
Raiden bisa merasakan detak jantungnya melonjak ketika petir biru putih menyambar di langit pagi cerah. Dirinya tak berlama-lama di tempat. Satu hentakan kaki keras membantunya mengubah arah. Kini dia berlari ke arah datangnya petir. Dia tak perlu takut membuat keributan dalam hutan. Nyatanya, petir tersebut sudah memulai keributan.
Sang ketua guild, Exodiart, bilang padanya untuk bergegas menuju ke arah petir atau pilar cahaya. Kalau ada petir menyambar, artinya Exodiart sudah menemukan mereka. Kalau ada pilar cahaya, berarti Praxel, kakaknya, yang menemukan mereka. Sebagai tambahan, kalau ada angin ****** beliung di dalam hutan, artinya dia yang menemukan mereka. Mereka? Ya, para orc pencuri.
Beberapa saat lalu, ketiga pemuda ini masuk ke hutan untuk mencari sekumpulan orc. Para orc menyerang beberapa pengelana dan mencuri barang bawaan mereka. Seorang pandai besi di ibu kota, lantas menyewa mereka untuk mengambil barang-barang curian para orc. Ternyata salah satu barang yang dicuri adalah miliknya.
Ini bukan pertama kalinya orc menyerang lalu mencuri barang. Raiden yakin ini juga tidak akan jadi terakhir kalinya.
Bola mata emasnya berkilau setiap sinar matahari menerpa dari balik dedaunan pohon. Rambut cokelatnya berantakan diterpa angin. Raiden tidak merasa terganggu. Dia juga tidak merasa terganggu harus membawa palu besar dan pelindung dada yang menutup ke bahu. Sama seperti Vanguard lain, dirinya dilatih membawa barang-barang berat. Mereka bukan beban melainkan perlengkapan tempur.
Raiden beberapa kali harus melompati akar pohon. Sesekali dia juga terpaksa menunduk agar dahan pohon tidak menyabet kepalanya. Meski belum bisa melihat Exodiart atau Praxel, dia tahu kalau makin dekat. Suara bising merambat ke telinganya. Ada suara tajam dari sambaran petir, suara dentum rendah, juga denting logam. Tebakannya, dia akan jadi yang terakhir tiba di sana.
Padahal, di antara ketiganya, Raiden selalu yang tercepat soal lari. Namun, justru di sana masalahnya. Ketika mereka berpencar, Raiden akan lebih dulu mencapai jarak terjauh. Makin jauh, makin lama pula dia bisa tiba di titik yang butuh bantuan.
Raiden memicingkan mata. Dia bisa melihat sekumpulan sosok berkulit hijau tak jauh dari tempatnya. Mereka adalah para orc. Kulit hijau agak gelap, rahang besar dengan gigi yang mencuat keluar dari mulut, serta rambut kuping tebal agak runcing. Sosok mereka jelek sekaligus menakutkan. Apalagi para orc biasa pergi bergerombol sambil menenteng senjata. Tidak heran kalau para pengelana takut pada mereka.
Ketika Raiden makin dekat, dia bisa melihat di mana sosok Exodiart dan Praxel berada. Keduanya terpisah cukup jauh. Artinya, Raiden bisa menggunakan teknik favoritnya tanpa takut melukai teman-temannya.
Groundbreaker!
Raiden menjejakkan kaki kanannya sekeras mungkin pada akar pohon besar. Gerakan ini membuatnya melompat tinggi juga jauh. Dalam sekejap, Raiden sudah berada di udara, di atas para orc yang sedang menyerang. Raiden menjatuhkan palunya lebih dulu ke tanah.
Guncangan hebat terjadi. Tanah pun retak. Bebatuan terpental. Begitu pula para orc. Mereka tumbang ke tanah. Segala sesuatu di sekitar Raiden jatuh menyisakan dirinya seorang di antara mereka. Tentu saja orc tidak semudah itu dikalahkan. Raiden hanya mampu menjatuhkan mereka bukan mengalahkan mereka.
“Exo, sekarang!” Teriakan Praxel terdengar sebelum serangan Raiden benar-benar berhenti.
Berikutnya, hujan petir datang menyambar setiap orc tanpa terkecuali. Mereka menggeliat kesakitan dibuatnya, meski hanya sebentar. Tentu saja serangan ini tidak berhenti di sana. Sihir petir selalu memberikan sengatan tambahan setelah serangan pertama. Para orc dibuat tidak bisa bergerak leluasa. Setiap kali berusaha bergerak, gerakan mereka jadi tersendat akibat sengatan tambahan. Ini bisa berlangsung lama, tergantung kekuatan sihir petir. Bagi yang pernah merasakannya, mereka menggambarkan rasanya seperti sengatan tajam, panas, perih, juga menyebalkan.
