Lunacrest

Lunacrest
Chapter 84



Keempat anggota Lunacrest tidak pernah berpikir kalau tebakan asal-asalan Elloys akan sungguhan terpenuhi. Curio, si Bard atau pujangga, ternyata memang punya jalur tersendiri untuk berkeliling berbagai tempat di seluruh Endialte.


“Jadi, bagaimana dia bisa kenal dengan orang-orang seperti ini?” Raiden berbisik.


“Aku juga tidak pernah tahu. Tapi, mengingat dia bisa kenal dengan… organisasi itu… Dia pasti tidak akan cerita selengkapnya pada kita.” Elloys menghindari kata ‘Black Knight’ dalam percakapannya.


“Atau… Dia jawab ngawur, jadi kita enggak tahu itu sungguhan atau bohong.”


“Bisa jadi.”


Keempat anggota Lunacrest tengah berada di atas kapal kecil dengan tiga orang asing yang bekerja sebagai pendayung. Satu orang di depan, mengawasi dari ujung depan. Satu duduk di bagian belakang, mengawasi mereka dengan matanya yang sayu. Satu lagi mendayung dengan kecepatan penuh. Ketiganya mengenakan baju serba hitam dan topi caping yang menutupi wajah mereka dengan sempurna. Tubuh mereka kurus tapi ternyata mereka bisa mendayung begitu kuat.


Perahu kecil mereka melaju dalam keheningan. Mereka melintas di atas sungai berairan tenang di mana pohon dan bebatuan mengapit mereka dari kedua sisi. Semakin jauh, semakin sempit pula sungai itu. Sementara pepohonan makin rimbun. Mereka menjorok ke atas sungai bak tangan yang hendak menangkap. Meneduhkan namun membuat takut di saat yang sama.


Beberapa sulur menjuntai ke bawah, menyapa bahu kadang kepala. Elloys meringsut pada Keniaru di sampingnya. Dia tidak mau sampai berteriak karena terkejut. Mereka tidak pernah tahu apa yang jatuh, sulur atau ular.


Tidak sampai sepuluh menit, mereka melihat sebuah dataran berbatu. Si pendayung menghentikan perahu dengan anggun. Dua orang rekannya menarik perahu lebih dekat ke tanah. Meski begitu, mereka tetap harus melewati bebatuan kecil dan tanah landai yang tertutup air.


Raiden berpaling pada si pendayung sambil mengeluarkan koin emas dari kantong. Si pendayung mengulurkan tangan padanya. Bukan tangan menengadah melainkan sebuah isyarat agar Raiden berhenti.


“Kami akan menanti sampai kalian kembali,” ujar si pendayung dengan suara parau. “Teman Curio juga teman kami.”


Raiden pun tersenyum.


“Satu jam,” kata si pendayung. “Hati-hati.”


Raiden bergegas menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu mendarat. Mereka berlari lurus menuju sebuah gua gelap sempit. Elloys juga berlari, tak ingin menggunakan sihir teleportnya.


Ketika mereka berada di dalam, aliran udaranya terasa tak bersabahat. Kencang dan dingin disertai suara berisik dalam kegelapan total. Untungnya hanya sebentar. Mereka berhenti. Mengerjap cepat karena silau. Apa yang ada di depannya bukan pemandangan sungai melainkan pemandangan gunung berbatu.


Tanah tempat mereka berpijak sangat keras juga kasar. Bebatuan tak rata mencuat di sana sini. Pepohonan tinggi tumbuh jarang di kejauhan. Mereka sadar telah berada di pegunungan Pothine, entah bagian yang mana.


“Gila! Kita benar-benar teleport ke sini!?” Keniaru menengadah, mengawasi kondisi sekeliling. “Gua itu portal sungguhan?”


“Sepertinya…” Raiden melangkah pelan, memimpin ketiganya berjalan.


“Hei, kalian dengar itu?” sahut Elloys.


“Dentum langkah kaki besar. Minotaur atau ogre?” tebak Raiden.


“Bisa lebih buruk,” ujar Elloys lirih. “Kita seperti sedang berada di kandang monster, ingat? Aku tidak mau bertemu chimaera.” Elloys menggosok lengannya sendiri. Dia sedikit menyesal karena tidak membawa mantel.


“Bagaimana dengan anjing penjaga neraka?” tanya Raiden tanpa berpaling.


