
“Apa pun itu, dia besar.” Praxel bergumam. “Mungkin ogre atau semacamnya.”
“Apa pun itu, pasti bukan berita baik,” tambah Exodiart. Dia pun berdiri. Tangannya mengangkat tongkat bola berduri.
“Sekarang bagaimana?”
“Aku masih bisa membuat petir sebesar tadi. Kupikir aku bisa menahannya sebentar selagi kamu cari cawannya.”
“Tunggu sebentar. Exo, kamu mau kita bagi tugas?”
“Iya, supaya lebih cepat. Raiden dan aku akan mengatasi monster ini. Kamu cari saja cawannya.”
Praxel tak bisa menyembunyikan kegeliannya. Kedua alisnya terangkat ketika bertanya, “Serius? Kamu yakin? Sungguh?”
“Tentu saja. Kenapa nggak?”
“Aye aye, captain. Kalau begitu, aku akan menunggu di sini siapa tahu kalian butuh bantuan atau sihirku.” Praxel kembali memilah barang-barang, mencari cawan kayu.
Mendengar pembicaraan itu, Raiden bangkit mendampingi sang ketua guild. “Monster itu sendirian,” katanya pelan seolah takut lawan mendengar. “Tapi, ukurannya benar-benar besar.” Gerakan makhluk di dalam hutan tersebut merusak lingkungan sekitarnya. Raiden cukup yakin mendengar suara pohon tumbang barusan.
“Kamu nggak takut, ‘kan?”
“Aku dilatih untuk menghadapi monster-monster besar.” Raiden menyebutkan salah satu keistimewaan kelas Vanguard.
Exodiart menepuk pelindung bahu Raiden. “Bagus, ayo!”
Raiden tak lantas beranjak. Dirinya masih memikirkan pertanyaan Exodiart, sekalipun sudah memberi jawaban. Takut? Tidak. Dia tidak takut, dia hanya sedikit cemas. Tidak ada hal yang pasti di dunia ini. Segala sesuatu bisa berubah jadi malapetaka dalam hitungan detik. Di satu sisi, dia merasa tenang karena ada Exodiart yang punya pertahanan kuat. Di sisi lain, dia ragu pada kemampuan dirinya sendiri. Pertahanan dan daya serangnya biasa saja.
Sebagai Vanguard yang biasa berada di depan, Raiden memang mengenakan pelindung bahu dan dada. Walau demikian, pertahanannya masih kalah dari Exodiart. Sang ketua guild punya pertahanan kuat berkat sihir. Dia tidak perlu pelindung seperti Raiden. Exodiart lebih memilih memilih jubah dengan penutup bahu sementara Praxel hanya mengenakan jubah tipis saja.
Ketika Exodiart mulai berlari, Raiden menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri sekaligus menyiapkan diri. Sambil menghembuskan napas, dia menghentak tanah. Satu hentakan kencang kembali membuatnya melesat. Larinya begitu cepat sekalipun harus sambil menyeret palu besar. Dalam sekejap, dia mampu menyalip, bahkan menempatkan dirinya di antara Exodiart dan monster.
Sesuai dugaan Praxel, ada ogre di depan sana.
Mungkin nama kedua monster ini mirip. Orc dan ogre. Meski begitu, mereka sangat berbeda. Orc yang tadi mereka kalahkan punya badan gempal, sedikit lebih tinggi dari manusia, berkulit hijau, dan membawa senjata seperti pentung atau sejenisnya. Ogre jauh lebih besar dari orc juga manusia. Ukuran mereka bisa mencapai enam meter. Badannya tidak kekar, hanya gemuk dengan bau lembab khas yang memuakkan. Kulitnya pucat dan kotor. Mereka tidak pernah membawa senjata, mereka lebih senang menggunakan tangan kosong untuk berburu. Selain itu, mereka juga selalu bergerak sendirian, beda dengan orc yang selalu terlihat bergerak dalam kelompok.
Ogre yang ada di depan mereka saat ini berukuran tiga meter, hampir dua kali lipat lebih besar dari manusia. Seperti ogre pada umumnya, badannya gemuk dengan perut bergelambir tanpa otot kekar. Gerakannya juga lambat namun serangannya perlu diwaspadai. Daya rusaknya tinggi. Kalau mau menang, mereka harus menjatuhkan si ogre duluan.
Raiden tidak membuang kesempatan. Palunya terayun cepat ke arah perut lawan. Dia bisa merasakan perbedaan jauh antara perut orc dan ogre, apalagi ketika dia baru saja melawan sekumpulan orc. Perut ogre terasa jauh lebih empuk. Hanya saja karena ukurannya lebih besar, efek pukulan Raiden jadi berkurang banyak. Alih-alih merasa sakit, si ogre memberikan senyum lebar menunjukkan deretan gigi tumpul berantakan. Serangan Raiden membuatnya geli bukan sakit.
