Lunacrest

Lunacrest
Chapter 49



Tico dan Reiyuel saling serang di sisi lain arena. Mereka sepertinya tidak memedulikan percakapan keempat orang lainnya.


Araka tak menunggu lama. Dia maju, menyerang Exodiart secara fisik. Exodiart menghindar sebisanya, kadang dia juga melancarkan serangan balasan berupa petir-petir kejutan. Warna kilat biru peraknya bersaing dengan warna merah membara dari api Tico.


Sementara itu, Kalim sudah lenyap entah ke mana. Dia menembakkan anak-anak panah pada Harufuji. Tak satu serangan pun berhasil masuk. Semua digagalkan oleh perisai Harufuji. Namun, Harufuji sendiri tak menyerang. Matanya berusaha mengikuti pergerakan lawan. Dia sebal mengakui kalau cukup kesulitan mengawasi di mana Kalim.


Laki-laki mungil itu bergerak cepat juga lincah. Harufuji tak bisa membidiknya. Dia juga tidak mau asal menembak lalu membuat rekannya malah terluka. Harufuji melirik sang ketua. Dia sendiri sepertinya masih sibuk harus menghadapi lawan sebesar Araka sendirian.


“Aku tidak menyangka bisa melawan pemenang Paladin’s Race di Guild Showdown,” ujar Araka sambil memberikan serangan-serangan. Ayunan palunya bertenaga dan cukup cepat meski belum bisa memberikan hasil berdampak.


Exodiart mundur sambil mengayunkan tongkat. Sihir petirnya hanya mengenai udara kosogn. Dia beranjak lagi, menjaga jarak dari lawan. Berada dekat dengan kelas Warrior sangat berbahaya.


“Aku tidak tahu kamu penggemar Paladin’s Race,” balas Exodiart santai.


“Ayahku penggemar beratnya. Sayang sekali, dia tidak pernah menang sekalipun.”


Hal yang sangat umum terjadi di Endialte ketika seorang petualang punya anak yang menjadi petualang juga. Ayah Araka merupakan seorang Crusader, mantan. Dia tidak punya prestasi menakjubkan. Biasa saja. Amari sudah memberitahukan informasi ini pada Exodiart.


Araka menghentakkan palunya ke bawah. Exodiart mengambil keputusan tepat di saat tepat. Saat hentakan terjadi ke tanah, dirinya berada di udara. Menggunakan permukaan lebar kayu, dia justru melompat menjauh lagi.


“Dia juga bergabung dengan guild?” tanya Exodiart.


Araka menarik palu, menopangnya di bahu. “Saat ayahku masih aktif, guild belum begitu populer. Dia hanya menjalankan misi pribadi, berteman dengan petualang kelas ini, itu. Melakukannya dengan santai.”


“Terlalu santai?”


“Tepat!”


Exodiart bisa menebak dengan mudah. “Kamu punya target untuk menang di Guild Showdown kali ini?”


“Siapa yang tidak ingin? Aku yakin kamu juga sama. Hahaha…” Araka tertawa lepas. Dia mengedarkan pandangannya berkeliling tanpa takut bila ada serangan kejutan. “Lihat sekelilingmu. Kita sama-sama guild baru yang tidak diperkirakan akan sampai ke final. Sebuah kejutan, bukan?”


Exodiart tak menjawab. Dalam hatinya, dia tidak menjawab. Bukan karena dia merasa kalau dia, Reiyuel, dan Harufuji layak ke final. Justru sebaliknya. Ini memang kejutan menyenangkan buat Lunacrest. Exodiart hanya berharap kalau kejutan ini tak akan jadi kejutan pahit di bagian akhir.


Araka menurunkan palunya ke bawah, melebarkan kaki, memasang kuda-kuda. “Sorakan para penonton ini benar-benar seperti candu. Mereka ingin melihat guild terbaik jadi pemenang. Dan aku tahu guild seperti apa yang pantas jadi pemenang.”


Exodiart memainkan tongkat bola berduri di tangannya. “Itu kedengarannya menarik. Menurutmu, guild seperti apa yang pantas jadi pemenang Guild Showdown?”


Araka tertawa lagi. Sambil berlari menuju Exodiart, dia melancarakan serangan-serangan lagi. “Tentu saja guild dengan orang-orang terkuat!”


Dibandingkan ogre atau minotaur, Araka memang tergolong kecil. Tapi, untuk ukuran manusia yang bisa berpikir, Araka cukup sulit dihindari. Apalagi ketika dia mulai menggunakan teknik-teknik penghancurnya yang mematikan.


