
Raiden menoleh padanya.
Elloys masih tertegun.
Raiden pun mengembalikan tatapannya ke depan.
“Raiden!” panggil Elloys lagi sambil melangkah masuk ke ruangan Praxel. “Kamu kembali! Darimana saja kamu?” tanya Elloys sambil melirik kombinasi luka lecet dan luka gores tipis di tangan Raiden. “Apa kamu melakukan latihan intensif sendirian?”
“Itu enggak ada hubungannya denganmu, ‘kan?” Pertanyaan balik Raiden membuat Elloys bungkam. “Biar aku yang menjaga Praxel, kamu pulang saja,” tambahnya.
“Hei, aku cuma tanya,” sahut Elloys. “Semua orang mengkhawatirkanmu.”
Raiden menoleh lagi, kemudian berdiri. Sosoknya tak membuat Elloys terintimidasi. Raiden tahu, jadi dia melanjutkan. “Sekarang aku sudah pulang. Enggak perlu khawatir soal apa pun. Aku yang akan menjaga Praxel. Kamu bisa pulang.”
“Tunggu, apa kamu mengusirku?”
“Sudah, pulang sana!” Raiden kembali duduk di kursinya.
Elloys merasakan wajahnya memanas. “Ada apa denganmu? Keniaru dan aku berbaik hati melindungimu waktu melawan orc. Sekarang aku di sini untuk menjaga kakakmu. Kenapa kamu bersikap begitu padaku? Memang apa salahku?”
Raiden hanya mendesah tanpa berani menoleh lagi.
“Kamu tahu aku benar!” sahut Elloys. “Oke, mungkin aku berisik dan cerewet, lalu kamu merasa terganggu. Tapi, itu bukan alasan untuk mengusirku!”
Raiden bergeming, tangannya diam-diam mengepal erat.
Elloys tersadar kalau baru saja berteriak dalam ruangan di mana Praxel sedang istirahat. Matanya basah karena kesal juga sedih, entah mana yang lebih dominan. Bibirnya bergetar. “Maaf… Aku…” Ucapan Elloys berhenti. Tangannya mengusap air sebelum jatuh ke pipi. “Mungkin aku lelah. Aku akan pulang.”
Elloys melesat keluar. Saat itulah Raiden menoleh, mengamati bagaimana sosok Elloys lenyap dalam kegelapan. Tak lama setelahnya, terdengar suara pintu markas. Lalu, keheningan kembali melanda.
“Kenapa kamu suruh dia pulang?” Praxel bertanya pelan.
“Kenapa menurutmu?”
“Apa yang membuatmu kesal?” Praxel bertanya lagi, sambil mengernyitkan dahi.
“Itu gara-gara kamu!” Raiden menjawab dengan penekanan pada setiap katanya.
“Apa maksudmu?”
Raiden teringat jelas apa yang terjadi pagi itu. Vesa menemukannya di hutan menuju Korumbie. Dia hendak pulang setelah melakukan perjalanan. Pikirannya memikirkan bagaimana berterima kasih pada Keniaru dan Elloys juga permohonan maaf pada kakaknya dan Exodiart. Surat yang dibawa Vesa membuatnya makin bergegas kembali ke Korumbie. Surat itu ditulis Amari untuknya, mengabarkan kondisi Praxel. Dia pun mengganti tujuan utamanya ke markas bukan rumah.
Hujan gerimis sedang mengguyur ketika Raiden tiba di markas. Amari menyambutnya, mengajaknya ke lantai dua. Dia melihat Elloys sedang tertidur di meja di depan markas.
“Mereka baru selesai menjalankan tugas pagi ini. Mereka butuh tidur, tapi Elloys malah ke sini,” bisik Amari. “Lebih baik jangan bangunkan dia. Biarkan saja dulu,” ujar Amari lagi sambil membukakan pintu kamar untuk Raiden.
Kakaknya sedang tidur juga di dalam kamar. Hidung Raiden bisa mencium bau rempah dan obat memenuhi kamar tersebut. Dia juga menyadari adanya makanan di atas meja. Raiden meletakkan barang-barangnya di lantai sepelan mungkin, tak mau sampai membangunkan siapa pun.
Amari berbisik lagi, “Elloys membawakan kakakmu makanan. Kurasa makanan itu akan keburu dingin sebelum dia bangun.”
“Dia… berisik, tapi lebih perhatian daripada kelihatannya.” Raiden sadar kalau dirinya terseyum saat membicarakan Elloys.
“Apa ini soal bagaimana dia pasang badan untuk melindungimu.” Amari terkekeh.
