
Setidaknya ada selusin pisau tersembunyi dalam pakaian Reiyuel, belum termasuk pisau lempar. Reiyuel bisa mengaksesnya secepat membalik telapak tangan. Serangan si Assassin sudah bisa diprediksi Exodiart. Sayangnya, dia tidak bisa bergerak secepat dia berpikir. Pikirannya hanya sempat memerintahkan untuk merapal mantra petir. Namun, perintah itu tak pernah sempat dilakukan. Ditambah tanpa keberadaan tongkatnya, Exodiart tak sempat mempertahankan diri lagi.
Exodiart bisa merasakan hentakan keras di dada. Dia tidak tahu apakah rasa sakitnya akibat tinjuan atau tendangan. Gerakan Reiyuel nyaris tak terlihat. Berikutnya, Exodiart merasakan nyeri di wajah. Badannya terdorong ke tanah. Punggungnya nyeri. Tangan kanannya tertindih tak bisa bergerak. Matanya menangkap kedatangan benda logam tipis yang dia identifikasi sebagai pisau.
Pikirannya berhenti. Refleksnya mengambil alih. Tak ada sihir petir, tak ada sihir pelindung, hanya seruan. “Setop!”
Reiyuel berlutut dengan satu kaki tepat di samping Exodiart. Salah satu kakinya menindih tangan Exodiart, satu tangan lainnya menggenggam pisau yang kini hampir sampai ke leher lawan. Reiyuel mengerjap. Tubuhnya membeku. Pikirannya sadar telah membiarkan instingnya mengambil alih.
Exodiart merasakan ketegangannya berangsur lenyap meski napasnya masih terengah-engah. Dia bisa melihat wajahnya terpantul di bola mata hitam Reiyuel. Mereka begitu dekat untuk melukai satu sama lain. Exodiart menangkap rasa takut dari lawannya.
“Kamu nggak apa-apa?” Pertanyaan itu meluncur mulus dari mulutnya meski jantungnya berdebar kencang. Dia tahu reaksi yang wajar seharusnya berupa pertanyaan ‘apa yang kamu lakukan’ atau protes seperti ‘kamu bilang nggak akan menyerang balik’.
“Kamu nggak takut kalau aku bisa menusukmu sungguhan?” Pisau Reiyuel terasa dingin di leher Exodiart. Suaranya tak kalah dingin. Matanya bagai predator malam siap menghadapi mangsa. Jangan tanyakan soal aura pembunuhnya.
“Jangan salah, Reiyuel. Aku tahu kamu bisa melakukannya. Hanya saja, aku tahu kamu nggak akan melakukannya.” Exodiart berusaha melirik pisau tersebut. Tentu saja hanya tangan Reiyuel yang terlihat oleh matanya. Dia tidak bisa memastikan benda apa yang menempel di lehernya, pisau sungguhan atau bukan. Bagaimanapun, ketakutannya kini telah lenyap.
“Kamu begitu percayanya padaku?” Reiyuel memicingkan mata.
“Aku nggak bisa bekerja sama dengan orang yang tidak kupercaya, Rei.”
Reiyuel pun beranjak. Dia menarik pisaunya menjauh lalu malah duduk bersila di samping Exodiart yang sedang bangun. Dadanya sendiri masih naik turun dengan cepat. Aliran adrenalin belum meninggalkan dirinya sekalipun Reiyuel berusaha keras menyembunyikannya sebaik mungkin.
Exodiart menggerakkan lehernya, mengusir rasa tak nyaman setelah didorong jatuh. Matanya bisa menangkap raut berbeda di wajah Reiyuel. “Kamu enggak apa-apa?” Exodiart mengulang pertanyaannya lagi.
Reiyuel mengangguk tanpa suara.
“Apa yang kamu pikirkan?”
Reiyuel terlihat enggan menjawab. Dia justru melempar pertanyaan lain. “Pernahkah badanmu bergerak lebih cepat dari pikiranmu?”
“Apakah kita bicara soal reflek?” Exodiart berusaha menebak. “Mungkin. Aku nggak begitu ingat. Satu hal yang pasti. Bertarung denganmu membawa efek berbeda. Sering kali, badanku bergerak lebih lambat. Aku tahu darimana seranganmu akan datang tapi badanku nggak bisa bergerak secepat itu.” Exodiart menggosok punggungnya sekarang. “Kenapa tanya soal itu?”
“Kadang…” Reiyuel terdiam sebentar sebelum melanjutkan. “Badanku bergerak terlalu cepat. Jauh lebih cepat daripada pikiranku.”
Exodiart merengut mendengar pernyataan tersebut. “Tunggu sebentar. Apa kamu bilang kamu takut dengan kemampuanmu? Dengan kecepatanmu? Apa yang kamu takutkan? Aku saja ingin punya reflek sebaik dirimu.”
“Aku nggak seharusnya menyerangmu, ingat? Entah kenapa, tadi badanku bergerak tanpa kuperintah.”