Di dekat Lunacrest duduk pun, ada seorang Guardian berjaga. Serangan-serangan para petualang kadang memang keluar arena. Biasanya untuk para anggota guild, mereka bisa mempertahankan diri mereka sendiri. Meski begitu, tak ada salahnya menempatkan Guardian tambahan di sana.


“Sambar dia, Haru!” Elloys berteriak dari tribun mengingat adanya Guardian yang siap sedia menjaga para penonton.


Harufuji masih sempat membalas Elloys. “Waduh, kak. Kalau kena yang lain, bahaya.”


Mata Harufuji kembali untuk mengamati lawan. Di satu sisi, dia tak ingin melakukan usulan Elloys. Di sisi lain, dia sadar benar kalau tidak akan membuat perubahan bila mereka terus main-main seperti ini. Akhirnya, dalam kebosanan, Harufuji menggunakan sihirnya.


Dia mengangkat flail ke atas, memutarnya cepat, memanggil percikan petir pada setiap duri-durinya. Dalam sekejap, warna kilat biru perak menyambar disertai suara gemuruh keras terdengar. Petir-petir kecil pendek menyambar dari atas ke sekelilingnya. Serangan beruntung. Kalim berada dekat. Kakinya tersambar lagi. Dia pun langsung kabur, lari mengelilingi arena.


Harufuji mendesah, teringat salah satu informasi yang dia dapatkan dari Amari sebelum mereka bertarung hari ini. Kalau tidak bisa menghentikan Kalim, mereka tidak akan bisa menang.


Kilau-kilau kecil mengiring pelarian Kalim. Kilau tersebut berasal dari bagian metal pada busur atau anak panahnya. Harufuji menyadari benar ketika Kalim hendak menembak. Kilaunya menjadi lebih terang. Namun, tembakan tersebut tidak diarahkan padanya, melainkan sang ketua.


“Sial!”


Harufuji berlari menuju anak panah. Dia tahu tidak akan sempat menghentikan serangan tersebut. Namun, dia belum mematahkan janjinya. Flail telah terarah ke depan. Sihir petirnya menyambar secara horizontal. Mereka bergerak cepat bak tangan hendak menangkap si anak panah. Hingga sihirnya lenyap, anak panah terus melaju.


Meski begitu, serangan tetap gagal.


Gemuruh penonton terdengar lagi. Reiyuel datang menyelamatkan. Dia memotong anak panah yang tengah melaju tanpa kesulitan. Dirinya sama sekali tidak berhenti setelahnya, melainkan terus melaju. Bagaimana pun, masih ada sihir api serupa ular yang tengah mengejarnya dari belakang.


Exodiart sangat awas dengan sihir api tersebut. Tahu kalau serangan Kalim sudah digagalkan, dia kini bisa melindungi dirinya sendiri dengan sihir pelindung sederhana. Ketika api Tico datang, mereka hanya menabrak pelindung tanpa sedikitpun menyentuh dirinya.


Sebaliknya, sepertinya Araka terlalu menikmati pertempurannya satu lawan satu dengan Exodiart. Dia sama sekali tidak menyadari kalau Tico tengah melintas. Matanya terbelalak. Namun, palunya sudah terlanjur terayun. Tico membatalkan sihir, menggantinya dengan teleport, kabur dengan terseok-seok sebelum serangan sang ketua guild mengenai tubuhnya.


Araka sendiri hanya sempat menarik badannya mundur. Sedikit terlambat. Pergerakan api terlalu cepat. Mereka menyambar tubuh Araka. Rambutnya kena, untung saja hanya sedikit dan langsung padam dengan tepukan. Pakaiannya sendiri aman karena tahan api. Kulitnya juga aman karena berhasil beralih dari serangan.


Penonton bergemuruh lagi, separuh cemooh, separuh tawa, separuh semangat.


Elloys sendiri terbahak-bahak olehnya. “Tico harus belajar membidik lebih baik lagi daripada keasyikan mengurusi rambutnya. Hahaha…”


“Mau melamar jadi penata rambutnya?” Mierai malah menggoda.


“Akan kuusulkan kobaran api sungguhan di atas kepalanya.”


Kedua gadis itu larut dalam candaan mereka. Keniaru melipat tangan ke depan dada, tak terganggu oleh lelucon sarkastis tersebut. Di sampingnya lagi, kebalikan Elloys dan Mierai, Reiyuel memasang wajah serius sepanjang pertempuran. Di ujung lain deretan mereka, Praxel melempar senyum lega sembari menarik dirinya ke belakang, bersandar di kursi tribun.


“Mungkin kita perlu mempersiapkan pesta yang lebih besar.”