
“Hai! Sudah selesai melapor?” Amari melempar senyum manis ketika Praxel masuk ke dalam bersama Exodiart.
“Iya.” Exodiart menyeberangi ruangan langsung ke meja Amari. Dia menyodorkan selembar kertas padanya. “Tolong simpan ini.”
“Bukti setor uang ke bank?” Amari menyunggingkan senyum lebar. Matanya berkilau meski bukan dalam arti sesungguhnya. Kalau ada yang bisa menghemat anggaran sekaligus menyimpan uang dengan aman, Amari jagonya.
“Simpan baik-baik.” Exodiart ikut tersenyum ketika memberikan instruksi yang tidak perlu.
Praxel menghampiri sofa. “Ayo,” katanya pada Raiden. “Mumpung masih terang.”
Raiden mengangguk tanpa bicara.
Keduanya mengunjungi gerbang pintu Utara. Setelah melewati pos penjaga, mereka menyusuri jalan sepi menuju pesisir pantai. Tak seorang pun lewat kecuali mereka.
“Apa yang kamu pikirkan?” Raiden tidak biasanya membuka percakapan duluan. Namun, Praxel telah diam lebih dari separuh perjalanan mereka. Ini cukup membuatnya penasaran. “Kamu memikirkan dia?”
“Dia? Siapa?”
“Kelsey.”
Praxel terdiam sesaat. Dia bahkan sampai menghentikan langkahnya. Ketika Raiden ikut berhenti, Praxel tahu harus segera bereaksi. “Nggak. Kenapa kamu berpikir begitu?” Praxel mendengus geli. Tanpa menanti jawaban adiknya, Praxel menambahkan. “Aku hanya berpikir soal anggota Lunacrest. Sejauh ini, kita hanya berenam. Exodiart, Reiyuel, Mierai, Kelsey, kamu, dan aku.”
“Lalu? Ini guild baru. Wajar kalau anggotanya sedikit.”
“Semakin banyak anggota, kita bisa menyelesaikan lebih banyak misi.” Praxel melangkah lagi. “Kita sudah memasang iklan rekrutmen di kantor Declan dan kantor misi juga di papan pengumuman. Belum ada yang mendaftar. Kita bersaing dengan puluhan bahkan ratusan guild di luar sana. Mungkin kita harus coba cara lain.”
“Kalau begitu, kenapa nggak ajak orang saja di misi ini?”
“Maksudmu?”
“Kita bisa cari petualang lain yang mengerjakan misi di pesisir. Menjalin pertemanan, mengajak mereka bergabung dalam guild.”
“Aku sebenarnya menghindari supaya kita nggak sembarang mengajak orang.”
“Seingatku Mierai dan Reiyuel termasuk sembarang orang.” Raiden menekan akhir kalimatnya. “Kalian menyelamatkan Reiyuel di semacam gua bawah tanah, ‘kan? Lalu, Mierai sepertinya juga cuma kebetulan.”
“Bukan. Mierai itu datang sendiri untuk daftar.” Praxel bisa melihat adiknya mengangkat kedua alis. Dia pun melanjutkan. “Aku paham maksudmu, kok. Tapi, kita sudah separuh jalan ke pesisir. Masa mau balik sekarang?”
“Nggak sih.”
“Berdoa saja kita bertemu petualang di sana.”
Tampaknya celetukan Praxel didengar. Ketika mereka tiba di pesisir, ada tiga orang petualang lain. Dari pakaiannya, Praxel bisa menebak kelas mereka. Seorang pemuda Warrior, seorang gadis Cleric, dan seorang gadis Hunter seperti Mierai. Ketiganya pasti juga sedang mengerjakan misi. Mereka berusaha menangkap Clabery, sejenis hewan mirip kepiting hanya saja sepuluh kali lebih besar dan jinak.
“Melihat mereka, aku langsung terbayang kare Clabery,” gumam Praxel.
“Aku juga. Jadi, mau coba menyapa mereka?” Raiden menengok ketiga petualang tersebut. “Mungkin kamu malah bisa membantu mereka, ‘kak?”
“Iya tahu. Makanya mungkin milih segini untuk berburu. Agak sepi.”
“Aku ke sana setelah mereka selesai saja, deh. Kamu nggak mau ikut?”
“Kususul kalau misiku sudah selesai.” Raiden melirik deretan karang. “Lagipula, kamu ‘kan wakil ketua guild.”
