Lunacrest

Lunacrest
Chapter 21



Hari-hari di Korumbie biasanya dihiasi matahari cerah, lambaian bendera kerajaan, dan aroma roti yang baru dipanggang serta rempah. Tak ada aroma yang lebih menarik daripada aroma para pendeta kerajaan. Baunya merupakan campuran manis juga menyegarkan. Ini berasal dari bau ukupan yang selalu dibakar pada setiap pagi di kuil.


Pukul enam pagi, ukupan baru akan dibakar. Pukul tujuh, mereka akan mulai berkeliling di penjuru kerajaan. Mereka biasanya menyapa para penduduk, memberikan berkat bagi mereka, kadang juga melakukan pengecekan roh jahat dan semacamnya. Tak jarang juga mereka datang mengunjungi markas-markas guild.


Lunacrest biasanya dikunjungi seorang pendeta perempuan, Kisarumi. Gadis berkulit gelap ini punya mata hijau jernih. Amari menyebutnya seperti permata mistik yang menyala di malam hari. Seperti kebanyakan pendeta perempuan, Kisarumi juga mengenakan gaun panjang dengan lengan panjang pula dan kerah tinggi. Menggambarkan kesucian, warnanya didominasi putih dengan aksen biru muda.


Pagi ini, Kisarumi menjumpai Amari dengan sekantung campuran bunga kering.


“Potpourri. Aku suka baunya. Terima kasih, Kisa,” kata Amari seusai membuka bungkusan. Amari menuang isinya dalam mangkuk lalu meletakkannya dekat jendela agar seisi markas bisa mencium baunya.


Kisarumi tersenyum lembut lalu mengedarkan pandangannya ke sisi-sisi lain ruangan.


“Tempat ini butuh sedikit sentuhan dekorasi, aku tahu.” Amari menyahut, seolah bisa menebak pikiran si pendeta wanita.


Kisarumi memejamkan matanya sejenak. Amari menduganya sedang memeriksa aura guild atau semacamnya. Ketika Kisarumi membuka matanya, di kembali bicara. “Exodiart perlu waktu untuk menata guild. Mengatur para anggotanya sekaligus mengatur ruangan tempat kalian berbagi cerita ini. Kalian perlu waktu untuk berkembang.”


Amari melemparkan pandangannya ke lantai dua meski sebenarnya dia tidak benar-benar bisa melihat apa yang terjadi di atas. “Ngomong-ngomong, ketua kami ada di atas. Akan kupanggilkan.”


“Apa dia bersama Praxel?”


“Ya.” Amari sempat berpikir kalau Kisarumi sudah tahu jawabannya sebelum bertanya. “Kamu ada perlu dengan Praxel juga?”


“Hanya ingin ngobrol dengan mereka saja. Apa ada anggota lain yang sudah datang?”


“Belum. Mungkin sebentar lagi.”


Salah satu peraturan lain yang tidak tertulis adalah mengenai kehadiran pendeta. Di Endialte, para pendeta bukan hanya bertugas mengurus kuil. Mereka juga bertugas menyampaikan berkat serta menjaga spiritualitas rakyat. Selain itu, yang tak kalah penting, mereka bertugas memberitahukan petunjuk dari dewa. Hal-hal ini membuat para pendeta sangat disegani. Sangat tidak sopan rasanya kalau ketua guild tidak menemui pendeta yang sedang berkunjung.


Tidak semua orang percaya. Hal semacam itu dipercaya sebagai ramalan yang belum tentu terjadi. Exodiart sendiri tidak pernah sungguhan percaya pada omongan Kisarumi. Namun, dia selalu menaruh perhatian lebih. Tidak ada salahnya bersikap lebih hati-hati agar terhindar dari hal buruk.


“Kasur gantung akan menyenangkan.” Exodiart menggumam pelan.


Exodiart sedang berada di salah satu ruang kosong ketika Amari memanggilnya. Seperti biasa, dia sedang bersama dengan Praxel. Mereka tengah membahas apa yang harus dilakukan pada dua ruang kosong yang ada di lantai dua markas mereka. Praxel mengusulkan salah satu ruangan dijadikan kantor ketua guild sementara ruang lainnya dipakai untuk ruang istirahat. Mereka bisa meletakkan kasur atau semacamnya.


“Ehem…” Amari muncul dari pintu yang terbuka. “Exo, Praxel. Kisa ada di bawah.”


“Oh. Aku akan turun.”


Exodiart turun diikuti Praxel. Ketika melihat sosok Kisarumi, Exodiart mempercepat langkahnya. Di depan si pendeta, sambil sedikit membungkukkan badan, dia memberikan salam. “Hai, Kisa. Selamat pagi.”


Praxel pun ikut membungkuk.


“Selamat pagi. Kiranya kalian selalu berada dalam lindungan cahaya sang pencipta,” balas Kisarumi sambil tersenyum.


