
Setelah sarapan, Exodiart buru-buru pergi karena harus mengikuti penyisihan Paladin’s Race. Harufuji tentu akan menonton. Gara-gara ceritanya kapan hari, Elloys pun ikut bersemangat. Dia juga akan ikut menonton bersama Keniaru. Entah bagaimana dengan yang lain.
Hari itu merupakan hari yang cerah seperti hari-hari sebelumnya. Lima orang Paladin, atau mantan Paladin, sudah bersiap di pintu masuk reruntuhan bagian bawah. Begitu ada tembakan di udara, barulah mereka semua berlari serentak. Ada yang berlari lurus biasa, ada pula yang melompat ke atas puing-puing menuju tempat tinggi. Tujuan mereka hanya satu. Mengumpulkan bendera. Babak penyisihan berlangsung sama persis seperti yang dilakukan Harufuji beberapa saat lalu.
Keniaru dan Elloys tahu para Paladin bisa berbuat apapun di Guild Showdown. Mereka diizinkan menggunakan sihir pada lawab. Harufuji menyebutnya peraturan curang dalam lindungan peraturan teknis. Elloys sendiri menantikan bila Exodiart akan menyerang lawan.
Saat ini, Exodiart sudah ada di tengah reruntuhan. Bersama Keniaru dan Harufuji, Elloys mengikuti pergerakan mereka. Penonton Paladin’s Race hari ini lebih ramai ketimbang babak penyisihan Harufuji. Mungkin karena hari ini ada Exodiart juga Zak dari guild Maelstrom. Menurut Harufuji, keduanya hampir selalu masuk sepuluh besar.
Kali ini, mereka sial karena harus bertemu di babak penyisihan. Artinya, salah satu dari mereka harus tersingkir bahkan sebelum Paladin’s Race yang sesungguhnya dimulai. Dari atas sana, Zak punya postur tubuh mirip Exodiart. Kebanyakan para Crusader memang memiliki postur tubuh berotot karena senantiasa berada di depan. Kalau Exodiart punya rambut kelabu, Zak punya rambut hitam legam yang dipotong cepak.
“Dia lebih mirip Guardian daripada Crusader,” komentar Keniaru.
“Karena dia bawa perisai?” tanya Elloys. Mereka bisa melihat kalau Zak membawa perisai di punggungnya yang bisa dipakai sewaktu-waktu dibutuhkan. “Harufuji juga kadang bawa perisai.”
Pada dasarnya tidak ada ketentuan senjata dan peralatan apa saja yang boleh dibawa petualang. Hanya saja memang ada beberapa benda yang lebih efektif ketimbang yang lain saat mengeluarkan sebuah teknik. Para Guardian, misalnya, punya teknik khusus menggunakan perisai mereka. Teknik ini hanya bisa dipelajari para Guardian sungguhan. Harufuji, sebagai Crusader, tidak diizinkan mempelajari teknik ini. Meski begitu, dia bisa mempelajari teknik dari kelas sebelumnya yaitu Paladin.
Tak menanggapi ocehan Keniaru, Harufuji mengamati Paladin’s Race yang tengah berlangsung. “Semua mengincar Exodiart. Mereka tak ingin Exodiart lolos dari babak penyisihan.”
Ucapannya membuat Elloys dan Keniaru mengembalikan perhatian ke lomba. Para Paladin lain yang ada di reruntuhan berusaha menyambar Exodiart dengan petir atau setidaknya menjaga jarak lekat dengannya agar bisa merebut benderanya. Exodiart sudah mendapatkan benderanya cukup awal. Sekarang dia hanya perlu membawa bendera tersebut ke ujung reruntuhan.
Para penonton menyemangati jagoan mereka masing-masing. Kebanyakan orang di sana bersorak untuk Zak. Bagaimanapun, guild Maelstrom punya nama dan kepopuleran tersendiri mengingat kalau dia guild nomor satu saat ini. Beberapa orang meneriakkan cercaan bagi Exodiart berusaha mengusik konsentrasinya.
Saat Elloys belum bergabung dengna guild mana pun, hal tersebut rasanya biasa. Kali ini, mendengar ketuanya diejek, dia merasa ingin membakar mulut orang-orang itu.
Para penonton bergerak lagi. Exodiart berhasil melesat jauh mendekati pintu keluar. Tiga pesainnya berada jauh, mereka tak mampu mengimbangi kegesitan Exodiart melewati reruntuhan dan menapaki bebatuan. Sayangnya, Zak berada tepat di belakangnya. Semakin lama, jarak mereka semakin dekat.
Zak akan menyerang, Elloys tahu itu.
