Lunacrest

Lunacrest
Chapter 88



Saat mereka berhasil mencapai Korumbie, para prajurit dan Guild Master Declan sendiri menyambut mereka. Orang-orang yang terluka segera dirawat oleh tim medis. Sementara para anggota guild yang baik-baik saja diminta tinggal untuk melaporkan apa yang sebenarnya terjadi.


Elloys dan Raiden tidak seharusnya di sana. Mereka beruntung tidak ada pemeriksaan di dalam kapal, jadi tak seorang pun menyadari hilangnya Praxel dan Exodiart. Ditambah lagi mengingat kalau mereka sengaja ditempatkan di akhir karena tugas khusus. Sekarang, Elloys dan Raiden harus menyelinap keluar.


Kapal itu mendarat di sebuah dataran kosong di atas bukit dekat lokasi istana. Suasana yang cukup kacau memberikan mereka kesempatan. Mierai membantu mengalihkan perhatian prajurit ketika mereka keluar dari pintu kapal. Ketika ada prajurit lain meminta perwakilan setiap guild untuk melaport, Kelsey langsung mengajukan diri.


Elloys dan Raiden menyusup keluar tanpa halangan berarti. Mereka bergegas kembali ke markas Lunacrest.


Sayangnya, sebelum mereka sempat berlari ke jalan raya, Elloys mendengar namanya dipanggil. “Elloys? Kamu Elloys, ‘kan?”


Elloys langsung berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Mungkinkah mereka ketahuan? Seharusnya tidak karena tidak banyak yang tahu siapa saja yang dibawa Exodiart ke Pothine. Lagipula, Elloys tak yakin kalau prajurit tahu namanya. Suara yang memanggilnya juga suara perempuan bukan suara laki-laki.


Elloys bergeming. Dia menanti kalau-kalau suara itu datang lagi. Telinganya mendengar desiran angin dan gesekan daun juga pekikan elang jauh di atas. Mereka sudah berada di bawah bukit. Sedikit lagi mereka akan mencapai jalan.


Menyadari kalau Elloys tak lagi mengikutinya, Raiden ikut berhenti. Dia berpaling pada Elloys. Sambil melambaikan tangan, Raiden memerintah tanpa suara. “Elloys, ayo!”


“Larilah duluan,” balas Elloys cepat. Dia pun menoleh ke belakang, menghadap ke pemanggil namanya sementara Raiden kabur.


Di belakang Elloys berdiri seorang gadis mengenakan gaun pendek merah. Rambutnya hitam legam diikat ekor kuda. Elloys tak yakin kalau itu temannya, tapi dia yakin pernah melihat gadis itu sebelumnya. Dia juga seorang Mage seperti dirinya. Lebih tepatnya, mereka sama-sama Pyromancer.


“Hai!” Gadis itu berjalan mendekat. “Aku Lilith. Kamu ingat? Kita pernah bertemu di Maelstrom.”


“Ah!” Elloys kini ingat. Dia bertemu gadis penyihir itu ketika hendak mendaftar ke guild nomor satu di Endialte. Meski pada akhirnya, dia dan Keniaru pergi karena bosan menunggu.


“Apa kabar?”


“Ba— Baik.” Elloys yakin ini bukan saat tepat untuk ngobrol. Dia ingin sekali  pergi. “Bagaimana denganmu? A— Apa kamu berhasil diterima di Maelstrom?”


“Iya!” Lilith menggunakan teleport, muncul tepat di depan Elloys. Sambil menggenggam tangan Elloys, dia melempar senyum. “Bagaimana kabarmu? Kudengar kamu dan sepupumu bergabung dengan Lunacrest. Guild milik Exodiart, ‘kan?”


Elloys mengangguk canggung. Dia akan meladeni pembicaraan ini kapan pun kecuali sekarang. Dia tak ingin ada orang yang menyadari kehadirannya di sana, karena seharusnya dia tidak ada di sana. Lunacrest tidak mengutusnya. Menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi akan sangat sulit. Dia tidak bisa dan tidak mau membayangkan pertanyaan apa saja yang akan dia terima.


Tunggu!


Elloys kini malah penasaran. Karena kalau boleh jujur, Elloys sendiri tidak yakin Maelstrom mengirim Lilith ke sana. Mereka punya banyak pilihan anggota yang lebih berpengalaman dan kuat untuk misi semacam ini.


