Lunacrest

Lunacrest
Chapter 42



Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran nama untuk Guild Showdown. Raiden sudah kembali. Exodiart ingin memasukkan namanya. Namun, Praxel malah mengusulkan nama lain. Dia sendiri ragu dengan kondisi Raiden saat ini.


“Kenapa? Kamu takut dia pergi saat Guild Showdown?” Exodiart bertanya dari balik meja di kantornya. Praxel duduk di seberang. Saat ini hanya ada mereka di kantor ketua guild yang mulai terisi barang ini itu.


“Ya. Eh, tidak juga sih.”


“Kita tidak boleh mengganti anggota yang sudah terdaftar. Artinya, kalau sampai ada yang tidak muncul di arena, kita akan didiskualifikasi.”


Itu merupakan salah satu peraturan Guild Showdown. Secara teknis, mereka akan melawan guild lain secara acak sesuai undian. Tergantung jumlah guild yang mendaftar, umumnya Guild Showdown diadakan selama tiga hari penuh. Guild tidak boleh mengganti nama peserta yang didaftarkan di awal sekalipun mereka terluka parah. Pada dasarnya, mereka dilarang membunuh. Terluka parah memang hal lain.


Praxel menggeleng pelan. “Aku hanya merasa Raiden belum stabil.”


“Setelah menghilang?”


“Setelah dia pergi.” Praxel tak suka kalau adiknya disebut menghilang. “Kupikir Raiden butuh ketenangan sendiri dulu. Lebih baik tidak melibatkannya ke acara sepenting ini.”


“Oke. Jadi, siapa penggantinya? Untuk saat ini, ada aku dan Reiyuel. Kamu?”


Praxel tertawa dibuatnya. “Oh, jangan. Kecuali kamu mau membuat Lunacrest jadi bahan tertawaan.”


“Mierai? Elloys? Kelsey?”


“Mereka mematikan. Mungkin, terlalu mematikan.”


“Kalau menghadapi Pyromancer, perlu guardian. Kalau enggak, kayaknya bahaya.” Exodiart malah tertawa. “Aku juga enggak berharap ketemu mereka. Jadi, siapa? Keniaru atau Haru?”


Praxel tak ingin membahas Kelsey di depan Exodiart. Dia memilih menanggapi nama-nama yang lain saja. “Kalau disuruh memilih, aku bakal pilih Haru daripada Ken, sih. Tapi, nanti jadi ada dua kelas kembar, ya. Kalian berdua sama-sama Crusader, ‘kan?”


“Iya, tapi sepertinya dia banyak belajar teknik yang tidak kupelajari, sih.”


“Sihir penyembuh?” tebak Praxel.


“Juga teknik-teknik lainnya.” Pikiran Exodiart melayang pada kenangan ketika melihat Harufuji di Paladin’s Race. Dia mulai paham bagaimana Harufuji melindungi dirinya dari berbagai rintangan. “Sihir pelindungnya juga lumayan, lho.”


“Kalau dipikir-pikir, Haru sudah dapat banyak peran penting, ya.”


“Namanya juga guild kecil. Wajar kalau buntutnya orang-orang itu lagi.”


“Iya, sih. Jadi?”


“Ayo cari Haru!” Exodiart beranjak dari kursinya.


“Ini artinya, kamu menyerahkan semua penyerangan pada Reiyuel, dong? Serangan Haru tidak sekuat punyamu, ‘kan?”


“Justru itu.”


Praxel mengernyit. “Apa maksudmu?”


“Kamu tahu apa kesalahan guild-guild baru ketika mengikuti Guild Showdown?”


“Ehm… mengirim anggota baru yang tidak kenal satu sama lain?” Praxel mengikuti Exodiart menuju pintu keluar. “Kamu tidak bisa bertarung kompak dengan orang baru, ‘kan? Maksudku, kebanyakan begitu.”


“Ya, itu juga.” Exodiart membukakan pintu, membiarkan Praxel keluar lebih dulu. “Tapi, itu bukan yang utama. Kesalahan fatal mereka adalah mengirim orang yang terlalu kuat ke Guild Showdown.”


“Itu menarik sekalipun aku tidak paham maksudmu.”


“Mereka harus mengurangi kekuatan mereka.”


“Bisa lebih parah. Coba bayangkan kalau mereka hanya memiliki kekuatan untuk membunuh saja?” Exodiart mulai menapaki tangga turun sambil sesekali menoleh ke Praxel di sampingnya. “Contohnya, kupikir Elloys kuat. Kamu juga setuju kalau dia kuat.”


“Kubilang dia mematikan.”


