
Hari minggu pagi, tak tampak kegiatan di markas Lunacrest. Exodiart memang meliburkan kegiatan misi guild hari ini. Biasanya mereka buka untuk mengambil misi guild berdurasi sehari. Misi semacam ini punya imbalan poin dan upah lebih besar dari biasanya. Kali ini, Exodiart ingin memberikan liburan bagi rekan-rekannya. Lagipula, mereka akan berkumpul malam nanti untuk merayakan kemenangan Guild Showdown, penyambutan anggota baru, atau ulang tahun Praxel. Entah tujuan pesta mana yang mereka tahu.
Meski begitu, Exodiart sendiri ada di markas Lunacrest, seorang diri. Duduk di kantornya, menghadap pintu yang dibiarkannya terbuka. Wajahnya bertopang di atas satu tangan sementara tangan lainnya mengetuk lembar-lembar yang terserak di atas meja.
Lembar-lembar kertas tersebut merupakan berbagai berkas mengenai Guild Showdown. Mulai dari lembar registrasi, aneka syarat dan ketentuan, daftar para peserta, data guild lawan, hingga keuntungan untuk pemenang Guild Showdown. Berkas-berkas ini awalnya tersimpan rapi dalam laci meja. Setibanya di kantor, Exodiart membebernya di atas meja agar bisa meneliti lebih mudah.
Praxel seharusnya tiba sebentar lagi. Namun, sebelum wakilnya tiba, dia ingin memastikan beberapa hal lebih dulu, terutama mengenai guild peserta juga perwakilan mereka.
Lunacrest bukan guild pertama yang memenangkan Guild Showdown dalam pertama kali coba. Dalam sejarah Guild Showdown, ada beberapa kejadian serupa. Kejadian di mana satu guild memenangkan Guild Showdown dua kali berturut-turut justru lebih langka. Kebanyakan guild pemenang Guild Showdown membesar dengan cepat dalam setahun. Ini membuat mereka tidak diizinkan ikut lagi pada tahun depan.
Bukankah di sana masalahnya?
Guild Showdown dibuat sebagai ajang untuk mengumpulkan poin bagi guild-guild kecil. Acara ini bukan sekadar hiburan. Guild Showdown juga diperuntukkan sebagai suntikan semangat untuk guild baru. Pesertanya berubah-ubah setiap tahun. Apalagi mengingat kalau seorang petualang bisa berpindah-pindah guild dengan mudah. Banyak wajah baru di Guild Showdown. Guild terasa sangat cair.
Tahun ini juga demikian. Ah, bukan. Semakin ke sini, guild terasa makin cair.
Bukan hanya ini yang ditemukan Exodiart. Semakin ke sini, standar Guild Showdown terasa makin rendah. Guild-guild yang tahun lalu ikut namun gagal menang, ikut Guild Showdown lagi tahun ini. Mereka mengirimkan petualang-petualang yang berbeda. Orang-orang baru atau lemah.
Pertanyaannya, kenapa?
“…xo. Hei, Exo!”
Exodiart tersentak. Praxel sudah ada di depan mejanya. Dia bahkan tak menyadari kehadirannya. “Oh, hei!” Exodiart perlu beberapa saat untuk menyapa wakilnya.
“Mukamu serius amat. Menemukan sesuatu?”
Exodiart menggeleng. “Aku justru bingung.”
Praxel mendesah. “Baik. Coba kuulang. Kita berdua sepakat akan satu hal.”
“Guild Showdown dipermainkan,” sahut Exodiart.
“Tepat.”
“Siapa yang dapat keuntungan kalau kita menang?”
“Orang-orang yang bertaruh. Siapa lagi?”
Sudah jadi rahasia umum kalau Guild Showdown juga dijadikan ajang taruhan. Saat satu guild yang ada di luar dugaan menang, ini mengacaukan perhitungan orang-orang. Jadi, siapa yang diuntungkan? Orang-orang yang bertaruh untuk Lunacrest.
Exodiart menarik tubuhnya ke sandaran kursi. “Aku memang berharap menang. Aku hanya… enggak menyangka kalau kita akan memenangkannya semudah itu. Terlalu mudah. Dan yang pasti, aku enggak rela Lunacrest menang hanya karena permainan.”
“Para penonton juga sepertinya sadar. Kalau diperhatikan, jumlah mereka terus turun dari tahun ke tahun?”