Praxel berlari pada tumpukan peti kayu dan tas ransel kumal. Kalau mereka baru saja merampok, barang rampasannya pasti ada di sana. Dirinya berlutut lalu mulai membuka tas ransel.
Satu orc berhasil ditumbangkan. Orc kedua datang lagi. Praxel tak menghiraukannya. Di belakang si orc, dia bisa melihat adiknya. Raiden menghantam orc kedua bersama orc pertama. Keduanya terhempas menjauh.
“Coba periksa petinya,” sahut Raiden, berjaga di samping kakaknya.
Praxel tak langsung menjawab. Tangannya meraba-raba isi tas ransel. Sejauh ini, tangannya hanya merasakan sensasi empuk dan lembut. Bukan salah sarung tangannya. Praxel yakin dia bisa merasakan kalau seandainya ada benda keras di dalam sana. “Ide bagus.” Praxel akhirnya merespon usul Raiden sembari menyingkirkan tas tersebut.
Hanya ada satu peti kayu. Itu pun digembok dengan gembok sebesar kepalan tangan. Biasanya kalau mereka berburu bersama Reiyuel, dialah yang akan mengutak-atik gembok. Kali ini, karena Reiyuel tidak ikut, Praxel telah meminjam alat khususnya. Praxel bahkan telah bertanya bagaimana cara menggunakannya sebelum berangkat tadi.
Sayangnya, sebelum sempat mempraktekkan apa yang telah dia pelajari, peti tersebut telah terbuka. Tanpa izin dan banyak bicara, Raiden baru saja memukul hancur bagian peti yang digembok. Besarnya palu tidak hanya membuat gembok rusak, tapi juga merusak sedikit dinding peti sekaligus membuat sebagian isinya berceceran di atas tanah.
“Hei!” Praxel langsung protes.
“Ini lebih praktis,” sahut Raiden.
“Bukan itu,” sahut Praxel. Dirinya tidak sempat melemparkan protes susulan. Dia melihat setidaknya ada tiga orc berlari pada mereka. “Sepertinya kita nggak bisa kerja dengan tenang kalau mereka belum dihabisi.”
Raiden melesat maju. Para orc membuat kesalahan dengan melakukan serangan bersamaan seperti itu. Bagi Vanguard seperti Raiden, ini justru memudahkan. Hampir semua serangan Vanguard merupakan serangan dengan area luas. Artinya, dia bisa menyerang mereka semua dengan satu kali serang. Raiden menggunakan teknik favoritnya. Dia melompat ke atas, menjatuhkan palunya lebih dulu sebelum dirinya, membuat para orc terhempas. Lagi.
Sekelompok petir menyusul dari atas. Meniru teknik Exodiart, Praxel merapal sihir petir. Mereka menyambar ketiga orc. Meski durasinya lebih pendek, namun serangan ini cukup efektif membuat ketiga monster menggelepar di atas tanah. Setiap mereka mencoba bergerak, gerakan mereka tersendat akibat serangan petir tersebut.
Raiden tak mau membuang waktu. Selagi para lawan tak berdaya, dia menghampiri satu orc terdekat. Palunya terayun cepat. Dia memberikan pukulan telak, membuat orc jatuh kembali ke tanah. Tak puas setelah menjatuhkan satu, dirinya lekas berbalik. Orc lain tengah mengayunkan pentungan padanya. Efek serangan petir rupanya belum usai. Ini membuat gerakan orc tersebut tersendat. Raiden mendapat tambahan waktu untuk memukul orc kedua, membuatnya terkapar di atas tanah seperti temannya.
Sambaran petir lain datang. Petir ini datang sendirian dengan ukuran sedikit lebih besar. Ini tidak hanya membuat orc ketiga tersetrum tapi juga membuat kulitnya hangus. Pakaian kumal si orc terbelah, menunjukkan bagian perutnya yang menghitam akibat sambaran petir. Meski begitu, seolah tak merasakan sakit, si orc mengangkat pentungan, siap menyerang balas. Bukan pada Raiden, melainkan Praxel.
Praxel terkesiap ketika orc datang padanya. Untungnya, dia sempat menunduk ketika pentungan terayun. Dengan tongkat panjang di tangannya, Praxel merapal mantra. Segera saja sebuah sambaran petir lain melesat. Praxel mengincar kepalanya, namun serangan ini meleset. Petir hanya menggores tepi dagu si orc.
Praxel menggigit bibir bawahnya. “Ups…”