
Hari telah berganti. Matahari bersinar cerah namun hawa panasnya tak terasa menyengat. Sebaliknya, pagi itu justru terasa lebih dingin. Raiden sedang berjalan di atas jalanan batu menanjak. Banyak deretan rumah di sisi kanan di kirinya. Kebanyakan berukuran kecil, hanya ada satu yang cukup besar. Itu pun bukan rumah melainkan sebuah toko yang sedang bersiap-siap untuk buka.
Raiden menguap lebar. Tangan kanannya tak sempat menutup mulut karena membawa buntelan plastik besar. Dia berhenti di sebuah bangungan rumah mungil tinggi berdinding kayu. Penampilannya tak beda jauh dengan penampilan rumah-rumah di sekitarnya. Raiden berhenti sebentar, memeriksa ulang nomor yang ada di dekat pintu. Dia tidak mau sampai salah membangunkan orang pagi-pagi. Raiden berdehem, mengusir rasa tak nyaman di tenggorokkan. Kemudian, tangan kirinya memberikan gedoran dua kali di pintu. Dia menanti sebentar sebelum memberikan sepasang gedoran lain. Lalu, lagi.
Kali ini, terdengar suara samar dari dalam. Raiden mundur selangkah agar tak membuat penghuninya terkejut saat pintu dibuka. Kenyatannya, dia sendiri yang terkejut karena pintu terbuka jauh lebih cepat dari dugaannya. Dia lupa kalau sedang berhadapan dengan seorang Pyromancer yang hobi teleport.
Wajah Elloys muncul dari balik pintu. Rambut ungunya cukup berantakan, matanya merah dengan kantung merah. “Raiden—”
“Nih!” Raiden menyodorkan kantung plastiknya sebelum Elloys selesai menyapa.
“Apa ini?”
“Ikan.”
“Ikan?” Elloys mengulang ucapan Raiden.
“Ikan mentah—”
“Ikan mentah?” Elloys mengulang ucapan Raiden lagi sambil menelengkan kepala.
“Maksudku, ikan segar,” sahut Raiden.
“Ikan segar?”
“Be— Begini, kulihat kemarin kamu enggak dapat ikan. Jadi, aku membawakanmu.” Raiden ingin mendorong ikan itu pada Elloys lalu kabur, namun dia merasa itu tak sopan. Sekarang dia malah merasa begitu canggung.
Elloys terdiam. Matanya beralih dari bungkusan plastik pada Raiden beberapa kali. “Kamu memancing?”
“Iya.”
“Wow, terima kasih.”
Raiden merasa begitu lega ketika akhirnya bungkusan tersebut berpindah tangan. Dirinya berbalik, buru-buru pergi. Belum melangkah, dia mendengar suara pintu bergerak dan Elloys sudah memanggilnya lagi.
“Hei, tunggu! Kamu mau ke mana? Ada misi pagi?”
“Enggak.”
“Soalnya kamu pakai baju lengkap begitu, pakai bawa-bawa kapak segala.”
“Iya, ini…” Raiden tak ingin menjawab, dibiarkannya kalimat itu menggantung.
“Kamu biasa makan pagi, enggak? Yuk, sarapan bareng.”
“Hah?”
“Aku enggak bisa menghabiskan ini sendirian, kan?” Elloys menangkat bungkusan ikan tersebut. “Yuk…” Elloys menjauh dari pintu yang sudah terbuka lebar untuk Raiden. “Rumahku rapi, lho.”
Raiden yakin itu pertama kalinya dengar seseorang seribut Elloys menyombongkan rumahnya. Sedikit tak percaya, Raiden melihat rumah mungil yang memang rapi sesuai ucapan Elloys. Interiornya didominasi dengan perabotan kayu. Warnanya lebih terang daripada warna lantai dan dinding. Ada meja besar tinggi di tengah ruangan dan dapur di ujung sana. Sementara itu ada tangga ke lantai dua yang sepertinya digunakan untuk tempat tidur.
Elloys tak perlu menawari Raiden apa pun. Dia langsung saja menyodorkan wadah kayu bundar berisi kukis bulat kuning keemasan di atas meja. “Duduk di mana saja sesukamu.”
Selagi Elloys mulai mengutak-atik ikan besar, dia menghabiskan waktunya mengawasi sekeliling.
Raiden baru sadar kalau di ruangan itu bukan hanya ada kursi-kursi tinggi mengitari meja, ada juga kursi kayu panjang dekat tangga, peti kayu besar dengan permukaan datar, juga bangku-bangku kecil yang diselipkan di bawah meja. Semuanya tidak nampak berantakan. Sebaliknya, semua benda tertata rapi cenderung tersembunyi.
Tangga yang semula dia kira tangga belaka ternyata menyembunyikan laci pada setiap anak tangganya. Lacinya sendiri beraneka ukuran, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang melebar, ada yang juga tinggi. Mereka tak memiliki kenop, tapi ada tipis untuk menariknya keluar.
