Lunacrest

Lunacrest
Chapter 13



Raiden berdiri di atas tanah, gemetar.


Pertempuran telah berakhir. Para monster, baik besar maupun kecil tak lagi nampak. Tubuh mereka tak ubahnya seperti bebatuan berserakan di tanah. Tidak ada darah merah terpercik, hanya peluh dan napas terengah. Mereka menang.


Raiden membawa tangannya ke depan wajah. Masih gemetar. Sudah puluhan misi dia jalani dan ratusan bahkan latihan dia selesaikan. Dia tak pernah merasakan sensasi ini sebelumnya. Sesuatu yang tak bisa dia jelaskan. Dalam pertarungan, pikirannya hampir selalu dipenuhi kekhawatiran. Hal yang selalu dia anggap baik. Rasa khawatir dan takut membuatnya berhati-hati hingga tetap hidup sampai saat ini.


Kali ini berbeda. Raiden tak paham ke mana semua rasa khawatir dan rasa takutnya. Ini pertama kalinya dia bisa menikmati pertempuran.


“Hei!” Suara ramah beserta tepukan di bahu membuat lamunannya buyar.


“Wuaaa!” Raiden spontan berteriak. Di sampingnya, Keniaru spontan menarik tangannya dari bahu Raiden.


“Kamu nggak apa-apa?” Keniaru berkedip sambil mengamati wajahnya. Matanya lalu menelusuri kepala hingga kaki si Vanguard. “Kulihat kamu nggak terluka.”


“Ng-- Nggak! Nggak terluka. Sama sekali.” sahut Raiden cepat sembari menarik tangannya ke samping tubuh. “Aku hanya…” Raiden butuh beberapa detik untuk mencari kata-kata. “Hanya… sedikit lelah. Mungkin,” lanjutnya.


Keniaru tertawa dibuatnya. “Syukurlah. Kupikir kamu terluka atau apa.”


Elloys menggunakan sihir, muncul tanpa peringatan di dekat keduanya. “Tadi itu benar-benar seru! Kapan-kapan kita harus melakukannya lagi!” Elloys berseru girang sambil menepuk bahu keduanya. Belum sempat mendapat respon, dirinya telah menghilang lagi untuk muncul di samping Praxel.


Keniaru kembali menatap Raiden. “Kita bisa jadi tim yang hebat!” Dia mengulurkan kepalan tangan lagi.


Raiden tak menjawab, dia hanya menyunggingkan senyum sembari meninju pelan kepalan tangan Keniaru. Mungkin iya, mungkin tidak. Menurut Raiden, terlalu cepat mengambil kesimpulan demikian hanya dari satu kali kesempatan bertarung bersama.


Elloys muncul lagi tanpa aba-aba di samping Keniaru. “Hei! Ayo kembali ke kota! Saatnya melapor dan mengumpulkan upah! Hihihi… Semakin cepat kita kembali, semakin cepat kita bisa tidur. Aku ngantuk.” Elloys mengakhiri ucapannya sambil menguap, satu tangan meregang, satu tangan menutupi mulutnya.


Keniaru mengangguk. Kali ini, Elloys berjalan, tak lagi menggunakan sihirnya. Dia berjalan berdampingan keluar dari reruntuhan.


Giliran Praxel mendekati Raiden.


Raiden melipat tangannya ke depan dada. “Lama-lama aku bisa sakit jantung kalau dia terus menerus melakukan sihir seperti itu!” protes Raiden. Meski begitu, suaranya pelan, takut terdengar Elloys.


“Oh, sihir teleport Mage? Menurutku itu praktis, lho.”


“Nggak, ah.”


“Ngomong-ngomong, Rai, apa kamu berpikir hal yang sama denganku?” bisik Praxel.


“Ya. Semua sensasi itu... Aku bingung. Aku merasa jahat karena menikmati pertarungan ini. Rasanya… Rasanya aku yang jadi monsternya...” Raiden terdiam. Praxel melongo dibuatnya. Merasa salah bicara, Raiden buru-buru mengalihkan tatapannya. “Bu-- Bukan itu, ya? Lupakan saja yang kubilang tadi!”


“Eh? Aku nggak melakukan banyak di pertempuran terakhir, sih. Tapi, kalian memang terlihat keren. Maksudku, kehancuran di sana sini. Tebasan berterbangan, lidah-lidah api, pusaran angin.” Praxel mengedikkan bahu lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling di mana para Gargoyle telah hancur lebur. “Kamu memang kelihatan menikmatinya.”


Raiden membuang tatapannya, tak yakin bagaimana harus merespon. Malu dengan sedikit rasa senang dan bangga.


“Sebenarnya aku memikirkan soal mereka. Elloys dan Keniaru.”