Exodiart mengangguk pelan. “Terima kasih sudah mau menyempatkan mampir. Terima kasih juga untuk… bunganya.” Dia bisa melihat mangkuk beraroma wangi yang cukup mencolok ketika turun, namun dia tak bisa menemukan istilah yang sesuai untuknya.


Exodiart mempersilahkan si pendeta wanita duduk selagi Amari menyiapkan mereka teh dan camilan. Mereka pun melanjutkan obrolan. Sesuai dugaan Praxel, Amari mulai memberikan mereka petunjuk ini dan itu yang lebih mirip seperti ramalan.


“Maaf?” Exodiart ingin mendengar ucapan tersebut sekali lagi.


“Kamu membawa kapalmu ke air yang dalam.” Kisarumi mengulang ucapannya sama persis, nada datar, serta tatapan tanpa emosi.


Exodiart menoleh pada wakilnya yang juga melemparkan tatapan padanya. Keduanya tak paham apa arti kalimat tersebut. Mereka tak bisa menentukan baik atau buruknya ucapan Kisarumi. Dalam kondisi seperti ini, biasanya Praxel bisa menyambung pembicaraan. Tidak kali ini. Nampaknya, dia sama canggungnya dengan Exodiart.


Melihat kedua lawan bicaranya hanya diam, Kisarumi malah tersenyum. Dia mengulang kembali ucapan yang dikatakannya pada Amari. “Kamu butuh waktu untuk mengatur guild dan tempat ini.”


“Ya. Aku memang sedang bingung dengan lantai dua kami.” Exodiart kemudian mempersilahkan Kisarumi menikmati camilan yang baru dibawakan Amari. “Kami membuat sendiri cookie ini. Rasanya mungkin sedikit berbeda dari yang ada di pasaran.” Exodiart sedikit menahan senyum, geli oleh ucapannya sendiri.


“Kalian berempat, bersama Kelsey.” Kisarumi sengaja melirik Praxel ketika mengucapkan nama tersebut. “Mengerjakan sesuatu bersama selalu bisa membawa kedekatan tersendiri. Kamu di jalur yang benar, Exo.”


“Aku selalu berharap Lunacrest bisa jadi keluarga bukan sekadar tempat kerja.”


“Benar.” Kisarumi menikmati satu cookie lalu menyesap tehnya. “Sekarang, bolehkan aku melihat-lihat lantai dua ditemani sang ketua?”


“Itu sebuah kehormatan buatku.”


Exodiart naik kembali ke lantai dua bersama Kisarumi, tanpa ditemani Praxel maupun Amari. Kalau diingat-ingat, ini bukan pertama kalinya Kisarumi mengajak Exodiart ngobrol berdua. Dia juga pernah mengajak Praxel, Kelsey, Raiden, Mierai, juga Amari. Semuanya pembicaraan empat mata. Intinya, dia pernah ngobrol berdua dengan setiap anggota guild kecuali Reiyuel. Bukan hal baru.


Exodiart mengajak Kisarumi ke ruangan yang tadi sedang dilihatnya bersama Praxel. Ruangan tersebut memiliki satu jendela kecil di sisi kiri dan lantai kayu yang dilapisi debu tipis. Tempat itu akan lebih terbengkalai kalau mereka tak segera memanfaatkannya.


“Apa aku dalam masalah?” Exodiart membuka percakapan dengan suara sepelan mungkin.


“Kamu menghindarkan dirimu dari satu masalah lalu membawamu ke masalah yang lain. Hidup memang seperti itu. Kamu nggak mungkin selalu terhindar dari masalah. Itu salah satu bumbu kehidupan, bukan?”


Exodiart mengernyit, tak yakin paham ucapan Kisarumi yang selalu bagaikan teka teki.


“Lunacrest akan mengalami badai besar. Melompat dari kapal atau lanjut menerjang. Keputusan ada di tanganmu. Tidak ada pilihan yang benar atau salah. Sama seperti ketika kamu berpisah dari Kelsey. Itu bukan soal benar dan salah. Kamu memahaminya lebih dari siapa pun.”


“Itu salah satu keputusan terberat, percayalah.”


“Aku percaya. Aku juga percaya yang terberat akan datang lagi.”


“Mendengar ucapanmu membuatku takut.” Exodiart menarik napas dalam dalam lalu mengeluarkannya sambil tersenyum. “Terima kasih untuk peringatannya.”


“Satu hal lagi. Apa kamu benar-benar percaya pada Praxel?”


“Ya. Kenapa?” Exodiart makin takut ketika Kisarumi melontarkan pertanyaan mengenai Praxel. Itu jelas bukan pertanda baik.


“Jujurlah pada hatimu. Kamu juga memahami ini lebih dari siapa pun.”