
Situasi di lembah batu jelas tidak bisa dibilang baik. Wyvern terbang rendah berusaha meraih Litaro atau Raiden. Untung saja, keduanya bisa kabur dengan cepat dari kaki berkuku tajam tersebut.
Dilihat dari dekat, wyvern tersebut menyebarkan teror tak terucapkan. Jauh lebih menyeramkan dari yang tertulis di buku. Lebih besar, lebih mengancam. Badannya panjang, ekornya lebih lagi. Sepasang sayap kelelawar raksasa membawanya melakukan manuver dengan cepat di udara. Dia tak memiliki tangan, hanya sepasang kaki besar. Seluruh tubuhnya ditutupi sisik tajam.
“Kalian pasti sudah gila berurusan dengan wyvern!” seru Elloys dari dalam kurungan selagi monster itu melayang menjauh. “Lepaskan aku supaya aku bisa membantu kalian.”
Raiden terlalu jauh untuk mendengar seruan Elloys, “Apa?”
Elloys berpaling pada Litaro. “Hei, kau! Kamu yang menculikku ‘kan? Di mana tongkatku?”
Litaro terlalu takut untuk bereaksi. Matanya mengawasi teror di udara.
Si wyvern terbang rendah lagi. Kali ini, sambil membuka mulutnya. Para petualang itu tahu. Wyvern bukan makhluk yang umum ditemui. Mereka makhluk buas dan perkasa. Termasuk monster langka sekaligus mengancam. Kebanyakan mereka ditemukan di tempat bersuhu dingin. Hanya sebagian kecil yang bisa menyemburkan api. Tampaknya, mereka berurusan wyvern langka penyembur api.
“Awas!” Raiden spontan berteriak. Baru setelahnya menyadari kalau dia memberikan peringatan pada musuh. Sesuatu yang terlalu baik untuk dilakukan.
Litaro berhasil lolos dari serangan. Si wyvern melanjutkan semburan apinya pada Raiden. Dirinya pun juga berhasil lolos. Raiden berniat menyerang balik. Dia memutar tongkat bola berduri di tangannya hanya untuk menyadari kalau tak ada sedikit pun tanda-tanda pusaran angin akan tercipta.
“Oh, aku pasti bercanda,” gerutunya pada diri sendiri.
Raiden berlari pada Elloys selagi wyvern mencari celah menyerang. Dengan cepat, Raiden memukul-mukulkan tongkat itu pada jeruji pengurung Elloys.
“Raiden, hentikan!” pinta Elloys. “Raiden, hei, Raiden!”
Raiden tersentak, sadar kalau tak mendengarkan lawan bicaranya sama sekali.
Setelah dia berhenti, Elloys menyambung. “Tongkat itu enggak akan ada gunanya di sini. Itu senjata Exo. Dia diciptakan untuk digunakan seorang Crusader dengan sihir bukan para petarung garis depan sepertimu.”
“Tapi, aku harus mengeluarkanmu.”
“Aku memang ingin keluar. Tapi, bukan begini caranya. Kamu hanya membuang-buang waktu. Bagaimana—” Elloys berhenti. “Awas! Dia kembali!”
Si wyvern mengepakkan sayapnya keras membuat Raiden oleng. Dia pun langsung kabur sebelum monster itu melakukan serangan lanjutan yang bisa membuat Elloys berada dalam bahaya. Setidaknya, saat ini Elloys aman di dalam kurungan tersebut. Wyvern mengangkat badan. Kakinya siap menyerang. Raiden justru berguling ke depan. Tubuhnya nyaris kena cabik, tapi dia lolos.
Setelah tiba di belakang monster, Raiden mengangkat tongkat Exodiart di tangannya. Dia memukul pantat si wyvern sekuat tenaga. Tentu saja tidak ada kerusakan terjadi. Lawannya memekik kesal, berusaha berbalik cepat.
Raiden berlari lagi sambil mengawasi di mana Litaro berada.
Elloys rupanya mengawasi hal yang sama. Dia menemukan Litaro berlari ke ujung lembah tempat mereka datang. “Raiden, orang itu mau kabur. Tangkap dia! Ambil kapaknya!”
Raiden menyipitkan mata. Elloys benar. Litaro sudah berada jauh dari mereka. Raiden berlari cepat. Dia tidak membiarkan bebatuan kecil dan tanah terjal menghalangi langkahnya. Dia memerlukan senjata yang cocok untuknya, bukan tongkat milik Exodiart. Saat ini, hanya kapak Litaro harapannya.
