
Meski melihat orang-orang membawa senjata di pasar adalah hal biasa, Praxel tidak biasanya berbelanja dalam kostum petualangnya. Jubah hijaunya terasa berat dan panas karena memang ditujukan untuk menahan serangan. Belum lagi tongkat kayu panjang untuk merapal sihir. Dia memang sudah membeli tali agar bisa memanggulnya di punggung. Tapi, tetap saja terasa ribet.
Dia janji akan memasak makan malam hari ini. Jujur saja, pikirannya belum lepas dari kare clabery. Jadi, dia memutuskan mencari bahan kare untuk makan malam nanti. Clabery agak sulit dimasak dan cukup mahal. Praxel memilih bahan ayam yang lebih mudah dimasak.
Di Korumbie, pasar buka hingga sore hari. Bahan yang bagus memang selalu habis lebih cepat. Sayangnya, Praxel tidak punya waktu belanja di pagi hari. Misi beruntun kemarin ditambah misi tambahan semalam bersama Elloys dan Keniaru membuatnya tak mampu bangun pagi.
Dia mengunjungi kios penjual rempah-rempah lebih dulu, sedang memilih bumbu ini dan itu ketika seorang gadis berambut panjang menebak apa yang akan dia masak.
“Malam ini masak kare, ya?”
Praxel langsung menoleh ketika mengenali suara tersebut. “Kelsey!”
“Hai, kak Praxel.” Kelsey mengenakan gaun lengan panjang berwarna hitam. Rambut cokelatnya punya warna lebih gelap di bagian bawah. Kontras sekali dengan mata hijaunya. Meski panjang, rambut Kelsey tak pernah mengganggu ketika menjalankan misi. Dia selalu mengikatnya lalu menutupinya dengan tudung. Beda sekali dengan penampilannya saat ini.
Tanpa tongkat sihir dan baju petualang, Kelsey bagaikan model. Dia memang punya tubuh tinggi dan indah bak model. Kelsey memang berasal dari keluarga yang selalu memperhatikan mode.
“Mau membantuku memasak malam ini?” Praxel melempar senyum.
“Bagaimana kalau kutemani belanja saja?” Kelsey terkekeh pelan. Suaranya tak kalah indah dari tubuhnya.
“Tentu.” Praxel mengangguk tanpa sekalipun melepaskan pandangannya dari Kelsey.
Keduanya berjalan-jalan di pasar yang lenggang. Di siang hari seperti itu, tak banyak orang mau berbelanja di bawah teriknya panas sinar matahari. Sekalipun ada kain-kain yang tersampir dari satu kios ke kios lain, hawa panas tetap tak menyenangkan di kulit.
Mereka ngobrol banyak hal. Mulai dari bahan makanan, roti terbaru buatan toko roti Mr. Baker, fashion terbaru, hingga tempat memancing kesukaan Raiden. Mereka membahas berbagai topik, kecuali tentang guild. Bagi Praxel, dia hanya menanti waktu yang tepat.
Sebelum mereka benar-benar selesai berbelanja makan malam, Praxel memberikan mereka berdua roti manis. Mereka pun menikmatinya dekat air mancur samil menanti senja yang segera datang.
Sore itu cukup dingin, berbeda jauh dengan kondisi siang yang terik. Udara berhembus membelai rambut panjang Kelsey. Praxel benci mengakuinya, tapi dia sulit melepaskan pandangannya dari Kelsey terutama pada saat-saat seperti ini. Praxel tak berlama-lama dalam lamunanya. Dia baru saja menyadari ada bekas lecet dekat leher Kelsey.
“Kelsey, apa kamu menjalankan misi solo baru-baru ini?”
“Iya. Kenapa?”
“Apa itu luka dari pertempuran?”
Kelsey menggerakkan tangannya untuk menutupi daerah dekat leher. “Hanya sedikit kecerobohan.”
“Biar kulihat lukanya.” Praxel menguasai sihir penyembuh. Dia bisa memakainya jika Kelsey mau.
“Nggak usah. Terima kasih. Ini bukan luka besar. Aku sudah diobati. Nanti juga sembuh. Aku hanya berharap nanti nggak meninggalkan bekas.”
“Aku penasaran reaksi ibu dan adikmu.”
Kelsey cekikikan dibuatnya. “Oh, kamu tahu mereka. Selalu mengomel soal ini itu. Seharusnya dari awal, ibu melarangku masuk sekolah sihir saja. Sekarang sepertinya sudah terlanjur, bukan?”
“Kamu cinta petualangan.”
“Tentu saja.” Ada penekanan dalam ucapan Kelsey. Matanya menatap mata Praxel lekat-lekat. “Bagaimana denganmu?”