“Hahaha… Benar. Dia mematikan. Menurunkannya di Guild Showdown justru berbahaya. Bagaimana kalau dia sampai membuat lawan terluka parah atau bahkan sampai membunuh mereka secara tak sengaja?”


“Menurutmu, Harufuji lebih baik darinya?”


“Di Guild Showdown, iya.”


“Lalu, kenapa kamu berpikir kalau Reiyuel tidak berbahaya?”


Pertanyaan ini membuat Exodiart terdiam sebentar. Beberapa waktu lalu, Reiyuel memang menyatakan keraguannya sendiri ketika mereka berlatih. “Dia bisa mengurangi kekuatannya. Kebanyakan serangannya adalah serangan fisik,” ujar Exodiart akhirnya.


“Iya, sih.”


“Baiklah, sekarang yang terpenting, mencari Harufuji. Menyetor nama ke kantor Guild Master. Latihan bertiga. Menyusun strategi. Ngomong-ngomong, di mana Raiden?


Praxel mendesah. “Entahlah.”


“Hah? Kenapa? Kalian bertengkar?”


“Bagaimana, ya? Tidak juga, sih.” Praxel menggaruk belakang kepalanya.


Exodiart tak ingin melanjutkan, jadi dia membiarkan Praxel. Keduanya mencari Harufuji. Harufuji tidak menolak, tentu saja. Dia justru bersemangat bisa langsung dilibatkan dalam Guild Showdown. Setelahnya, Exodiart bergegas ke kantor Guild Master Declan mengurus pendaftaran. Masih bersama dengan Praxel. Ketika melintasi taman, mereka menyadari adanya pembawa berita kerajaan.


Seorang gadis muda berdiri dekat air mancur ditemani seorang prajurit di sampingnya. Dia mengenakan jas lengan panjang dipadukan rok mini, warnanya sesuai warna khas kerajaan, oranye dan putih. Sebagai tambahan, dia memakai selempang oranye beraksen hitam. Rambutnya diikat ekor kuda, menjuntai hingga ke punggung. Ramah dan selalu menarik perhatian, namanya Shania.


Orang-orang berkerumun di sisinya. Kalau saja Shania tidak berada di atas podium, dirinya akan lenyap di tengah kerumunan tersebut.


“Dia pasti memberitakan soal Guild Showdown,” ujar Praxel. “Mau mendengarkan?”


“Tentu saja. Kita ‘kan enggak tahu dia bawa berita apa. Kalau bukan soal Guild Showdown, kita bakal ketinggalan berita, dong.”


Keduanya mendekat. Shania telah menyelesaikan pembukaannya yang biasanya diawali dengan tiupan sangkakala. Dirinya mulai masuk ke dalam berita.


“Berita ini resmi diturunkan pihak kerajaan. Baru saja! Benar-benar berita hangat!” Shania menyebutkan beritanya dengan gembira seperti biasa. “Kerajaan memutuskan untuk memberi apresiasi lebih bagi pemenang Guild Showdown tahun ini. Seperti yang kita semua tahu, guild pemenang biasanya akan menerima hadiah uang dan poin. Nama guild berikut perwakilannya juga akan diukir pada dinding batu di kantor Guild Master Declan. Kali ini ada tambahan. Apa ada yang bisa menebak apa tambahan tersebut?”


Suara riuh rendah langsung menggema memenuhi taman. Rakyat menjawab dalam keramaian. Tak seorang pun bisa mendengar dengan jelas apa saja jawaban yang dilemparkan. Shania tersenyum kecil melihat bagaimana pertanyaannya sukses membuat penasaran. Dia memang selalu membuatnya seperti dialog, bukan sekadar pengumuman biasa. Setelah beberapa saat penuh keramaian, salah satu prajurit menghentakkan tombaknya ke tanah. Suara dentumnya membuat rakyat berangsur diam.


“Aku juga sangat bersemangat seperti kalian. Untuk itulah, kerajaan membuat pertandingan kali ini berbeda.” Shania pun melanjutkan. “Tahun ini, pemenang Guild Showdown akan memperebutkan juga piala bergilir berlapis emas dan dihiasi batu permata Angelic Desert!”


Keramaian kembali terpicu. Mereka bersorak sorai. Praxel dan Exodiart bertukar pandang.


“Angelic Desert?” Praxel mengernyit. “Batu langka yang katanya bisa memanggil keberuntungan itu?”


Exodiart mencengkram bahu Praxel. “Kita harus memenangkan Guild Showdown tahun ini!”


“Hah? Kamu percaya hal begituan, toh?”