
Exodiart menerima kabar mengenai kedua anggota baru esok paginya. Praxel tak perlu banyak berdiskusi dengannya. Sebagai wakil ketua, dirinya memang dizinkan merekrut anggota baru. Exodiart percaya pada panilaian wakilnya bahkan tanpa perlu menguji Elloys dan Keniaru. Setidaknya Praxel sudah melihat bagaimana sepak terjang keduanya. Amari bahkan sering memanggil Praxel sebagai penasehat guild, lelucon yang mungkin cukup relevan.
Keniaru tiba pukul setengah sembilan pagi. Elloys menyusul beberapa menit kemudian, terlihat sempat mengomel karena Keniaru tidak muncul di taman kota padahal mereka janji datang bersama.
Saat itu, hanya ada Amari, Exodiart, dan Praxel di dalam markas Lunacrest. Elloys menanti Exodiart perintah, pengarahan, nasehat, atau apa pun. Exodiart memang memberitahukan beberapa peraturan Lunacrest, seperti soal absensi dan pembagian imbalan misi guild. Bersama Keniaru, Elloys mendengarkan baik-baik penjelasan sang ketua. Setelahnya, Exodiart pun ngobrol dengan Praxel di sudut sofa kayu yang berbeda dari mereka.
Keniaru dan Elloys bertukar pandang.
“Ini pasti berbeda dari yang kamu harapkan,” bisik Keniaru, bisa membaca pikiran kakak sepupunya tanpa perlu bertanya.
Elloys mendengus pendek.
“Kamu mengharapkan adanya pesta sambutan, kak?” lanjut Keniaru.
Elloys hanya menyenggol bahu Keniaru tanpa menjawab. Dalam hati, dia sendiri paham tidak perlu berharap lebih pada sebuah guild kecil seperti ini. Dia suka pesta. Salah satu alasan kenapa dirinya dan Keniaru ingin bergabung dengan guild besar adalah selebrasi yang sering mereka lakukan, selain dari besarnya imbalan. Guild besar cenderung mendapat misi lebih banyak dan lebih penting berikut imbalan lebih baik.
Kantor Guild Declan mempersilahkan rakyat memilih guild untuk menjalankan misi mereka. Bill, misalnya, memang sudah berulang kali meminta Lunacrest menjalankan misi darinya. Bila rakyat tidak memiliki guild langganan, maka pengurus kantor yang akan menunjuk guild secara acak untuk menjalankan misi. Guild baru sering mengirim anggotanya berjaga di kantor Declan. Mereka berharap bisa segera mendapatkan misi, mengumpulkan poin, lalu segera naik tingkat.
Amari muncul dari bagian belakang markas. Dia membawa nampan berisi teh untuk setiap orang. Setelah memberikan pada sang ketua dan wakilnya, dia menghampiri Elloys dan Keniaru. “Mereka sedang membicarakan Guild Showdown,” kata Amari sambil meletakkan tiga cangkir teh di atas meja. “Kuucapkan selamat datang lagi di Lunacrest. Kalau ada pertanyaan atau butuh sesuatu, kalian bisa bilang padaku.”
Ada banyak cara menaikkan tingkat guild selain mengumpulkan poin dari misi guild. Salah satunya adalah dengan memenangkan Guild Showdown yang diadakan enam bulan sekali. Ini ajang unjuk gigi bagi para guild baru. Sementara lima guild dengan poin tertinggi dilarang ikut. Salah satunya tentu saja adalah Maelstrom.
“Terima kasih untuk tehnya.” Keniaru mulai menikmati tehnya sambil mengamati ruangan dari mata birunya. “Tempat ini luas juga, ya.”
“Kosong, maksudmu?” sahut Elloys. Dia berbalik pada Amari yang juga sedang menikmati teh.
“Di lantai dua ada apa saja?” Keniaru melanjutkan pertanyaan.
“Ada ruang santai juga kamar kosong untuk istirahat. Di belakang ada dapur dan ruang makan. Kalian bisa melihat-lihatnya nanti.” Amari ikut melirik ke lantai dua.
Elloys lebih tertarik mengenai orang-orang di dalam Lunacrest. “Amari, ada berapa anggota di sini?”
“Baru delapan, termasuk kalian. Exodiart, Kelsey, Praxel, Raiden, Mierai, Reiyuel, dan kalian.” Amari tidak menghitung dirinya sendiri. Jarang sekali seseorang menanyakan jumlah keseluruhan anggota termasuk anggota administrasi.
“Di mana yang lain?”
“Raiden biasanya datang bersama Praxel. Mierai mungkin sebentar lagi. Reiyuel? Aku nggak pernah bisa menebak dia muncul jam berapa. Lalu, Kelsey… Aku nggak yakin dia akan datang hari ini.”
“Kenapa? Kukira tiap anggota wajib datang ke markas tiap hari.”
