Lunacrest

Lunacrest
Chapter 58



Exodiart datang dengan kejutan baru. Sejak kemenangan di Guild Showdown, idenya makin berlimpah. Kali ini, dia ingin membawa satu kardus besar dan satu kardus sedang. Begitu besar sampai-sampai dia kesulitan saat hendak masuk ke dalam markas. Dia pun menurunkan kardus itu di depan sebelum membuka pintu. Melihatnya kesulitan, Praxel dan Raiden pun membantunya.


Selagi Praxel menahan pintu, Raiden membawakan kotak besar itu masuk. Dia tak menyangka kalau kotaknya akan seberat itu. Bukan berarti dia merasa keberatan, dia hanya tak menyangka kalau bebannya seberat itu.


Amari yang pertama kali bertanya. “Apa ini?”


“Ayo, bantu aku membongkarnya,” ujar Exodiart.


Penasaran, akhirnya Elloys, Amari, juga Reiyuel mengikuti Amari ke dapur. Raiden meletakkan kotaknya di lantai sementara Exodiart meletakkannya di atas meja.


“Jadi, mulai hari ini aku punya peraturan baru,” kata Exodiart sambil meletakkan sebelah tangannya di atas kardus. “Kita akan makan bersama.”


Spontan, para anggota Lunacrest melongo atau setidaknya saling memandang.


“Kita akan makan bersama jam delapan pagi. Aku tidak minta kalian semua sarapan. Aku tahu beberapa dari kita tidak terbiasa sarapan,” lanjut Exodiart sambil melirik Praxel. “Tapi, setidaknya aku minta kalian datang. Mungkin kita bisa ngobrol bersama, sekadar makan kue atau minum kopi. Dan ini, adalah perabotan kita.”


Mereka masih saling berpandangan.


Exodiart pun tertawa, “Ayo, bantu aku membongkarnya!”


Amari tahu kalau mereka baru saja mendapat hadiah uang cukup besar dari Guild Showdown. Dia tidak keberatan dengan perubahan-perubahan baru yang dibuat. Mereka pun mulai membongkar isi kardus lalu menatanya di lemari.


“Aku punya pertanyaan,” kata Praxel sambil menyusun gelas di atas baki. “Aku tidak keberatan datang ke sini jam delapan pagi. Hanya saja, aku penasaran. Siapa yang akan memasak?”


“Pertanyaan bagus. Mungkin kita bisa giliran.” Exodiart menatap satu per satu anggotanya. “Aku tahu setidaknya kalian bisa masak sederhana. Bagaimana kalau kita buat tugas piket saja? Siapa yang mulai lebih dulu?”


“Elloys.” Raiden asal bicara.


“Kenapa aku?” Tentu saja si Pyromancer protes.


“Kamu bisa masak ikan bakar dan bubur yang enak.”


Jawaban Raiden membuat Elloys melongo. Dirinya hanya pernah satu kali membawa bubur ke markas, itu ketika Praxel sedang terluka. Praxel sendiri menyipitkan mata pada adiknya, ingin tahu mengenai ikan bakar.


“Oke. Jadi, siapa yang akan menemani Elloys?” tanya Exodiart.


“Raiden,” tukas Elloys. Karena mereka berdekatan, Elloys langsung memelototi si Berserker. “Kamu harus membantuku masak.”


Raiden melempar senyum simpul, “Kamu yakin aku enggak akan mengacau?”


Dari sudut lain dapur, Mierai tertawa kecil. “Sepertinya kalian akan jadi kombo yang baik. Masak yang enak, ya.”


Tidak sampai lima belas menit, semua barang telah memiliki tempatnya masing-masing. Exodiart beralih pada langkah selanjutnya. Apalagi kalau bukan membagi anggotanya untuk menjalankan misi. Tepat saat itu, Kelsey juga hadir. Akhirnya, dia membagi tim dengan kemungkinan terburuk yang bisa dipikirkan Elloys.


 


 


Perjalanan menuju hutan tidak pernah terasa secanggung itu untuk Elloys. Dia berjalan lunglai, tak berminat menggunakan teleport sama sekali. Praxel dan Kelsey berjalan di depannya. Raiden di belakangnya. Mereka berempat di sana untuk menyalin simbol-simbol di reruntuhan.


Kalau misi ini berhasil atau misi tim satunya berhasil, Lunacrest akan resmi naik level ke B. Tak ada persaingan sama sekali, tak ada beban. Tim manapun yang kembali lebih dulu, hasilnya akan sama saja. Masalahnya, Elloys punya beban pribadi. Hatinya bercampur aduk akibat absennya dia di pesta kemarin malam.


