
Harufuji merasakan jantungnya masih berdegup tak karuan. Dia tak pernah menyangka akan adanya pencuri sungguhan masuk ke markas Lunacrest. Apalagi seorang dari mereka tertinggal di dalam markas, bergeming dalam genangan darah. Tak bisa dipastikan masih hidup atau tidak. Bau darah samar membuatnya gelisah.
Fokus kecemasannya berubah ketika melihat Reiyuel masuk kembali ke markas. Si Executor berjalan sempoyongan. Tak perlu waktu lama sampai akhirnya Reiyuel menyandarkan dirinya pada dinding lalu melorot hingga ke lantai.
“Rei?” Harufuji melompati tubuh di tengah ruangan, berlari pada rekannya. Matanya langsung mengamati tubuh Reiyuel. Pakaian hitam itu menutupi luka serta rembesan darahnya. Meski begitu, tangan Reiyuel yang menekan luka, mengekspos jelas banyaknya cairan merah pekat yang keluar. “Ka— Kapan… Ba— Bagaimana…”
“Apa menurutmu, senjata mereka beracun?” Reiyuel masih sempat bertanya di tengah napasnya yang terasa makin sesak.
Harufuji tak bisa memastikan. Dia bukan tabib, bukan pula Bishop yang merupakan spesialis penyembuh dalam pertempuran. Tangannya terulur ke depan, menekan tangan Reiyuel, sambil mengalirkan sihir penyembuh. “Jangan bergerak, ya.”
Reiyuel hendak tergelak oleh ucapan Harufuji. Lukanya terasa luar biasa perih dan menyengat. Ini jelas-jelas membuatnya sulit bergerak. Pusing dan mual mulai menghampiri. Dadanya berdebar. Napasnya terengah-engah. Matanya berair. Keinginannya hanya satu. Memejamkan mata lalu tidur.
Seolah bisa membaca pikiran tersebut, Harufuji buru-buru menimpali. “Apa pun yang kamu lakukan, jangan tidur!”
“Akan kucoba…”
“Jangan dicoba, lakukan saja!”
“Kalau begitu… teruslah bicara.”
“A— Apa?”
Harufuji tahu itu permintaan yang bisa saja terjadi. Dia pun membuka mulut untuk bicara. Tidak ada satu kata pun keluar dari sana. Dia tak tahu harus bicara apa untuk membuat Reiyuel tetap terjaga. Kepalanya dipenuhi mantra-mantra untuk terus mengalirkan sihir penyembuh. Benaknya dipenuhi kecemasan akan si pencuri yang entah hidup entah mati. Hatinya ingin menyelamatkan Reiyuel, kecuali topik-topik obrolan.
Suara kepakan sayap menyela. Keduanya menengadah ketika Vesa terbang rendah menghampiri Reiyuel. Namun, kerena tak mendapat tangan yang bisa dijadikan tumpuan, burung ini hinggap di atas lemari hias Lunacrest. Bentuknya tak lagi mulus seperti ketika Exodiart memasukkannya.
“Vesa tiba-tiba mengetuk kamarku dengan liar! Apa yang terjadi? ” Suara Keniaru terdengar setelah sepasang derap langkah.
“Ken… Ka— Kami diserang.” Harufuji mendapati dirinya gelagapan menjawab.
Berikutnya, dia melihat kelip ungu. Elloys muncul di samping Keniaru menggunakan sihir teleport. Hampir bersamaan, Kelsey juga datang. Dia langsung menutupi mulutnya dengan tangan sementara Elloys berjongkok di samping Harufuji. Separuh tertegun, mencerna apa yang terjadi, separuh mencerna apa yang terjadi.
“Di— Dia tertusuk. Di— Di mana Praxel?” pertanyaan Harufuji lebih mirip permohonan.
“Praxel dalam perjalanan,” sahut Exodiart yang baru datang dengan napas tersengal-sengal. Matanya melihat korban lain di tengah ruangan. Maksudnya, pelaku yang kini jadi korban. “Aku sudah memanggil polisi, mereka sedang dalam perjalanan.”
“Bagaimana… dengan tabib?” Harufuji menatap ketuanya, berharap akan adanya jawaban, namun Exodiart bergeming. Dia mengembalikan tatapan pada Reiyuel yang berusaha keras membuka matanya. “Jangan tidur, Rei! Kumohon… Kamu dengar, ‘kan? Praxel sudah dalam perjalanan kemari. Dia akan menolongmu…”
Reiyuel mengangguk pelan. “Aku tahu. Hanya saja… sulit rasanya… tetap terjaga.”
Harufuji menyuruh gadis di sampingnya. “Bicaralah padanya, kak. Apa pun boleh. Buat dia terjaga!”