Sebuah sambaran petir besar menyambar dari udara. Sambarannya melesat lurus menuju dekat kaki Exodiart. Dia juga sudah bisa memperkirakannya. Karena itu, dirinya bergerak ke samping tepat sebelum petir datang. Kakinya menjadikan batu sebagai tumpuan. Saat dirinya berada di udara, Exodiart melemparkan petir balasan. Kecil tapi beberapa, bukan hanya satu.
“Balas dia, Exo!” seru Keniaru.
“Hei, kita dilarang langsung menyerang lawan, lho. Sekalipun kalau kena sungguhan, biasanya paling kena tegur bukan diskualifikasi.” Harufuji mengingat benar peraturan Paladin’s Race. Menurutnya, orang-orang itu hanya butuh hiburan. Mereka tidak sungguh-sungguh mencari Paladin terbaik.
Exodiart menuruni bebatuan langsung menuju pintu keluar. Tinggal beberapa meter lagi maka dirinya akan dinyatakan lolos. Para panitia bersiap.
Lagi-lagi serangan besar melesat dari atas. Exodiart sepertinya punya mata di belakang kepalanya. Dia berhasil menghindar lagi. Serangan tersebut menyambar tanah yang baru saja dipijaknya. Tak mau menyerah, Zak melompat ke udara dengan sedikit berputar. Gerakannya mengingatkan Elloys pada teknik Whirlwind Raiden, hanya saja ini dilakukan di udara oleh seorang Crusader bukan Berserker. Di akhir gerakannya, ada sambaran petir beserta kilat besar menyambar.
“Kenapa? Kamu pikir dia akan kena?” Harufuji malah tertawa.
Benar saja, beberapa saat setelahnya, Elloys bisa melihat bayangan merah melesat meninggalkan kehancuran. Exodiart lolos dari serangan. Dia berlari cepat menuju pintu keluar, menjumpai para penyelenggara yang sepertinya sudah tak terkejut dengan kedatangannya.
“Kukira serangan tadi kena…” Elloys berulang kali melihat Exodiart dan tanah berbatu yang hancur akibat serangan Zak.
“Kalau serangan begitu saja enggak bisa menghindar, dia enggak bakal menang berkali-kali, dong.” Harufuji tertawa. “Aku sendiri pernah mencoba menyerang dia langsung. Dan… Ya, kamu tahu hasilnya.”
Harufuji memandu rekan-rekannya menjumpai Exodiart. Beberapa penonton kasak kusuk di dekatnya, beberapa lagi meneriakkan cercaan. Elloys yakin kalau mereka merupakan rekan Zak atau setidaknya penggemar dari guild Maelstrom.
“Kenapa aku kesal, ya, kalau lihat mereka,” desah Elloys.
Keniaru mengangguk. “Kalau dipikir-pikir, kita hampir bergabung dengan guild mereka, lho.” Keniaru ingat saat mereka hendak mendaftar untuk Maelstrom, menemukan antrean panjang, lalu justru pergi dengan Praxel dan Raiden.
Exodiart mendatangi anggotanya. “Aku enggak tahu kalau kalian nyusul.”
“Aku penasaran,” ujar Elloys. “Ternyata kamu memang jauh lebih jago dari kelihatannya.”
Harufuji melotot. Ucapan Elloys terdengar seperti hinaan atau ejekan para anggota Maelstrom. Exodiart sendiri malah santai. Dia tertawa mendengar ucapan Elloys.
“Menurutmu, bagaimana performaku?” tanya sang ketua. “Lumayan?”
“Spektakuler!” sahut Elloys. “Tapi, aku penasaran kenapa omongan orang-orang itu enggak mengganggumu.”
“Oh, sudah biasa. Mereka akan selalu menghina sebaik apa performaku. Biarkan saja.” Exodiart menoleh pada Harufuji. “Ngomong-ngomong, sudah lihat daftar Paladin’s Race selanjutnya? Sepertinya kita akan bertemu.”
Harufuji menelan ludahnya keras-keras. “Se— Serius?”
“Kalau aku tidak salah lihat jadwal, ya.” Exodiart terkekeh. “Santai saja, aku enggak akan menyerangmu, kok.”
Setelah Paladin’s Race, Exodiart pergi bersama Praxel untuk mengurus berkas-berkas kenaikan level Lunacrest di kantor Guild Master. Amari sudah berulang kali menjelaskan serta mengingatkan apa-apa saja yang harus dibawa untuk memudahkan mereka. Ini sangat membantu. Mereka tidak sampai menghabiskan setengah hari untuk menyelesaikan semua urusan administrasinya.
Exodiart hendak meninggalkan kantor Guild Master Declan ketika seorang prajurit menghalangi jalannya. “Ketua Lunacrest, Exodiart?” tanya si prajurit. “Tolong ikut denganku. Jendral Fawke ingin bertemu empat mata denganmu.”