Dia ingin sekali protes pada Exodiart dan bergabung dengan tim satunya. Namun, dia tak tahu harus bilang apa. Dia merasa dia sedang membeku seperti Raiden kapan hari. Akhirnya, dia malah diam saja dan menurut. Setidaknya, mereka tidak bertiga. Ada Raiden bersamanya.


Ketika dia melirik Berserker yang kini berjalan di sampingnya, Raiden balas menoleh.


“Bicara,” bisik Raiden padanya.


“Apa?” Elloys mengerutkan dahi.


“Kamu menyeramkan saat diam.”


Elloys tak menganggapnya sebagai pujian. Dia malah mengerucutkan bibir.


Jalanan hutan mulai menurun. Udaranya terasa lebih lembab dan dingin. Praxel dan Kelsey berhenti pada sebuah titik untuk mengawasi ke bawah. Mereka bisa melihat reruntuhan dikelilingi parit penuh air.


“Itu tempatnya,” bisik Praxel.


Elloys mencengkram lengannya sendiri. Baginya, tempat itu membawa hawa tak enak. Sebuah peninggalan sejarah akibat peperangan. Gelap, lembab, dingin, serta cocok untuk tempat tinggal makhluk halus. Sekali lagi, Elloys menyesal karena tak bersikeras untuk pindah ke tim satunya.


Bangunan itu sebenarnya belum tepat disebut reruntuhan. Sebagian besar dinding dan atapnya masih teguh berdiri. Bentuknya seperti piramida beratap datar. Dinding luarnya bersegmen seperti tangga. Terbentuk dari batu hitam yang kini berlapis lumut. Selain di sana, lumut juga memenuhi parit lebar di sekeliling bangunan.


Tak seorang pun tahu untuk apa dulunya bangunan ini dibentuk. Sampai saat ini, para arkeolog dan peneliti berlomba-lomba mencari tahu. Namun, pergi ke sana sangatlah berbahaya. Jadi, mereka memasang permintaan di kantor guild. Misi ini tergolong cukup sulit meski pada dasarnya tugasnya sederhana. Hanya mencatat simbol yang tertera di ruangan dalam.


Para peneliti yang pernah ke sana telah membuat peta bagian dalam reruntuhan. Hampir seluruh ruangan berhasil dijelajahi. Hampir. Belum semua. Tapi, itu sudah cukup bagi Praxel dan rekan-rekan untuk menyalin simbol pada ruangan tujuan.


Salah satu alasan kenapa Elloys ada di sana adalah soal api. Bangunan itu gelap. Mereka butuh seorang Pyromancer untuk membuat penerangan. Kelsey, seorang Astralist, tidak bisa melakukannya. Kebanyakan sihirnya adalah penghancuran.


Semakin mendekat, Elloys semakin bergidik ngeri. Tempat itu terlalu sunyi. Dia lebih suka dikejutkan oleh gerombolan orc berisik.


Raiden berbisik, “Tempat ini sepertinya dihuni banyak arwah penasaran.”


“Sst!” hardik Elloys.


“Monster seperti apa yang ada di sini?” Kelsey bertanya pada Praxel di sisinya. “Aku sempat mendengar soal laba-laba dan ular.”


“Laba-laba dan ular sih biasa,” jawab Praxel.


“Mereka beracun!” sahut Elloys dari belakang.


Praxel menoleh ke belakang. “Aku tahu. Aku juga tahu apa yang lebih buruk dari itu.”


“Minotaur?” Raiden tahu kalau minotaur suka hidup dalam lorong-lorong meski reruntuhan itu sepertinya terlalu kecil untuk mereka.


Praxel menggeleng. “Kalau ada minotaur di sini, reruntuhannya bakal runtuh. Lorong-lorongnya ga besar, seperti rumah biasa, cuma bertingkat-tingkat. Sejauh ini, para peneliti percaya ada enam tingkat.”


Kelsey memperhatikan setiap langkahnya ketika tanah mulai digantikan susunan lantai batu dan lumut. “Jadi, apa yang perlu kita takutkan di sini, Praxel?”


“Mayat hidup? Eh, bukan. Maksudku, tengkorak,” jawab Praxel dengan suara pelan.


Elloys memaksakan tawa. “Ha. Ha. Sangat lucu, Praxel. Tengkorak.”


“Aku serius.”