“Bukannya itu semacam pertahanan diri?”
“Kupikir nggak.” Reiyuel melemparkan pandangannya pada para petualang yang sedang berlatih jauh di sana. Dia mengamati latihan mereka sebentar lalu mengalihkannya ke sisi lain tanah kosong tanpa niat menoleh pada Exodiart. “Bagaimana kalau tubuhku bergerak tidak sesuai keinginan saat Guild Showdown?”
“Kamu takut melukai mereka sungguhan?”
“Tidak.” Reiyuel pun berpaling pada ketuanya. “Aku takut membunuh mereka di arena.”
Exodiart spontan menelan ludahnya. Kata membunuh sudah biasa ia dengar ketika berhadapan dengan monster sekalipun, secara pribadi, dia lebih suka kata menghabisi atau membasmi atau mengalahkan. Ketika kata membunuh dipakai untuk manusia, Exodiart bisa merasakan rasa dingin merambati punggungnya.
“Kamu nggak pernah benar-benar memikirkannya, bukan?” Reiyuel mengalihkan tatapannya lagi. “Belum terlambat untuk mengganti namaku, Exo. Ajaklah Raiden dan Mierai ke Guild Showdown. Mereka petarung yang baik.”
“Hei, jangan langsung ke sana.”
“Hei, hei! Tenanglah dulu. Kupikir pasti ada cara untuk melatihnya. Iya, ‘kan?”
“Aku hampir melukaimu barusan.”
“Kita hanya sedang latihan.”
“Tepat. Kamu sudah tahu. Justru karena kita sedang latihan.” Reiyuel menghela napas pendek. “Exo, aku dilatih untuk membunuh. Membunuh orang sungguhan. Tidak seperti para Assassin lain yang memakai nama itu hanya sebagai kelas.”
“Kamu dilatih untuk bertahan hidup.”
“Aku dilatih untuk mengikuti insting. Seperti binatang buas. Kami melihat dunia bagaikan hutan belantara dan orang lain sebagai mangsa.”
“Tapi, kamu bukan binatang. Kamu bisa melatih instingmu untuk tunduk pada pikiran.”
Reiyuel terdiam lagi. Pertama kali mereka bertemu, Reiyuel sudah menunjukkan bagaimana insting pembunuhnya bekerja. Itu tak membuat Lunacrest gentar merekrutnya. Kebodohan atau bukan, dia tak pernah memahaminya. “Maaf. Aku nggak menyangka aku akan...” Reiyuel mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menelan apa pun kata-kata yang hendak keluar. “Maaf, aku memukulmu sungguhan.”
Exodiart berusaha keras menahan tawanya. “Santai saja. Kita sedang berlatih. Kena pukul itu hal biasa.”
Reiyuel tak menganggap itu sebagai sesuatu yang lucu, justru menakutkan. Sebilah pisau masih tergenggam di tangannya. Pada latihan selanjutnya, mungkin ada baiknya dia menanggalkan senjatanya juga seperti Exodiart. “Aku bersumpah, aku nggak berniat menggunakannya. Setidaknya, nggak berniat menggunakannya padamu.” Kalimat terakhir Reiyuel begitu pelan, nyaris tak terdengar, tertelan hembusan angin.
Exodiart paham hal tersebut. “Rei, aku tahu kamu takut. Sebenarnya, menurutku itu bisa jadi keuntungan juga.”
“Bagaimana bisa?”
“Rasa takut membedakanmu dengan mesin pembunuh. Aku yakin itu akan menghentikanmu dari membunuh orang sungguhan di arena.”
“Menurutmu begitu?”
“Ya, tentu saja.”
Reiyuel akhirnya menyunggingkan senyum tipis. “Terima kasih.”
Exodiart berdiri sambil mengulurkan tangan. “Bagaimana kalau kita lanjutkan latihan sebentar sebelum matahari terbenam?”
“Tentu.” Reiyuel menyambut uluran tangan itu. Senyumnya mengembang lebih lebar. “Jadi, sampai di mana kita? Latihan tinju dan tendang?”
“Berlatih untuk Guild Showdown.”
“Berlatih berpikir dulu sebelum menyerang?”
“Ya, termasuk itu. Juga berlatih untuk nggak membunuh satu sama lain.”
Reiyuel pun tergelak. “Hahaha… Tepat!”
Exodiart mengamati Reiyuel menyimpan kembali pisaunya ke dalam salah satu kantong tersembunyi. Dia tak ingin Reiyuel menyadari kekhawatirannya. Di Guild Showdown, kematian sudah pernah terjadi. Kejadian tersebut membuat Guild Master Declan memasang lebih banyak aturan mengenai teknis pertempuran. Bagaimanapun juga, mereka dilatih untuk melawan monster bukan sesamanya. Guild Master Declan juga memberikan hukuman berat bagi para pelanggar.
Apakah membawa Reiyuel dalam Guild Showdown benar-benar akan membahayakan masa depan Lunacrest?