“Mereka kuat. Menurutku, tanpa kita pun, mereka bisa menyelesaikan misi ini berdua.”


“Mau bagaimana lagi. Kantor misi memberikan jumlah minimum untuk misi ini, ‘kan.” Raiden melirik pada keduanya. Elloys dan Keniaru sudah berjalan cukup jauh meninggalkan reruntuhan. Mereka nampak kecil sekarang. “Tunggu sebentar. Kak, kamu nggak berpikir…”


“Ya. Kalau mereka belum masuk guild mana pun, kenapa nggak? Kupikir mereka akan jadi tambahan ideal di Lunacrest.”


Raiden jelas tidak akan protes mengenai pendapat Praxel soal kekuatan Elloys dan Keniaru. Mereka bertarung melawan banyak monster dengan sangat baik. Serangan mereka kuat. Keduanya terlihat sudah berpengalaman. Praxel juga benar mengenai keduanya akan jadi tambahan ideal di Lunacrest. Exodiart sendiri pasti senang dengan kedatangan anggota baru. Mereka sudah lama membuka rekrutmen. Masalahnya… Raiden tidak bisa menentukan apakah dia akan cocok dengan keduanya atau tidak.


 


 


Mereka tiba di kota setelah lewat tengah malam. Suasana Korumbie tidak lagi ramai seperti di siang hari. Cahaya remang dari lampu jalan seolah enggan bersinar. Jalanan berbatu nampak kelam. Begitu pula dengan kantor misi. Kaca buram jendela memang masih memancarkan cahaya. Tapi, sinarnya tak cerah. Elloys bergegas mengurus segala pelaporan misi ini. Mereka akan mendapat imbalan misi siang hari esok.


Ketika mereka berada di luar kantor untuk berpamitan, Praxel akhirnya bertanya soal guild tanpa basa-basi, langsung saja. “Dari tadi aku penasaran. Apa kalian sudah bergabung dengan guild?”


Elloys menggeleng. “Belum. Kami ingin masuk satu yang terbaik. Tapi, kami belum benar-benar mendaftar. Antreannya membuat gila. Bagaimana denganmu?”


“Aku bergabung dengan guild Lunacrest. Kalau kamu berminat, kamu bisa bergabung dengan kami. Masih ada beberapa slot kosong.” Praxel memberikan senyum, berharap Elloys tak berpikir macam-macam di balik senyumnya.


Sebelum Elloys menjawab, Keniaru malah menghela napas pendek. “Wah, sayang sekali. Sebenarnya tadi kami--”


DUK!


“Ow!” Ucapan Keniaru terpotong dengan aduhan.


Raiden melihat jelas bagaimana Elloys memukul kepala Keniaru dengan tongkat. Gerakannya mungkin cepat, secepat sihir teleport, tapi Raiden bisa menangkap gerakan mencurigakan seperti itu. Praxel seharusnya juga melihat kejadian tersebut. Jelas sekali kalau Elloys berusaha membuat Keniaru diam.


Elloys balas tersenyum. “Itu terdengar sangat menarik. Lunacrest, apa itu guild baru?”


“Iya. Bisa dibilang begitu. Belum sampai setahun, sih.” Praxel melirik Raiden. “Raiden dan aku salah satu anggota pertamanya.”


“Wakil ketua,” sahut Raiden. Matanya menatap Elloys lekat-lekat. Dirinya separuh hanya ingin memberi informasi, separuh ingin melihat bagaimana reaksi Elloys. “Praxel adalah wakil ketua guild Lunacrest.”


“Wow! Keniaru dan aku sangat tersanjung mendapat tawaran dari orang penting sepertimu, Praxel.”


Sejak awal, Raiden merasa Elloys berbeda sikap di depan kakaknya. Firasatnya makin menguat dari reaksi Elloys barusan. Kadang ucapannya seperti dibuat-buat. Raiden tak tahu bagaimana wajahnya saat itu. Pastinya bukan wajah yang kelihatan ramah pada mereka berdua. Sampai-sampai Keniaru lagi-lagi memperhatikannya.


Merasa dipandangi, Raiden pun menoleh. “Kenapa?”


“Nggak. Kurasa kamu cuma sedang lelah. Hahaha…” Keniaru terlihat santai menanggapi Raiden. Keniaru melirik Elloys sebentar lalu kembali pada Raiden. Sambil meregangkan tangan, dia pun mulai beranjak. “Baiklah, kupikir kami akan bergabung dengan kalian. Jadi, sampai ketemu besok pagi?”


Raiden melirik ke arah menara jam tak jauh dari kantor misi. “Ya, sampai jumpa beberapa jam lagi.”