“Ya, seharusnya.” Amari menarik bibirnya ke samping, terlihat enggan melanjutkan. Akhirnya dia pun berbisik, “Aku nggak mau menyebar gosip atau bicara buruk soal anggota. Intinya, Kelsey dulu bersama Exodiart--”
“Oh! Aku bisa menebak kelanjutannya.” Elloys menyahut dengan suara pelan. Sambil mengangguk dan membuat tanda oke dengan jarinya, dia berkata, “Aku paham nggak usah dilanjutkan.”
Amari menyipitkan mata, menyunggingkan senyum. “Aku suka kalau orang bisa menebak tanpa perlu kuceritakan semua.”
“Sungguh? Kita bisa ngobrol kapan-kapan.”
Keniaru hanya bisa mengernyit mendengar percakapan keduanya. Kemudian, dia mengambil pedangnya dan mulai membersihkannya. Banyak para petualang menjadikan membersihkan senjata sebagai hobi bukan kebutuhan.
Elloys akhirnya menyentuh tehnya. Asap panas teh menghilang ketika jarinya menyentuh cangkir. “Lunacrest ini guild level C, kan? Berarti sisa dua tempat kosong, ‘ya? Artinya, aku masih bisa mengajak teman.” Elloys mengusap dagunya.
“Kalau itu, lebih baik, bicarakan dulu dengan Praxel atau Exodiart. Maksudku, kami memang buka terbuka untuk anggota-anggota baru. Kami juga memasang pengumuman rekrutmen di kantor Declan. Tapi, hanya Exodiart dan Praxel yang benar-benar punya kewenangan menerima anggota. Kamu paham maksudku, kan?”
“Iya, aku tahu. Nggak sembarang orang bisa dijadikan anggota. Kalau seorang anggota berulah, nama guild ikut rusak. Tapi, temanku ini baik, kok. Ken menyewa kamar sebelahan dengannya.”
Mendengar namanya disebut, Keniaru ikut bicara. “Oh, maksudmu Harufuji?”
Elloys menangguk. “Dia juga kuat. Setahuku Haru sudah beberapa kali masuk sepuluh besar Paladin’s Race.”
“Seorang paladin? Dia seharusnya kenal Exodiart. Exodiart juga nggak pernah absen ikut Paladin’s Race, bahkan sebelum membuat Lunacrest.”
Berbeda dengan Guild Showdown, Paladin’s Race merupakan ajang unjuk gigi perorangan. Acara ini diperuntukkan bagi para Paladin beserta kelas lanjutannya, Crusader dan Guardian. Selain Paladin’s Race, ada pula event perorangan untuk kelas lainnya. Salah satu yang populer selain Paladin’s Race adalah lomba menembak bagi para Hunter, Bull’s Eye. Ngomong-ngomong soal Hunter, Mierai baru saja masuk ke dalam markas. Dia satu-satunya Hunter di Lunacrest.
Melihat kehadiran Mierai, Amari berdiri lalu langsung mengenalkan Elloys dan Keniaru sebagai anggota baru guild. Mierai punya wajah tirus dan rambut emas pucat sebahu yang dibiarkan terurai. Tingginya sedikit lebih pendek dari Elloys, tapi karena badannya kurus, Mierai nampak lebih mungil. Di bawah mata kirinya ada hiasan tiga bintang mungil berbeda ukuran, dua di ujung berwarna perak sementara satu di tengah berwarna kuning emas. Bukan tato, melainkan semacam tempelan.
“Aku yakin pernah bertemu denganmu. Kamu Hunter manis yang pernah membantuku melawan monster di padang gurun, ‘kan?” Elloys tersenyum lebar sambil memegang kedua tangan Mierai. “Waktu itu, terima kasih, ya. Aku nggak menyangka kamu mau membantu padahal kita nggak kenal sama sekali. Kukira aku bakal mati. Melawan pasukan kadal gurun seorang diri memang benar-benar bodoh.”
Mierai hanya mengamati wajah Elloys melalui mata besarnya.
Elloys pun melanjutkan. “Apa rencanamu hari ini? Bagaimana kalau kutraktir makan siang? Waktu itu kamu langsung pergi. Aku bahkan belum tahu namamu.”
“Hmmm… Kukira kamu salah orang, Elloys.” Mierai tertawa kecil. “Aku yakin kamu salah mengenali kakak atau adik perempuanku.”
“Eh?” Elloys pun melepaskan pegangan tangannya.
“Jangan khawatir, akan kusampaikan pada mereka nanti.” Mierai masih tertawa geli. “Kami tiga bersaudara, semua perempuan, mengambil kelas dasar Hunter. Karena cuma berbeda setahunan, orang-orang sering mengira kami kembar tiga.”
Elloys bisa merasakan wajahnya memerah meski tak melihat. “Be-- Begitu ya.”
“Kalau kamu berpikir saudaraku baik… Sepertinya kita akan cocok.” Mierai mengedipkan salah satu matanya.
Elloys tak bisa menahan senyum lebar di bibirnya. “Apa mereka juga anggota Lunacrest?”
“Nggak. Kami bergabung dengan guild berbeda-beda.”
“Kenapa?”
Mierai tertawa kecil sambil menutupi mulut dengan tangannya. “Hihihi… Supaya kami punya topik untuk dibicarakan di meja makan.”