“Kita juga sepakat soal itu, Exo. Aku akan coba cari informasi lagi soal ini. Pelan-pelan. Belum tentu semua kecurigaan kita benar. Siapa tahu ada hal-hal lain yang membuat Guild Showdown tahun ini terasa mudah. Nanti kalau memang menemukan sesuatu, kita melaporkannya nanti pada Guild Master Declan.”
“Setelah menemukan apa yang sebenarnya terjadi. Benar.” Exodiart mengangguk. “Tapi, sekarang kita di sini untuk membahas itu, ‘kan?”
“Lho, kupikir kita mau bahas soal transisi.” Praxel akhirnya duduk di kursi seberang Exodiart. “Kita di sini untuk membahas kenaikan level Lunacrest. Bukan itu, ya?”
“Oh. Itu juga sih…” Exodiart membereskan berkas-berkasnya jadi satu tumpuk. “Kita sebenarnya belum benar-benar naik tingkat, ‘kan? Kita perlu satu misi lagi untuk naik ke guild level B.”
“Benar sekali. Satu misi guild.”
Exodiart mengulang ucapan wakilnya. “Satu misi lagi.” Dirinya menarik napas dalam-dalam seraya pikirannya melayang. “Aku enggak pernah berpikir akan menang Guild Showdown lalu naik level secepat ini.” Exodiart pun membereskan berkasnya ke dalam laci.
“Apa saja yang perlu kita perhatikan selain jumlah rekrutmen anggota? Kita sekarang bisa punya anggota dua puluh lima orang, benar?”
“Benar. Selain itu, kita bisa mengambil misi-misi baru yang punya syarat untuk guild kelas B. Misi berantai. Misi-misi semacam itu biasanya lebih sulit dan panjang.”
“Rangkaian misi, ya.”
Ada beberapa misi guild yang memang merupakan rangkaian. Misi ini bukan misi sederhana seperti menghancurkan perkemahan orc atau berburu clabery. Misi ini bisa berlangsung selama beberapa hari. Misalnya saja misi untuk menyelamatkan pengelana yang terluka di luar kota atau mengirim pasokan ke desa pedalaman. Lebih sulit, lebih rumit, lebih berisiko, juga memberi banyak poin dan uang di saat sama.
“Aku ingin coba misi semacam itu,” ujar Praxel. “Terus?”
“Kita punya piala emas Angelic Desert,” tambah Exodiart. Piala emas tersebut ada di meja kopi dalam ruang kantor Exodiart, tepat di belakang posisi Praxel duduk saat ini. Semalam, dia membawanya pulang. Pagi ini, dia membawanya ke markas. “Punya ide meletakannya di mana?”
“Jelas di bawah.” Praxel mengacu pada rak lemari tinggi yang ada dekat tangga menuju lantai dua. “Masalahnya, barang itu mengundang maling. Kita harus memikirkan faktor keamanannya juga. Enggak mungkin sembarangan menaruhnya di sana tanpa penjagaan.” Praxel berusaha menahan kegeliannya. “Kecuali, kamu memang mau memajangnya di rumah.”
“Jangan, dong. Itu ‘kan pencapaian bersama. Aku justru berpikir bagaimana kalau sekarang kita ada giliran piket jaga markas.”
Beberapa guild besar menyediakan kamar tidur untuk anggotanya. Mereka akan bergiliran jaga malam. Hal semacam ini efektif untuk guild yang beranggota banyak di mana mereka bisa mengambil misi kapan pun mereka mau. Belum lagi bila ada permintaan bantuan khusus dari kerajaan. Dengan adanya jaga malam, markas guild bisa dibuka dua puluh empat jam.
Exodiart belum berpikir sejauh itu. Dia hanya ingin piala mereka aman.
Praxel menggumam pelan terhadap ide sang ketua tersebut. “Oke, itu kedengaran bagus, tapi aku enggak yakin dengan cewek-cewek.”
“Enggak usah, kita saja. Kamu, Raiden, Keniaru, Harufuji, Reiyuel, dan aku.”
“Coba saja bicarakan dengan mereka nanti malam.”
“Iya. Nanti malam—” Exodiart berhenti. Dia hampir membicarakan mengenai detail pesta kemudian tersadar kalau bisa saja keceplosan bicara soal acara ulang tahun. Dirinya pun mengganti topik. “Ngomong-ngomong, bagaimana Raiden dan ujiannya?”
“Hhh… Bisakah kita tidak membicarakannya?”