Raiden beralih pada Elloys. Gadis itu menguap, masih dalam balutan gaun tidur tanpa lengan lembayung muda. Elloys telah mengikat rambutnya jadi cepol agar tak mengganggu proses memasak. Dia mengambil tongkat sihirnya lalu menyalakan api pada kayu di bawah tungku.
“Jadi, kamu bisa sihir tanpa perlu menggunakan tongkat?” tanya Raiden.
“Aku melihatmu teleport tanpa tongkat kemarin.”
“Kemarin?” Elloys menghentikan apa pun yang sedang dia kerjakan untuk berpaling pada Raiden. Bibirnya sudah terbuka untuk bertanya namun dia mengatupkannya lagi, seolah tersadar kapan dan di mana dia menggunakan teleport kemarin.
“Atau, barusan?” sahut Raiden. Dia cukup yakin Elloys menggunakan teleport untuk membukakannya pintu. “Kupikir Mage harus menggunakan tongkat untuk merapal sihir. Seingatku Kelsey pernah bilang begitu.” Raiden sengaja menyebut nama ‘Kelsey’. Sesuai dugaannya, raut Elloys berubah meski tak bisa dijelaskan.
Elloys berpaling kembali pada ikannya. “Ya, aku memang bisa memakai teleport tanpa tongkat. Aku juga enggak tahu bagaimana aku melakukannya. Kupikir… aku spesial!” ujarnya asal.
“Ya.”
Elloys berhenti lagi, menoleh pada Raiden akibat responnya.
Raiden sendiri merasa canggung akibat spontanitasnya. Sambil mengalihkan wajah, dia mengganti topik. “Ngomong-ngomong, kamu tinggal sendirian?”
“Iya. Keluargaku tinggal di kota kecil dekat pesisir Barat.” Elloys menyabet tongkat, menodongkannya pada Raiden. “Tapi, jangan sekali-kali berpikir mau macam-macam denganku. Aku bisa membakarmu hidup-hidup.” Ancaman Elloys ini membuat Raiden menahan napas. Elloys pun tertawa dibuatnya. “Hahaha… Aku hanya bercanda. Aku hanya membakar ikan atau ayam atau daging…”
“Atau monster?”
“Atau monster.” Elloys malah cekikikan. “Jadi, kamu mau ke mana sepagi ini?”
“Kantor Warrior.”
“Jangan bilang kalau kamu mau mengambil ujian jadi Destroyer.”
“Memang kenapa?”
“Kamu enggak mau mempertimbangkan jadi Berserker?” Elloys menoleh sebentar, menunggu reaksi Raiden. Raiden malah mengalihkan tatapannya. “Aku memang enggak seharusnya komentar, cuma kupikir jadi Berserker akan lebih cocok untukmu. Juga lebih menyenangkan Mereka punya teknik-teknik keren.”
“Kenapa aku cocok jadi Berserker?”
“Kalau kulihat, kamu bukan ingin mengobrak-abrik kumpulan monster, tapi menghabisi mereka semua. Hihihi…”
Raiden tak yakin kalau dia sendiri menyadari hal tersebut. Namun, Elloys benar soal menggunakan kapak lebih menyenangkan buatnya. Sekalipun bobotnya beda tipis, Raiden merasa lebih leluasa menggunakan tekniknya dengan kapak. Terasa lebih bebas. Dia harus mengakui kalau senang soal itu.
“Kenapa?” Elloys bertanya lagi. Gadis itu menatap Raiden yang senyum-senyum sendiri.
“Hari ini aku akan resmi jadi Berserker.”
“Hah?” Elloys menggunakan teleport, berpindah langsung ke depan Raiden. Lebih tepatnya, di seberang meja tempat Raiden duduk. “Kamu sudah ambil ujian jadi Berserker? Sudah lulus? Serius? Kamu bercanda atau sungguhan, sih?”
“Serius. Aku sudah selesai ujian, kok.”
“Astaga! Kita harus merayakan ini!” Elloys meninju udara. “Exodiart seharusnya membuat pesta untuk—” Elloys berhenti. “Ups, jadi pesta kemarin juga untuk merayakan kelulusanmu jadi Berserker?”
“Belum ada yang tahu.”
“Apa maksudmu?”
“Aku enggak bilang siapa pun soal itu. Maksudku, aku bahkan enggak memberi tahu kakakku soal ini. Kamu tahu, aku sempat pergi setelah…” Raiden menghela napas pendek, tak ingin mengenang kejadian saat dirinya membeku. “Waktu itu, aku banyak berpikir. Lalu… Aku pulang ke Korumbie. Mengambil test. Lalu… Ya, begitulah.”
“Ada apa denganmu dan Praxel? Kalian bertengkar?”
Raiden mengalihkan wajahnya dari tatapan Elloys. “Anggap saja begitu.”
Elloys teleport ke sisi lain yang ditatap Raiden agar bisa melihat wajahnya. “Kalau begitu, biar kutemani ke kantor Warrior. Lebih seru kalau pergi berdua.”
“Hah? E— Enggak usah repot-repot.”
“Sama sekali enggak. Aku pernah ke sana sekali saat kenaikan kelas Keniaru ke Blade Master. Sekarang, biarkan aku menemanimu.”