Lunacrest

Lunacrest
Chapter 44



Raiden teringat bagaimana ketika dia ujian untuk kenaikan dari dasar Warrior. Ujiannya memang tidak sesulit ini. Ketika itu, mereka bergerak berkelompok untuk menghancurkan sebuah perkemahan orc. Mereka sendiri merupakan campuran dari petualang yang hendak beralih ke kelas Swordsman atau Vanguard. Saat itu, mereka kembali dengan keberhasilan total. Semuanya terasa mudah, baik untuk si penguji maupun orang yang diuji.


Kali ini, Raiden merasa ujiannya terasa berat. Meski begitu, dia merasa tekanannya dan kekhawatirannya sebesar biasanya. Mungkin salah satu alasannya karena tak seorang pun mengetahui kalau dia tengah mengambil ujian tersebut. Tidak kakaknya, tidak Exodiart, tidak seorang pun di guild tahu mengenai hal ini.


Dia tidak berniat menyembunyikannya. Dia bahkan sudah siap menceritakan apa-apa saja yang dia lakukan saat meninggalkan Korumbie hingga keinginannya mengambil ujian saat ini. Semua berubah gara-gara Elloys. Hal-hal jadi sering terjadi di luar ruangan saat gadis itu berada dekat.


Raiden mendengus geli, melupakan sejenak segala pikirannya yang menerawang. Dia bisa memikirkan ulang semuanya nanti setelah menghabisi makhluk berbisa satu ini.


Si kalajengking bergerak menyerang ke posisi yang salah. Raiden tidak ada di sana, melainkan di belakang agak jauh, sedang menyiapkan serangan balasan. Kalau serangannya tepat, seharusnya Raiden bisa menjatuhkan monster itu dalam sekali serang. Tebas ekornya, serang kepalanya. Baik, mungkin tidak semudah itu. Rasanya sedikit sulit bisa mendekati si monster tanpa ketahuan. Saat Raiden berlari, dia akan cenderung membuat suara berisik. Kalajengking itu akan menyerangnya dulu sebelum dirinya sempat menyerang.


Raiden menggelengkan kepala. Fokus, pintanya pada diri sendiri. Waktunya tak banyak sampai si monster mendapatkan seluruh tubuhnya teregenerasi sempurna.


Kakinya berlari di atas bebatuan tak rata. Mereka tak mampu memperlambat Raiden apalagi membatalkan niatnya menyerang. Dirinya menjejakkan kaki, melompat tinggi ke udara. Posisinya dekat dengan ekor. Serangan berbahaya namun layak dicoba. Si kalajengking berputar di saat yang kurang tepat. Raiden telah menebaskan kapaknya. Sayang sekali, dia harus puas dengan goresan besar di ekor gemuk tersebut.


Raiden mendarat di tanah, berlari menghindar sebelum lawan menyerang balik. Dirinya mencari celah lagi. Kali ini tak lama. Cukup berada di belakangnya saja. Raiden menyerang sisi lain ekor. Si kalajengking mengerang. Kemudian, dia mengulurkan capitnya, berusaha melukai pengganggu. Raiden bisa menghindarinya dengan mudah namun hampir membuat dirinya sendiri terkena serangan ekor beracun.


Dia berguling menghindar. Si monster menurunkan ekornya lagi. Ini kesempatannya!


Raiden memutarkan kapaknya secepat mungkin. Terciptalah tornado dengan dirinya sebagai pusat. Kalau berhasil, dia akan mendapatkan ekor lawan. Kalau gagal, dia akan bergabung bersama para mumi itu. Kecemasan Raiden masih di sana. Namun, entah bagaimana, kecemasan itu tersembunyi dalam sensasi yang tak dia kenali sebelumnya. Instingnya mengambil alih. Dia akan bohong kalau bilang tak menikmati pertempuran itu.


Matanya menangkap kelebat kelabu dari tornado ciptaannya. Pandangannya terus berputar. Dia melihat bayangan ekor. Setelahnya, ada cairan merah coklat kental membasahi dirinya. Kejadian itu disusul oleh raungan keras dan dentum kencang. Raiden berhenti berputar setelah memotong ekor lawan tapi tidak berhenti menyerang. Dia menyadari kalau tubuhnya sudah berada di udara lagi dengan kapak terayun ke bawah.