“Kita disebut petualang karena satu hal. Kita ingin menemukan hal yang belum pernah ditemukan atau sekedar memastikan sesuatu dengan mata kita sendiri. Untukku, aku ingin memastikan seperti apa dunia itu dengan mataku sendiri.” Praxel bisa merasakan senyumnya sendiri. “Aku juga mencintai petualangan.”
“Bagaimana Raiden?”
“Eh? Kupikir dia lebih cinta petualangan daripada aku. Maksudku, aku sering dengar dia ingin pergi menjelajahi daerah-daerah yang belum tersentuh.”
“Oh.”
“Tidakkah kamu berpikir sudah saatnya dia memilih kelas spesialisasi?”
“Ya. Sepertinya dia masih ragu. Biarkan saja dulu.”
Para petualang bisa memilih kelas spesialisasi dua kali.
Spesialisasi pertama dipilih tepat setelah mereka lulus dari sekolah. Praxel memilih masuk akademi Cleric sementara Kelsey memilih masuk sekolah sihir untuk jadi Mage. Setelah lulus, Praxel memilih kelas lanjutan sebagai Priest, Kelsey memilih Warlock. Pada tahap ini, mereka diizinkan bergabung dengan guild sambil menjalankan misi solo dan pelatihan.
Spesaliasai kedua dipilih setelah petualang menyelesaikan pelatihan dan misi sejumlah tertentu. Praxel mengambil spesialisasi sebagai Bishop, Kelsey mengambil spesialisasi sebagai Astralist. Setelah spesialisasi kedua ini, mereka terbuka pada lebih banyak pilihan misi. Kerajaan juga membuka lowongan khusus bagi para petualang berprestasi.
Raiden sendiri sebenarnya sudah menyelesaikan misinya lebih dari cukup. Dia seharusnya bisa mengambil ujian untuk memilih spesialisasi kedua. Namun, dia selalu menundanya. Praxel paham benar. Adiknya ragu memilih antara Berserker atau Destroyer. Praxel ingin adiknya memilih sendiri bukan berdasarkan keinginannya.
Kelsey belum mengalihkan tatapannya. Praxel malah dibuat canggung olehnya. Kelsey juga malah bertanya lebih dulu mengenai guild. “Bagaimana kondisi Lunacrest?”
Praxel tak paham pertanyaan Kelsey apalagi paham jawaban dari pertanyaan itu. “Baik.” Praxel merasa salah menjawab. “Maksudku, baik-baik saja. Kami menyelesaikan beberapa misi guild lalu dapat anggota baru.”
Kelsey tersenyum, melempar pandangannya jauh ke depan, ke arah air mancur. Baru ada gigitan kecil pada roti manis di tangannya. Mungkin Kelsey memang bukan penggemar makanan manis. Roti manis buatan Mr. Baker merupakan pengecualian. Bersama Exodiart dan Raiden, mereka berempat sudah beberapa kali menikmati roti manis bersama usai menjalankan misi guild.
“Apa yang kamu pikirkan?” Praxel bertanya setelah Kelsey hening cukup lama.
Kelsey mengangkat bahu. “Banyak.”
“Tentang dia?”
“Ya. Juga tentang Lunacrest.”
“Kamu merindukannya?”
“Mungkin. Entahlah. Kuharap nggak. Aku nggak tahu. Tapi, kami nggak mungkin bersama lagi.” Kelsey memalingkan wajah agar Praxel tak bisa melihat bibirnya bergetar ketika bicara. “Dia nggak menginginkanku lagi.”
“Kupikir itu dua hal berbeda.”
Kelsey tak lantas berpaling.
Praxel melanjutkan. “Aku nggak mau ikut campur urusan kalian tapi Lunacrest nggak sama tanpamu.”
“Aku sudah nggak hadir berhari-hari.”
“Kita sama-sama tahu Exodiart nggak akan mengeluarkan anggota.”
Kelsey menoleh kembali pada Praxel. “Dia terlalu baik. Sama sepertimu.”
“Mungkin.”
“Kalian harus menegaskan peraturan guild.”
“Pasti. Nanti. Saat ini, aku hanya berharap kamu mau kembali ke Lunacrest.” Praxel buru-buru meralat ucapannya. “Kami, maksudku. Kami berharap kamu mau kembali ke Lunacrest.”
Keheningan melanda selama beberapa saat. Kelsey menurunkan pandangannya ke roti manis yang ada dalam genggaman di atas pangkuan. Praxel tak mau mengganggunya. Jadi, dia memperhatikan aliran air mancur di kejauhan setelah menghabiskan roti manisnya sendiri.
“Kamu tahu,” kata Kelsey akhirnya memecah keheningan. “Mungkin aku perlu kenalan dengan anggota baru Lunacrest.”