Bicara memang hal yang bisa dilakukan Elloys dengan mudah kecuali dalam saat-saat seperti ini. Ditodong untuk membuat Reiyuel tetap terjaga membuatnya hanya mampu melongo. Dia tidak pernah membayangkan akan berada dalam kondisi seperti ini. Dia pun mengedarkan pandangan ke segala sisi, mencari topik. Markasnya berantakan. Dindingnya penuh luka. Ada pecahan keramik juga tanah. Satu-satunya yang menarik perhatian justru sosok terkapar di tengah ruangan.
“Re— Reiyuel,” sahut Elloys, berusaha menenangkan suaranya. “Kamu yang membunuh orang itu? Bagaimana caramu melakukannya?”
Di luar dugaan, justru Kelsey yang menjawab. “Hei, kita bahkan enggak tahu orang itu sudah mati atau belum. Jangan pakai istilah membunuh, dong. Menakutkan, tahu!”
Elloys lantas berdiri. “Menakutkan? Yang menakutkan itu bukan aksi Reiyuel mempertahankan markas. Yang menakutkan itu ada penyusup di dalam markas kita,” balas Elloys. “Coba lihat, orang itu membuat Reiyuel seperti ini. Mereka musuh, kita korban! Kita seharusnya memuji Reiyuel atas aksinya.”
“Lho, aku bukan bilang Reiyuel menakutkan. Aku cuma bilang istilahmu menakutkan.”
“Dia seorang Assassin. Kata membunuh sudah wajar dikaitkan baginya. Iya ‘kan, Rei?” Elloys meminta persetujuan Reiyuel yang gantian melongo.
“Sekalipun kelas dasar mereka Assassin, bukan berarti Reiyuel itu pembunuh. Itu hanya nama kelas yang sering diperdebatkan hingga saat ini.”
“Kamu enggak lihat aksinya di Guild Showdown? Dia bisa menghilang cepat, memberikan serangan tepat. Itu sangat mematikan. Mereka memang dilatih untuk membunuh.” Elloys menahan diri sebisa mungkin untuk tidak menyinggung soal Black Knight. Ocehan Kelsey membuatnya terus bicara.
“Mereka dilatih untuk bertahan.” Kelsey menoleh pada Reiyuel juga.
“Pertahanan terbaik adalah penyerangan.”
“Kupikir itu enggak berlaku untuk segala kondisi.”
“Di sini, Reiyuel bertahan dengan cara membunuh orang itu.”
“Ell, kita belum tahu dia sudah mati atau belum.” Kelsey mendesah, melipat tangan di kedua dada. Keempat laki-laki lainnya hanya menonton perdebatan mereka. “Tapi, aku setuju denganmu. Reiyuel bertahan dengan melukai orang itu. Kurasa, seandainya bila orang itu memang sudah tewas, Reiyuel enggak bisa disalahkan.”
“Benar sekali. Menurutmu, kenapa Reiyuel bisa melukai lawan sampai seperti itu.”
“Dia belajar tekniknya—”
“Teknik untuk membunuh. Itu sudah melekat pada mereka.”
“Teknik untuk mempertahankan diri. Itu seni pertahanan dari para Assassin. Sebagai Executor, Reiyuel menguasai teknik tingkat tinggi. Aku mengakui serangannya memang berbahaya. Tapi, tujuannya bukan untuk membunuh.”
“Oh, benarkah? Bagaimana menurutmu, Rei?” Sekali lagi, Elloys melempar pertanyaan pada Reiyuel yang masih melongo oleh debat kedua gadis itu.
Reiyuel tak sempat menjawab. Raiden tiba bersama kapak besarnya juga Praxel yang terlihat hampir kehabisan napas. Meski begitu, dalam sekali lihat, Praxel menyadari Harufuji tak mampu menyembuhkan Reiyuel.”
“Tolong, kak…” Harufuji masih mendapati suaranya gemetar.
“Biar kuatasi ini.” Praxel langsung bersimpuh, menggantikan tugas Harufuji menlakukan sihir penyembuh. “Mungkin, kamu mau cek orang satunya?” Praxel melirik sosok lain yang sedang tergenang darah.
Harufuji mengangguk, menyeberangi ruangan, untuk memeriksa. Exodiart mengikuti di belakangnya. Raiden berjaga di pintu.
Reiyuel melempar senyum pada Elloys dan Kelsey. “Terima kasih…” ujarnya lirih. Tak satu pun dari kedua gadis itu mampu menjawab. Reiyuel merasakan rasa kantuknya kembali bersamaan dengan rasa nyaman dan lega. “Sekarang… aku boleh tidur, ‘kan?” tanyanya seiring memejamkan mata.