Elloys mengira Raiden bercanda hingga dia menyadari kalau Raiden tiba-tiba berlari sambil mengayunkan kapak. Di depannya ada segerombolan anjing berkepala dua, bertubuh hitam legam dengan mata merah.


“Hell hound?” Elloys terperanjat. Mereka merupakan monster api punya daya tahan baik pada api. Bukan berarti kalau sihirnya tidak akan menyakiti mereka, hanya saja efeknya tidak akan sekuat ketika mengenai monster pada umumnya.


Dengan satu kali teleport, Elloys mencapai ke balik batu di mana sesosok berkulit pucat siap melepaskan panahnya. Sosok itu tak sampai berpaling, Elloys sudah menyulut dirinya dengan panah.


Demon! Elloys juga mengenali wajah pucat, kuping runcing, serta seringai mereka. Sekalipun saat ini seringainya lenyap digantikan kepanikan. Tinggi demon itu lebih tinggi darinya. Rambut putihnya menghitam dengan cepat oleh sihir api Elloys. BEgitu pula pakaiannya yang serba hitam.


“Cepat teman-teman, mereka tahu kita di sini!” Elloys berlari memutar, melewati para anjing.


“Siapa?” sahut Keniaru. Dirinya menerjang satu ekor monster yang tersisa, lalu berlari cepat mendekati kakak sepupunya.


“Demon.”


“Kamu bertemu mereka?”


“Aku baru memanggang salah satu dari mereka. Hati-hati. Aku yakin pasti ada lebih banyak lagi.”


Raiden dan Harufuji mengikuti Elloys dari belakang. Keduanya sadar benar akan kebenaran ucapan Elloys. Sesekali mereka juga melihat demon pemanah yang dipanggang Elloys sebelumnya. Harufuji menyambar mereka dengan listriknya sementara Raiden menggunakan serangannya yang seperti bulan sabit. Mereka tak perlu mendekat untuk membunuh para demon. Prioritas saat ini hanya satu, menyelamatkan anggota Lunacrest yang lain.


Elloys menggunakan teleport sekali dan berhenti di ujung tebing. “Jalan buntu! Kita harus berputar!” Matanya mengamati jurang yang ada di bawah. Dia lalu memutar pandangan berkeliling untuk mencari jalan lain.


Keniaru di sampingnya berbalik. “Dan… kita kedatangan tamu,” ujarnya sambil mengambil kuda-kuda untuk menerjang lawan.


Di belakang mereka, Raiden dan Harufuji sedang menyerang sekelompok orc yang entah muncul darimana. Tempat itu benar-benar seperti sarang monster beraneka macam. Para demon sepertinya berhasil menarik perhatian monster-monster lain untuk membantu menghancurkan Korumbie.


Elloys pun bersiap merapal bola api. Saat itu, dirinya merasakan getaran samar dari sisi lain. Dia memicingkan mata ke arah sumber getaran. Asalnya dari arah pepohonan tinggi yang berkumpul tak jauh di bawah tebing. Elloys melihat sosok raksasa tinggi, bergerak maju di antara pepohonan yang telah hancur dan tersibak, seolah pernah dilewati sebelumnya.


“Tunggu… Itu Cyclops?”


Kemudian, Elloys menyadari arah yang dituju si monster lawan. Area itu memiliki menara penjaga di bagian tengah dengan banyak kerusakan di sekelilingnya lengkap dengan cyclops lain terkapar tak bergerak. Dia juga melihat jelas sosok Praxel di kejauhan bersimpuh dekat sosok lain yang tergeletak.


“Raiden!” Elloys berseru panik. “Aku menemukan mereka! Cepatlah!”


“Di mana?” Raiden masih sempat berseru di tengah pertempurannya melawan para orc.


“Di bawah! Ada cyclops menuju mereka!”


“Sial!”


“Aku duluan!”


Elloys tak perlu memutar. Dia memejamkan mata, berkonsentrasi sambil mengumpulkan energi. Selanjutnya, sihir membawanya. Dia lenyap begitu saja, lalu muncul tak jauh dari sang ketua dan wakil Lunacrest.


“Fire ball!” serunya.


Bola-bola api menghujani sosok cyclops tepat setelah sambaran-sambaran petir mungil lenyap. Sang pyromancer tak berhenti dengan satu kali serangan saja. Dia mengirim gelombang kedua dan ketiga. Memaksa monster lawan mundur sampai oleng.


“Mundur, muka jelek!”