Kapaknya memotong capit lain si monster. Erangan membahana lagi. Si kalajengking membuka mulut menyemburkan liur asamnya. Raiden sudah lenyap dari posisinya berdiri tadi. Dia lagi-lagi berada di udara, bersiap memberikan serangan penghabisan. Dentum keras lain terjadi ketika Raiden menjatuhkan dirinya ke atas lawan. Monster di bawahnya tak lagi bergerak oleh kapak besar yang tertancap menembus cangkang kerasnya.


Wajah Elloys terlintas begitu pertanyaan tersebut muncul dalam benaknya. Elloys adalah salah satu orang yang paling menikmati pertempuran yang pernah dia temui. Melihat Elloys bertempur, menarik sisi lain yang selama ini tenggelam dalam hatinya. Raiden tahu kalau ketakutan dan kecemasannya masih ada di sana. Mereka kini bersembunyi di balik hal lain. Kesenangan? Kegembiraan? Haus darah? Raiden tak bisa menentukan mana yang benar.


“Aaaaaaah!” Raiden meraung dalam keheningan pegunungan.


Napasnya masih terengah-engah. Saat itu, dia berhenti. Berhenti berpikir, berhenti berontak. Dia memberikan dirinya sendiri untuk beristirahat. Tidak ada salahnya berisirahat di atas monster besar. Toh tubuhnya juga sudah ternodai darah si monster. Matanya terpejam mencari ketenangan. Seiring dengan datangnya kedamaian, matahari pun mulai bergerak turun.


Raiden meninggalkan tempat tersebut sebelum matahari benar-benar tenggelam. Di perjalanannya kembali ke ibu kota, Raiden menyempatkan diri berhenti sebentar di sungai. Dia membasuh dirinya yang kotor oleh tanah, debu, keringat, juga darah monster yang terasa lengket seperti lendiri. Dia juga mengganti pakaiannya. Para prajurit penjaga gerbang ibu kota sudah terbiasa melihat petualang kembali dalam kondisi bersimbah darah. Bukan hal baru bagi mereka. Lain ceritanya bagi para penduduk kota. Bagi mereka, para petualang bagaikan tontonan. Kalau tidak, acara semacam Guild Showdown tidak akan ada.


Ketika acara tersebut datang ke benaknya, Raiden penasaran siapa yang akan diturunkan Exodiart dalam acara bergengsi tersebut. Kalau saja dia tidak menghilang, Exodiart pasti akan menyuruh dirinya bergabung. Itu bocoran yang dia dapat dari Amari. Bukan bocoran dari kakaknya.


Raiden mendesah sambil membetulkan kaus yang baru dia kenakan. Dia ingin menceritakan banyak hal pada kakaknya. Semoga saja keinginan itu masih di sana ketika dia kembali ke rumah. Raiden memang berencana pulang ke rumah tepat setelah melaporkan keberhasilannya pada penguji. Dia mengenakan pelindung bahu, mengangkat kapaknya, lalu melangkahkan kaki kembali ke jalan setapak menuju Korumbie. Barang bawaannya kini lebih berat. Dia bukan hanya menenteng ranselnya, dia juga membawa buntelan kain berisi ekor monster. Itulah tiketnya menjadi Destroyer.


Tunggu!


Raiden berhenti melangkah. Bulan sudah cukup tinggi. Dinding ibu kota beserta gerbangnya nampak di atas deretan pepohonan. Ini adalah kesempatan terakhirnya untuk memikirkan ulang semuanya.


Destroyer? Benarkah dia ingin menjadi Destroyer? Destroyer biasa menggunakan palu, serangan mereka punya areal luas, juga efektif melawan monster besar. Kalau dia benar jadi seorang Destroyer, dia memang masih bisa mempelajari beberapa teknik serangan dari kelas satunya Berserker. Tapi, dia tidak akan bisa menggunakan kapak secara efektif. Bukankah lebih baik fokus pada satu kelas saja.


Destroyer? Benarkah ini yang dia inginkan?