Praxel mendesah. “Iya, sih.”
“Sebelum itu, berikan berkatmu padaku, kak.” Raiden mengulas senyum sambil membungkukkan kepalanya.
Praxel menggelengkan kepala, merasa geli dan terhormat di saat bersamaan. Tangan kanannya terulur pada Raiden. Ketika dia mulai merapal mantra dalam hati, butiran cahaya putih bermunculan di tangannya. Mereka berpendar sambil menghujani tubuh Raiden. Setiap kali bersentuhan, pendarnya menguat sebelum benar-benar lenyap. Sihir Praxel akan membuat Raiden menyelesaikan misinya lebih cepat.
Mereka pun berpisah.
Raiden beranjak ke sisi kiri yang ditumbuhi karang serta bebatuan. Pada umumnya, kapal pedagang tidak berlabuh di tempat seperti ini. Mereka berlabuh di pelabuhan, tentu saja.
Pemberi misi sekaligus pemilik kapal agaknya punya hubungan dengan pemerintah. Kapal ini pasti punya alasan khusus kenapa bisa mendapat izin untuk berlabuh di sini. Belum lagi fakta kalau misi ini adalah misi resmi yang terdaftar di kantor Declan dan selalu berulang setiap bulan. Raiden berpikir mungkin mereka membawa senjata atau monster dari seberang laut. Siapa yang tahu?
Dunia Endialte sendiri belum terjelajahi sepenuhnya. Pihak kerajaan Soleia tempat Raiden hidup, memang telah memiliki hubungan baik dengan beberapa kerajaan tetangga. Sayangnya, tak satu pun dari mereka berani mengklaim telah menemukan batas dunia. Tak heran kalau misi penjelajahan selalu punya imbalan menggiurkan. Itu misi menantang sekaligus berbahaya, bahkan bisa jadi tiket satu arah kalau tidak hati-hati.
Raiden berhenti. Dia baru sadar telah memukuli beberapa karang. Tanpa berkat atau sihir dari kakaknya, dia pasti belum sejauh ini. Di belakangnya, Raiden bisa melihat serpihan-serpihan batu kecil. Ini baru separuh, masih ada lagi.
“Hei!”
Ketika Praxel mendekat seorang diri, Raiden tahu. “Mereka sudah jadi anggota guild lain?”
“Nggak juga.”
“Apa maksudnya itu?”
“Ya, mereka hanya petualang biasa, tidak berminat bergabung dengan guild manapun. Menurut mereka, bergabung dengan guild menyusahkan. Ya, kamu tahu. Soal pembagian hasil imbalan misi, kewajiban ini, kewajiban itu, dan lain-lain. Intinya, mereka nggak berminat sama sekali bergabung dengan guild.”
Ini memang bukan pemikiran baru. Raiden sendiri menemukan beberapa orang punya pemikiran serupa. Tidak jarang banyak petualang solo terdaftar di kerajaan. Mereka mengambil kelas tertentu, belajar giat, lalu menjadikannya pekerjaan. Asalkan mereka tetap mendaftarkan diri di kerajaan, mereka diizinkan mengambil misi non-guild dan mendapat imbalan. Misi yang sedang dilakukan Raiden saat ini pun sebenarnya adalah misi solo.
Beberapa guild melarang anggotanya mengambil misi di luar misi guild. Hal ini ditujukan agar guild lebih cepat berkembang. Kenyataannya, guild semacam ini justru kehilangan anggota. Exodiart sendiri tidak suka hal semacam ini. Dia membebaskan setiap anggota Lunacrest mengambil misi. Menurutnya, misi solo ini justru baik untuk pengembangan diri sendiri.
Sambil menggaruk kepala, Raiden menghela napas pendek. “Ya sudah, kalau begitu aku selesaikan ini dulu baru kita kembali ke kota. Aku sudah lapar.”
“Aku juga.”
“Kakak mau masak apa nanti?”
Pikiran Praxel kembali pada kare Clabery. Sayangnya, sekalipun bisa menangkap satu untuk dibawa pulang, dia tidak tahu bagaimana cara memasaknya. “Nggak tahu. Bagaimana kalau beli di kedai saja? Aku juga belum beli bahan buat masak. Nanti malah kelamaan.”
Matahari di seberang lautan perlahan bergerak turun. Raiden tak punya banyak waktu kalau mau makan malam tepat waktu.