berikut kondisi markas dengan baik. “Apa aku masuk ke markas yang benar?”