Lunacrest

Lunacrest
Chapter 16



Bicara soal perkenalan, Elloys baru saja menyelesaikan misi guild pertamanya bersama Mierai. Keduanya menyelesaikan misi dengan cepat. Mungkin bahkan terlalu cepat. Amari sampai tak percaya ketika mereka kembali bersama tidak sampai satu jam.


“Kalian kembali cepat sekali.” Amari mengedip tak percaya di balik kacamata besarnya. “Misi kalian berhasil, ‘kan?” Amari kini mengernyitkan dahi.


Mierai mendekat dengan wajah sedih. Langkahnya begitu ringan bak penari. Para Archer memang dilatih untuk bisa bergerak cepat dan melakukan lompatan tinggi. Gerakan mereka menuntut tubuh yang ringan. “Maaf, Amari. Semua memang berjalan sedikit di luar rencana.”


Amari memicingkan mata, seolah bisa menebak bagaimana akhirnya.


Mendadak Mierai membuat senyum lebar. Tangannya menjatuhkan kantung ke atas meja Amari diserai suara bergemerincing ramai. “Ini sedikit di luar rencana. Kupikir imbalannya akan lebih besar dari ini.”


Elloys cekikikan di belakang Amari. “Sudah kubilang kalau mereka nggak semurah hati itu, Mimi.”


Mierai menggelengkan kepala. “Benar sekali. Naif sekali. Akan kuberitahu Marriette dan Miranda supaya nggak terjebak dengan misi semacam ini. Imbalannya bukan per ekor tapi per kilo. Aku nggak percaya mereka menimbang satu per satu tangkapan para petualang. Pegawai restoran seharusnya bisa mengerjakan hal lain daripada itu.” Mimi ikut cekikikan, geli dengan pernyataannya sendiri.


“Aku senang melihat kalian cepat akrab seperti ini,” ujar Amari. “Aku cukup yakin kalian masih punya energi untuk menjalankan misi lainnya.”


Elloys dan Mierai bertukar pandang.


“Aku janji dengan kedua saudariku untuk menjalankan misi bersama. Kurasa satu misi guild sehari cukup.” Mierai melirik Amari sebentar lalu kembali pada Elloys. “Bagaimana denganmu? Sepertinya kamu masih ingin menjalankan misi lain.”


“Ya, tentu. Aku masih bisa mengambil beberapa misi. Sepuluh atau dua puluh, mungkin.” Elloys menertawakan idenya sendiri. Keduanya memang sama sekali tak terlihat lelah.


Sepertinya Amari menganggap serius lelucon Elloys. “Kalau kamu benar-benar bisa mengambil sepuluh misi sehari, kamu akan jadi anggota guild favoritku. Tanpa pikir panjang, tanpa kompromi.”


Elloys hanya bisa mendengus geli sambil menggelengkan kepala.


Mierai berusaha memberikan saran. “Beberapa petualang bisa mengambil misi guild yang sejalan dengan misi solo mereka. Sekali jalan, dua misi terselesaikan. Itu cukup efisien. Sepuluh misi sehari kedengaran konyol.”


“Sangat. Konyol.” Elloys setuju. “Aku hanya pernah beberapa kali menjalankan beberapa misi solo sekaligus. Aku cari beberapa misi yang lokasinya sama atau setidaknya dekat. Kadang juga misi yang tujuan berburunya sama.”


“Clabery!” Mierai menebak pikiran Elloys.


“Clabery.” Elloys mengangguk. “Itu misi populer di kalangan petualang baru.”


“Tertalu populer. Aku lebih suka misi berburu monster yang lebih… sulit.”


“Gargoyle selalu menantang.”


Mierai langsung protes. “Hei, kamu masih berhutang cerita itu padaku. Aku belum dengar cerita perburuan Gargoyle seluruhnya.”


“Mau dengar cerita itu sekarang?”


“Jangan sekarang. Aku harus pergi bersama saudariku.”


Amari pun penasaran. “Kalian baru saja menjalankan misi berdua. Memang apa saja yang kalian obrolkan sepanjang jalan.”


“Banyak!” Elloys dan Mierai menjawab bersama. Spontan, keduanya pun tertawa. Mierai melanjutkan, “Gadis ini punya banyak cerita menarik. Kamu nggak akan bosan dengannya. Terutama soal cowok.”


Amari membuat ‘O’ besar dengan bibirnya tanpa bersuara. “Itu kedengaran sangat menarik.”


“Obrolan cewek.” Elloys mengedipkan sebelah mata.


Mierai mulai beranjak menuju pintu sambil sesekali menoleh pada Elloys. “Baik, sekarang aku harus benar-benar pergi. Jangan lupa ceritakan padaku soal perburuanmu, Elloys!”