Tak mau salah tingkah, Raiden langsung menggeleng. “Keniaru yang pasang badan buatku bukan Pyromancer cerewet itu! Dia hanya… hanya membantu sedikit.”
“Begitu, ya?” Amari malah cekikikan. Dia pun menuju pintu kamar. “Baik, kutinggalkan kalian di sini. Panggil aku kalau butuh sesuatu.”
“Terima kasih, Amari.”
Amari menutup pintu, meninggalkan Raiden tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Raiden hanya mampu tersenyum.
“Pikiranmu sudah lebih tenang?” tanya Praxel lagi.
Raiden mengangguk. “Maaf, kak. Aku… Aku seharusnya enggak langsung pergi seperti itu. Maaf membuatmu cemas.”
“Kamu sudah pulang, itu yang penting.” Praxel ikut tersenyum.
Raiden bisa merasakan kelegaan membanjiri dirinya meski tak melenyapkan semua keresahan secara sempurna. “Kamu enggak tanya ke mana aku pergi?”
“Mungkin nanti. Kamu kelihatan berantakan.”
Keduanya spontan tertawa karena ini. Jawaban lembut Praxel berhasil lagi membuatnya tenang. “Jadi, mau makan sesuatu?” tanya Raiden sambil melirik makanan di atas meja. “Elloys sepertinya membuatkan sesuatu untukmu.” Raiden membuka tutup mangkuk. Asap tipis mengepul dari bubur tersebut. “Baunya enak dan masih hangat. Mengejutkan.”
“Aku tahu. Aku dengar saat dia datang.”
“Kukira kamu belum bangun saat dia datang.” Raiden mengembalikan tutup mangkuk.
“Sebenarnya sudah. Aku hanya... malas ngobrol dengannya.”
“Kenapa? Karena dia ramai? Kupikir itu membuatnya cukup lucu.”
“Hmm…” Praxel hanya bergumam.
“Enggak mau coba buburnya?”
“Tidak, deh. Perutku rasanya tidak karuan.”
“Tapi, kupikir kamu perlu makan sesuatu.”
“Mungkin nanti.” Praxel kembali pada jawabannya tadi.
Raiden membuka mulutnya hendak bicara lagi, namun batal karena pintu kembali diketuk. Setelah mendapat jawaban, Kelsey masuk ke kamar kali ini. Dia membawa kantung kertas yang ternyata juga berisi makanan. Kelsey tak sedikit pun terkejut dengan keberadaan Raiden. Amari pasti telah cerita mengenai dirinya.
Kelsey mengeluarkan kotak-kotak makanan dari salah satu kedai yang sering mereka kunjungi. Praxel perlahan bangun dari ranjang. Dia akhirnya makan berdua dengan Kelsey. Raiden menolak sekalipun Kelsey sudah mengajak. Dirinya malah keluar, duduk di seberang Elloys yang sedang tidur.
Selesai makan, Kelsey pulang agar Praxel bisa istirahat kembali. Praxel kelihatan senang. Raiden tidak.
Sulit dijelaskan, tapi kejadian siang tadi membuat Raiden kesal. Dia menyimpan semua dalam hatinya tanpa bisa membicarakannya dengan Praxel. Beberapa jam setelahnya, Elloys terbangun. Raiden malah berakhir mengusirnya. Sedikit demi sedikit, Raiden bisa memahami kenapa dia kesal.
“Kenapa kamu melakukannya?” tanya Raiden pada kakaknya.
“Melakukan apa?”
“Kenapa kamu malah makan bersama Kelsey? Bukannya tadi kamu bilang kalau perutmu enggak enak? Kamu enggak sadar kalau Elloys susah-susah membuatkan makanan? Bilang saja kalau kamu memilih Kelsey daripada Elloys.”
Praxel malah melongo mendengarkan semua ucapan Raiden.
“Kamu enggak sadar kalau Elloys… memperhatikanmu!?”
Praxel mendesah panjang. “Kalau kamu sudah paham itu, sekarang jadi lebih mudah.”
“Apa maksudmu?” Gantian Raiden tak paham ucapan kakaknya.
“Kamu sudah tahu aku punya perasaan pada Kelsey. Jadi, wajar kalau aku makan bersamanya. Aku sendiri paham soal Elloys. Justru itu yang membuatku tidak mau makan buatannya.”
“Kamu akan membuatnya kecewa.”
“Kupikir itu lebih baik. Aku tidak mau dia berharap.” Praxel melihat bagaimana raut kekesalan di wajah adiknya berangsur lenyap digantikan tatapan sedih. “Sekarang, giliranku bertanya. Kenapa kamu kesal soal ini, Raiden? Kamu tertarik pada Elloys?”