Si wyvern melihat pula kondisi itu. Mulutnya kembali terbuka. Dia menyemburkan api pada Raiden. Untung Raiden menyadarinya jadi bisa berguling cepat. Wyvern melanjutkan semburannya ke depan, ke arah Litaro. Litaro ketakutan gemetaran. Bukannya berhasil menghindar, dia malah terpeleset. Akibatnya tubuh Litaro berguling menuruni lembah. Api wyvern menyambut kakinya.
Litaro berseru kesakitan.
Tidak lama, karena Raiden menarik lengan serta menyeretnya menjauh. Berikutnya, Raiden menghempaskan mereka berdua ke balik batu yang cukup besar. Menjaga jarak selagi si wyvern menyiapkan serangan lagi.
“Diam!” bentak Raiden. “Ini gara-gara kalian bermain dengan wyvern. Kamu seharusnya tahu betapa bahayanya mereka.”
“A— Aku— Aku enggak tahu— kalau mereka membawanya ke sini.” Litaro langsung memelankan suaranya. Sekarang malah suaranya bergetar seolah ingin menangis. “Kami— Kami hanya ingin jadi anggota aktif.”
“Jadi, Saman yang menyuruhmu?”
“Iya. Dia— Dia ingin informasi mengenai misi rahasia kalian. Ja— Jadi, kami… Kami memutuskan menculik anggotamu, Exo.”
“Aku bukan Exo!” sahut Raiden lagi. “Namaku Raiden, seorang Berserker sepertimu.” Raiden melemparkan helm penutup wajahnya. Angin menghembus rambut cokelatnya. “Huff… Begini terasa lebih enak.”
“Aku… Aku pernah melihatmu.”
“Di hutan?”
“Di kantor Warrior. Kamu— Kamu orang yang berhasil membunuh monster kalajengking.”
“Aku enggak tahu kalau aku seterkenal itu.” Raiden menyunggingkan senyum. “Sekarang, kupinjam kapakmu, ya. Di mana…” Raiden terdiam. Dia menyadari kalau kapak Litaro tertinggal di tengah lembah tempat pemiliknya terpeleset. “Sial!”
Si wyvern terbang mendekat. Namun, dia berhenti lalu berbalik pada Elloys. Raiden melihat Elloys mengambil batu-batu di dekatnya. Dia melemparkan mereka sekuat tenaga pada lawan untuk mengalihkan perhatian. Kebanyakan dari mereka jatuh ke tanah. Hanya satu lemparan beruntung bisa mengenai pantat si wyvern yang diserang Raiden tadi.
Raiden terkesiap ketika melihat monster menyemburkan apinya. “Elloys!” Raiden buru-buru berpaling pada Litaro lagi.
Litaro langsung mengangkat kedua tangannya, isyarat menyerah. “Jangan pukul aku… Kumohon…” Kali ini, Litaro menangis sungguhan.
Raiden tak tahu dia puas melihat pemandangan itu malah gemas. “Diam!” bentak Raiden lagi. “Sekarang katakan di mana kamu sembunyikan tongkat sihir Elloys. Kalian menyembunyikannya di dekat sini, kan?”
“A— A— Aku enggak tahu. Bukan aku yang membawanya ke sini. Kalau aku yang membawanya, aku akan membawa gadis itu ke sarang kalajengking dan membuang tongkatnya ke laut.”
“Kamu serius berani bilang begitu padaku?!”
“I— Itu hanya seandainya.”
Raiden menggertakkan gigi kesal. “Sekarang diam di sini. Jangan buat keributan kalau masih mau hidup!”
Raiden berlari sekuat tenaga. Si wyvern telah mengepak menjauh. Napasnya tersengal-sengal setelah mengeluarkan semburan api berulang kali. Raiden menggunakan kesempatan itu untuk mengambil kapak Litaro. Dia berlari kembali pada kurungan Elloys. Berbeda dengan tongkat Exodiart, dengan kapak asli, Raiden berhasil menghancurkan jeruji dalam sekali tebas.
Matanya mengerjap dalam kegelapan. Kurungan itu kelihatan cukup luas dibanding kelihatannya. Bentuknya mengecil di bagian akhir. Elloys tergeletak di ujung, bergeming.
“Elloys?” Raiden merasakan suaranya bergetar. “Elloys! Elloys!”
Raiden menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya. Tubuh itu terasa panas. Tak ada aroma wangi yang biasa dia ingat, hanya ada aroma api dan bau hangus. Jantung Raiden berdegup kencang, takut dan cemas. Dia terlalu takut untuk memeriksa napas atau detak jantung Elloys.
Seandainya saja dia lebih cepat.