“Jadi, Maelstrom mengirimmu ke Pothine?” Elloys mengambil kesempatannya untuk bertanya lebih dulu.


“He? Enggak, kok.”


Elloys spontan melongo. Sekalipun tempat itu bukan berada di luar istana, bukan berarti sembarang orang bisa keluar masuk dengan mudah ke sana. “Terus, apa yang kamu lakukan di sini?”


“Aku melihatmu, jadi aku ke sini.”


Belum sempat melangkah pergi, Lilith sudah menggunakan sihir teleport untuk muncul di depan Elloys, mencegahnya melangkah lebih jauh. “Tunggu sebentar. Jangan takut. Para prajurit itu tidak akan kemari.”


Elloys langsung mengernyit. “Prajurit?”


“Mereka sibuk mengumpulkan laporan. Lagipula, kakak-kakakku ada di sana. Mereka tidak akan membiarkan adanya prajurit mendekat ke sini.”


Elloys mengulurkan tongkatnya pada Lilith. “Apa maumu?”


Dia ingat jelas kalau Lilith merupakan si bungsu dari lima bersaudara. Bersama keempat kakaknya, mereka mendaftar ke Maelstrom. Bukan meremehkan, Elloys tak yakin kalau Maelstrom menerima mereka semua. Maelstrom tidak biasanya punya posisi kosong sebanyak itu dan mereka tidak sekuat itu untuk menggeser anggota-anggota lama.


Lilith mengangkat tangannya ke depan dada. “Wow! Tenanglah, Elloys. Aku tidak mau menyakitimu.”


“Sebaliknya. Aku mungkin tidak ragu menyerangmu.”


“Tenang, tenang. Aku hanya ingin bertanya. Semakin jujur kamu menjawabnya, semakin cepat kita selesai.” Lilith menyeringai. “Tolong katakan padaku, misi khusus apa yang diberikan pada Lunacrest?”


Lilith tidak seharusnya tahu sampai sedalam itu. Elloys bukan hanya ragu kalau Lilith anggota Maelstrom, sekarang dia malah curiga kalau Lilith merupakan kaki tangan dari orang dalam yang bekerja sama dengan para demon. Elloys mengangkat tongkat, bersiap mengeluarkan sihir. Saat itu, dia menyadari hal lain. Seseorang menangkap tongkatnya dari belakang.


Dia buru-buru berbalik, namun lawannya lebih cepat. Siapa pun yang menangkap tongkat itu sekarang bukan hanya berhasil mengagalkan sihirnya namun juga menyekap hidung serta bibirnya dengan saputangan. Elloys memberontak sekuat yang dia mampu. Namun, lawan menarik lepas tongkatnya.


Elloys mendengar orang itu mengomel. “Lilith, Lilith. Kamu itu kebanyakan bicara. Dia malah jadi curiga, ‘kan!”


“Habis kalau enggak, nanti dia kabur.” Lilith protes dengan suara manja.


Elloys mendapati pandangannya mulai kabur, pendengarannya mulai samar. Apapun yang menyekap dirinya pasti telah dibubuhi obat bius atau semacamnya. Sekujur tubuhnya kini lemas, menyusul indera lainnya yang sudah mati rasa duluan.


“Hei, kamu pikir dia akan mau bicara padamu semudah itu?” ujar orang itu lagi.


Lilith pun mendekat. “Terus, bagaimana? Sekarang kakak malah membiusnya begitu. Dia malah enggak mungkin bicara, dong! Kakak enggak paham rencananya, ya?”


“Kamu itu yang enggak paham rencana kita? Kita itu perlu mengorek informasi dari Exodiart, ketua Lunacrest. Bukan anggotanya. Kamu main sapa cewek ini saja. Cewek ini enggak mungkin tahu apa-apa. Burung pengintai bilang dia enggak ikut naik kapal ke Pothine.”


“Tapi, dia ikut turun kapal barusan, lho.”


“Mana kutahu kalau soal itu. Sudah, ayo balik sebelum yang lain cari atau para prajurit itu melihat kita.”


Elloys masih mampu mendengarkan mereka samar-samar meski tak berkuasa menggerakkan tubuhnya lagi. Kedua orang bodoh itu harus merasakan akibat karena berani menculiknya seperti ini. Lihat saja nanti!


Itu kalau dia berhasil lolos dari mereka.