“Mundur!” seru Exodiart.
Tanpa disuruh pun, Raiden tahu dirinya harus segera mundur. Beruntung sekali dia jauh lebih cepat daripada lawan. Tangan besar ogre hanya bisa memukul tanah, menerbangkan dedaunan kering bercampur debu tanpa menyentuh dirinya sedikit pun.
Exodiart ada di sisi lain. Tangannya telah terulur ke depan.
Thunder Streak!
Secercah cahaya menyilaukan dibarengi suara kencang menyambar. Sihir petirnya mengenai tangan ogre. Petir barusan hanya besar dengan petir di akhir pertarungan mereka dengan orc. Kalau orc pasti langsung jatuh dengan sekali sambar, tapi gre ini nampak baik-baik saja. Hanya ada bekas terbakar disertai bau hangus samar, tapi tidak ada raungan kesakitan apalagi luka fatal.
Exodiart mengernyitkan dahi. Dia sudah memperkirakan hal ini termasuk bagaimana sengatan listrik tidak begitu berpengaruh pada ogre. Meski begitu, tetap saja rasanya menjengkelkan.
Raiden berlari ke arah pohon terdekat. Menggunakan batang pohon besar sebagai tumpuan, dirinya melompat tinggi ke atas lawan. Palunya telah terayun. Ogre menyadari serangan tersebut. Bukannya menghindar, ogre ini justru menggerakkan tangan hendak menangkap Raiden. Ini memaksa Raiden mengubah haluan. Dia pun mendarat di tanah, berguling menjauh sambil mengumpat.
“Sial!” Raiden berdecak kesal. Ini bukan pertama kalinya mereka bertemu ogre. Mereka pernah bertemu dan mengalahkannya. Dia ingat betul pernah mengalahkannya. Tapi, dia tidak ingat apa pertempuran mereka terasa sesulit ini. Serangannya tak berarti sama sekali.
Exodiart melepaskan sambaran petir lain sambil bergerak maju. Tongkat palu berduri menghantam kaki lawan. Kali ini ogre itu pasti kesal karena raungan langsung terdengar. Ogre pun membalas, mengayunkan tinju. Untung saja Exodiart lebih cepat. Dengan tongkatnya, Exodiart memukul bagian kaki lain, membuat ogre itu oleng sebelum tangan besar mengenainya.
Raiden kembali. Palunya punya permukaan lebih lebar dari senjata Exodiart. Dalam satu pukulan, pada titik yang agak berbeda, Raiden melakukan serangan. Ogre pun tumbang ke tanah dengan suara berdebum.
“Habisi dia!” seru Exodiart.
“Whirlwind!”
Raiden berputar di tempat sambil memegangi palunya. Ini salah satu serangan khas kelas Vanguard. Gerakan berputar tersebut memancing aliran angin dari sekitar. Dalam sekejap, sebuah tornado terbentuk dengan Raiden sebagai pusatnya. Pusaran angin membawa benda-benda kecil berterbangan dan merusak apa pun yang berada dekat.
Exodiart menjaga jarak aman. Teknik Whirlwind selalu membuatnya terpukau namun juga merasa ngeri. Di tangan Vanguard kuat, serangan mereka bahkan bisa menerbangkan monster sebesar ogre. Milik Raiden belum sekuat itu. Namun, Exodiart yakin dia bisa melakukannya nanti. Setidaknya serangan Raiden sekarang berhasil membuat banyak goresan luka di tubuh ogre.
Ketika serangan Raiden berhenti, giliran Exodiart beraksi. Sambaran petir lain datang tepat ke arah kepala. Ketika petir berhenti, Raiden memukulkan palu ke atas badan ogre. Satu pukulan keras yang melesakkan badan tersebut ke tanah. Akibatnya, retakan samar muncul di tanah pada sekeliling badan ogre.
Raiden berhenti sesaat. Matanya mengawasi wajah si ogre. Serangannya seharusnya berhasil. Seharusnya. Mungkin dia bisa memberikan pukulan tambahan. Mungkin. Dirinya masih terjebak dalam keraguan ketika seruan datang.
“Raiden! Awas! Pergi dari situ!”
Raiden tersentak. Dia sadar telah membuat kesalahan.
Tangan besar ogre menangkap tangan Raiden. Tatapan mata mereka bertemu. Lawannya nampak buas juga luar biasa kesal. Kepalanya berdarah dan sedikit hangus terbakar. Raiden tahu semestinya dia langsung pergi setelah melakukan serangan. Dirinya pun pasrah ketika lawan melemparnya.