 


 


“Hah? Apa maksudmu aku nggak boleh ke sana sendirian?” Elloys menatap Amari sambil melipat kedua tangan di depan dada. “Aku sudah terbiasa menjalankan misi sendirian. Sembilan dari sepuluh selalu berhasil dengan sempurna.”


“Aku nggak meragukan kemampuanmu, Elloys.” Amari tersenyum lebar. “Perlu kuingatkan kalau misi guild punya peraturan mengenai jumlah petugas. Misi guild dianggap sah bila dilakukan minimal dua orang anggota guild.”


“Oh…” Elloys membelai dagunya. Dia memang lupa pada peraturan tersebut. Exodiart tidak menyinggung mengenai ini ketika perkenalan. Mungkin Exodiart mengira Elloys sudah paham semua peraturan dasar mengenai misi-misi guild.


“Kamu bisa mengajak Keniaru atau…” Amari melirik ke belakang Elloys.


Elloys ikut menoleh ke belakang, di mana Raiden baru masuk ke dalam markas.


“Apa?” Raiden mengangkat kedua alis, bisa merasakan jelas ada yang salah dengan kedua gadis di depannya.


“Ayo ke kantor Guild Master!” sahut Elloys.


“Untuk apa?” Raiden spontan protes.


“Untuk mencari misi, dong. Kamu ke sini karena mau lapor kehadiran, ‘kan?” sahut Elloys. “Amari sudah melihatmu. Absensimu nggak akan kosong. Ayo, sekarang ke kantor Guild Master. Ayo, cari misi!”


“Hah?”


“Apa? Tapi, aku…” Raiden terdiam, tak protes lagi. Dia memang berencana ke kantor Guild Master setelah dari markas Lunacrest. Semua persis ucapan Elloys. Masalahnya, dia tidak mau melakukan misi bersama gadis itu. Dia berharap bisa bertemu kakaknya atau yang lain asalkan bukan Elloys. Bahkan, lebih baik dia menunggu hingga sore.


Amari menangkap kecanggungan Raiden. “Kenapa, Rai? Grogi karena harus pergi berdua dengan Elloys?”


“Hah? Aku nggak--” Raiden memotong ucapannya sendiri.


“Pergilah bersama Elloys, ambil saja misi mudah dan cepat, lalu kembali kemari!” sahut Amari, sambil tetap tersenyum.


Raiden tahu tak ada salahnya dengan usulan Amari. Dia pun mengikuti Elloys. Awalnya, Raiden tak mengelak bila dia salah tingkah. Namun, setelah Elloys berpaling untung menunggunya, Raiden pun berjalan di sampingnya. Tentu saja dia tetap diam sepanjang perjalanan.


Elloys tiba lebih dulu di kantor Guild Master Declan. Tempat itu tak berbeda jauh dari kantor misi di bawah naungan jendral Fawke. Ada sebuah ruang besar nyaris kosong terhampar di balik pintu masuk. Beberapa petugas administrasi berjaga di sisi lain ruangan di dekat tangga menuju ke bagian belakang yang tersambung ke lantai atas.


“Misi seperti apa yang kamu suka?” Elloys membuka percakapan sambil mengamati papan-papan penuh daftar misi yang ada ditempel pada dinding.


“Misi yang mudah dan cepat.” Raiden mengulang ucapan Amari.


“Oh, kalau begitu ayo cari misi berburu. Mudah, cepat, imbalannya juga lumayan.”


Raiden mengernyitkan dahi. Ada beberapa misi yang mudah dan cepat. Misi berburu biasanya tidak tergolong di dalamnya. Kalau mau imbalan tinggi, biasanya ada dua kemungkinan. Satu, monster yang diburu cukup kuat sehingga sulit dibunuh. Kedua, monster itu mungkin lemah tapi sulit ditemukan. Misi berburu clabery termasuk memiliki imbalan yang lumayan tapi banyak pesaing, ini membuat mereka sulit menemukan cukup banyak clabery sejumlah permintaan.


“Kamu bisa melawan monster di udara, kan?” Elloys bertanya lagi. Dia telah berdiri di depan papan pengumuman yang lain. “Di sini ada permintaan memburu harpy. Eh, tunggu sebentar!” Elloys melihat kertas di sampingnya. “Kamu nggak takut ular, ‘kan?”


Raiden mengernyit. “Nggak, lha! Memang kenapa?”


Elloys menyambar selembar kertas dari papan pengumuman. Sambil mengedipkan sebelah mata, dirinya membuat senyum lebar. “Ayo berburu lamia! Aku selalu ingin mengalahkan satu.”